Ayah dan Anak Berjauhan? Lakukan 7 Cara Ini Untuk Membuat Semuanya Tetap Terasa Dekat

Ayah dan Anak Berjauhan? Lakukan 7 Cara Ini Untuk Membuat Semuanya Tetap Terasa Dekat

Hai Bunda! Apa ayahnya anak-anak suka tugas keluar luar kota? Atau situasi dan kondisinya mengharuskan si Ayah sementara  berjauhan terlebih dahulu dengan anak? Baik itu karena ada pekerjaan, atau karena keperluan lain yang tak bisa ditinggalkan. Pastinya itu bikin kita sedih dan rindu ya, Bun terutama anak-anak.

Hanya saja, kita tidak bisa berlama-lama larut dalam kesedihan atau kekesalan. Karena bagaimana kita akan memberikan penjelasan dan pengertian pada anak kita. Jika kita sendiri pun, belum bisa mengerti dan memahami keadaannya.

Nggak apa-apalah ya, Bun jika Ayah terpaksa berjauhan dengan kita dan anak-anaknya dalam waktu yang dekat. Itu hanyalah sebentar karena waktu akan cepat sekali berlalu. Tetapi, kalau berjauhannya lama, berarti ada banyak hal yang perlu kita pertimbangkan, termasuk aspek tumbuh kembang anak kita

Lalu, bagaimana caranya agar anak tidak kehilangan peran Ayahnya walau sedang berjauhan sebentar? Karena mendidik itu tidak hanya tugas ibu, tetapi ayah memiliki peranan yang sangat penting dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Diibaratkan dalam sebuah sekolah, bahwa peran ibu itu seperti guru dan ayah adalah kepala sekolahnya. Semuanya perlu bersama-sama dan kooperatif dalam pendidikan dan pengasuhan anak. Nggak bisa sendiri-sendiri. Misalnya Ayah tugasnya sibuk cari nafkah saja di luar sana, sedangkan ibu sendiri yang mendidik anak di rumah. Tidak, bukan begitu. Maaf, membuat anaknya saja berdua kan? masa mendidik dan mengasuh anak hanya ibu saja yang bekerja. Ya, nggak gitu. Jadi, penting sekali untuk para Ayah hadir dalam kehidupan anaknya, bukan hanya hadir secafa fisik saja tetapi secara psikologis anak. Apa saja dampak jika seorang anak kehilangan peran ayahnya?

Dampak jika anak kehilangan peran ayah

Dampak jika anak kehilangan peran ayah

Sebenarnya ada banyak hal dampak negatif jika anak kehilangan perah ayahnya. Apa saja itu?

1. Anak membenci ayahnya

Wajar dong ya, jika anak membenci ayahnya. Karena seseorang yang seharusnya melindungi dan menjaganya. Tetapi, tidak hadir di kehidupannnya dan tidak ada di saat anak membutuhkannya

2. Anak kehilangan sosok ayah

Anak laki-laki akan kesulitan bagaimana menjadi seorang laki-laki yang baik karena ia kehilangan role mode dari ayahnya yang seharusnya menjadi tempatnya belajar. Jadi, jangan aneh mengapa saat ini banyak para suami yang tidak tahu memperlakukan istrinya dengan baik, sulit mengambil keputusan, manja, malas mencari nafkah, dan bahkan menjadi gemulai. Itu semua karena anak kehilangan peran ayah di masa kecilnya.

Bagi anak perempuan, ia akan menjadi anak yang kurang membutuhkan dan menghargai laki-laki. Karena ia belajar dari ibunya yang serba bisa sendiri, cenderung membuat anak takut menikah karena dalam konsep berpikirnya, bahwa kebanyakan laki-laki akan seperti ayahnya yang tidak hadir dalam kehidupannya. Dan bahkan bisa juga sebaliknya, membuat anak dengan mudahnya jatuh cinta pada sembarang lelaki, karena gagalnya para ayah menjadi cinta pertama anak perempuannya

3. Banyak anak kehilangan peran gendernya.

Pernah lihat mengapa anak laki-laki banyak yang gemulai dan anak perempuan yang kelaki-lakian? Itu semua karena kurang dominannya kehadiran ayah dalam sehari-hari dan sebaliknya

4. Lahirnya LGBT

Kebanyakan faktor terlahirnya LGBT di mana-mana adalah karena kesalahan pola asuh sewaktu kecil, terutama kurangnya orangtua hadir dalam memerankan gender pada anak-anaknya

5. Mudah dibully atau jadi pelaku bully

Dalam membangun konsep positif pada diri anak diperlukan kerjasama yang sama antara Ayah dan Bunda. Jadi, kalau salah satunya tidak sesuai pola asuhnya atau kurangnya kebutuhan psikologis anak karena hilangnya peran ayah, makan tanpa disadari akan cenderung menciptakan konsep diri yang negatif pada anak karena kurangnya penguatan dari orangtua yang seharusnya berasal dari rumah

6. Terbentuk karakter yang negatif

Ayah yang tidak hadir dalam kehidupan anaknya, cenderung membuat anak memiliki perilaku negatif seperi keras, mengganggu orang lain, dll hanya untuk mencari perhatian ayahnya. Mengapa anak sampai mencari perhatian? Itu semua karena ia kekurangan kasih sayang dan perhatian dari sosok yang ia panggil "Ayah"

Wah, pastinya masih banyak sekali ya, Bun dampak negatif jika seorang anak kehilangan peran ayahnya. Di atas itu hanya beberapa saja.

Namun, terkadang ada kalanya seorang Ayah terpaksa berjauhan dengan anaknya walau hanya sebentar seperti urusan pekerjaan, menjenguk orangtua dan lain-lain. Nah, bagaimana ya agar anak tidak merasa berjauhan dengan ayahnya dan tidak kehilangan peran ayah dalam hari-harinya?

Ayah dan Anak Berjauhan? Lakukan 7 Cara Ini Untuk Membuat Semuanya Tetap Terasa Dekat

Bonding ayah dan anak

1. Berikan anak pegertian

Ajak anak berbicara jauh-jauh hari tentang rencana ayahnya, jika memang Ayah akan pergi selama 2 minggu atau lebih. Berikan alasan pada anak, mengapa ayah perlu pergi dan berikan anak pengertian dengan mengajak anak berbicara dari hati ke hati


2. Tetapkan jadwal pulang

Menetapkan jadwal pulang ini penting bagi anak. Agar anak tahu kapan waktu ayahnya pulang. Sebaiknya tepati janji pada anak, agar anak tidak merasa kecewa ketika menunggu ayahnya pulang

3. Sering telfon anak

Mintalah Ayah agar sering-sering menelepon ke rumah atau pada anak. Agar anak tidak merasa kehilangan ayahnya. Tanyakan hari-harinya, apakah anak merasa senang atau tidak dengan harinya, dengarkan ceritanya walau melalui telfon. Tetap mendengarkan cerita anak, akan membuat hati ayah dan anak tetap berdekatan. Walau jauh secara fisik tetapi tetap terasa dekat di hati

4. Sering video call dengan anak

Dengan kecanggihan teknologi masa kini, membuat komunikasi terasa mudah dan begitu dekat. Sering-seringlah ajak anak video call dengan ayahnya di saat santai. Misalnya setiap anak akan tidur di malam hari atau di pagi hari ketika anak baru terbangun dan akan memulai aktivitasnya

5. Sering bicarakan tentang ayahnya  kepada anak-anak

Walau kehadiran Ayah secara fisik tidak ada. Tetapi, jika kita tetap sering membicarakan ayahnya pada anak. Anak akan merasa seolah-olah ayah hadir secara fisik di kehidupan mereka seperti.

"Wah, anak Bunda hebat mau membereskan mainan sendiri. Ayah pasti bangga ama Dede" atau "Dede, ayahnya nanti sedih lho, kalau dede suka pukul-pukul gitu" dll.

Kita bisa berbicara begitu, jika bonding ayah dan anak dekat sekali. Sehingga, walau Ayah sedang tidak ada. Tapi, anak tetap menurut atau senang jika kita berbicara tentang ayahnya. Intinya harus ada chemistry antara ayah dan anak terlebih dahulu 😉

6. Libatkan ayah dalam pengasuhan anak

Nah, ketika jadwal si Ayah pulang. Kita bisa lho, Bun memanfaatkan waktu sebaik itu untuk membuat Ayah selalu berdekatan dengan anak. Misalnya minta Ayah memandikan anak, atau tolong pakaikan baju anak dll. Itu jika anaknya masih kecil, ya Bun 😃.  Atau kalau anak sudah besar, bisa meminta ayah membantu anak untuk mengerjakan PRnya dll. Sebelun Ayah perlu berangkat kembali esok harinya

7. Biarkan mereka berkencan bersama tanpa kita

Jika ayahnya telah pulang dan akan berangkat kembali nantinya. Berikan waktu yang istimewa untuk ayah bersama-sama dengan anaknya berkencan tanpa hadir kita. Misalnya Ayah mengajak anak untuk makan bersama, menonton bersama, atau bisa juga membacakan buku cerita pada anak sebelum anak tidur dll

Itulah 7 cara untuk membuat Ayah dan anak tetap terasa dekat walau mereka sedang berjauhan. Nah kalau Bunda sendiri, bagaimana caranya untuk membuat anak tetap merasa dekat dengan ayahnya, walau sebenarnya mereka sedang berjauhan? Sharing, yuk!

Bunda, Ibu Rumah Tangga dan Ingin Punya Penghasilan? Yuk, Gabung di Sini Aja!

bunda, ibu rumah tangga dan ingin punya penghasilan? yuk, gabung di sini aja!

Apa Bunda Ibu Rumah Tangga atau seorang ibu? Apa Bunda ingin punya penghasilan tambahan? Apa Bunda suka masak? Apa Bunda ingin berjualan makanan, tetapi nggak punya warung makan? Yuk, gabung di Madhang aja!

Apa itu Madhang?


madhang

Madhang adalah sebuah wirausaha yang dibangun oleh putra bungsu Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) dan tim pengembang dari Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, dengan latar belakang untuk membantu para ibu yang ingin mempunyai penghasilan dari rumah dan agar setiap orang bisa merasakan masakan ibu.

Kenapa masakan ibu? Karena salah satu yang paling dirindukan anak dari ibunya adalah masakan ibu ya, Bun. Nah, Madhang ini ingin mengajak para ibu untuk berbagi masakan mereka agar bisa dinikmati oleh semua pecinta kuliner. Tentu saja, masakan ibu selalu punya ciri khas tersendiri ya, Bun.

Baca juga: Bunda, Ingin Menjadi Seseorang yang Dirindukan Oleh Anak-anak Kita? Lakukan Saja 4 Hal Sederhana Ini!

Jadi, inilah yang membuat Madhang berbeda dengan wirausaha masakan yang lain. Kita bisa dengan mudah menjual apa yang kita masak di rumah dengan bergabung dengan Madhang tanpa harus memiliki warung makan terlebih dahulu. Apalagi saat ini telah lahir aplikasi Madhang untuk membantu penjual dan pembeli dengan lebih mudah lagi berkomunikasi. Sekarang, yuk kita lihat Bun, apa saja ya visi misi dari Madhang ini!

Visi Misi Madhang


Visi
Mengubah resep keluarga menjadi ekonomi lebih

Misi
- Membantu meningkatkan taraf keluarga
- Memperkenalkan makanan khas yang ada di Indonesia
- Mengangkat kearifan lokal untuk melestarikan masakan warisan dengan budaya silahturahmi

Baca juga: Konsep Pendidikan dan Pengasuhan Anak

Dari visinya saja sudah terlihat ya, Bun bahwa Madhang ini hanya membantu para ibu atau keluarga yang ingin masakan khas keluarga mereka bisa memiliki nilai ekonomi yang lebih

Kelebihan Madhang


Setiap usaha pasti memiliki sebuah kelebihan, begitu juga dengan Madhang ini. Apa saja ya kelebihan Madhang ini?

👉 Enak
👉 Sehat
👉 Tanpa bahan pengawet atau MSG
👉 Memiliki rasa yang khas

Manfaat Bergabung dengan Madhang Bagi Penjual


Ada banyak manfaat yang bisa kita ambil dari bergabung dengan Madhang selaku penjual yaitu:

1. Kita bisa berjualan tanpa harus memiliki tempat makan terlebih dahulu

Jadi, nggak perlu repot-repot lagi ya, Bun kita memaksakan diri kita memiliki warung makan jika dana yang kita punya terbatas. Apa pun yang kita masak dan ingin kita jual, langsung aja jual di Madhang

2. Bisa memfasilitasi orang-orang yang membutuhkan makanan khas kita

Ketika kita memiliki masakan khas keluarga, bisa kita bagikan pada semua orang dengan mudah di Madhang ini

3. Bisa hemat waktu dan biaya

Karena berjualan di Madhang ini praktis ya, Bun. Jadi kita bisa menghemat semuanya seperti menghemat tenaga, waktu dan biaya

4. Kita pun bisa dengan mudah berkomunikasi langsung dengan pelanggan

Aplikasi Madhang ini mudah dilakukan dan membuat kita gampang untuk berkomunikasi langsung dengan pembeli

5. Menjadi mudah untuk memperkenalkan masakan kita pada banyak orang

Ayo buat para Bunda yang memiliki resep rahasia dan khas. Yuk, biarkan semua orang merasakan masakan enak kita dan kita akan memiliki ciri tersendiri dari rasa masakan yang kita punya

6. Kita bisa berpenghasilan dari rumah

Ini nih yang pasti diinginkan oleh semua para Bunda tentunya, ya 😉

7. Sebagai salah satu sarana kita untuk berkreasi makanan

Karena cara menjualnya mudah di Madhang ini. Pasti bikin kita semakin semangat ya Bun untuk berkreasi dengan masakan kita dan hasilnya tinggal di jual deh di Madhang

8. Dll

Cara Bergabung di Madhang


Cara bergabung di Madhang mudah, Bun. Ini dia persyaratannya:

1. Memiliki Smartphone
2. Bisa mengoperasikan smartphone
3. Memiliki kartu identitas (KTP)
4. Mempunyai resep makanan yang ingin di jual
5. Download aplikasi Madhang di Play Store

Siapa yang Mengantarkan Masakan Madhang?


Buat bunda pasti bingung ya. Kalau kita sudah masak dan menjualnya di Madhang, lalu siapakah yang bisa mengantarkan makanannya pada pembeli ya?

Bunda jangan khawatir ya karena kini Madhang telah bekerjasama dengan Grab dalam fitur Grab Food dan pesan antar makanan Madhang. Apa itu Grab?

Tentang Grab


grab

Grab adalah layanan transportasi on-demand dan pembayaran mobile terdepan di Asia Tenggara. Grab ini fokus bergerak pada transportasi baik itu transportasi mobil mau pun motor dengan menekankan kenyamanan, keamanan, dan kepastian bagi penggunanya.

Saat ini Grab bukan hanya memberikan layanan di Indonesia saja, tetapi sudah berkembang di Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Myanmar dan Kamboja. Untuk Bunda yang mencari tahu lebih lanjut, bisa kunjungi laman Grab di http://www.grab.com

Waw, ternyata jaringan Grab ini luas sekali ya, Bun. Bukan hanya di Indonesia tetapi kelas mereka sudah internasional. Wah sekarang kita sudah tahu ya, Bun siapa yang akan mengantar makanan kita. Lalu bagaimana pembayarannya? Pembayarannya bisa kita lakukan dengan PayTren. Karena saat ini Madhang sedang membuat kerjasama menuju arah sana dengan PayTren. Apa itu PayTren?

Tentang PayTren 


PayTren

PT Veritra Sentosa Internasional atau dikenal dengan PayTren adalah perusahaan yang dimiliki oleh Ustadz Yusuf Mansyur. PayTren ini berkantor pusat di Bandung Jawa Barat, dipimpin oleh Bpk Hari Prabowo, SE selaku direktur utama dan pengemban amanah dari Ustadz Yusuf Mansyur

PayTren ini adalah penyedia layanan transaksi terkemuka di tingkat nasional melalui pemberdayaan manusia.

PayTren merupakan alat transaksi yang bisa digunakan di smartphone berbasis IOS, Android dan juga pengguna dekstop dengan keuntungan dan manfaat yang tidak didapatkan dengan bertransaksi biasa. Ini semua berjalan dengan  program pemerintah dalam membentuk masyarakat tanpa uang tunai. Untuk lebih lanjutnya, silahkan berkunjung ke laman ini ya, Bun www.paytren.co.id atau www.treni.co.id

Jadi, Bunda PayTren ini bisa digunakan oleh kita untuk bertransaksi apa saja seperti pembayaran token listrik, transportasi, pulsa, dan transaksi Madhang pun bisa dengan menggunakan PayTren ini nantinya. Dengan bertransaksi dengan menggunakan PayTren bisa lebih berkah karena di dalamnya ada fitur untuk sedekahnya. Jadi kita bisa memiliki keberkahan dari penghasilan yang kita dapatkan. Selain itu PayTren pun menambahkan fitur baru yaitu PayTren pariwisata untuk memperkenalkan destinasi-destinasi yang ada di Indonesia ke dunia

Kolaborasi Madhang - Grab - PayTren 


kerjasama paytren, grab, madhang

Pada hari selasa, 13 Februari 2018 adalah peluncuran kerjasama antara PayTren - Grab - Madang di The Suites Parahyangan Business Park Blok D6 – D7 Jl.Soekarno Hatta No.693 Buahbatu – Bandung. Dengan judul "PayTren - Grab - Madhang. Payrent 5.0 Conneting Your Life" Bersama Ustadz Yusuf Mansyur, Kaesang Pangarep, Pak Ongki Kurniawan dan perwakilan Pak Gubernur Ahmad Heryawan

Acara ini diadakan dengan seru sekali dan beberapa atraksi seperti tarian, pawai motor Grab, drum band dan tumpeng.

pawai motor grab

drumb band paytren 5.0 conneting your life

3 Kolaborasi mitra usaha ini sangat membantu pemerintah Indonesia karena:

1. Mengentaskan kemiskinan
2. Mengurangi pengangguran
3. Meraih mimpi bersama-sama
4. Mengembangkan wirausaha baru secara online
5. Melahirkan pengusaha baru
6. Dll

Wah, keren ya Bun sinergi dari 3 usaha ini. Yuk, kita doakan mereka sukses agar bisa membantu memajukan perekonomian Indonesia dan mensejahterakan rakyat Indonesia itu sendiri.

Bagaimana Bunda, sudah tertarikkah sekarang Bunda untuk memiliki penghasilan tambahan? Mari kita manfaatkan fitur mereka untuk semakin produktif di era digital ini



Sumber

https://madhang.id
http://www.grab.com
www.paytren.co.id



















Begini Cara Menumbuhkan Keberanian pada Anak

begini cara menumbuhkan keberanian pada anak

Dear Ayah Bunda!

Sebagai orangtua, pasti kita ingin ya, memiliki anak yang berani dan nggak mudah takut pada sesuatu yang memang seharusnya tidak perlu kita takuti. Namun, tahukah Ayah Bunda bahwa untuk menumbuhkan keberanian pada diri anak memerlukan sebuah proses dan waktu yang tidak sebentar. Tentu saja semuanya terletak pada pola asuh kita yang mendukung pula penanaman nilai-nilai keberanian pada diri anak dari sejak dininya

Allhamdulillah, saya lagi-lagi berkesempatan untuk mengikuti sebuah seminar parenting yang diadakan oleh Sygma Daya Insani tentang "Cara Menumbuhkan Keberanian pada Anak". Dan hari ini saya kembali membagikan materi seminarnya untuk Ayah Bunda semua

Buat Ayah Bunda yang suka mengikuti tulisan saya, pasti kenal dengan pemateri yang satu ini yaitu, Ibu Miarti Yoga. Buat Ayah Bunda yang belum kenal. Boleh menyimak profil beliau terlebih dahulu, ya

Profil Narasumber

miarti yoga

Nama : Miarti Yoga
Tempat tanggal lahir : Ciamis, 22 Maret 1981
Status : Menikah dengan Yoga Suhara, ST
Anak : Khairy Aqila Shidqi dan Fariza Tresna Hazimah
Alamat :
Telepon :
FB/Instagram/Twitter/Line : Miarti Yoga

Aktivitas:
✅ Direktur Sekolah Ramah Anak Zaidan Educare
✅ Penulis lepas di berbagai media cetak nasional
✅ Penulis buku-buku parenting (Unbreakable Woman, Best Father Ever, Adversity Quotient)
✅ Relawan Literasi Jawa Barat
✅ Kontributor Ahli rubrik parenting di Majalah Intima'
✅ Nara sumber seminar parenting di berbagai lembaga
✅ Nara sumber workshop dan pelatihan pendidikan guru TK/PAUD
✅ Pengasuh Bincang Pengasuhan Online di komunitas Keluarga Ramah Anak
✅ Manager Seba Music Entertainment

Motto : *Semangat, Berkarya, Bermanfaat*

Bagaimana Ayah Bunda, sudah tahu kan sekarang dengan narasumber hebat yang satu ini? Kalau begitu, yuk kita simak materinya langsung dari beliau, ya! 😉

Begini Cara Menumbuhkan Keberanian pada Anak


cara membuat anak berani

BEKAL KEBERANIAN UNTUK ANANDA

By : Miarti Yoga
(Early Childhood Consultant)

Ayah Bunda yang dirahmati Allah.

Sejenak, yuk kita cermati satu demi satu fakta yang terjadi pada anak-anak hari ini.

1. "Bully" terjadi hampir di semua jenjang usia

Saling mengejek, saling menjatuhkan harga diri di depan banyak orang, hingga saling melakukan tindakan spontan nan destruktif (saling jambak, saling pukul, bahkan beramai-ramai menyiksa fisik salah satu teman sambil dipertontonkan kepada banyak orang).

2. Ajakan/saran seorang teman untuk mencoba berhubungan intim

Seorang gadis berseragam putih abu berbisik pada temannya. Kurang lebih seperti ini; “Tahu nggak? Aku pernah lho, ngerasain yang namanya bersetubuh. Padahal kalau kalau kamu mau nyoba, nyoba aja. Gapapa kok. Nih, buktinya. Aku gak hamil.”

3. Saling "endorse" tentang nikmatnya mencicipi salah satu minuman atau pil narkoba.

Sekelompok anak laki-laki berseragam putih biru bercengkerama di sebuah kantin di sekolah. “Beneran lho. Kemarin aku juga nyoba. Happy banget deh. Beneran.”

4. Chatting anak SD yang menyerupai komunikasi suami isteri

Mama Papa, Mami Papi, Ayah Bunda, ternyata digunakan dengan begitu lugas sebagai sarana berkomunikasi diantara sepasang anak SD yang tengah berpacaran. Mereka melakukan janjian, mereka melakukan obrolan panjang, bahkan mereka menyematkan janji gombal untuk bisa sehidup semati.

5. Sekelompok Anak SD sudah mulai terjebak merk dan gengsi

Seorang siswa kelas 3 SD mengajak temannya untuk makan di tempat nongkrong atau di kafe tertentu. Juga bukan sekali dua kali, mereka saling bertukar informasi tentang merk-merk “branded”, mulai dari tas, jaket, celana, dan lain-lain.

Na’udzubillaahi minzhalik. Demikianlah fakta yang mengemuka. Memang miris, namun inilah kenyataan yang harus kita hadapi.

Berbicara generasi, tentu berbicara zaman. Generasi yang hidup zaman milenial seperti sekarang ini, tentu akan berbeda dengan generasi di mana aneka permainan tradisional masih mengalir dengan alaminya. Berbeda tantangan, berbeda kebutuhan, berbeda kesan, bahkan berbeda kemungkinan dampak yang muncul.

Nah, berbicara aneka perbedaan tersebut, cukup koheren dengan beberapa keterangan. Dalam sebuah hadits familiar yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dinyatakan bahwa

"Allah SWT lebih mencitai mukmin yang kuat daripada mukmin yang lemah"

Terlebih bagi generasi masa kini, keterangan tersebut betul-betul wajib menjadi landasan.

Bentuk Keberanian yang Perlu Ditanamkan pada Anak


Dan salah satu keberanian yang penting untuk anak-anak kita miliki terkait dengan zaman sekarang dengan segala bentuk sikap permisifnya, anak-anak kita butuh keberanian untuk berkata “tidak”.  Adapun turunan dari berani berkata “tidak” itu adalah;

Berani berargumen secara lugas dan tegas
Berani menolak dengan prinsip yang jelas
Berani mengungkapkan kepada orang tua atau orang dewasa terdekat, terkait ajakan atau intimidasi yang menghampiri dirinya
Berani memiliki alasan yang logis
Berani untuk tidak berada dalam arus orang lain

Rasulullah Saw, adalah pribadi yang keberaniannya diabadikan sejarah, beberapa diantaranya;

Keberanian di medan perang
Keberanian menentang tokoh-tokoh Quraisy
Keberanian yang menenangkan (berusaha tenang dalam kondisi genting sekalipun untuk tetap membuat nyaman kondisi psikologis orang-orang sekitar)

Terkait sikap berani itu sendiri, dalam banyak keterangan disebutkan bahwa pengertian berani merupakan antonim atau kebalikan dari sikap pengecut. Artinya, ini adalah PR kita bersama tentang bagaimana caranya agar anak-anak kita tumbuh dan berkembang sesuai fitrahnya. Berikut adalah beberapa indikatornya.

1. Bagaimana mereka mampu berdaya tahan

Anak yang berdaya tahan, tentu akan berbeda dengan anak yang kaya dengan inputan pemanjaan. Mereka akan jauh memiliki fleksibilitas yang tinggi di berbagai lingkungan. Mereka juga tak akan terlarut dengan kekagetan yang ada. Mereka akan jauh lebih sigap dalam berbagai situasi. Oleh karenanya, yuk latih mereka untuk bersikap dewasa. Melalui apa? Melalui penugasan, melalui pembiasaan amanah, melalui kerja sama, melalui kegiatan membantu orangtua, dan lain-lain.

2. Bagaimana mereka mampu berterus terang dalam kebenaran

Belajar jujur adalah seharusnya. Jujur mengakui kesalahan, jujur mengungkapkan kekhilafan. Dan idealnya, anak mampu mengungkapkan kondisi yang sebenarnya kepada orangtua atau kepada orang dewasa terdekat. Oleh karenanya, budaya curhat akan menjadi landasan yang baik untuk anak belajar jujur.

3. Bagaimana mereka menahan diri  untuk tidak menyebarkan aib teman sendiri

Ini adalah bagian dari bentuk latihan menjaga lisan. Bagaimana anak kita terlatih untuk tidak terbiasa mengungkapkan kejelekan orang lain. Mengapa hal ini penting dan apa hubungannya dengan keberanian? Karena pribadi yang berani adalah pribadi yang berupaya membuat dirinya kuat tanpa harus melemahkan pihak lain.

4. Bagaimana mereka belajar hidup objektif

Hampir sama dengan poin ke-3. Salah satu indikator keberanian adalah objektif. Bagaimana seorang anak terlatih untuk berpersepsi positif, bagaiamana mereka mampu menilai sesuatu dengan sudut pandang yang benar, bagaimana mereka mampu mengatakan suatu fakta dengan lugas, dan lain-lain.

5. Bagaimana mereka mampu menahan nafsu amarah

Ini juga satu latihan dasar yang tak sederhana, namun tetap harus dikuatkan. Rasa tak suka, kesal, benci, dendam, semuanya adalah fitrah. Lumrah. Persoalannya, bagaimana anak-anak kita tak menjadikan hal ini sebagai senjata yang menguatkan dirinya. Bagaimana mereka mampu menahan diri dari spontanitas kemarahan. Apalah lagi saat hidup dalam lingkungan sosial, tentu ini akan sangat merugikan.

Baca juga: Sudahkah Ayah Bunda Mengajarkan Konsep Maaf Memaafkan Pada Anak? Begini Caranya!

Oleh karenanya, pertemanan dan persahabatan adalah sarana indah untuk anak-anak mengemas sikap. Dalam pertemanan, mereka melatih diri untuk mengenal sikap dan kebiasaan orang lain, belajar sabar, belajar mengalah, belajar rendah hati, belajar mendengar, belajar mengikuti aturan. Maka menarik anak kita dari lingkungan sosial, meski untuk tujuan agar steril dari hal yang tak diinginkan, tetap bukan jalan yang bijak. Karena hakikatnya, anak belajar mengeruk samudera bijak dari pergaulan.

Demikian sikap berani menjadi hal yang sangat dasar bagi bekal generasi. Semoga Allah himpunkan kita ke dalam golongan orangtua yang memiliki tanggung jawab moral.

Cara Menumbuhkan Keberanian pada Anak


Sama halnya dengan rasa percaya diri, keberanian akan tumbuh dari utuhnya kemampuan seorang individu. Artinya, ketika anak kita memiliki keterampilan hidup, ketika anak kita memiliki kesibukan dengan waktunya, ketika anak kita dibiasakan memiliki target yang jelas, ini akan mengokohkan jiwanya sehingga bersikap berani. Oleh karena itu, bekal berikutnya untuk mengokohkan jiwa anak kita agar mereka memiliki keberanian adalah;

1. Motivasi

Kondisikan mereka untuk memiliki harapan, impian, ekspektasi, orientasi dan sejenisnya. Ini yang akan menjadikan mereka tak henti berupaya atau berikhtiar. Dan orang yang berupaya tak mungkin berada dalam kondisi diam. Orang yang berupaya, jiwanya akan kaya alias tudak kosong. Ini yang kemudian mendorong pribadinya untuk memiliki sikap berani. Berani berkata, berani mengungkapkan, berani mengambil sikap, dan lain-lain.

2. Efektivitas

Yuk biasakan anak kita untuk dekat dan biasa dengan prioritas. Sehingga mereka biasa melakukan sesuatu berdasarkan prioritas. Bahkan dengan kemampuan menentukan prioritas, akan secara langsung menjadi keterampilan tersendiri dalam memutuskan sesuatu. Pada akhirnya, insyaAllah mereka tampil sebagai pribadi yang berani membuat keputusan.

3. Daya juang

Ibarat dua sisi mata uang. Daya juang tak mungkin terpisah dari keberanian. Manalah mungkin berani itu muncul jika tak punya mental daya juang. Maka selayaknya kita latih mereka untuk terbiasa menuntaskan tugas, untuk melampaui tugas-tugas perkembangan, untuk menuntaskan berbagai keharusan, untuk sabar dalam setiap ujian, untuk terlibat dalam ragam kompetisi, dan lain-lain.

4. Etos kerja

Etos kerja bukan hanya berlaku bagi orang dewasa. Namun dibutuhkan pula oleh anak-anak. Tepatnya, mereka perlu dikenalkan dengan regulasi dan disiplin. Oleh karenanya, tak salah jika mereka dikenalkan dengan jadwal. Tercatat ataupun tidak, namun agenda-agenda anak dipastikan teregulasi dalam setiap harinya. Contohnya adalah, setiap sebelum tidur, adalah jam biologis untuk dibacakan cerita. Contoh berikutnya, setiap subuh anak dikondisikan untuk memiliki jadwal tetap untuk tilawah atau menambah hafalan ayat. Dan lain-lain, dan lain-lain.

5. Produktivitas

Ini bagian dari syarat untuk menjadi pribadi yang berani. Lalu mengapa harus ada produktivitas? Karena produktivitas itu bukan sekadar sibuk. Produktivitas itu kesibukan yang terarah dan jelas orientasinya.

Baca juga: Sudahkah Kita Membuat Resolusi Untuk Menjadi Seseorang yang Produktif dalam Hidup Kita?

Terlebih hasilnya. Dan salah satu kelebihan siapa saja  yang produktif adalah akan selalu sibuk dengan kebaikan. Dan siapa saja yang produktif, tentu akan memiliki keterampilan hidup tertentu. Tentu akan memiliki kemampuan tertentu. Lalu semuanya berpadu menjadi bekal keberanian untuk mencoba, untuk menerima tantangan, untuk berinovasi, dan lain-lain.

Baca juga: Bunda Ingin Menjadi Ibu yang Produktif? Begini Caranya!

Demikian yang dapat saya bagikan pada edisi kali ini. Semoga bermanfaat.

Allohu’alam bishowaab.

Terimakasih dan salam pengasuhan

🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏

Bagaimana Ayah Bunda, sudahkah Ayah Bunda menumbuhkan keberanian pada anaknya sejak dini? Semoga dari penjelasan di atas membuat kita termotivasi sebagai orangtua dalam melatih keberanian pada anak kita ya, Ayah Bunda.

Semangatttt belajar ya, kita 😉

Belajar Bahagia Dari Anak

Belajar Bahagia Dari Anak

Sebagai Ibu, saya selalu menghabiskan banyak waktu bersama anak saya, Erysha (1y11m). Bukan hanya sekedar menghabiskan waktu, tetapi saya berusaha mengisinya dengan sebuah kebersamaan yang berkualitas bersamanya.

Baca juga: Ingin DiKenang Seperti Apakah Kita Oleh Anak Kita ? Yuk, Ikuti 10 Cara Mengukir Kenangan Manis Di Hati Anak

Karena saya takut Erysha tiba-tiba besar dan saya kehilangan waktu di masa kecilnya tanpa makna. Dan saya tidak ingin termasuk ibu yang menyesal di hari tua saya, karena kehilangan banyak waktu bersama anak

"Apa pun bisa kita cari. Tapi, masa kecil anak tak akan pernah terulang kembali"

Karena selalu bersamanya, membuat saya begitu  memperhatikannya. Salah satunya, saya suka sekali diam-diam mengamatinya. Seperti ketika Erysha hanya diijinkan bermain di depan halaman rumah saja, setelah ia usai makan. Membuatnya begitu senang. Atau hanya ketika saya membacakan buku cerita untukknya, membuat dia begitu fokus mendengarkan sambil tersimpul sebuah senyum manis di wajahnya.

Saya terharu dan memang benar-benar terharu dibuatnya. Oh betapa sederhananya bahagia dirinya. Hingga saya ingin sekali berkata padanya:


Hai Nak!

Terima kasih ya, sudah menjadi anak yang ceria dan bahagia untuk Ayah dan Bunda. Bunda tahu, anak yang bahagia dibesarkan oleh ibu yang bahagia. Dan Bunda pun benar-benar bahagia dalam membesarkanmu. Namun, terkadang Bunda merasa dan melihat bahwa Engkau jauh lebih bahagia dan sering bahagia daripada Bunda.

Ketika Engkau menangis karena terjatuh. Hanya digendong lalu di peluk oleh Ayah atau Bunda. Engkau kembali ceria seketika.

Ketika Engkau sedang bosan lalu menemukan air dan asyik bermain dengan airmu. Engkau langsung bahagia

Ketika engkau sedang merengek dan hanya dikasih sepotong makanan. Engkau langsung diam dan asyik menikmati makananmu.

Ketika Engkau sedang menangis meronta-ronta. Lalu, hanya dialihkan untuk melihat seekor cicak pun. Engkau menjadi lupa dengan tangismu.

Ketika Engkau hanya diajak bermain "Ci...Luk...Baa saja. Sudah membuatmu tertawa terbahak-bahak, Nak. Dan masih banyak kebahagianmu yang lain yang membuat Bunda terpana.

Betapa, sederhananya bahagiamu, Nak. Dan betapa malunya Bunda padamu. Malu karena Bunda masih suka mengeluh, masih suka baperan, masih mudah emosi dan terkadang lupa mensyukuri banyak hal. Berbeda sekali dengan Engkau, yang bisa menyederhanakan segala sesuatunya, namun terasa luar biasa di hatimu hingga Engkau menjadi anak yang mudah tersenyum dan tertawa untuk dirimu sendiri dan orang lain

Terima kasih, Nak. Darimu Bunda dapat belajar banyak hal. Bukan hanya sekedar belajar bersabar, ikhlas, dan belajar ilmu. Namun juga belajar bahagia dari hal-hal yang sederhana yang terkemas oleh rasa syukur. Sekali lagi terima kasih sudah mengajarkan banyak hal pada Ayah dan Bundamu ini 😘

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

Bahagia itu sederhana

Belajar Bahagia Dari Anak


Pernahkah Ayah dan Bunda mengamati anaknya? betapa mudah dan sederhananya kebahagian mereka, bukan? Namun, terkadang kita lupa belajar tentang kebahagian itu dari anak-anak kita. Padahal merekalah yang sehari-hari bersama kita.

Ayah Bunda, sesungguhnya bukan kitalah yang mengajar dan mendidik anak-anak kita. Tetapi merekalah yang tanpa kita sadari mengajarkan banyak hal pada diri kita, termasuk mengajarkan arti sebuah kebahagian yang sebenarnya

Mereka mengajarkan kita bagaimana menjadi orangtua yang baik untuk mereka. Mereka mengajarkan kita sebuah keikhlasan untuk menerima diri mereka apa adanya sehingga, kita tak perlu lagi sibuk membanding-bandingkan diri mereka dengan anak-anak yang lain. Mereka mengajarkan kita bagaimana cara kita seharusnya mengendalikan emosi kita terhadap diri mereka dan orang lain. Mereka pulalah yang mengajarkan kita untuk semakin dekat denganNya lewat doa-doa sepanjang hari, yang kita panjatkan kepadaNya hanya untuk mendoakan mereka.

Ayah Bunda, ketika pertama kali anak kita terlahir ke dunia. Dan untuk pertama kalinya juga kita menjadi orangtua. Sesungguhnya, ketika anak itu terlahir, Dialah guru pertama kita sebagai orangtua. Guru pertama yang mengajarkan tentang kehidupan ini pada kita. Namun, sayangnya kebanyakan kita tidak menyadarinya. Ketika anak melakukan sebuah kesalahan. Kita lebih banyak suka menyalahkan anak tetapi lupa untuk berkaca pada diri. Kita lupa bahwa anak itu adalah cerminan dari diri kita.

Ayah Bunda, jika kita sibuk bertanya-tanya dan mencari-cari tentang yang namanya sebuah  kebahagian. Mengapa tidak kita belajar bahagia dari anak kita? Dengan menurunkan standar kebahagian kita dan meningkatkan kualitas hidup kita

"Bahagia itu sederhana. Tidak perlu dicari. Karena bahagia itu adanya di dalam Hati. Hanya kitalah yang mampu membuat diri kita bahagia. Bukan orang lain"

Jadi, sudah siapkah kita belajar menjadi Ayah dan Bunda yang bahagia? Yuk, kita belajar bahagia dari anak kita! Semangattttt 💪💪.

"Karena orangtua yang bahagia akan membesarkan anak-anak yang bahagia pula. Karena di dalam kebahagian selalu ada Cinta"

Jangan lupa bahagia ya 😍😍




Satu Tahun Ngeblog. 8 Hal Ini yang Tidak Terduga Saya Capai

Satu Tahun Ngeblog. 8 Hal Ini yang Tidak Terduga Saya Capai

Hai saya adalah Yeni. Saya seorang Guru yang memutuskan berkarier menjadi seorang ibu rumah tangga. Dulu, dalam hidup saya. Saya tidak pernah terbesit sekali pun untuk memilih peran ini. Tetapi, kehidupan membawa saya ke pemberhentian sementara ini. Mengapa sementara? Karena kelak, ketika anak-anak saya sudah mulai besar. Saya ingin kembali merajut mimpi-mimpi besar saya yang tertinggal di luar sana.

Sebagai seorang perempuan, saya termasuk perempuan yang memiliki banyak mimpi dalam hidup saya. Saya ingin kembali bersekolah lagi, menjadi seorang dosen, dan menjadi pembicara hebat suatu hari nanti. Itu cita-cita besar saya yang saya tancapkan di dalam hati

Tetapi, demi agar bisa mendidik dan mengurus anak saya langsung oleh tangan saya sendiri. Saya putuskan untuk resign mengajar dari tempat saya mengajar dan menunda semua mimpi-mimpi besar saya. Untuk yang namanya sebuah TOTALITAS. Yah, saya selalu ingin menjalankan apa pun peran saya secara totalitas.

Lalu apakah dimata saya seorang perempuan yang berkarier di luar sana tidak baik? Tentu baik dong. Karena di luar sana sampai kapan pun masih membutuhkan peran seorang perempuan untuk tampil di ranah publik. Seperti guru, dokter, dll yang memang posisinya sangat dibutuhkan oleh banyak orang.

Kalau semua perempuan memilih sibuk bekerja di luar. Siapa dong yang sibuk pula bekerja dari dalam? Begitu pun sebaliknya. Asal tetap prioritas utama kita adalah anak. Semangatttt kita, Bun 😘

Lalu, apakah saya hanya menjadi ibu rumah tangga saja. Tidak, beberapa bulan yang lalu, saya masih menyempatkan diri untuk mengajar sebulan sekali yang sifatnya sosial dan tanpa dibayar. Itu hanya salah satu bentuk peran saya membantu di masyarakat.

Hanya saja, saya merasa peran saya masih belum bisa membantu banyak orang. Terutama saya suka sedih dan miris membaca berita tentang rusaknya mental anak-anak kita zaman ini. Betapa banyaknya orangtua yang tidak teredukasi dengan baik. Lalu, bagaimana orangtua tersebut akan mengedukasi anaknya, jika mereka sendiri pun belum teredukasi.

Masih banyak orangtua yang tidak peka betapa pentingnya membekali diri dengan banyak ilmu, terutama ilmu dalam mendidik anak-anak. Akhirnya, terpanggillah hati saya untuk belajar menulis, menyampaikan ilmu saya dan menyampaikan apa-apa yang seharusnya disampaikan.

Saya pun merasa sayang dengan ilmu yang saya dapatkan. Kebetulan juga saya memamg kuliah di pendidikan, tepatnya Pendidikan Luar Biasa. Bertahun-tahun mengajar di dunia pendidikan dan suka mengikuti seminar atau pun pelatihan parenting dimana-mana. Sayang kan, kalau ilmunya tidak saya bagi.
"Bukankah sebaik-baik manusia, adalah manusia yang bermanfaat untuk banyak orang?"

Setiap orang memiliki jalan dakwahnya masing-masing dan saya memilih jalan menulis ini sebagai ladang dakwah saya untuk mengingatkan diri saya sendiri dan orang lain. Tetapi, tetap bisa mendidik anak dari rumah. Untuk itulah saya belajar menulis dan ngeblog. Dan jadilah saya seorang blogger pemula seperti saat ini.

Yup, bulan ini tepat satu tahun saya belajar menulis dan ngeblog. Dan sungguh saya tidak pernah terbayangkan oleh saya, betapa ada banyak hal yang saya capai dari kegiatan nge-blog ini. Rasanya saya seperti sedang bermimpi

Satu Tahun Ngeblog. 8 Hal Ini yang Tidak Terduga Saya Capai 

Blog, Blogger

1. Mendapatkan tawaran kerjasama

Banyak tulisan dari blogger senior yang saya baca. Bahwa, perlu waktu bertahun-tahun untuk kita bisa menghasilkan uang dari yang namanya ngeblog. Tetapi, saya benar-benar tidak menduga. Baru saja kurang lebih 6 bulan saya belajar menulis dan ngeblog apalagi belum berdomain. Saya sudah mendapatkan tawaran kerjasama dari sebuah agensi.

Tugas saya hanya datang sejam ke tempat pameran mereka. Saya tulis di blog tentang acaranya, share di blog dan di medsos. Tapi, sayangnya nggak saya ambil karena Erysha sedang sakit. Walau begitu, tetap saja berkesan. Karena itu tawaran kerjasama pertama saya

2. Jebol media

Viva

Saya pun tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya bisa jebol di media. "10 Cara Menstimulus Anak Terlambat Bicara" adalah tulisan pertama saya masuk Viva. Linknya ada di sini ya

Selanjutnya tulisan saya sering dimuat di Rocking Mama. Sehingga nama saya pernah ditulis sebagai penulis di Rocking Mama. Rasanya itu senengggg banget.

Dan terakhir tiba-tiba saya dikagetkan oleh adanya sebuah email dari pihak media Dream. Yang meminta ijin untuk mengambil salah satu konten dari blog saya untuk menjadi artikel di media mereka. Lagi-lagi saya rasanya senengggg banget. Rasanya seperti dilamar 😂, karena mereka yang meminta langsung tulisan saya. Allhamdulillah

3. Menang lomba blog

Lomba blog
Kuis pertama yang diikuti dan diadakan oleh Warung Blogger

Allhamdulillah juga, beberapa kali saya bisa menang lomba blog. Walau belum jadi pemenang utama. Tetapi, paling tidak. Sebagai seseorang yang baru belajar menulis dan ngeblog bisa menang aja. Udah syukur banget, ya

4. Traffic pengunjung dan pageviews meningkat

Traffic blog

Dulu itu, waktu awal ngeblog. Ngeshare tulisan sendiri di medsos itu, rasanya itu nggak pede banget. Dan kalau ngeshare, yang baca cuma beberapa orang aja. Dan salah satu yang terpaksa diam-diam suka membaca tulisan saya adalah pak suami hihihi 😂. Karena dia khawatir istrinya sedih, tulisannya nggak ada yang baca 😂😂. (Makasih, Ayahhhhh 😘)

Tetapi, sekarang allhamdulillah ya Allah yang baca tulisan saya bukan cuma beberapa orang lagi, tetapi udah ribuaan *Hasil stres belajar SEO 😂

5. Diterima google adsense

Diterima oleh google adsense

Dulu, itu banyak tulisan yang bilang kalau daftar google adsense itu super susah, perlu berkali-kali ditolak dulu oleh pihak adsense. Tetapi, ya Allah allhamdulillah Allah memberikan kemudahan untuk saya. Hanya cukup sekali saya daftar, lalu menunggu hampir sebulan. Lalu, ternyata di ACC oleh pihak Google Adsensenya. Ya Allah lagi-lagi saya merasa beruntung.

Jadi, sekarang saya seneng banget kalau buka blog, muncul deh iklannya. Jadi bisa dapet penghasilan dengan iklan. Kita cuma duduk manis saja dan menulis ❤️. Saking senengnya itu blog sampai berkali-kali saya buka cuma biar bisa lihat iklan apa ya yang ada di blog saya kini 😂

6. Menjadi pembicara

Seminar parenting
Sehabis mengisi kajian parenting Tk Al-Izzah

Menjadi pembicara itu adalah cita-cita besar saya dulu. Dan saya menyangka, untuk menjadi pembicara itu perlu sekolah tinggi, atau harus memiliki karya. Tetapi, ternyata dari ngeblog banyak orang yang meminta saya menjadi narasumber dan mengisi seminar parenting sesuai dengan niche blog saya juga yaitu, parenting. Lagi-lagi saya merasa seperti sedang bermimpi

7. Menambah pertemanan

Sejak jadi ibu rumah tangga yang dunianya banyak di rumah saja. Akhirnya, saya semakin banyak punya teman dari ngeblog ini. Terutama teman-teman dari para blogger senior yang lain. Terima kasih ya. Suka membantu saya dan mau berbagi ilmu tentang ngeblog pada saya. Semoga semua kebaikan kalian dibalas olehNya 🙏

8. Didoakan

Doa

Dan ada satu lagi yang luar biasa. Yang tak pernah ada dalam pikiran saya karena ngeblog ini. Karena niat saya menulis menyampaikan ilmu dan cuma sekedar berbagi saja. Akhirnya, banyak orang yang tidak saya kenal. Tiba-tiba mengirim pesan pribady kepada saya dan mendoakan saya. Ya Allah saya, terharu sekali dengan doa-doa mereka untuk saya dan keluarga saya 😭😭😭. Semoga Allah membalas kebaikan kalian juga, ya 😘.

Lalu, apakah dengan mudah saya mendapatkan itu semua? Tentu tidak. Setahun yang lalu, waktu awal ngeblog. Saya pikir ngeblog itu gampang. Tugas saya cuma cukup belajar menulis. Tetapi, ternyata saya salah. Banyak hal yang perlu saya pelajari tentang blog. Bukan hanya sekedar bagaimana cara menulis yang baik dan menarik bagi pembaca.

Tapi, saya pun wajib belajar tentang kode pemograman dari HTML sampai SEO. Rasanya pengen nangis bombay aja 😭. Blog oh ngeblog. Tetapi memang benar bahwa

"Usaha tidak akan pernah mengkhianati sebuah hasil"

Allhamdulillah akhirnya saya bisa berjalan sejauh ini dalam membangun sebuah blog. Dan semoga bisa konsisten, ya.

Kini, setelah tepat satu tahun saya belajar menulis dan ngeblog. Rasanya saya sudah yakin untuk me-monetize blog saya. Tetapi, tetap prioritas utama saya adalah berbagi. Bukan karena uang. Uang hanyalah bonus. Mohon doanya, ya dari para Ayah Bunda agar niat saya ini selalu lurus. Setelah semua pencapaian ini. Membuat saya perlu berkali-kali menengok niat saya. Apakah masih lurus ataukah sudah mulai melenceng. Tolong diingatkan, ya.

Baca juga: PortFolio Saya 

Dan saya ucapkan banyak terima kasih untuk para Ayah Bunda yang suka membaca tulisan saya. Saya juga teramat minta maaf jika tanpa disadari, tulisan saya menyinggung banyak hati. Mohon dimaafkan. Semoga apa yang saya tulis dan bagikan, selalu bermanfaat untuk Ayah dan Bunda. Aaaminnn

Setelah satu tahun ngeblog dan ada banyak hal yang tidak terduga saya capai. Membuat saya bertanya-tanya pada diri saya sendiri "Jangan-jangan saya punya passion menulis lagi?" Wkwkwk 😂. Menurut Ayah Bunda, saya punya passion nulis nggak, sih?😂

Terima Kasih 🙏🙏🙏

Cara Mengendalikan Emosi Ibu Pada Anak

Cara Mengendalikan Emosi Ibu Pada Anak

Hai Bunda.

Hari ini saya ingin membagikan materi kulwap parenting yang saya isi tentang "Cara Mengendalikan Emosi Ibu Pada Anak & Cara Mengendalikan Emosi Anak". Mirip-mirip ya, Bunda. Sama-sama tentang mengelola emosi. Saya sengaja memutuskan untuk membuat materi ini, karena materi ini dibutuhkan oleh banyak orangtua termasuk saya. Dan saya merasa, sayang sekali jika ilmu ini hanya saya gunakan untuk diri saya sendiri. Jadi, saya putuskan untuk membaginya.

Maafkan ya, Bunda jika materinya kurang memuaskan. Soalnya jujur, karena kulwap parenting ini dadakan ya didakannya. Jadi, saya hanya memiliki waktu yang sedikit untuk mempersiapkan materinya. Dan saya ucapkan terima kasih kepada pihak Sygma Daya Insani, Bunda Nuryani yang telah memberikan kesempatan untuk saya bisa berbagi bersama para Bunda pembelajar  ini 🙏. Oke Bunda, kita langsung ke materinya, ya!

Pentingnya Seorang Ibu Mengendalikan Emosinya Pada Anak


Pertama saya membahas materi tentang pentingnya sebagai ibu, kita perlu belajar mengendalikan emosi kita. Karena bagaimana kita akan mengajarkan anak untuk mengendalikan emosinya, jika kita orangtuanya belum bisa mengendalikan emosi kita?

Emosi, Ibu, Anak

Menjadi ibu memang tidaklah mudah. Membuat kita selalu baper dan tiada hari tanpa drama dengan anak. Apalagi, kalau kita dalam kelelahan, ya. Membuat kita dengan mudahnya marah-marah pada anak. Namun, karena itulah Allah langsung meletakkan syurganya dibawah kaki kita dan meninggikan 3 kali posisi kita atas peran ayah. Jika kita, bisa melaluinya dengan sabar

Baca juga: 9 Alasan Ini yang Akan Menyemangati Bunda Ketika Kelelahan Mengurus Si Kecil

Sebagai ibu, membuat kita perlu berlatih berkali-kali bagaimana mengendalikan emosi kita terutama pada anak. Jadi, hari ini saya akan membagikan cara mengendalikan emosi kita sebagai ibu pada anak. Agar kita tidak sampai menyakiti anak karena bentakan dan pukulan kita ya, Bun

4 Cara Mengendalikan Emosi Ibu Pada Anak


Cara mengelola emosi


1. Menjauh dahulu sebentar dari anak.

Anak bisa dititipkan ke ayahnya atau ke orang terdekat yang ada di dalam ramah. "Kalau nggak ada siapa-siapa, gimana?" Tetap menjauh dulu dari anak, misalnya tinggalkan dulu saja anak sebentar di ruang tamu dan kita pergi dulu ke ruang lain untuk menenangkan diri sebentar. Tapi, jangan lama-lama juga ya, Bun 😂

2. Tarik nafas panjang berkali-kali boleh sambil istigfar juga.

 Tenangkan diri. Karena, bagaimana kita bisa menenangkan anak, kalau kita juga belum bisa menenangkan diri kita. Yang ada, malah kitanya jadi nggak sengaja melampiaskannya kepada anak.

3. Setelah agak tenang lalu sampaikan pesan pada diri sendiri.

 "Oh, anakku rewel karena dia masih kecil, masih belum bisa mengungkapkan keinginannya dengan cara yang baik atau ada kebutuhannya yang belum terpenuhi dll". Berusaha mengemas pikiran yang negatif atas perilaku anak menjadi positif, akan membawa pikiran yang positif pula pada diri kita

4. Setelah tenang, baru keluar dan hadapi anak dengan hati yang lapang.

Biar kita ga capek hati lagi,  karena terlalu banyak ekspektasi pada anak. Padahal kita, nggak boleh ya, Bun terlalu banyak nuntut anak sesuai maunya kita. Namanya juga anak-anak.

Itu secara tekniknya ya, Bunda. Tetap, kita pun perlu ilmu tambahan untuk memberikan pemahaman yang baik pada diri kita dan butuh dikuatkan. Untuk pemahamannya cara mengelola emosi ibu pada anak. Bisa baca di sini, ya. Nanti, bisa kembali lagi ke sini. Sebelum kita lanjut ke materi selanjutanya 😉

Bunda, setelah kita belajar tentang cara mengendalikan emosi kita. Selanjutnya, kita pun perlu belajar bagaimana cara mengendalikan emosi anak. Agar kita, nggak sering main drama juga dengan anak, ya😂.

Jenis-jenis emosi

Cara Mengendalikan Emosi Anak


Menurut Paul Ekman, ada 6 emosi dasar manusia. Tapi, hari ini saya akan menjelaskan 4 dasar emosi pada umumnya kita ketahui. Yaitu:

Macam-macam emosi

Mengenal emosi dan reaksinya

Emosi takut

Emosi Marah

Emosi sedih

Emosi senang

Menurut Bu Yeti Widiati, Psikolog. Ada 4 cara orangtua dalam mengendalikan emosi anak. Berikut saya bantu memberikan penjelasannya ya, Ayah Bunda. Agar lebih mudah dipahaminya. Yaitu:

1. Pahami jam biologis anak

Misalnya kita harus tahu nih jam berapa anak mengantuk, jam berapa anak merasa lapar, jam berapa anak bersemangat dll. Ketika kita mengetahui jam biologis anak, membuat kita lebih mudah mengendalikan emosinya.

Kayak kita aja, terkadang kita lebih mudah marah atau sensitif ya Ayah Bunda, jika kurang tidur, atau lapar dll. Begitu juga dengan anak. Jadi, sebelum anak rewel penuhi kebutuhannya dahulu

2. Pahami bentuk respon atau ekspresi anak ketika emosi

Orangtua perlu tahu dan bisa membedakan, mana ekspresi marah, sedih, kecewa, takut, senang, dll.

Bedakan antara emosi dan ekspresi emosi. Emosi itu seperti senang, sedih, marah, takut dll. Sedangkan ekpresi emosi itu adalah respon anak ketika emosi. Misalnya ketika senang responnya tersenyum atau tertawa, marah responnya tantrum atau cemberut dll, emosi sedih respon anak menangis, merajuk dll.

Setiap anak memiliki ekpresi atau respon emosi yang berbeda. Sehingga diharapkan kita sebagai orangtua peka dan memahami emosi anak sejak dini

3. Observasi dan temukan stimulus apa yang memicu emosi tertentu anak

Misalnya, jika anak sedang tantrum. Kita harus mengamati dan observasi untuk mengetahui penyebab apa yang memicu anak bertingkah begitu. Agar kita bisa menghindari di lain waktu anak mengulang emosi yang sama dari pemicu yang sama

4. Sejak anak masih bayi. Orangtua perlu berespon adaptif atau sesuai terhadap ekspresi emosi anak

Artinya yang sesuai dengan stimulusnya.

- Kalau anak sedang marah lalu kita tertawakan, maka respon kita TIDAK ADAPTIF.
- Kalau anak sedang nangis lalu langsung kita suruh diam, maka respon kita TIDAK ADAPTIF.
- Kalau anak takut, kita ejek ketakutannya, maka respon kita TIDAK ADAPTIF.
- Kalau anak senang, kita abaikan, maka respon kita TIDAK ADAPTIF.

Jadi, berilah respon kita sesuai dengan kebutuhan anak. Misalnya jika anak benar-benar sedih sekali. Berikan anak pelukan karena anak membutuhkan itu bukannya mengejeknya cengeng. Atau anak terjatuh. Bukannya kita obati malah menertawakannya.

Oleh karena itu berhati-hati dan pekalah kita terhadap ekspresi emosi anak kita. Kepekaan orangtua menangkap pesan emosi anak dengan "membaca" ekspresi anak, adalah kunci awal pengajaran pengelolaan emosi anak

Nah, itu dia cara mengendalikan emosi ibu pada anak dan cara mengendalikan emosi anak. Bagaimana, Bunda? Hal apa yang biasanya Bunda dan anak suka drama dalam setiap harinya ? Cerita dong 😃

Jangan lupa bahagia Bunda 😉

Anak bahagia, ibu bahagia





Sumber:
Tulisan tentang emosi, Bu Yeti Widiati, Psikolog

3 Cara Penting Menjaga Fitrah Anak

3 Cara Penting Menjaga Fitrah Anak

Hai Ayah Bunda, tahukah Ayah Bunda bahwa setiap anak yang terlahir memiliki fitrah dasar yang sudah mereka bawa sejak mereka lahir. Menurut salah satu pelopor pendidikan berbasis fitrah yaitu Pak Harry Santosa, membagikan ada 4 jenis fitrah yang ada dalam diri anak Yaitu:
1. Fitrah iman
2. Fitrah seksualitas
3. Fitrah belajar, dan
4. Fitrah bakat.

Namun, tahukah Ayah Bunda bahwa kebanyakan dari kita sebagai orangtua. Lebih senang mencerdaskan anak secara akademik tetapi lupa untuk mencerdaskan anak sesuai dengan fitrahnya.

Nah, hari ini saya akan kembali membagikan materi seminar parenting tentang 3 Cara Penting Menjaga Fitrah Anak. Yuk, kita simak penjelasannya langsung dari ahlinya, ya Ayah Bunda.

Biodata Narasumber

Canun Kamil, Kang Canun

Nama : Canun Kamil
Nama Panggilan: Kang Canun
Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 1 Mei 1990
Status : Menikah
Anak : 2

Profesi
Konselor Pernikahan
Trainer
Penulis Buku

Buat Ayah Bunda, yang belum mengenal beliau. Beliau ini adalah salah satu trainer sekaligus konselor pernikahan dan banyak berbagi ilmunya dimana-mana. Muda, ya Ayah Bunda usianya. Tetapi, ilmu beliau jauh melebihi usia 😃. Kalau, gitu kita simak pemaparannya dari beliau, ya

💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐💐

3 Cara Penting Menjaga Fitrah Anak


by @canunkamil

Rasul berkata, ‘Kullu Mauluudin Yuulaadu ‘Ala Fitrah’, setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. ‘Fa’abawaahu’, tergantung bagaimana orangtuanya mendidiknya…

Fitrah disini, menurut guru saya Abah Ihsan, ini menjelaskan dengan rinci, bahwa fitrah yang dimaksud bukan berarti bahwa anak terlahir seperti kertas kosong. Anak tidak terlahir dalam kondisi nol. Namun, fitrah ini bermakna cenderung kepada kebaikan. Jadi, manusia terlahir sudah dalam kondisi +.

Coba bayangkan, kira-kira ada nggak ya, anak yang terlahir, sudah ada niat dalam kepalanya, "kalo aku udah gede, aku mau jadi bandar narkoba! mau nyuri uang orangtua!’. Ada nggak yaa? Pastinya nggak ada kan? Ini tanda bahwa manusia tidak terlahir dalam keadaan nol.

Bahkan coba lihat balita kita. dari bayi, ia memasukkan segalanya ke mulut. Apakah ini pertanda dia rakus? hehe tentu tidaak kan? itulah cara belajar bayi, masukin semuanya ke mulut. Ketika semakin besar, usia balita, rasa penasarannya ia eksplorasi kemana-mana. Mulai dari main air, main tanah, banyak nanya, "mama, ini jari apa? ini hari apa?" Ini kan fitrah belajar.

Namun, kenapa banyak yang sudah besar, orang dewasa yang justru males untuk belajar, especially di luar jam sekolah/kuliah! Kenapa anggapannya belajar itu beban gitu loh? Coba cek, ketika fitrah belajar anak sedang muncul, ada gak sesosok manusia yang merespon begini:
"Naak, jangan main air nanti pilek kamu!"
"Iiiiih, kamu nih nanya-nanya terus!"

Naah, kalau responnya kayak gini, kira-kira gimana dengan fitrah belajar anak?

Contoh lain, fitrah kemandirian. Pada dasarnya, anak, karena ada fitrah kemandirian juga, ia senang untuk melakukan segalanya sendirian kan? Dimulai dari lahir, aktivitas IMD atau Inisiasi Menyusui Dini , itu mandiri bangeet. Anak pelan-pelan bergerak mencari puting susu ibunya, aktivitas ini mengandalkan kemandirian dan pantang menyerah kan?

Sudah agak besar, latihan jalan sendiri, inginnya jalan dan lari-lari, lihatlah ketika prosesnya, jatuh bangun terus menerus, bukankah ini fitrah kemandirian yang juga menggambarkan pantang menyerah?

Namun, kenapa banyak yang sudah besar, bahkan sudah menikah, namun masih sulit untuk mandiri? Sebagai konsultan pernikahan, saya masih banyak menemukan pasangan suami istri yang sudah menikah, tinggal serumah dengan orangtua yang masih segar bugar dan secara ekonomi masih baik. Seolah fitrah kemandirian hilang bekasnya. Kok bisa terjadi?

Baca juga: Mengapa Pentingnya Mempersiapkan Anak Untuk Menjadi Seorang Suami dan Istri yang Baik Dikemudian Hari Perlu Dikenalkan Sedini Mungkin?

Coba cek, apakah sering kita overfacility pada anak-anak kita? Sudah bisa jalan, tapi lebih sering memfasilitasinya dengan stroller. Untuk makan, selalu disuapi, bahkan dikejar-kejar untuk nyuapin sampai ke playground. Lalu kemudian, ketika anak overfacility, tidak dilatih kemandiriannya, kemudian kita mengeluh, "kok, ini anak gak bisa mandiri, sih?"

Baca juga: Ayah Bunda! Yuk, Kita Ajarkan Kemandirian Pada Anak Sejak Dini

Ayah Bunda sekalian, perhatikanlah, yang seringkali secara tidak sengaja dan atau tidak sadar merusak fitrah anak adalah kita, orangtuanya sendiri. Ada contoh orangtua yang memiliki niat baik, namun tanpa sadar dan tanpa sengaja justru merusak fitrah anak.

Kabar baiknya, fitrah anak, sekalipun rusak, masih bisa diperbaiki, dan bahkan dirawat dan dijaga. Karena sejatinya, tugas utama orangtua adalah sebagai penjaga dan perawat fitrah anak. Maka, bagaimana cara merawat dan menjaga fitrah anak ini? Dalam kesempatan ini, saya paparkan tiga hal:

Anak, Bonding

1. Menjadi teladan

Ayah Bunda perlu jadi contoh hidup tentang bagaimana fitrah-fitrah ini berjalan. Jadilah pembelajar jika Anda mau hidupkan fitrah pembelajar anak. Bilang sama anak Anda, "Nak, Ayah/Bunda mau belajar dulu nih ikutan mentoring Ngasuh Balita", ini bisa. "Nak, baca buku yuk". Ini Bisa. Jadilah teladan ketika Ayah atau Bunda berinteraksi dengan pasangan, anak pun akan belajar dari pernikahan Ayah dan Bunda. Maka, berikan keharmonisan pernikahan kita untuk anak-anak kita, sebagai salah satu contoh teladan bagaimana sejatinya dirinya berinteraksi dengan sesamanya

2. Bangun kedekatan

Sering saya temukan, anak pengusaha, yang mana pengusahanya dia mentalnya pejuang keras, bangun bisnis dari nol, namun anaknya justru minta-minta. Padahal, orangtuanya teladan luar biasa bagi banyak orang, namun kenapa valuenya tidak menular kepada anaknya?Sederhananya, ketika sebagai orangtua tidak dekat, maka ia hanya akan sebagai teladan yang jauh, tidak bisa ditiru, sehingga anak sangat mungkin berprinsip, "ah itu mah ortu gue. Gue beda!". Maka, bangunlah kedekatan emosional dengan anak kita. Ayah maupun Bunda.

3. Belajar

Sudah kita diskusikan di atas bahwa banyak orangtua yang *tidak sadar* dan *tidak sengaja* merusak fitrah anak. Maka, memperbaikinya, atau merawatnya, atau menjaga fitrah anak memerlukan ilmu. Jelas akan ada beda antara orangtua yang mau belajar dan yang tidak. Ingatlah sebuah pesan seorang bijak,

"jikalau Anda tidak mau  merasakan lelahnya belajar, bersiaplah merasakan perihnya kebodohan"

Apa perihnya ‘kebodohan’ dalam pengasuhan? Banyaak. Anak yang males-malesan, tantrum, marah-marah sampai pukul-pukul lempar barang-barang, bahkan udah gede, ada yang ngancem "Mamah, beliin motor nggak? Atau aku bakar rumah ini!!" Yang paling mengerikan? Jika di akhirat kelak, anak kita justru menarik kita masuk ke dalam neraka. Na’udzubillah. Inilah seperih-perihnya kebodohan dalam konteks pengasuhan anak

Maka, jangan lupakan bahwa tugas kita orangtua adalah sebagai penjaga fitrah anak. Mumpung masih balita, silakan pelajari dalam-dalam bagaimana cara menjaga fitrah anak. Semoga kita semua adalah orangtua yang diberikan mahkota penghargaan oleh anak kita kelak di JannahNya.

👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏

Aaaminnnn, ya Ayah Bunda. Fitrah yang dimaksud kemandirian di atas adalah fitrah belajar ya, Ayah Bunda.  Subhanallah sekali ya, ilmunya. Membuat kita berpikir terus, nih. Setelah kita melihat penjelasan di atas. Yuk, kita merenung atas apa yang kebanyakan kita lakukan pada fitrah anak, melalui video berikut ini:

Sumber: Okina Fitriani

Setelah kita tahu 3 cara penting menjaga fitrah anak ini. Membuat kita jadi semakin hati-hati dalam melarang anak ya, Ayah Bunda. Nah, sudahkah kita menjaga fitrah anak selama ini, Ayah Bunda? Yuk, kita sharing di sini!