Cara Mengelola Emosi dalam Pengasuhan Anak

Cara Mengelola Emosi dalam Pengasuhan Anak

Hai...hai...hai Bunda. Adakah di sini yang suka baper, emosi atau drama menghadapi anak-anak kita? Adaaaa. Siapa? Kita semuaaaaa 😂. Wajar, ya itu Bun selama masih batas yang bisa ditoleransi. Saking suka ada dramanya sama anak-anak. Kita, sampai tiada hari tanpa drama dengan anak. Betul apa betullllll? 😂. Apalagi, drama menghadapi anak yang sedang tantrum. Hmmm itu rasanya langsung mengoyak-ngoyak hati kita dan menghantam bertubi-tubi pertahanan diri kita sebagai ibu agar tak ikut tantrum juga bersama anak ya, Bun 😃

Kan nggak, lucu ya Bun kalau kita ikutan tantrum juga berdua dengan anak. Cuma bedanya anak kecil yang sedang tantrun memang belum paham cara mengendalikan emosi, tatapi kita yang sudah dewasa masih saja suka ikutan tantrum alias emosian juga pada anak.

Akhirnya, terlihat dua anak kecil yang sedang tantrum deh jadinya. Kalau dibayangin lucu ya, Bun. Tetapi, memang begitulah nyatanya kita para ibu. Kebanyakan kita masih sulit mengontrol emosi kita pada anak. Jadi terlihat yang satu benar-benar anak kecil dan satu anak kecil yang terjebak dalam tubuh orang dewasa

Nah, berbicara soal emosi. Hari ini saya akan kembali membagikan materi seminar parenting yang saya ikuti tentang "Cara Mengelola Emosi dalam Pengasuhan Anak". Kalau begitu, mari kita berkenalan dengan narasumbernya, ya 😃

Biodata Nara Sumber

Kang Canun, Canun Emil

Nama : Canun Kamil
Nama Panggilan: Kang Canun
Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 1 Mei 1990
Status : Menikah
Anak : 2

Profesi
Konselor Pernikahan
Trainer
Penulis Buku

Waw, narasumber kita ini hebat, ya Bun. Masih muda tetapi, sudah jadi konselor pernikahan bersama istrinya dan suka berbagi ilmu kemana-mana. Menandakan bahwa kedewasaan seseorang itu tidak selalu ditentukan oleh umur, ya Bun. Kalau begitu, kita simak langsung penjelasan dari beliau, ya 🙏

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

Cara Mengelola Emosi dalam Pengasuhan Anak


Oleh: Canun Emil

Ada seorang istri, yang sedang ngambek karena setelah ia menasehati suaminya, namun suaminya tak kunjung berubah, sama saja.

Ada seoarng suami, yang sedang kesal karena istrinya selalu mencerewetinya, jarang memberikan ruang baginya untuk menyendiri.

Ada seorang ibu, yang kesal melihat ruang tamu berantakan karena bekas si kecil bermain di dalam rumah

Baca juga: Cara mendisiplinkan Anak Tanpa Kekerasan ataupun Teriakan

Ada seorang ayah, yang kesal melihat anaknya selalu dimarahi terus menerus oleh ibunya

Hal-hal seperti ini, sahabatku sekalian, mungkin terjadi dalam rumah tangga Bunda dan saya. Namun, sebelum saya lanjutkan, 4 kejadian di atas, adakah yang aneh dengan kejadian-kejadian tersebut? Suami, dibawelin sama istri, kemudian merasa marah. Adakah yang aneh dengan hal ini? Bukankah hal ini normal? Memang ada, suami yang habis dibawelin langsung senyum-senyum kemudian bilang, ‘Makasih sayangkku, Mmuuuaahhhh’? Wah, kalau ada, luar biasa sekali, saya pribadi ingin belajar dari beliau bagaimana bisa merespon hal tersebut.

Justru hal ini normal bukan? Kita hanyalah manusia biasa yang sudah dianugerahi oleh Allah sebuah emosi. Kalau kita nggak ada emosi, berarti kita nggak bisa merasa senang, sedih, bahagia, dan berbagai macam emosi lainnya kan? Kita dilengkapi amarah, dan tepat sekali ketika kita melihat kemungkaran lantas kita marah, betul? Kita dilengkapi kesedihan, agar kita bisa empati, merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, betul? Maka sekali lagi, ada yang salah dengan emosi Bunda? Kalau Bunda tidak mau punya emosi, jadilah malaikat!

Naaah, nggak mungkin juga kan kita jadi malaikat?

Maka, daripada alih-alih mengutuk emosi ini, kenapa tidak kita latih untuk kontrol emosi kita. Jelas, kita bukan malaikat. Jadi, Bunda bisa marah sama anak, bisa kesel sama anak, bisa kagum sama anak, bisa gemes sama anak-anak, karena kita bukan malaikat, betul?

Cara mengendalikan emosi  dalam mendidik anak

Nah, sekarang saya mau tanya kepada Bunda, apakah anak Bunda malaikat?
Jawabannya, pasti jelas tidak!
Jadi, boleh nggak kalau dirinya marah pada Bunda, misal minta es krim tapi Bunda tolak?
Boleh nggak kalau dirinya kecewa pada Bunda?
Boleh nggak kalau dirinya juga kagum pada Bunda?

Kalau Bunda saja boleh merasakan seperti itu, maka anak Bunda gimana? Hehe, silakan simpulkan sendiri

Maka Bunda, memang betul kita bukan malaikat, namun apakah kita iblis? Yang kalau marah, meledak sedemikian rupa?

Tentu tidak juga kan?

Kita manusia yang bisa mengkontrol dan mengerem RESPON amarah kita.

Boleh jadi kita merasa marah, boleh jadi kita merasa nggak setuju, namun respon amarah tidak hanya satu kan?

Mari bedakan terlebih dahulu, apa yang Bunda rasakan, dan apa respon dari emosi Bunda. Ini adalah langkah pertama untuk mengkontrol emosi Bunda. Pastikan Bunda memiliki ruang antara apa yang Bunda rasakan dan apa respon Bunda. Ketika Bunda tidak memiliki ruang antara apa yang Bunda rasakan dan respon Bunda, ini namanya *reaktif*.

Boleh garis tegas kata-kata saya yang satu ini, *satu ciri kedewasaan seseorang adalah mampu menciptakan ruang kosong ini*. Dalam arti, anak Bunda yang masih baru kemarin sore lahir, sudah bisa nggak dia menciptakan ‘ruang’ ini? Kalau jawaban Bunda belum bisa, jadi wajar nggak kalau anak-anak bertindak reaktif, terutama anak-anak yang track record hidupnya, dari ia bisa berkomunikasi sampai sekarang, belum dilatih untuk membentuk ‘ruang’ ini, wajar nggak bertindak reaktif? Marah langsung lempar sandal, nangis sampai guling-guling.

Wajar nggak karena ia belum terlatih? Wajaaarr..
Bahkan kalau mau jujur, ekspresi emosi dirinya itu ngikutin siapanya sih?
Cara mengekspresikan ngambeknya ngikutin siapa? Boleh lihat video di bawah ini ya, Bun

Sumber: Bebeclub Indonesia

Makaa, sekali lagi, Bunda berlatihlah untuk memiliki ruang antara apa yang Bunda rasakan dan ekspresi Bunda. Latih juga kepada balita kita tentang keberadaan ruang ini. Marah boleeh, ekspresinya saja yang dikontrol. Sedih boleh, ekspresinya saja yang dikontrol.

Kemudian yang kedua, setelah Bunda memiliki ruang tadi, maka analisa, ekspresi kita selama ini sinkron nggak dengan emosi yang dirasakan. Kalau sudah sinkron, ekologis tidak?

Loh, maksudnya gimana?
Misal gini, Bunda kasihan sama anak Bunda terus-terusan ngompol, pasti dirinya nggak nyaman. Namun, kasihan Bunda, diekspresikan dengan marah-marah dan ngomel-ngomel, hhihi. Ini sinkron tidak? hehehe. Tapi ini sinkron sih, kalau emosi yang kita rasakan itu beneran ngambek dan kesel karena anak ngompol, hhehe. Naah, kalau sinkron, maka cek, ekologis apa tidak. Ekologis ini dalam arti, ekspresi ini baik nggak buat anak kita? Kalau ditiru, is it okey atau justru Bunda tidak berharap?

Baca juga: Ini Dia 12 Me Time Menyenangkan yang Bisa Menjadi Pilihan Bunda

Naah, bagi yang jawabannya tidak sinkron, atau jawabannya sinkron namun tidak ekologis, di sinilah yang perlu diganti. Silakan Bunda rancang kira-kira respon seperti apa yang boleh Bunda lakukan, dan yang siap Bunda ajarkan kepada balita Bunda ya.

Naah, dari pembahasan singkat kita, saya rasa sudah semakin terbayang dalam benak kita, bahwa emosi anak seringkali adalah cerminan dari emosi orangtuanya.
Tidak ada yang salah dengan emosi Bunda dan anak Bunda, karena Bunda dan anak hanyalah manusia biasa, bukan malaikat, the only matter is, terlatihkah Bunda untuk mengelola emosi Bunda?

👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏

Wah, materinya tentang cara mengendalikan emosi dalam pengasuhan anak membuat kita berpikir sendiri ya, Bun. Bahwa sebelum kita menenangkan dan mengendalikan emosi anak kita. Yang pertama kita belajar kendalikan adalah emosi diri kita dahulu. Dan membuat kita harus berhati-hati dalam mengekspresikan emosi negatif kita, karena anak adalah seorang peniru ulung.

Baca juga: Empat Tips Cara Mengendalikan Emosi Anak

Bagaimana dengan Bunda, sudahkah Bunda bisa mengendalikan emosi pada anak? Lalu hal apa sih, yang paling membuat Bunda mudah marah pada anak? Sharing, yuk!

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

10 comments

comments
January 24, 2018 at 8:02 PM delete

Masih terus belajar untuk mengendalikan emosi di depan anak-anak. Anak kedua saya (7 tahun, perempuan) sudah mulai mengenali perubahan wajah saya kalau saya sedang berusaha menahan marah. Pasti deh dia langsung diam, walau saya tak mengarahkan pandangan ke arahnya.

Reply
avatar
January 24, 2018 at 9:07 PM delete

Saya sebagai Ayah yang menjaga anak setiap hari, sering mengajak anak bicara. Kalau dia tidak bisa diatur ajak ngobrol. Kalau tidak bisa diam juga ya ajak jalan-jalan. Hehehe

Reply
avatar
January 24, 2018 at 10:27 PM delete

Bunda, terima kasih selalu sharing ilmu bermanfaat seperti ini yaaa...Memang terhadap anak emosi ini yang selalu sulit untuk dikelola :)

Reply
avatar
January 25, 2018 at 6:16 AM delete

Wah anaknya keren ya, bun udah tahu marah bundanya dengan cukup diam aja

Reply
avatar
January 25, 2018 at 6:28 AM delete

Wah kalau jalan-jalan itu, kayaknya emaknya juga seneng ya pak diikutin jalan2 juga 😂

Reply
avatar
January 25, 2018 at 5:31 PM delete

Aku biasanya emosi pas anakku gak mau minta maaf pas ngelakuin salah

Reply
avatar
January 26, 2018 at 5:06 AM delete

Wah pasti keselnya kita semakin bertambah ya ketika anak tidak mau minta maaf. Walau begitu, memamg sebaiknya kita harus bersabar ya bun menunggu waktu yg tepat berbicara dari hati ke hati dengan anak 😃

Reply
avatar
January 27, 2018 at 12:11 AM delete

Saya juga sering bun keceplosan marah kalau Mukhlas lagi rewel banget padahal saya capek sekali atau ngantuk. Tp dinasehatin suami utk sabar karena namanya anak ga ngerti. Sekarang sih sudah bisaa dikit dikit ngontrol emosi, dan setiap dia ngelakuin sesuatu yg berbahaya (main kabel misalnya) daripada marah saya jauhin kabelnya dan bilang "itu bukan mainan sayang, nanti kesentrum sakit, ummi sedih". Keep writing ya bun, saya sendiri harus banyak belajar ttg parenting 😊

Reply
avatar
January 27, 2018 at 2:25 PM delete

Makasih bunda. Smga kita bsa jdi ibu yg sabar ya.dan harus belajar 😃

Reply
avatar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃