AC Daikin, AC Nyaman, Hemat Energi Pilihan Keluarga

AC Daikin, AC Nyaman, Hemat Energi, Pilihn Keluarga

Saya dan keluarga kecil saya dibesarkan di Kota Bandung yang udaranya terkenal sejuk. Sehingga, kami tidak memiliki dan menggunakan AC dalam keseharian kami. Namun, semuanya tiba-tiba berubah seketika, ketika kami terpaksa harus pindah mendadak ke Tangerang. Tangerang memiliki iklim yang berbeda dengan Bandung.

Jadi, bisa dipastikan, ya, Tangerang itu luar biasa panasnya bagi kami yang telah terbiasa hidup di kota sejuk. Jujur, itu penderitaan bagi saya, karena anak saya Erysha menjadi rewel, susah makan, susah tidur, dan semakin parahnya muncul bintik-bintik merah banyak di sekujur tubuhnya. Bahkan borok di kepalanya. Yah, Erysha mengalami biang keringat parah, hingga berdarah ketika Erysha garuk. Saya dan suami sempat khawatir, akhirnya saya terpaksa membawa Erysha kembali lagi ke Bandung untuk mendapatkan pengobatan dan pemulihan di sana.



Kata dokter, Erysha mengalami kepanasan parah di Tangerang, sehingga menimbulkan alergi pada kulitnya dan disarankan dokter untuk menggunakan AC dalam keseharian Erysha. Akhirnya, mau tidak mau saya harus mencari AC yang pas dengan kebutuhan keluarga saya, seperti nyaman dan AC hemat energi. Dan tertariklah saya pada AC Daikin ini. Mengapa?

Menghemat ruang

1 Unit outdoor bisa dihubungkan dengan 2 unit Indoor


Mode Low Watt Baru

2 unit AC dapat beroperasi bersamaan dengan perangkat listrik lainnya dengan dua pilihan: 650 W dan 380 W


Hemat listrik

Karena AC ini juga hemat listrik, sehingga saya tidak perlu takut tagihan listrik membengkak.



Teknologi Inverter

Apakah inventer itu?
Inverter adalah teknologi hemat energi yang menghilangkan limbah operasi di AC dengan mengendalikan kecepatan motor secara efisien.

ac daikin, ac nyaman, hemat energi pilihan keluarga 2

Bedanya AC Inverter dengan Non-Inverter ketika dibandingkan dengan gerakan manusia

AC Tipe Non-Inverter
Memulai dan menghentikan paksa operasi, beristirahat, kemudian memulai dan berhenti sekali lagi menggunakan lebih banyak energi.

ac daikin, ac nyaman, hemat energi pilihan keluarga 3

AC Tipe Inverter
Ketika kecepatan yang tepat dipertahankan, tapak dapat melanjutkan tanpa membuang-buang energi.

ac daikin, ac nyaman, hemat energi pilihan keluarga 4


Pendinginan cepat

Seandainya kecepatan pendinginan 1,5 kali lebih cepat dari pada Inverter non-AC (jika hanya satu unit indoor beroperasi)

Komponen Elektronik yang Tangguh

Komponen AC tahan terhadap beban kejut 440V

AC Daikin memiliki 3 kategori untuk penggunaan AC. Ada yang untuk hunian, komersil dan industri. Karena saya sedang mencari produk AC yang untuk hunian. Jadi Daikin memberikan 2 jenis pilihan produk ini yaitu

Split
AC Split memberikan solusi pendinginan udara yang canggih untuk ruang interior zona tunggal.


Multi-Split
Dengan melakukan ubah sesuai, sistem AC Daikin tipe multi-split menawarkan solusi unik untuk setiap pengaturan hunian dalam satu sistem.



        Setelah di rumah kami di pasang AC, sekarang Erysha sudah kembali ceria, tidak pernah rewel lagi karena kepanasan, biang keringan pun sudah tidak terlihat lagi dan hati kami pun ikut bahagia. Jadi, kalau AC ya Daikin aja, AC nyaman, hemat energi pilihan keluarga

AC Daikin
Sumber: Heru Sukmana Dana Surya


Kontak

Wisma Keiai, 18th floor
Jl. Jend. Sudirman Kav. 3
Jakarta Pusat 10220
Telepon: +62 (21) 572 4377
Fax: +62 (21) 572 4366
Email: info@daikin.co.id


Sumber Referensi:
website    : www.daikin.co.id




Cara Merawat dan Membesarkan Anak Berkebutuhan Khusus

cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus

Banyak orangtua yang kebingungan, bagaimana cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus. Karena memang tidak semudah merawat dan membesarkan anak pada umumnya, ya, Bun. Ada banyak hal yang perlu dilakukan dan dipelajari. Baik itu menyiapkan mental, tenaga, ilmu, dan juga dana.

Apa itu anak berkebutuhan khusus? Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan atau hambatan secara permanen maupun temporer. Secara permanen itu seperti tunanetra, tunarungu, tunagrahita dll. Sedangkan anak berkebutuhan khusus secara temporer seperti anak yang mengalami korban perang, trauma, korban perkosaan dll. Yang semua itu sama-sama membutuhkan pendidikan atau layanan khusus. Begitu juga dengan cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus. Lengkapnya tentang anak berkebutuhan khusus ada di sini, ya, Bun.

Nah, berikut ini 12 tips cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus


1. Menerima keadaan anak
Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah menerima keadaan anak. Memang awalnya terasa berat sekali, ya Bun. Tetapi, tidak ada pilihan lain selain kita berlapang dada. Jika tidak, anak akan terlambat mendapatkan penanganan yang semestinya. Tentunya, itu akan lebih menyulitkan anak dan orang tua dikemudian hari. Karena kondisi anak yang semakin berat.

2. Berkerjasama dengan para ahli
Ketika anak menunjukkan gejala yang berbeda dari anak pada umumnya. Sebaiknya segera periksakan anak pada lembaga tumbuh kembang anak. Saat ini telah banyak didirikan bagian tumbuh kembang anak di rumah sakit maupun di luar. Sehingga ini akan membantu dan memudahkan kita untuk mengetahui kondisi anak yang sebenarnya dan anak pun akan segera mendapatkan penanganan seharusnya.

        Dalam menangani anak berkebutuhan khusus, dibutuhkan sebuah tim yang solid antara tenaga ahli dan orang tua. Sehingga  pembelajaran dan pendidikan pada anak berkebutuhan khusus bisa berlanjut pula di rumah dengan pola yang sama.

3. Cari tahu tentang semua kondisi anak
Cari tahu semua kondisi anak. Baik itu dari aspek emosinya, perilakunya, bahasanya, motoriknya, kognitifnya, pendidikannya, sosialisasinya dll. Di saat kita telah mengetahui kondisi anak, kita akan memiliki gambaran hal apa saja yang perlu kita berikan pada anak. Dimana cara mencari tahunya? Kita bisa mencari informasi dan ilmu sebanyak-banyaknya mengenai anak kita pada tenaga ahli, buku dan orang yang telah berpengalaman menangani anak berkebutuhan khusus

4. Memberikan stimulus yang sesuai dengan kebutuhan anak


anak berkebutuhan khusus

Anak berkebutuhan khusus sama dengan anak pada umumnya, yaitu sama-sama membutuhkan stimulus untuk mengoptimalkan kemampuannya. Hanya saja tingkatan dan jenis stimulusnya berbeda-beda.

Untuk orang tua anak berkebutuhan, bisa berkonsultasi pada tenaga ahli bagaimana cara menstimulus kemampuan anak di rumah. Tenaga ahli yang dimaksud bisa dokter anak, psikolog, terapis, atau pun guru pendidikan luar biasa

5. Mencarikan sekolah yang tepat untuk anak
Ada 3 jenis model sekolah. Yaitu sekolah reguler biasa, sekolah reguler dengan menerapkan pendidikan inklusi di dalamnya dan sekolah luar biasa. Nah, ke tiga jenis sekolah ini sama-sama bisa menerima anak berkebutuhan khusus karena hal tersebut ada dalam perundang-undangan dan dijamin oleh negara.

Hanya saja, untuk praktek di lapangannya perlu disesuaikan dengan jenis anak berkebutuhan khususnya dan tingkat keberkebutuhan khususnya. Dan setiap sekolah ada plus minusnya. Nanti, insya Allah di lain waktu, saya akan bahas, ya, Bun tentang ke tiga sekolah tersebut

6. Bergabung dengan komunitas 


cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus 2

Bergabunglah dengan komunitas yang sesuai dengan kondisi anak. Bergabung dengan komunitas itu, akan menguatkan Bunda, karena Bunda tidak akan merasa sendiri, ada tempat untuk saling berbagi ilmu, pengalaman dan dapat menyemangati Bunda dalam membesarkan anak.

7. Menggali potensi anak
Setiap anak pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, ya, Bun. Begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus. Untuk itu, kenali dan gali potensi anak.

Banyak juga kok, anak berkebutuhan khusus bisa menang dalam dunia olah raga, bisa bermusik, bisa pijat dll. Tetapi, jangan selalu juga, ya, Bun mengukur kelebihan anak dengan sebuah prestasi di mata orang awam. Karena, setiap kemajuan kecil yang dibuat oleh anak kita, itu adalah sebuah prestasi besar untuk kita. Sedangkan untuk kekurangannya, bisa tetap kita stimulus terus dan tutupi dengan banyak kelebihannya.

8. Tidak memanjakan anak
Walau anak kita termasuk anak berkebutuhan khusus. Bukan berarti kita harus memanjakan anak juga, ya Bun. Karena kita sebagai orang tua, tidak selalu bisa mendampingi dan melindungi anak kita selamanya.

Sehingga diharapkan sebagai orang tua, perlu mengajarkan dan melatih kemandirian anak seperti makan sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri, buang air besar atau kecil sendiri dll. Pokoknya kemandirian mutlak yang perlu dikuasai oleh anak. Tentunya, disesuaikan juga dengan kemampuan anak.

9. Tanamkan rasa percaya diri pada anak
Bunda, anak pada umumnya sering ya, merasakan ketidak percaya dirian pada diri mereka. Begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus. Ketika anak bekebutuhan khusus merasakan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain. Itu akan membuat ia merasa minder, terutama tidak semua lingkungan mengerti kondisinya. Sehingga, banyak anak berkebutuhan khusus mendapatkan bully oleh teman-teman atau lingkungannya.

Untuk itulah, dibutuhkan peran kita sebagai orang tua dalam menumbuhkan rasa percaya diri pada anak dengan membangun konsep positif pada dirinya

10. Ajak keluarga dan lingkungan terdekat untuk menerima keadaan anak
Anak berkebutuhan khusus memiliki kebutuhan yang sama seperti anak pada umumnya. Anak sama-sama butuh diakui keberadaannya, butuh dihargai, butuh merasa dicintai dan butuh rasa diterima. Karena memang itulah kebutuhan fitrah kita sebagai manusia. Untuk itu, ajaklah keluarga dan lingkungan di sekitarnya untuk memahami dan menerima kondisi anak kita. Agar mereka bisa memaklumi keadaan anak

11. Ajak anak untuk bersosialisasi


cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus 3

Walau anak kita didiagnosa anak berkebutuhan khusus, mereka tetap butuh bersosialisasi. Mereka butuh bertemu dan menyapa orang-orang. Mereka butuh untuk diterima di lingkungannya, mereka butuh mengenali dan berbagung dengan orang dan bersama anak-anak yang lain. Untuk menghindari anak berkebutuhan khusus asyik dengan dunianya sendiri dan agar anak berkebutuhan khusus pun mengenal dunia yang sebenarnya

12. Besarkan anak penuh kasih sayang dan sertai dengan doa


cara merawat dan membesarkan anak berkebutuhan khusus 4

Anak berkebutuhan khusus terkadang, memiliki kepekaan dan rasa yang lebih sensitif dibandingkan anak-anak pada umumnya. Untuk itu, sayangilah dan berikan cinta kita sepenuh hati untuk anak kita. Walau mereka, berkebutuhan khusus. Tetapi, mereka tetap bisa merasakan cinta dari orang terdekatnya.

Jangan lupa, sertai doa dalam setiap kebersamaan kita dengannya. Agar Allah selalu melindungi anak kita dimana pun, kapan pun dan di saat apa pun. Karena, kita tak akan slalu bisa mendampinginya.

Baca juga: 11 Hal Ini yang Sebaiknya Tak Dikatakan Pada Orang Tua dengan Anak Berkebutuhan Khusus

"Akan ada akhir di saat nafas ini tak akan lagi berhembus bersama nafasnya"

Semoga Allah selalu memberikan kekuatan, kemudahan, kelapangan, keikhlasan dan kesabaran pada orang tua dengan anak berkebutuhan khusus dalam membersamai anaknya di manapun dan saat apapun

"Tak ada ciptaanNya yang terlahir dengan sia-sia. Begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus. Karena semua yang tercipta di dunia ini, pasti karena adanya sebuah alasan"


Bunda, Yuk Cegah Kekerasan Seksual pada Anak Sedini Mungkin!

bunda, yuk cegah kekerasan seksual pada anak sedini mungkin

Bunda, berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada tahun 2011 ada 216 kasus kekerasan terhadap anak yang dilaporkan, pada tahun 2014 sebanyak 656 kasus (Kompas, 16/12/2015). Pada tahun 2016, KPAI menerima 3.581 kasus pengaduan masyarakat. Dari jumlah itu, sebanyak 414 kasus merupakan kasus kejahatan anak berbasis siber (Kompas, 17/3/2017).

        Dari data di atas, bisa kita simpulkan bahwa angka kekerasan seksual pada anak semakin meningkat. Data tersebut sungguh membuat kita para orangtua semakin khawatir dan sedih, ya, Bun. Sehingga, membuat kita perlu belajar apa saja bentuk kekerasan seksual pada anak? Dampak dari kekerasan seksual? Siapa saja yang bisa menjadi pelakunya? Bagaimana peran kita dalam memberikan perlindungan pada anak? Bagaimana cara mengajarkan anak untuk melindungi dirinya sendiri? Dan apa yang harus dilakukan jika terdapat anak mengalami kekerasan seksual? Agar kita dapat mencegah kekerasan seksual pada anak sedini mungkin 

Bentuk Kekerasan Seksual pada Anak


Menurut Komnas Perempuan ada beberapa macam bentuk kekerasan seksual pada anak seperti:
1. Perkosaan
2. Eksploitasi seksual
3. Prostitusi seksual
4. Intimidasi seksual
5. Perbudakan seksual
6. Perdagangan anak untuk memuaskan nafsu para paedofil
7. Kawin paksa pada anak di bawah umur
8. Penyiksaan seksual
9. Pelecehan seksual baik secara fisik maupun nonfisik.

        Sering kali, ya, Bun kita membaca atau mendengarkan berita mengenai pelecehan seksual pada anak di mana-mana. Ternyata, memang bentuk pelecehan seksual itu ada banyak dan terutama yang belum terungkap, dikarenakan korban atau keluarga korban tidak berani melaporkannya.

Dampak dari Kekerasan Seksual pada Anak


cara mencegah kekerasan seksual pada anak

Kekerasan seksual pada anak meninggalkan dampak yang dalam pada korbannya, seperti

1. Kehilangan nyawa
2. Cacat / cidera pada tubuh
3. Trauma
4. Rasa malu
5. Melakukan aborsi
5. Depresi
6. Stres
7. Gelisah
8. Ketakutan

Dampak dari  kekerasan seksual ini bukan main-main pada anak. Jadi, dibutuhkan rangkulan, pelukan, motivasi dan tenaga ahli seperti dokter, psikolog dll untuk membantu proses penyembuhan anak

Siapa Saja yang Bisa Menjadi Pelakunya?


kekerasan seksual 1

Menurut survey yang dilakukan Komisi Perlindungan Anak pada tahun 2013, menyatakan bahwa kekerasan seksual pada anak 40% diantaranya terjadi di lingkungan sekolah, 30% di lingkungan keluarga, dan 30% di lingkungan sosial. Jumlah kasusnya meliputi sodomi sebanyak 52 kasus, perkosaan 280 kasus, pencabulan 182 kasus, dan incest (hubungan seks sedarah) 21 kasus.

        Berdasarkan data tersebut,  pelaku dari kekerasan seksual ini bisa dari tenaga pendidik, teman, keluarga sendiri dan bahkan ayah atau kakak/adik kandung sendiri. Miris, ya, Bun 😟

Peran Orangtua dalam Memberikan Perlindungan pada Anak


peran orang tua dalam memberikan perlindungan pada anak dari kekerasam seksual

Bagaimana, Bunda menyeramkan bukan? Untuk itu diperlukan peran kita sebagai orangtua dalam memberikan perlindungan kepada anak kita. Bagaimana caranya?

a. Ajarkan anak untuk menutup aurat dengan baik / berpakaian yang sopan
b. Berikan pendidikan seksual sejak dini pada anak
c. jangan titipkan anak pada sembarang orang. Jika akan menitipkan anak, sebaiknya titipkan kepada neneknya atau ayahnya
d. Tidak sering mengupload foto anak dan jika memang terpaksa diupload, sebaiknya bagian mata anak di sensor karena para pelaku paedofil suka berimajinasi dengan foto korbannya salah satunya dari gambar mata korban. Pastinya juga jangan mengunggah foto anak ketika sedang tidak berpakaian atau setengah berpakaian, ya, Bun.
e. Jangan suka memberitahukan lokasi bunda dan anak di media sosial, karena itu bisa membuat para paedofil mengincar anak kita
f. Berdoa meminta perlindungan selalu untuk anak

        Seperti tampak sepele, ya, Bun, tetapi ini penting sekali kita lakukan demi anak kita. Karena kita tidak pernah tahu isi pikiran dan hati orang lain terhadap anak kita. Salah satu penyebab mengapa meningkatnya kasus ini juga karena  kurang pekanya kita sebagai orangtua dalam memberikan perlindungan pada anak.

Dengan semakin canggihnya teknologi, membuat para pelaku paedofil semakin gencarnya mencari mangsa di dunia maya seperti, membuat banyan akun di media sosialnya dan mencari foto korban lalu menyebarkannya kepada para paedofil yang lain. Hiii serem, ya, Bun. Kalau begitu, yuk kita berhati-hati dalam menjaga anak kita.

Cara Mengajarkan Anak untuk Melindungi Dirinya Sendiri 


cara mengajarkan anak untuk melindungi dirinya sendiri dari kekerasan seksual

Bunda, sebagai orangtua yang memiliki keterbatasan waktu dan kemampuan. Membuat kita tidak selalu bisa memberikan perlindungan kepada anak kita. Oleh karena itu, anak kita perlu kita ajarkan untuk melindungi dirinya sendiri. Caranya?

1. Ajarkan anak tentang anatomi tubuhnya
Ini penting bunda, agar anak mengetahui nama-nama anggota tubuhnya dan organ intimnya seperti vagina, penis, payudara, pantat. Mengapa ini penting? Agar anak bisa menjelaskan secara akurat tentang tubuhnya dan untuk menghindari salah tafsir. Banyak, ya, Bun orangtua suka menghaluskan tentang nama organ intim ini. Tapi sebenarnya ini malah membuat anak kebingungan nantinya

2. Ajarkan anak tentang sentuhan
Beritahu anak bagian mana saja yang tidak boleh disentuh dan dilihat sembarang orang seperti dada, kemaluan.

Beritahu anak bagian tubuh yang boleh disentuh seperti di saat
- mandi
- buang air
Itu hanya anak atau ibu yang boleh melakukannya. Atau di saat dokter memeriksa anak dengan adanya pendampingan dari orang tua

3. Ajarkan anak untuk berkata "tidak"
Bunda, ajarkan anak untuk mengeluarkan pendapatnya sendiri dan hindari suka memaksa anak. Biarkan anak berkata "tidak" jika memang anak merasa tidak nyaman. Membiasakan anak untuk mengeluarkan uneg-unegnya, akan membantu anak berani menolak jika terjadi pelecehan seksual pada dirinya. Dan beritahu anak, jika ada orang yang menyentuh daerah pribadinya, menyuruhnya membuka baju di depannya, ada yang menunjukkan daerah pribadinya pada anak, atau menunjukkan gambar / film telanjang pada anak.

4. Beritahu tindakan yang seharusnya dilakukan anak, jika ada  orang yang mencurigakan
a. Minta anak untuk berlari ke tempat yang ramai
b. Suruh anak berteriak "tolong-tolong"
c. Minta anak untuk melaporkannya kepada orangtua, guru, atau orang dewasa yang ada di sekitar anak.

Baca juga: 4 Hal Penting Ini Perlu Diketahui Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying

        Bunda, selain kita bisa mengajarkan anak dengan mengajak anak berbicara tentang cara melindungi dirinya sendiri. Kita pun bisa mengajarkan anak dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang pastinya lebih menyenangkan, ya, Bun bagi anak yaitu berupa tontonan edukatif berikut ini.

video anti pelecehan seksual
YouTube · Ana Nabila Olshop
4 Mar 2017


Yang Perlu Dilakukan Apabila Anak Mengalami Kekerasan Seksual


 
Yang dilakukan apabila terdapat anak yanh mengalami kekerasan seksual

Saat ini kondisi kekerasan seksual pada anak termasuk dalam status gawat darurat di Indonesia. Agar tidak banyak berjatuhan korban berikutnya serta pelaku kekerasan seksual tidak merajalela dengan bebasnya. Dihimbau kepada para orangtua atau korban dan juga masyarakat untuk melaporkan tindak kekerasan seksual pada anak kepada lembaga-lembaga yang khusus menangani kasus terhadap anak. Mengapa? Karena "diam itu bukan pilihan".

        Sekarang ini telah ada lembaga yang juga menangani berbagai kasus yang terjadi pada anak, salah satunya yaitu Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban adalah lembaga yang mandiri yang bertanggung jawab untuk menangani pemberian perlindungan dan bantuan kepada saksi dan/atau korban sesuai tugas dan kewenangan yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, berkewajiban menyiapkan, menentukan, dan memberikan informasi yang bersangkutan dengan pelaksanaan tugas, kewenangan, maupun tanggung jawabnya kepada publik.

        Dengan adanya Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban ini, diharapkan mampu memudahkan rakyat Indonesia yang membutuhkan perlindungan dan mendapatkan haknya untuk meminta keadilan serta menurunkan tindak kekerasan seksual pada anak. Yuk, Bunda jangan pernah takut lagi kita untuk melapor, ya. Karena kebenaran itu perlu diperjuangkan

Baca juga: 6 Cara Mengajarkan Anak Mempertahankan Diri Dari Bully

Kontak LPSK

Alamat
LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban)
Jl. Raya Bogor Km 24 No. 47-49
Susukan Ciracas
Jakarta Timur 13750

Telp (021) 29681560
Fax (021) 29681551
lpsk_ri@lpsk.go.id

Sumber
http://lpsk.go.id
www.kpai.go.id
Kompas




Mencegah dan Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget

mencegah dan mengatasi anak yang kecanduan gadget

Hai Ayah Bunda! Hari ini saya lagi-lagi mau berbagi isi seminar atau kulwap parenting yang saya ikuti tentang Mencegah dan Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget. Sebagai orang tua tentu kita suka bingung, ya, Ayah Bunda usia berapa sih sebaiknya anak boleh dikenalkan dengan gadget? Berapa batas waktu penggunaan gadget yang baik untuk anak? Bagaimana agar kita bisa bijak menyikapi anak yang kecanduan gadget? Semua jawabannya ada di sini, langsung dari ahlinya. Kalau begitu, mari kita lihat, yuk,  profil narasumbernya!

Siapa ibu Nyi Mas Diane Wulansari?

Nama: Nyi Mas Diane W.
Status: Menikah, 1 org putri

Pekerjaan: 

1. Praktisi Perkembangan Anak.
2. Nara Sumber KEMDIKBUD R.I, Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.
3. Ketua Bidang Koordinator Pengembangan Sumber Daya, YAYASAN BHAKTI ASDIRAA.
4. Ketua Bidang Koordinator Litbang iParent (Ikatan Praktisi dan Ahli Parenting Indonesia)
5. Ketua Umum Alumni Yayasan LEMHANNAS, Banten.

Pendidikan

Pendidikan formal: Sarjana Psikologi.
Pendidilan nonformal:
1.Certified Mercury International as Public Speaker
2. The Institute of Human Potential, Philadhelpia, Praktisi Metode Glenn Doman
3. Certified The Institute of Duta Bangsa.
4. Certified The Institute of Dale Carniege.
5. Certified Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan LEMHANNAS R.I.
6. Dll.

Keahlian: Motivational Speaker.

Motto hidup:
"Pada saat kamu membantu Oranglain, sesungguhnya Kamu sedang membantu DIRI KAMU SENDIRI"

πŸ™πŸ» πŸ™

Waw keren sekali, ya, Ayah Bunda profil narasumber kita. Dan rasanya senang sekali beliau mau berbagi ilmunya dengan kita. Yuk kita simak saja penjelasan langsung dari beliau, ya!

Gadget dan Dampaknya 


Ayah Bunda, hidup di zaman ini, artinya banyak orangtua yang mengeluh anaknya kecanduan gadget, dari televisi, telepon genggam, hingga tablet. Padahal, kecanduan akut terhadap gadget pada anak dapat merusak kesehatan mereka, baik fisik maupun mental. Efek merusaknya dalam beberapa hal bisa sama seperti kecanduan alkohol atau narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba).

Nah, jika begitu dari mana, ya orang tua dapat mengetahui anaknya kecanduan gadget?

Perilaku Kecanduan Gadget


cara bijak mengatasi kecanduan gadget

Orang tua dapat mengetahui apakah anaknya telah kecanduan gadget atau tidak, dari perilaku anak itu sendiri, sebagai berikut:

a. Penggunaan gadget secara terus-menerus disertai kurangnya minat untuk bersosialisasi.
b. Menghabiskan waktu lebih dari 2 (dua) jam untuk menggunakan gadget.
c. Melakukan protes atas segala pembatasan dan aturan soal gadget.
d. Tidak dapat melewatkan waktu sehari pun tanpa gadget.
e. Selalu minta diberikan gadget. Jika tidak diberi, anak akan mengamuk.
f. Tidak mau beraktivitas di luar rumah. Misalnya, bersikeras minta pulang cepat agar bisa bermain game di rumah.
g. Menolak melakukan rutinitas sehari-hari dan lebih memilih bermain gadget. Seperti tidak mau disuruh orangtua untuk tidur atau mandi.

Kalau sudah ke tahap kecanduan gadget, kita pasti repot dan bingung, ya, Ayah Bunda cara bijak untuk menyikapinya.

Berikut Ini Cara Bijak Mengatasi Kecanduan Gadget pada Anak:


dampak negatif dari penggunaan gadget

1.  Membatasi Penggunaan
Batasi penggunaan gadget sesuai dengan rekomendasi kelompok usia anak, sebagai berikut.
(1) Anak-anak di bawah usia 3 tahun sebaiknya tidak diberikan izin bermain gadget, termasuk TV, smartphone, atau tablet.
(2) Anak-anak usia 3 hingga 4 tahun disarankan menggunakan gadget kurang dari satu jam dalam sehari.
(3) Anak-anak usia 5 tahun ke atas sebaiknya menggunakan gadget tidak lebih dari dua jam dalam sehari untuk penggunaan rekreasional (di luar kebutuhan belajar).

2.  Beri Jadwal
Jadwalkan waktu yang tepat untuk bermain gadget. Di luar itu, orangtua juga harus menyiapkan kegiatan alternatif lainnya agar anak tidak bosan, sehingga tidak membuatnya beralih lagi ke gadget.

3.  Jangan Beri Akses Penuh
Letakkan TV atau komputer di ruang keluarga. Dengan demikian, setiap kali anak menggunakannya, dia tidak sendirian dan masih dalam pengawasan anggota keluarga lainnya. Selain itu, perangkat digital (smartphone) juga sebaiknya tidak diserahkan pada anak sepenuhnya. Biarkan anak meminta izin terlebih dahulu jika ingin menggunakannya dan ambil kembali setelah selesai.

4.  Tetapkan Wilayah Bebas Gadget
Buat peraturan tidak boleh menggunakan gadget di tempat-tempat tertentu, misalnya di meja makan, kamar tidur, dan mobil.

5.  Ajarkan Anak tentang Pentingnya Menahan Diri
Pastikan untuk memberikan pujian pada anak ketika dia berhasil menahan diri untuk tidak bermain game dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

6.  Berikan Contoh yang Baik
Anak merupakan peniru terbaik dari orangtuanya. Untuk itu, orangtua juga harus menjadi contoh yang baik. Letakkan ponsel dan bermainlah bersama si kecil.

Sesi Pertanyaan "Mencegah dan Mengatasi Anak yang Kecanduan Gadget"


1. Nama: Bunda Rianda
Domisili: Depok
Pertanyaan: Adakah hubungan pengaruh gadget dengan terlambat bicara? Adakah fungsi gadget untuk membantu parenting? Lalu mulai kapan anak bisa dikenalkan dengan gadget?

Jawaban

Kepada Bunda Rianda di Depok,

a. Pemberian gadget akan mengurangi rangsangan pada interaksi sosialnya, ini terjadi karena gadget tidak butuh respon anak, sehingga sulit untuk berinteraksi dan hal ini berdampak pada respon bicaranya.

b. Gadget tentunya memberikan manfaat untuk dunia parenting. Sayangnya tidak semua orgtua, pendidik dan masyarakat memahami atau memiliki keterampilan dalam penggunaan media digital, sehingga berdampak "gagal manfaat".

c. Tidak ada aturan baku akan hal ini. Namun, semakin lama menunda akan semakin baik. Dengan memberikan smartphone pada anak secara mudah, maka anak akan terpapar tentang intoleransi, bullying, sexting, pornografi, radikalisme, terorisme dll akan mudah pula. Para ahli menganjurkan  memberikan gadget kepada anak-anak di usia 13 atau 14 thn. Yang terpenting jadilah teladan untuk anak-anak kita.
πŸ™πŸ™

2. Penanya: Bunda Marta
Domisili: Surabaya
Pertanyaan: Jika kita sudah melek ilmu tentang gadget pada anak, tetapi lingkungan terdekat, semisal suami, atau tante dan kakek neneknya malah mendukung hal tersebut dengan alasan agar mereka diam dan anteng atau bahkan supaya hemat hanya belajar lewat youtube tanpa perlu beli buku-buku dan  mainan-mainan karena sudah ada games di hape.. Bagaimana cara bijak berbicara dengan mereka?

Jawaban

Kepada Ibu Marta di Surabaya,

Sebelumnya saya apresiasi kepada Ibu Marta, yang sudah melek gadget dan ilmu pada anak-anak

Cara bijak bicaranya adalah :
a. Dalam keadaan santai & happy sampaikan informasi yang Ibu Marta ketahui tentang dampak positif dan negatif yang disertai dengan contoh dan kasus. Lakukan  sharing bukan briefing.
b. Tidak argumentasi, tidak marah dan tetap tenang.
c. Informasikan mengenai kesadaran tentang gadget.
d. Libatkan keluarga untuk ikut kelas-kelas parenting dll.
e. Carikan solusi/pengganti gadget, misal lakukan kegiatan outdoor.
f. Buat komitmen bersama.
g. Lakukan dengan Sabar, sabar, sabar, konsisten dan ikhlas.
πŸ™πŸ™

3. Penanya: Bunda Rindi
Domisili: Cimahi
Bun, kalau ayahnya yang justru kasih virus itu gimana, ya? Ayahnya gamers, gadget terus. Yahhh namanya juga anak anak, masih meniru orang terdekat, terutama ortunya. Tapi kan itu nggak baik buat anak, ya, Bun? Udah dilarang juga ya sulit kalau kondisinya kaya begitu.. Sebaiknya sikap ibu gimana? Terimakasih

Jawaban

Haloo Bunda Rindi di Cimahi,

Tips saya :
a. Ibu tetap tenang, karena jika ibu marah malah akan menjadi-jadi. Informasikan kepada suami tentang dampak negatifnya terhadap perkembangan otak anak ataupun orang dewasa.
b. Ajak suami untuk hadir pada  kegiatan-krgiatan parenting.
c. Ajak suami dan anak untuk lakukan aktifitas outdoor.
d. Lambat laun, buat aturan atau komitmen.
e. Sabar, sabar, sabar, konsisten dan ikhlas.
f. INGAT! berdoa sangat Penting untuk dilakukan diawal, agar suami dan anak kita terlepas menjadi gamers dan kecanduan gadget.
πŸ™πŸ™πŸŒΉ

4.Nama : Bunda Putri
Domisili : Lampung Tengah
Pertanyaan : anak saya laki-laki, usia 1 tahun 1 bulan, kalau berdasarkan teorinya kan jangan makan sambil nonton tv / nonton di tab / main-main / jalan-jalan gitu. Sedangkan cara yang paling ampuh  dengan cara makannya duduk, sambil nonton tv atau nonton video kesukaan dia baik di tv atau tab atau sambil dia main-main ke sana ke mari. Bagaimana cara yg benarnya, ya, Bun? takutnya ini keberlajutan terus dan jadi kebiasaan gitu...
Terima kasih.

Jawaban

Hai Bunda Putri di Lampung tengah..πŸ™‹πŸ»

Wajar jika setiap ibu ingin memiliki anak-anaknya memiliki perilaku yang baik, termasuk ketika berada di meja makan, ide saya adalah sbb :πŸ‘πŸΌ

a. Buat aturan, bahwa di meja makan No Gadget, No TV, dan ini berlaku utk seluruh anggota keluarga, bahkan tamu yang datang ke rumah.
b. Ingat! Anak lebih ampuh melihat "role model"  daripada dinasehati.
c. Cari tahu lebih detil tentang ADAB makan yg baik.
d. Lakukan dari sekarang, secara terus menerus dan konsisten.
πŸ‘ŒπŸΌπŸ’

5. Nama: Bunda Dwi Ayu Rizkiyah
Domisili: Sragen
Pertanyaan: Anak saya 2 th. Memang kesalahan saya dan suami sejak awal kalau anak rewel cara kami mendiamkan dengan gadget. Lama-lama kami merasa tidak baik karena setiap mau tidur harus liat gadget lebih dulu. Apa yang bisa kami lakukan untuk menebus kesalahan kami?

Jawaban

πŸ™‹πŸ»Halo Bunda Dwi Ayu..

Alhamdulillah dan Selamat Bunda dan suami sudah segera sadar..

Tip untuk Keluarga adalah :

a. Segeralah bertaubat kpd Tuhan YME. Karena Tuhan sudah memberikan Anugerah dan Amanah, mahakarya ciptaan-NYA. yaitu seorg anak yg lahir dalam keadaan fitrah. Semua anak lahir ke dunia ini tanpa masalah, orang tualah yang membuat masalah kepada anak-anaknya
b. JADWALKAN waktu bersama anak, TIDAK SISA ENERGI!
c. Berikan batasan waktu.
d. Buat lebih banyak aktifitas outdoor.
e. Berikan subtitusi/penggangti dirumah.
f. Berikan apresiasi kepada anak, jika berhasil tidak main gadget.
g. Tanamkan konsep menahan diri.
h. Lakukan dengan cinta kasih.
i. Lakukan sekarang juga untuk mmenjadi TELADAN bagi anak-anak kita.
πŸ™πŸ™πŸŒΉ

6. Nama: Bunda Fina Risky
Domisili: Cimanggis Depok
Pertanyaan: anak saya baru berumur 11 bulan, saya suka memberikan gadget untuk melihat video di youtube. Apakah itu bagus buat ke depannya nanti setelah anak saya berumur 2 tahun dan seterus nya karena saya takut anak saya nanti malah kecanduan gadget padahal awalnya saya cuma ingin memberikan video dari hp saya.

Jawaban

Haloo Bunda FinaπŸ™‹πŸ»

Alhamdulillah Bunda segera sadar yaa...πŸ‘ŒπŸΌ

Memberikan gadget pada usia 11 bln merupakan hal yang tidak patut dilakukan. Memberikan gadget TIDAK TEPAT SASARAN sama seperti obat, ada dosis untuk bayi, anak dan dewasa. Jika kita tidak paham, kita dapat memberi dosis orang dewasa kepada bayi. Akibatnya, obat yang seharusnya menyembuhkan malah akan menjadi RACUN. 😰

Tips untuk Keluarga adalah :

a. Segeralah bertaubat kpd Tuhan YME. karena Tuhan sudah memberikan Anugerah dan Amanah, mahakarya ciptaan-NYA. yaitu seorg anak yang lahir dalam keadaan fitrah. Semua anak lahir ke dunia ini tanpa masalah, orang tualah yang membuat masalah kepada anak-anaknya.
b. JADWALKAN waktu bersama anak, TIDAK SISA ENERGI!
c. Berikan batasan waktu.
d. Buat lebih banyak aktifitas outdoor.
e. Berikan subtitusi/penggangti dirumah
f. Berikan apresiasi kepada anak, jika berhasil tidak main gadget.
g. Tanamkan konsep menahan diri.
h. Lakukan dengan cinta kasih.
i. Lakukan sekarang juga untuk menjadi TELADAN bagi anak-anak kita.

πŸ™πŸ™πŸŒΉ

7. Nama: Bunda Rachma
Domisili: Tangerang
Pertanyaan: Bagaimana penggunaan gadget yang bijaksana buat balita dan anak? Karena kadang gadget pun bermanfaat misal untuk belajar anak. Saya biasa dalam seminggu anak bermain gadget 1-3 jam dengan penggunaan 1 jam sekali main.

Jawaban

Kepada Bunda Rachma di Tangerang,

Saya ucapkan selamat terlebih dahulu untuk Bunda, karena sudah menerapan aturan.

Sebenarnya tidak ada aturan baku. Namun, semakin lama kita menunggu untuk memberikan smartphone kepada anak kita, akan semakin baik. Dengan memberikan smartphone, juga akan mengekspose mereka pada isu-isu intoleransi, kekerasan, bulyying, predator anak, pedofile, pornografi, radikalisme dll.

Yang terpenting Bunda Rachma, jika tetap menginginkan gadget menjadi sarana pembelajran harus bangun proteksi (paham rating dan parental control), berikan imun kepada anak, rubah ke airplane mode, unduh terlebih dahulu.

Yang tak kalah penting adalah selalu libatkan anak dalam berkomunikasi atau membuat suatu aturan, karena orang tua yang shaleh akan selalu melibatkan anaknya dalam berkomunikasi.
πŸ™πŸ™

8. Nama: Bunda Yosela
Domisili: Semarang
① Apa tanda-tanda seorang anak dikatakan speech delay? Bagaimana cara deteksi dini agar bisa lebih cepat ditangani?

② Apakah benar ada kaitannya bahwa terlalu banyak menggunakan gadget akan mengganggu kerja hormon dan kerja otot sehingga mempengaruhi orientasi seksual?

Jawaban

Kepada Ibu Yosela di Semarang,

1. Mohon maaf, saya tidak membahas speech delay secara khusus di sini. Tetapi yang akan saya sampaikan adalah, salah satu akibat nya dari kerajingan gadget berpengaruh kepada kesehatan, salah satunya  dapat menjadikan anak-anak speech delay. (hrs cek record medic)

2. Sesuatu yang berlebihan tentu berdampak tidak baik.
Yang perlu diperhatikan adalah konten/isi dari gadget yang dilihat apa? Jika, yang dilihat konten pornornografi, maka jelas sekali, akan mengganggu hormon dopamin,hormon neuropiniprin, hormon serotonin, hormon oksitosin. Yang pada akhirnya akan mengganggu orientasi seksual seseorang.

3. Lalu bagaimana dengan kerja otot?
Kecenderungan yang terjadi pada saat kita pegang hp, yang bergerak hanya jari-jari tangan dan pergelangan tangan saja. Ini yang dapat menimbulkan RSI (repetitive strain injury), dan sakit di seputar area jari-jari dan pergelangan tangan namanya carpal tunnel syndrom, bahkan kecenderungan yang terjadi adalah sakit pada otot leher dan tulang belikat. Diperlukan aktifitas seimbang antara dunia maya dan dunia nyata.
πŸ™πŸ™πŸŒΉ

Baca juga: Peran Orang Tua Dalam Pengasuhan Anak Di Era Digital

Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan, ya, Ayah Bunda. Bahwa kita sebagai orang tua memegang peranan penting dalam pendidikan anak kita, termasuk bisa mencegah dan menghindari anak dari kecanduan gadget. Itu semua tergantung kita. Nah, sebelum kita mengajarkan anak agar tidak kecanduan gadget. Kitalah sebagai orang tua perlu mengevaluasi diri terlebih dahulu "Apakah kita sendiri telah bijak dan tidak ketergantungan dengan gadget?" Jika belum, yuk, kita sama-sama perbaiki! Agar anak dapat melihat contoh yang baik dari orang tuanya. Karena .....

"Satu perbuatan yang bermakna dapat mengalahkan seribu perkataan"

4 Hal Penting Ini Perlu Diketahui Orang Tua dan Guru dalam Mengatasi Bullying

4 hal penting ini perlu diketahui orang tua dan guru dalam mengatasi bullying

Hai Ayah Bunda, hari ini saya ingin berbagi isi seminar yang saya ikuti tentang Bullying. Karena saat ini sedang marak sekali, ya, Ayah Bunda kasus bullying ada dimana-mana. Sehingga, sebagai orang tua atau pun guru tentu kita perlu mengetahui apa itu bullying? Jenis-jenis bullying? Faktor penyebab bullying itu bisa terjadi? Dan bagaimana penanganannya atau solusi yang perlu kita persiapkan untuk kasus bullying ini?

Kalau begitu, Ayah Bunda bisa menyimak langsung penjelasannya dari ahlinya. Tetapi, sebelumnya kita kenalan dulu, yuk dengan sosok beliau ini!

🌟❤ Profil Narasumber


🌼🌼🌼🌼
Dewi Agustini, S.Sos., M.M., MCht., MNLp.,
Lahir 10 Agustus 1975 di Surakarta.

🌟🌟🌟🌟
Riwayat Pendidikan:
Menyelesaikan S1 Komunikasi Massa di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dan S2 Magister Management Universitas Sebelas Maret.

🌸🌸🌸🌸
Sejak tahun 2006 hingga sekarang tercatat sebagai Dosen Politeknik Indonusa Surakarta dan Dosen di IAIN Surakarta.

☘☘☘☘☘☘☘
Saat ini Dewi sedang menempuh kuliah doktor di bidang psikologi pendidikan islam.

🌷🌷🌷🌷🌷
Aktivitas Dewi sehari-hari selain sebagai Dosen, ia juga pemilik dan pengelola Lembaga Pendidikan Al Fikr di 4 kantor cabang Jogja dan Solo, dimana jenis usahanya adalah sekolah Daycare dan PGTK Al Fikr, Lembaga Konsultasi dan Pelatihan, Bimbingan Belajar, dan Pondok Mahasiswa.

πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ
Dewi juga sering menjadi pembicara di berbagai acara, dan sekaligus menjadi peneliti – terutama bidang pendidikan, komunikasi dan anak. Selain itu Dewi juga sebagai Konsultan dan Teraphist.

🌟🌟🌟πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ’«πŸ’«πŸ’«

        Wah bersyukur ya, Ayah Bunda kita bisa berkenalan dengan sosok hebat narasumber kita. Kalau begitu, selamat menyimak isi seminarnya, ya! "4 Hal yang Perlu Diketahui Orang Tua dan Guru Dalam Mengatasi Bullying"

BULLYING

1.  Makna Bullying


bullying terhadap anak
Beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli tentang perilaku Bullying :
Ken Rigby (2002:15) : “Penekanan atau penindasan yang berulang-ulang secara psikologis atau fisik terhadap seseorang yang memiliki kekuatan atau kekuasaan yang kurang, oleh seseorang atau kelompok orang yang lebih kuat.”

Andrew Mellor (1997), seorang psikolog dari University of Edinburgh, Inggris, mendefinisikan Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan dia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi, dan merasa tak berdaya untuk mencegahnya.

Barbara Coloroso (2003:44) : “Bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti, seperti menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan terror. Termasuk juga tindakan yang direncanakan maupun yang spontan bersifat nyata atau hampir tidak terlihat, dihadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau kelompok anak.

Dari beberapa pengertian diatas maka, pada dasarnya bullying adalah bentuk tindakan atau perilaku,  agresif seperti mengganggu, menyakiti atau melecehkan yang dilakukan secara sadar, sengaja dengan cara berulang-ulang oleh seseorang atau sekelompok orang.

Bullying dapat terjadi di mana saja, tidak memilih umur atau jenis kelamin korban. Korban bullying pada umumnya adalah anak yang lemah, pemalu, pendiam dan special (cacat, tertutup, cantik atau punya ciri-ciri tubuh yang tertentu) yang dapat menjadi bahan ejekan.
Bullying di Taman Kanak-kanak
Berdasarkan hasil penelitian, anak usia Taman Kanak-kanak (TK) tidak dengan sengaja melakukan bullying pada anak lain. Hal tersebut terjadi karena belajar dari pengalaman sebelumnya, bahwa tindakan tersebut memberi efek yang betul-betul nyata. Yang menjadi pembeda bullying di TK adalah bentuknya.

Perhatikan ilustrasi berikut :
Victor ingin bermain dengan teman sekelasnya Ben, Isaac dan Danu. Tapi mereka selalu menolaknya. Mereka hanya mau mengajak Victor bermain, kalau mereka bermain rumah-rumahan dan memerlukan kucing. Kucing tidak perlu bicara, hanya diam saja sebagai pelengkap. Kemudian mereka akan meminta Victor sebagai kucing. Setelah beberapa menit bermain, Victor sedih dan keluar dari permainan tersebut.

Untuk mencegah bullying di TK, hal-hal yang perlu dilakukan oleh guru adalah:

Memberi pengertian pada anak, bahwa bullying dan konflik interpersonal diantara anak adalah 2 hal yang jauh berbeda. Segera ketahui apakah perbuatan itu termasuk bullying atau hanya sebuah konflik biasa dalam pergaulan. Mengerti bahwa intervensi dini sangat diperlukan dalam menghentikan bullying, perlu juga mendiskusikan masalah ini di kelas. Membahas tentang perilaku dan konflik-konflik apa yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat ditolerir.

2.  Jenis-jenis Bullying

Menurut Andi Priyatna (2010:3),  jenis-jenis bullying dikategorikan sebagai berikut :
Fisikal : memukul, menendang, mendorong, merusak
Verbal : mengolok-olok nama panggilan, mengancam, menakut-nakuti
Sosial : gossip, rumor, dikucilkan dari pergaulan, dan sejenisnya
Cyber/elektronik: mempermalukan orang dengan menyebar gossip di jejaring social internet (missal : Facebook)

Berdasarkan jenis kelamin pelaku bullying, anak laki-laki cenderung melakukan bullying dalam bentuk agresi fisikal. Anak laki cenderung lebih sering mengalami tindakan bullying dibandingkan anak perempuan, sekaligus pelaku bullying lebih banyak didominasi oleh anak laki-laki.

Dampak tindakan bullying tidak hanya ditanggung oleh si korban bullying, melainkan juga berpengaruh pada si pelaku bullying, korban bullying, begitu pula pada anak yang menyaksikan tindakan tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa satu dari tiga anak di seluruh dunia mengaku pernah mengalami bullying, baik di sekolah, di lingkungan sekitar ataupun secara online (melalui media komunikasi telepon). Sebaliknya, satu dari tiga anak mengaku pernah melakukan tindakan bullying pada kawannya.

Mereka yang biasa menyaksikan tindakan bullying pada kawan-kawannya akan mengalami resiko :
a. Menjadi penakut dan rapuh
b. Sering mengalami kecemasan
c. Rasa keamanan diri rendah

3.   Faktor-faktor Penyebab Bullying

Terjadinya Bullying
Beberapa faktor penyebab terjadinya tindakan bullying adalah :

a. Faktor pribadi anak itu sendiri
Anak yang pernah mengalami kekerasan khususnya dari orang tua lebih cenderung 'balas dendam' pada temannya di luar rumah. Mereka tidak dapat mengatasi konflik kekecewaan atas perbuatan orangtua mereka sendiri dengan dirinya sendiri, sehingga dapat menyebabkan ketidakstabilan emosi dalam diri mereka.

b. Faktor keluarga
- Anak yang melihat orang tuanya atau saudaranya melakukan bullying sering akan mengembangkan perilaku bullying juga.

- Ketika anak menerima pesan negatif berupa hukuman fisik di rumah, mereka akan mengembangkan konsep diri dan harapan diri yang negatif, yang kemudian dengan pengalaman tersebut mereka cenderung akan lebih dulu menyerang orang lain sebelum mereka diserang.

- Bullying dimaknai oleh anak sebagai sebuah kekuatan untuk melindungi diri dari lingkungan yang mengancam.

- Rendahnya keterlibatan dan perhatian orang tua pada anak juga bisa menyebabkan anak suka mencari perhatian dan pujian dari orang lain. Salah satunya pujian pada kekuatan dan popularitas mereka di luar rumah.

c. Faktor lingkungan
Pada saat anak beranjak remaja, anak lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah atau lingkungan di mana anak itu tinggal. Salah satu faktor yang sangat besar adalah perilaku bullying teman sebaya atau lingkungan yang memberikan pengaruh negatif dengan cara memberikan ide baik secara aktif maupun pasif bahwa bullying tidak akan berdampak apa-apa dan merupakan suatu hal yang wajar dilakukan.

d. Faktor sekolah
- Karena pihak sekolah sering mengabaikan keberadaan bullying ini, anak-anak sebagai pelaku bullying akan mendapatkan penguatan terhadap perilaku mereka untuk melakukan intimidasi anak-anak yang lainnya.

- Bullying berkembang dengan pesat dalam lingkungan sekolah yang sering memberikan masukan yang negatif pada siswanya misalnya, berupa hukuman yang tidak membangun sehingga tidak mengembangkan rasa menghargai dan menghormati antar sesama anggota sekolah.

e. Faktor pengaruh media
Program televisi yang tidak mendidik, video game, dan film sebagai sarana media banyak menyuguhkan adegan kekerasan, atau perang. Meski seharusnya, orang tua melakukan pendampingan saat menonton atau bermain video game untuk anak di bawah umur, nyatanya banyak yang belum melakukan ini.

Ekspos media terhadap adegan kekerasan ini sering menginspirasi anak untuk mencobanya dalam dunia nyata.

dampak bullying pada anak

Menurut data statistik  tahun 2010 perilaku bullying di beberapa negara:

^ 69% anak-anak di Inggris melaporkan diperlakukan sebagai anak yang mendapatkan tindakan bullying.
^ 58% anak-anak di Amerika Serikat mengakui bahwa seseorang telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan mereka secara online.

Baca juga: Peran Orang Tua Dalam Pengasuhan Anak Di Era Digital

Setiap tahun sedikitnya 20 anak di Inggris mengakui mencoba melakukan tindakan bunuh diri karena perlakuan bullying yang mereka terima.
^ Di Australia 20% anak-anak yang mengalami bullying secara perlahan-lahan menghindar dari kegiatan pembelajaran di sekolah.
^ Di Kanada seorang anak mendapatkan tindakan bullying setiap tujuh menit di halaman bermain sekolah dan setiap 25 menit di dalam kelas.

4.  Upaya orang tua dan guru dalam  mengatasi tindakan Bullying

Pada tahun 2006 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kasus kekerasan pada anak mencapai Rp 25 juta, dengan berbagai macam bentuk, dari yang ringan sampai yang berat. Lalu, data BPS tahun 2009 menunjukkan kepolisian mencatat, dari seluruh laporan kasus kekerasan, 30 persen di antaranya dilakukan oleh anak-anak, dan dari 30 persen kekerasan yang dilakukan anak-anak, 48 persen terjadi di lingkungan sekolah dengan motif dan kadar yang bervariasi.

Plan Indonesia pernah melakukan survei tentang perilaku kekerasan di sekolah. Survei dilakukan di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Bogor, dengan melibatkan 31.500 siswa SMA dan 75 guru. Hasilnya, 67,9 persen menganggap terjadi kekerasan di sekolah, berupa kekerasan verbal, psikologis, dan fisik. Pelaku kekerasan pada umumnya adalah teman, kakak kelas, adik kelas, guru, kepala sekolah, dan preman di sekitar sekolah. Sementara itu, 27,9 persen siswa SMA mengaku ikut melakukan kekerasan, dan 25,4 persen siswa SMA mengambil sikap diam saat melihat terjadi kekerasan. Oleh karenanya, solusi yang bisa dilakukan untuk mencegah dan menangani kasus Bullying ini, antara lain:

1. Solusi buat orang tua atau wali orang tua :


peran orang tua dalam membantu anak mempertahankan diri dari bullying

a. Satukan Persepsi dengan Istri/Suami. Sangat penting bagi suami-istri untuk satu suara dalam menangani permasalahan yang dihadapi anak-anak di sekolah. Karena kalau tidak, anak akan bingung, dan justru akan semakin tertekan. Kesamaan persepsi yang dimaksud meliputi beberapa aspek, misalnya: apakah orang tua perlu ikut campur, apakah perlu datang ke sekolah, apakah perlu menemui orang tua pelaku intimidasi, termasuk apakah perlu lapor ke polisi.

b. Pelajari dan Kenali Karakter Anak. Perlu kita sadari, bahwa satu penyebab terjadinya bullying adalah karena ada anak yang memang punya karakter yang mudah dijadikan korban. Sikap “cepat merasa bersalah”, atau penakut, yang dimiliki anak. Dengan mengenali karakter anak, dapat mengantisipasi berbagai potensi intimidasi yang menimpa anak, atau setidaknya lebih cepat menemukan solusi (karena kita menjadi lebih siap secara mental).

c. Jalin Komunikasi dengan Anak. Tujuannya adalah anak akan merasa cukup nyaman (meskipun tentu saja tetap ada rasa tidak nyaman) bercerita kepada orang tuanya ketika mengalami intimidasi di sekolah. Ini menjadi kunci berbagai hal, termasuk untuk memonitor apakah suatu kasus sudah terpecahkan atau belum.

d. Jangan Terlalu Cepat Ikut Campur. Idealnya, masalah antar anak-anak bisa diselesaikan sendiri oleh mereka, termasuk di dalamnya kasus-kasus bullying. Oleh karena itu, prioritas pertama memupuk keberanian dan rasa percaya diri pada anak.  Kalau anak punya kekurangan tertentu, terutama kekurangan fisik, perlu ditanamkan sebuah kepercayaan bahwa itu merupakan pemberian Tuhan dan bukan sesuatu yang memalukan. Kedua, jangan terlalu “termakan” oleh ledekan teman, karena hukum di dunia ledek-meledek adalah “semakin kita terpengaruh ledekan teman, semakin senang teman yang meledek itu”.

e. Masuklah di Saat yang Tepat. Jangan lupa, bahwa seringkali anak (yang menjadi korban intimidasi) tidak senang kalau orang tuanya turut campur. Situasinya menjadi paradoksal: Anak menderita karena diintimidasi, tapi dia takut akan lebih menderita lagi kalau orang tuanya turut campur. Karena para pelaku bullying akan mendapat ‘bahan’ tambahan, yaitu mencap korbannya sebagai “anak mami”.

Oleh karena itu, mesti benar-benar mempertimbangkan saat yang tepat ketika memutuskan untuk ikut campur menyelesaikan masalah. Ada beberapa indikator: (1) Kasus tertentu tak kunjung terselesaikan, (2) Kasus yang sama terjadi berulang-ulang, (3) Kalau kasusnya adalah pemerasan, melibatkan uang dalam jumlah cukup besar, (4) Ada indikasi bahwa prestasi belajar anak mulai terganggu

f. Bicaralah dengan Orang yang Tepat. Jika sudah memutuskan untuk ikut campur dalam menyelesaikan masalah, pertimbangkan masak-masak apakah akan langsung berbicara dengan pelaku intimidasi, orang tuanya, atau gurunya.

g. Jangan Ajari Anak Lari dari Masalah. Dalam beberapa kasus, anak-anak kadang merespon intimidasi yang dialaminya di sekolah dengan minta pindah sekolah. Kalau dituruti, itu sama saja dengan lari dari masalah. Jadi, sebisa mungkin jangan dituruti. Kalau ada masalah di sekolah, masalah itu yang mesti diselesaikan, bukan dengan ‘lari’ ke sekolah lain. Jangan lupa, bahwa kasus-kasus bullying itu terjadi hampir di semua sekolah.

Baca juga: Ingin DiKenang Seperti Apakah Kita Oleh Anak Kita ? Yuk, Ikuti 10 Cara Mengukir Kenangan Manis Di Hati Anak

2. Penanganan yang bisa dilakukan oleh guru:

a. Mengusahakan untuk mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.

b. Membantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Guru harus dapat menerangkan dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak. JANGAN PERNAH MENYALAHKAN ANAK atas tindakan bullying yang ia alami.

c. Meminta bantuan pihak ketiga (psikolog atau ahli profesional) untuk membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu.

d. Mengamati perilaku dan emosi anak , bahkan ketika kejadian bully yang ia alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja sama dengan pihak sekolah (guru) dan mintal mereka membantu dan mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak. Mewaspadai perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak di rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua / guru / pengasuh).

e. Membina kedekatan dengan teman-teman sebaya anak dengan cara mencermati cerita mereka tentang anak. Mewaspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.

f. Meminta bantuan pihak ke tiga (psikolog atau ahli profesional) untuk menangani pelaku.

Baca juga: 6 Cara Mengajarkan Anak Mempertahankan Diri Dari Bully

        Bagaimana Ayah Bunda, dari penjelasan diatas sudahkah menjawab pertanyaan kita tentang bullying itu sendiri? Semoga sudah, ya, Ayah Bunda. Karena penjelasannya sudah cukup lengkap. Tetap yang terpenting adalah bagaimana kita sebagai orang tua bisa membangun konsep diri yang positif pada diri anak. Sehingga, anak mampu mempertahankan dirinya jika dibullying di luar sana, menghindari anak menjadi pelaku maupun jadi penonton bullying. Dan guru pun sangat berperan penting dalam mengawasi anak didiknya terutama di lingkungan sekolah. Semoga  4 hal yang perlu diketahui orang tua dan guru dalam mengatasi bullying ini dapat bermanfaat ya, Ayah Bunda buat kita semua πŸ˜ƒ


Sumber :
Dewi Agustini, S.Sos., M.M., MCht., MNLp.,
Seminar Institut Ibu profesional

Mengapa Membaca Buku Perlu Diperkenalkan Pada Anak Sejak Dini?

mengapa membaca buku perlu diperkenalkan pada anak sejak dini?

Hai Bunda, hari ini saya mau berbagi lagi isi seminar yang saya ikuti beberapa hari yang lalu dengan judul seminarnya adalah "Why Reading Matters in Eary Years". Jadi, intinya betapa pentingnya membaca buku perlu dikenalkan pada anak sejak dini. Dikenalkan ya, Bun. Bukan berarti mengajarkan anak membaca buku sejak dini, karena mengajarkan anak membaca buku jika, usia anak sudah matang untuk belajar membaca.

Menurut Ibu Yeti Widiati, Psikolog, Usia yang matang untuk anak belajar membaca adalah sekitar usia 5 tahun ke atas, itu pun harus dengan metode bermain dan ramah anak. Tetapi, ada juga ahli parenting yang lain berpendapat untuk mengajarkan anak membaca ketika usia anak di atas 6 tahun. Itu semua, dikembalikan lagi pada kita orang tuanya, untuk memilih pendapat ahli yang mana, ya Bun.

Yang penting jangan dibawah usia 5 tahun, kita sudah mengajarkan anak membaca. karena dunia mereka masih dunia bermain. Daripada kita mengajarkan anak membaca buku, lebih baik kita mengenalkan mereka pada buku dengan cara membacakan buku pada anak sejak dini. Itu penting, lho, Bun. Mengapa? Yuk kita simak isi seminarnya dan sebelum itu, mari kita berkenalan dahulu dengan narasumber kita

Narasumber

πŸ‘©πŸ»Nama: Ir Rahayu Wijayanti

🏑Alamat: -

πŸ’ΌπŸ’ΌAktifitas saat ini sebagai:
πŸ‘‰πŸ»Koordinator, Trainer dan konsultan pendidikan anak usia dini area DIY
2010- skarang :
πŸ‘‰πŸ»Koordinator, Trainer dan Konsultan Pendidikan Anak Usia Dini Se-Jawa Tengah
πŸ‘‰πŸ»Serta aktif di Unit manager trainer PT Tigaraksa tbk  2012 -  sekarang

✍Pernah aktif di :
1. Area marketing manager d nutrisionist infant product  Pt Nestle indonesia  2000 - 2012
2. Pt Tigaraksa Satria Tbk 2007- sekarang
3. Changing Environtment Training Singapore 2002
4. Training of Trainer Pendidikan Anak Usia Dini  Jakarta  2008
5. Banyak aktif pada seminar pendidikan anak usia dini dan seminar nutrisi halal dan thoyib

πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’

*"Why Reading Matters in Early Years*"

Dear Ayah Bunda,

Sebelumnya, terimakasih untuk komitment ayah bunda yang luar biasa. Perkembangan teknologi, memudahkan kita untuk belajar dan berkumpul, sharing bersama seperti sekarang ini.

Kenapa, sih, tahun-tahun awal pada kehidupan seorang  anak itu penting?
"Tahun - tahun yang paling berdampak pada kehidupan anak kita adalah sebelum anak masuk Sekolah."
Kenapa? Karena pada saat seorang bayi berusia 8 bulan, otaknya memiliki 1000 triliun sambungan syaraf.
Dan pada saat seorang anak berusia 10thn, maka, jumlah sambungan syaraf yang 1000 triliun tersebut akan berkurang Menjadi 500 triliun, bahkan jumlahnya bisa kurang dari itu.

Dengan fakta di atas, maka artinya adalah pengalaman di tahun-tahun awal kehidupan seorang anak, akan mempengaruhi pengurangan jumlah sel sel syaraf tersebut.

pentingnya mengenalkan buku pada anak sejak dini

Tahukah Bunda mengapa ini terjadi?
Karena otak bekarja atas dasar :
Gunakan,... atau kalau tidak, maka .... ia akan hilang.

Mengapa kita harus menumbuhkan minat baca sejak dini?

Anak-anak memiliki kemampuan belajar yang sangat tinggi. Mereka mudah sekali mempelajari sesuatu yang baru.

Ketika anak-anak kita masih berusia balita (bawah tiga tahun), mereka dengan mudahnya meniru perilaku-perilaku yang mereka lihat di lingkungan tempat mereka tinggal. Hal ini terjadi karena perkembangan otak paling pesat terjadi pada rentang usia 0-6 tahun.

Ketika seorang anak telahir di dunia ini, pertumbuhan otaknya sudah 25%, ketika mereka berusia 18 bulan sudah mencapai 50% dan di saat mereka berusia 6 tahun pertumbuhan otak anak mencapai 90% serta mencapai ukuran maksimal ketika berusia 18 tahun (100%).

Pertumbuhan otak ini seiring juga dengan perkembangan intelektual anak. 50% kemampuan intelektual anak berkembang saat lahir sampai umur 4 tahun, menurun menjadi 30% dalam rentang usia 4 sampai 8 tahun, dan ketika mereka berusia 8 sampai 18 tahun semakin menurun menjadi 20%.

Betapa sayangnya jika usia-usia emas (golden age) seorang anak berlalu begitu saja, tanpa mendapatkan sesuatu yang berarti. Padahal membentuk kebiasaan di usia ini jauh lebih mudah dibanding usia sesudahnya.

Banyak manfaat yang diperoleh anak jika mereka senang membaca buku sejak usia mereka masih sangat muda.

manfaat membacakan buku cerita untuk anak

Mengapa membaca itu penting?

Membaca merupakan salah satu fungsi tertinggi dari otak manusia dan dapat dikatakan bahwa semua proses belajar didasarkan pada kemampuan membaca. Paul C. Burns, Betty D. Roe & Elinor P. Ross (dalam Teaching Reading in Today’s Elementary School) mengatakan bahwa membaca merupakan suatu proses yang kompleks. Tidak hanya proses membaca itu yang penting tetapi, setiap aspek yang ada selama proses membaca juga bekerja dengan sangat kompleks. Ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca, yaitu:

1.  aspek sensori,
2.  persepsi,
3.  sekuensial (tata urutan kerja),
4.  pengalaman,
5.  berpikir,
6.  belajar,
7.  asosiasi, dan
8.  afeksi.

Kedelapan aspek ini bekerja secara bersamaan saat kita membaca. Sesungguhnya otak anak mempunyai kapasitas yang sangat luas. Otak kita memiliki sekitar seratus miliar sel otak. Angka yang sangat fantastis! Ini sama dengan dua puluh kali lipat seluruh penduduk dunia. Kemampuan otak yang sangat tinggi ini, menjadi tidak berfungsi kalau kita tidak mengembangkannya. Kita mengembangkan otak kalau kita menggunakannya. Sel-sel otak akan saling berhubungan satu sama lain (membentuk koneksi) kalau otak kita gunakan untuk berpikir.

Ketika anak membaca berarti anak sedang menggunakan otaknya untuk berpikir yang membuat sel-sel di otak saling terkoneksi. Semakin sering anak membaca buku maka, semakin banyak sel otak yang terkoneksi. Sel-sel otak yang terkoneksi inilah yang membuat anak menjadi cerdas.

*UNTUK BAYI DAN BALITA*

Mengapa mereka menyukai buku :

• Karena buku bisa dibuka tutup. Buka Tutup. Buka Tutup
• Warna yang cerah dan menarik
• Gambarnya indah
• Kertasnya bisa dikunyah 😬 - ngga terlalu keras atau lembut
• Buku berarti sesuatu yang menyenangkan , rhyme-y, suara suara merdu dan menyenangkan
• Saat membaca buku berarti saat untuk bisa dikeloni ibu

Apa yang akan mereka pelajari?

• Bagaimana menggunakan buku – dibuka, dan didalamnya kita menemukan cerita
• Membaca buku dari kiri ke kanan
• Bahwa ternyata buku dapat menceritakan sebuah kisah
• Bahwa yang namanya cerita ada awal dan akkhir
• Buku adalah bagian normal dan dibutuhkan dalam kehidupan.

Dengan kita melihat rendahnya minat baca anak di Indonesia maka, orangtua di luar sana harus diberikan penyadaran "Betapa Pentingnya Membangun Kecintaan Membaca"

Baca Juga: 20 Manfaat Membacakan Buku Cerita Pada Anak Dari Usia Dini

*12 Manfaat Membacakan Cerita Untuk Anak*

Membacakan cerita bukanlah hal yang sulit. Dengan senang hati anak Anda akan duduk manis begitu Anda bilang, “Waktunya mendengarkan cerita!” Namun jangan salah, membacakan cerita bukanlah kegiatan sampingan yang hanya bisa dilakukan kalau ada waktu luang saja. Berikut ini, sekilas ulasan 12 manfaat membacakan cerita untuk anak.

1. Kemampuan Berbahasa Meningkat

Kemampuan berkomunikasi seseorang dipengaruhi oleh kemampuan berbahasanya sejak kecil. Oleh karena itu, dengan membacakan cerita kepada anak dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasanya. Saat dibacakan cerita, anak-anak akan mendengar beragam kosakata, istilah, struktur kalimat, ungkapan dan peribahasa. Terkadang ada beberapa kata di dalam cerita yang belum dikenal anak. Saat itulah orang tua bisa menjelaskan arti dan penggunaan kata-kata baru tersebut pada anak. Pengenalan terhadap beragam elemen bahasa inilah yang akan meningkatkan kemampuan berbahasanya.

2. Kemampuan Mendengar Meningkat

Sebuah penelitian di London, menemukan bahwa dua dari tiga anak berusia dini menginginkan waktu yang lebih banyak untuk mendengar dongeng sebelum tidur. Penelitian tersebut juga memperlihatkan lebih dari 75 % anak ingin orang tua mereka yang membacakannya. Saat dibacakan cerita yang menarik, perhatian anak-anak akan ’tersedot’ pada cerita itu. Dengan mendengarkan, anak belajar bagaimana sebuah kata diucapkan. Ketika mendengar menjadi sebuah kebiasaan, maka dengan sendirinya anak juga belajar berkonsentrasi dan melatih kemampuan logikanya.

Hal ini sejalan dengan yang diungkapkan Virginia Walter PhD, seorang profesor bidang studi pendidikan dan studi informasi di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, “Pertama kali anak-anak diceritakan isi buku, mungkin mereka tidak menangkap segalanya. Tetapi, saat mereka mendengarnya lagi dan lagi, mereka mulai memperhatikan pola dan urutan cerita.” Jika anak Anda memberikan komentar, pertanyaan atau keesokan harinya anak ingin membahas, itu tandanya anak Anda mendengarkan cerita dengan baik.

3. Kemampuan Berkomunikasi Verbal Meningkat

Topik yang menarik pada cerita dapat memancing anak untuk membahasnya. Dialog yang terjadi antara anak dan orang tua saat membacakan cerita merupakan pengalaman anak dalam berkomunikasi verbal. Dari pengalamannya, ia akan belajar bagaimana bertanya, menanggapi, dan mengungkapkan pendapat. Oleh karena itu, saat membacakan cerita, Anda perlu mengusahakan agar terjadi komunikasi dua arah. Jangan biarkan anak Anda pasif mendengarkan saja sepanjang Anda membacakan cerita. Selingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang berhubungan dengan alur cerita atau menggantung kalimat untuk sekedar memancing komentar anak.

4. Kemampuan Konseptual Meningkat

Dongeng dapat memperkenalkan anak pada konsep-konsep baru. Bahkan melalui dongeng, konsep abstrak seperti hormat, sayang dan tolong-menolong dapat dimengerti oleh anak. Kemampuan konseptual anak kemudian akan berpengaruh pada kemampuan anak dalam menyikapi konsep-konsep yang ditemuinya dalam kehidupan nyata. Sebaiknya, Anda memilih buku-buku cerita yang sesuai dengan usia anak sehingga konsep-konsep yang diajarkan dalam buku tersebut sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak Anda. Perlu diingat bahwa anak yang cerdas bukanlah anak yang mengerti segalanya. Anak yang cerdas adalah anak yang mendapat stimulasi tepat sesuai dengan usianya.

5. Kemampuan Memecahkan Masalah Meningkat

Selain dari pengalaman langsung, anak-anak juga dapat belajar dari cerita. Semakin banyak cerita yang didengarnya, semakin banyak pengetahuan anak. Cerita yang dituturkan membuat anak belajar berbagai kejadian, memahami karakter tokoh, mengerti sebab akibat. Hal ini dapat memperluas pengetahuan dan mempertajam logika anak. Dengan pengetahuan yang luas dan kemampuan logika yang baik, anak dapat mengatasi masalahnya sendiri sesuai dengan usianya.

6. Daya Imajinasi dan Kreativitas Bertambah

Cerita anak memiliki ruang imajinasi yang lebih luas daripada cerita untuk usia remaja dan dewasa. Berbagai adegan terasa menegangkan, berbagai karakter dapat saja muncul, berbagai keajaiban pun bisa datang. Saat cerita dibacakan, imajinasi anak akan berjalan sesuai dengan jalan cerita. Imajinasiimajinasi dalam cerita inilah yang dapat memancing imajinasi anak.

Imajiansi anak dapat menumbuhkan jiwa petualang, mendorong anak untuk memandang dunia sebagai tempat yang mengasyikan. Pengembangan daya imajinasi ini penting sebagai dasar pengembangan kreativitas anak.

7. Kecerdasan Emosi (EQ) Meningkat

Daniel Goleman, seorang ahli psikologi yang banyak melakukan penelitian mengenai kecerdasan emosi menyatakan bahwa 80% keberhasilan seseorang di masyarakat ditentukan oleh kecerdasan emosi, dan hanya 20 persen ditentukan oleh kecerdasan otak.

Karakter di dalam cerita anak dapat membawakan beragam emosi sesuai dengan jalan ceritanya. Melalui karakter dalam cerita anak dapat mengetahui apa yang dimaksud sedih, gembira, marah, takut, bingung, dan lain-lain. Bukan hanya dari penampakan visual yang menggambarkan emosi tersebut tapi juga penyebab mengapa orang merasakan, mengendalikan, mengekspresikan dan mengenali emosi tertentu.

8. Nilai Moral Bertambah

Buku cerita yang baik bermuatan nilai moral. Bahkan ajaran moral menjadi inti dari cerita yang disampaikan. Biasanya buku cerita anak menyisipkan nilai moral seperti penghargaan terhadap teman, penghormatan kepada orang tua, menolong sesama, etika bermasyarakat dan lain-lain. Tentu saja, nilai-nilai moral tersebut disampaikan sesuai dengan tahapan perkembangan dan pemahaman anak.

Melalui cerita, orang tua dibantu untuk mengajarkan pesan-pesan moral dengan cara yang menyenangkan, tidak memaksa atau mengintimidasi. Dari beberapa cerita yang pesan moralnya tidak diungkap secara gamblang, orang tua dapat membantu anak menemukan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Orang tua juga dapat menyelipkan beberapa pesan moral lain yang relevan dengan jalan cerita.

9. Wawasan Bertambah

Kelebihan buku cerita dibanding buku kategori lainnya, meskipun sama-sama memiliki muatan informasi yang berharga, buku cerita mampu menyampaikan informasi tersebut dengan cara yang menyenangkan, yaitu melalui cerita. Ketika sebuah informasi disampaikan dengan cara yang menyenangkan, maka informasi tersebut dapat diserap dengan lebih efektif. Dari buku cerita, anak bisa menyerap berbagai informasi. Anak-anak dapat mengetahui apa yang ada di angkasa, beragam perbedaan kebudayaan, mengenai makhluk-makhluk yang ada di bumi, dan lain-lain dengan penyampaian yang lebih mudah dipahami.

10. Pengetahuan Ragam Budaya Bertambah

Anak mungkin saja bingung mendengar temannya yang berbicara dalam bahasa yang berbeda, ia juga mungkin takjub dengan tarian tradisional yang dilihatnya di televisi, bahkan anak juga bisa salah mengartikan perilaku orang lain karena budaya yang berbeda. Pentingnya pengenalan kebudayaan (terutama dalam konteks Indonesia sebagai negara majemuk) sebaiknya dilakukan sejak dini.

Buku cerita adalah media yang tepat bagi anak. Melalui buku cerita, anak-anak dapat memahami beragam jenis kebudayaandengan cara yang menyenangkan. Semakin banyak ia membaca buku dari beragam budaya, maka semakin banyak budaya yang dikenalnya. Pengetahuan budaya yang memadai dapat menjadi bekal anak dalam interaksi sosialnya.

11. Mendapatkan Relaksasi Jiwa dan Raga

Saat sebelum tidur adalah waktu yang tepat untuk membacakan dongeng. Dongeng dan kenyamanan merupakan kombinasi yang mampu membuat anak mendapatkan relaksasi jiwa dan raga. Selain itu, anak-anak juga telah dapat mengenali suara orangtuanya sejak dalam kandungan. Maka, kapanpun anak mendengarkan suara orang tuanya, ia akan merasa lebih nyaman. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak yang dibacakan dongeng sebelum tidur dapat tidur lebih nyenyak. Kualitas tidur yang baik, termasuk pada anak-anak akan mempengaruhi kesiapan mental dan kesegaran fisik pada esok paginya ketika bangun.

12. Keakraban Emosi Antara Orang Tua  dan Anak Meningkat

Keakraban emosi antara orang tua dan anak dapat meningkat dengan membacakan cerita. Saat membacakan cerita, orang tua cenderung berada di samping anak, mengadakan kontak fisik seperti memeluk atau membelai kepala anak.

Kontak fisik yang terjadi membuat anak merasa nyaman dan akrab dengan orang tuanya. Saat membacakan cerita terjadi interaksi, transfer nilai, pemahaman dan kesepakatan bersama yang membuat anak merasa dekat secara emosional dengan orangtuanya. Untuk memberikan 12 manfaat membaca cerita di atas, Anda hanya perlu meluangkan waktu limabelas menit sebelum tidur. Selain itu, Anda juga perlu memilih buku cerita yang baik untuk anak Anda.

Baca Juga: Caraku Mengenalkan dan Membuat Anak Menyukai Buku

        Wah banyak sekali, ya Bun, manfaat membacakan buku untuk anak kita sejak dini. Buat para Bunda yang masih memiliki anak usia dini, yuk jangan kita sia-siakan masa golden age anak kita! Dan buat Bunda yang belum sempat mengenalkan membacakan buku pada anaknya sejak dini, jangan khawatir ya. Tidak ada kata terlambat, hanya perlu lebih berjuang lagi. Semangggattt kita. Kalau Bunda yang lain, gimana sih, cara Bunda mengenalkan membaca pada anak? Bagi ceritanya dong!

❣πŸ’•❣πŸ’•❣πŸ’•❣πŸ’•❣πŸ’•


Seminar ini disponsori oleh
PT. Tigaraksa tbk
Institut Ibu Profesional

Sumber

Ir Rahayu Wijayanti
Seminar Institut Ibu Profesional (IIP)






Apa Itu Anak Tunagrahita Ringan?

apa itu anak tunagrahita ringan?

Hai Bunda, akhirnya hari ini saya memposting tulisan dengan tema anak berkebutuhan khusus. Karena beberapa waktu yang lalu, saya sudah menuliskan tentang anak berkebutuhan khusus dengan jenis anak tunagrahita. Kali ini, saya ingin berbagi ilmu tentang klasifikasi dari tunagrahita itu sendiri yaitu tentang anak tunagrahita ringan.

Baca juga : Anak Berkebutuhan Khusus

1. Pengertian Anak Tunagrahita Ringan

Terdapat banyak istilah mengenai anak tunagrahita ringan. Salah satunya dikemukakan oleh Amin (1995:22) adalah sebagai berikut:

“Anak tunagrahita ringan adalah mereka yang kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat, namun mereka mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang akademik, penyesuian sosial, dan kemampuan berkerja”

Anak tunagrahita ringan ini memiliki IQ atau kecerdasan dibawah rata-rata anak normal. Kisaran IQ mereka sekitar 55 sampa 70.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita ringan masih mampu belajar secara akademik dengan materi yang sederhana dan mampu bekerja di lingkungan masyarakat serta disesuaikan dengan tingkat kemampuannya.

2. Karakteristik Anak Tunagrahita Ringan

Seorang pendidik harus mengenal karakteristik anak tunagrahita ringan, agar dapat membuat program yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Pendidik yang dimaksud di sini, bukan hanya sekedar guru, ya, Bun. Orang tualah pendidik utama anak-anaknya.

Adapun karakteristik anak tunagrahita ringan menurut Astati (2001:5) adalah sebagai berikut:

a. Ciri fisik dan motorik

Keterampilan motorik anak tunagrahita ringan lebih rendah daripada anak normal. Sedangkan tinggi dan berat badan adalah sama. Hasil penelitian Rariek (1980) yang dihimpun oleh Samuel A. Kirk (1986) menyimpulkan bahwa kesehatan tubuh dan kematangan motorik anak tunagrahita ringan lebih lemah dari pada anak normal yang sesuai dengannya.

b. Bahasa dan penggunaanya

Anak tunagrahita ringan banyak yang lancar berbicara tetapi kurang dalam pembendaharaan kata. Mereka juga kurang mampu menarik kesimpulan mengenai apa yang dibicarakan.

c. Kecerdasan

Tunagrahita

Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam berfikir abstrak. Tetapi mereka masih mampu mempelajari hal-hal yang bersifat akademik walaupun terbatas.

Sebagian dari mereka mencapai usia kecerdasan yang sama dengan anak normal usia 12 tahun ketika mencapai usia dewasa. Disamping itu mereka menunjukkan keterbatasan lingkup perhatian, mudah terganggu perhatian, hiperaktif, dan ada juga yang pasif (diam berjam-jam).

d. Sosial

Anak tunagrahita ringan cenderung menarik diri, acuh tak acuh, mudah bingung. Keadaan seperti ini akan bertambah berat apabila lingkungannya tidak memberikan reaksi positif. Mereka cenderung bergaul dengan anak normal yang lebih muda usianya.

e. Kepribadian

Ciri-ciri pribadi anak tunagrahita ringan antara lain: kurang percaya diri, merasa rendah diri, mudah frustasi. Ciri-ciri ini berkaitan dengan reaksi orang lain terhadap kondisi mereka karena orang lain mereaksi berdasarkan keterampilan penyesuaian diri dan pola perilakunya.

f. Pekerjaan

Dalam kemampuan berkerja, anak tunagrahita ringan dapat melakukan pekerjaan yang sifatnya semi-skilled dan pekerjaan itu sifatnya sederhana, bahkan sebagian besar dari mereka dapat mandiri dalam melakukan pekerjaan sebagai orang dewasa asalkan sesuai dengan kemampuannya.

     Berdasarkan hal di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik anak tunagrahita ringan jika dilihat dari keadaan fisik, mereka tidak berbeda dengan anak normal, akan tetapi dalam hal kecerdasan, sosial dan kepribadian menunjukkan adanya perbedaan yang cukup berarti mudah frustasi, daya perhatiannya kurang, dan sebagainya.

Baca Juga: 3 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Tunagrahita

3. Masalah-masalah Anak Tunagrahita Ringan

Karakteristik anak tunagrahita ringan berdampak kepada banyaknya kesulitan yang dialami oleh anak tunagrahita ringan dalam kehidupannya sehari-hari.

        Di bawah ini adalah kemungkinan masalah yang dihadapi anak tunagrahita ringan menurut Astati (2001:10) adalah sebagai berikut:

a. Masalah penyesuaian diri

Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam mengartikan norma-norma lingkungan sehingga mereka tidak dapat melakukan fungsinya sebagai masyarakat. Akhirnya tidak jarang dari mereka diisolasi dan dianggap hanya sebagai beban orang lain

b. Masalah pemeliharaan diri

Anak tunagrahita ringan mengalami kesulitan dalam membina dirinya. Misalnya dalam mengadakan orientasi, pemeliharaan dan penggunaan fasilitas di lingkungannya serta bagaimana kepantasan penampilannya.

c. Masalah kesulitan belajar

Kesulitan belajar biasanya tampak dalam bidang pelajaran yang sifatnya akademis dan mengandung hal-hal yang sifatnya abstrak. Sedangkan dalam bidang pengajaran non akademik, mereka tidak begitu mengalami kesulitan.

d. Masalah pekerjaan

Kenyataan menunjukkan banyaknya populasi penyandang tunagrahita ringan pasca sekolah yang tidak memperoleh kesempatan bekerja karena dinilai kemampuan kerja mereka sangat rendah. Hal ini diperkirakan penyebabnya antara lain kurangnya kesesuaian antara keterampilan yang dimiliki dan prilaku vokasional (daya tahan, minat, kegembiraan, komunikasi, penampilan dan lain-lain) dengan tuntutan lapangan kerja.

Permasalahan yang dihadapi oleh anak tunagrahita ringan diantaranya masalah penyesuaian diri, masalah dalam kehidupan sehari-hari hingga menyebabkan anak tunagrahita ringan memerlukan bantuan orang lain, masalah kesulitan belajar yang disebabkan hambatan berpikirnya, masalah penyaluran ke tempat kerja dan masalah pemanfaatan waktu luang.

4. Kebutuhan Belajar Anak Tunagrahita Ringan



Anak tunagrahita ringan memiliki kebutuhan khusus yang perlu dibantu agar kemampuan anak tunagrahita dapat dioptimalkan dengan baik yang disebabkan dari dampak ketunagrahitaannya. Menurut Astati dan Mulyati (2010:25), bahwa kebutuhan belajar anak tunagrahita ringan diantaranya adalah :

a. Kebutuhan dalam layanan pembelajaran

Anak-anak tunagrahita memiliki potensi dalam belajar dan erat kaitannya dengan berat dan ringanya ketunagrahitaan.

Kebutuhan khusus yang dimaksud adalah:

1) kebutuhan layanan pengajaran yang sama dengan siswa lainya.

2) Kebutuhan layanan pembelajaran yang sangat khusus.

b. Kebutuhan akan penciptaan lingkungan belajar

Mereka membutuhkan lingkungan belajar seperti pengaturan tempat duduk yang disesuaikan kondisi  anak-anak tunagrahita.

c. Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan bina diri

Anak tunagrahita membutuhkan konteks dan orientasi cerita yang dimulai dari hal yang kongkrit kemudian menuju ke hal yang abstrak.

d. Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan sosial dan emosi

Dalam hal bertinteraksi membutukan hal-hal ini yaitu, kebutuhan untuk merasa menjadi bagian dari yang lain, kebutuhan untuk menemukan perlindungan dari label yang negatif, kebutuhan akan kenyamanan sosial, dan kebutuhan untuk menghilangkan kebosanan dengan adanya stimulasi sosial.

e. Kebutuhan dalam pengembangan kemampuan keterampilan

Beberapa keunggulan tunagrahita dalam membawa mereka pada hubungannya dengan orang lain, meliput: (a) spontanitas yang wajar dan positif, (b) kecendrungan untuk merespon orang lain dengan baik dan hangat, (c) kecendrungan merespon pada orang lain dengan jujur, dan (d) kecendrungan untuk mempercayai orang lain.

f. Kebutuhan dalam layanan pembelajaran

Anak-anak tunagrahita memiliki potensi dalam belajar dan erat kaitannya dengan berat dan ringannya ketunagrahitaan.

Kebutuhan khusus yang dimaksud adalah:

1) kebutuhan layanan pengajaran yang sama dengan siswa lainya.

2) Kebutuhan layanan pembelajaran yang sangat khusus.

g. Kebutuhan akan penciptaan lingkungan belajar

Mereka membutuhkan lingkungan belajar seperti pengaturan tempat duduk yang disesuaikan kondisi  anak-anak tunagrahita.

    Dari pernyataan di atas, menunjukkan bahwa anak tunagrahita ringan senantiasa berhadapan dengan kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi, namun karena mengalami hambatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, anak tunagrahita memerlukan layanan yang khusus.

Kebutuhan anak tunagrahita ringan begitu banyak yang terdiri dari kebutuhan dalam layanan pembelajaran, kebutuhan akan penciptaan lingkungan belajar, kebutuhan dalam pengembangan kemampuan bina diri, kebutuhan dalam pengembangan kemampuan sosial dan emosi, kebutuhan dalam pengembangan keterampilan, kebutuhan dalam layanan pembelajaran, dan kebutuhan akan penciptaan lingkungan belajar


Setelah kita mengetahui dan mempelajari tentang anak tunagrahita ringan, semoga membuat kita sebagai masyarakat bisa memahami keadaan mereka dan menerima mereka dengan baik dalam lingkungan bermasyarakat


Daftar Pustaka

Astati, & Mulyati, Lis. (2010). Pendidikan Anak Tunagrahita. Bandung: CV. Catur Karya Mandiri

E.M. (2011). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: CV Amanah Offset

Nani, Euis. (2011). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Amanah Ofsett

Somantri, Sutjihati. (2009). Pendidikan Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama