• Sunday, August 12, 2018

    Apa yang Sudah Kita Persiapkan dalam Pendidikan Anak Kita di Era Kekinian?

    apa yang sudah kita persiapkan dalam pendidikan anak kita di era kekinian?
    Pixabay

    Apa yang Sudah Kita Persiapkan dalam Pendidikan Anak Kita di Era Kekinian?


    "Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya"

    Pernah mendengar sepenggal kalimat di atas? Pasti pernah ya. Tapi, sayangnya tidak semua dari kita sebagai orangtua mampu memahami kalimat di atas dengan benar. Mengapa? Karena tidak semua orangtua ingin dan mau untuk belajar. Belajar untuk apa? Belajar bagaimana menjadi orangtua yang baik, baik dan lebih baik lagi untuk anak-anak kita 

    Kita lupa, bahwa segala sesuatu itu menggunakan ilmu. Kita membeli handphone saja, kita suka membaca dengan buku panduannya juga bukan? Agar kita tahu apa saja fitur yang ada di dalamnya dan bagaimana cara menggunakannya.

    Kita membeli obat saja, suka kita baca dulu kan aturan makannya, manfaatnya dan efek sampingnya. Tetapi, mengapa dalam mendidik anak kita, kita tidak mau membaca, tidak mau belajar? Bukankah kita seharusnya tahu, membeli barang elektronik saja ada buku panduannya yang mesti kita baca, apalagi ini dalam mendidik anak-anak kita. Butuh ilmu sekali bukan?

    Hai Ayah Bunda, seorang ahli teknik mesin saja perlu kuliah bertahun-tahun hanya untuk mencari tahu tentang mesin dan cara merawatnya, yang jelas-jelas hanya benda mati. Apalagi ini, anak kita yang jelas-jelas makhluk hidup. Lalu, apa yang sudah kita persiapkan dalam pendidikan anak kita di era kekinian ini?

    Nah, kita mengikuti sebuah seminar pendidikan anak saja tidak mau, mau membaca buku parenting pun tidak. Lalu, apa yang akan kita gunakan untuk mendidik anak-anak kita? Mau mengandalkan ilmu seadanya? Mau asal-asalan?

    internet
    Pixabay

    Hai Ayah Bunda, waktu terus bergulir, perkembangan teknologi dan zaman berkembang dengan begitu pesatnya. Lalu, jika kita di sini sini saja, diam di tempat sedangkan anak-anak kita telah berlari begitu kencangnya tanpa pendidikan dan pengawasan kita, mau bagaimana dan dengan cara apa kita mengejar mereka, kalau kita sebagai orangtua tidak mau belajar?

    Baca juga: TERMASUK TIPE ORANG TUA YANG MANAKAH KITA?

    Ayah Bunda, kita membuat sebuah rumah pun, tentu kita membutuhkan sebuah konsep desain yang matang? Kita ingin tahu bagaimana nanti pondasi rumahnya, bahan bangunan rumahnya ingin menggunakan bahan apa? Berapa harga yang perlu kita keluarkan? Desain ruangannya mau bagaimana? Dll.

    Ada banyak hal yang perlu kita pikirkan dengan matang dalam membangun sebuah rumah saja, bukan? Tetapi, masa untuk pendidikan dan pengasuhan anak kita, kita tanpa persiapan apapun? Tanpa punya bekal apapun? Lalu, hal baik apa yang anak terima dari kita?

    Ayah Bunda, jangan pernah lupa bahwa anak kita adalah tanggung jawabnya dunia akhirat kita. Karena suatu hari nanti, kitalah yang akan diminta pertanggungjawaban dalam pendidikan anak-anak kita. Apakah kita sudah mendidiknya dengan benar atau belum.


    Dampak Ketika Orangtua Tidak Mau Belajar Pendidikan Anak di Era Kekinian


    keluarga
    Pixabay

    Lalu, apa akibatnya dari para orangtua yang tidak mau belajar di zaman perkembangan teknologi yang semakin canggih ini? Lihat! betapa banyak orangtua yang memberikan anaknya gawai sebelum waktunya.

    Akibatnya apa? Banyak anak-anak yang ketergantungan dengan gadgetnya, terpapar oleh konten-konten negatif seperti pornografi, kekerasan, terbiasa membully di media sosial,  tidak bijak dalam menggunakan media sosial. Kita saja sebagai orang dewasa, banyak yang sulit mengendalikan ketergantungan kita dengan media sosial apalagi anak-anak kita

    Baca juga: MENCEGAH DAN MENGATASI ANAK YANG KECANDUAN GADGET

    Dan yang paling menyeramkan kita adalah ketika banyak terjadi kasus penculikan dan pelecehan seksual pada anak, yang semua itu bersumber dari kelalaian kita sebagai orangtua dalam memberikan pengawasan pada anak-anak kita.

    Ayah Bunda, memang benar sekali kemajuan teknologi itu begitu memberikan kemudahan pada kita. Baik itu kemudahan mendapatkan informasi, mendapatkan ilmu, menjadi salah satu media belajar kita, untuk memudahkan kita berkomunikasi dan segudang manfaat lainnya.

    Namun, jika perkembangan teknologi ini tidak bijak kita sikapi dalam mendampingi pendidikan anak di era kekinian, maka dampaknya akan jauh lebih berbahaya dan lebih banyak negatif daripada manfaatnya.

    internet, menurut riset


    Tahukah kita Ayah Bunda, berdasarkan hasil penelitian Riset Norton Online Family, 2010, menyatakan bahwa "96% anak di Indonesia pernah melihat dan membuka konten negatif di internet dan 36% orang tua tidak tahu apa yang dibuka oleh anaknya. Padahal sebanyak 64 jam anak-anak menghabiskan waktu saat online.

    Miris bukan? Itu adalah data penelitian 8 tahun yang lalu dan sekarang bukankah sudah banyak kita lihat dampaknya di berita-berita dan dari yang kita rasakan di lingkungan sekitar kita? Akankah kita diam saja?

    Kalau begitu ayo, Ayah Bunda bangunlah! Keadaan dan zaman anak-anak kita berbeda dengan zaman kita dahulu. Ayo kita belajar! Ayo kita bimbing anak-anak kita! Ayo kita dampingi mereka. Perlu kita sadari pentingnya pendidikan anak-anak di era kekinian dimulai dari pendidikan dari dalam rumah. Jika di dalamnya saja tidak kuat, bagaimana anak-anak kita akan tangguh menghadapi tantangan yang datangnya dari luar?

    Berikut hal yang Perlu Diwaspadai Orangtua di Era Kekinian


    era digital
    Pixabay


    Cara Keluarga Mendampingi Anak dalam Pendidikan di Era Kekinian



    cara mendampingi anak di era digital
    Pixabay

    1. Jadilah orangtua pembelajar
    Sebelum kita mengajarkan anak-anak kita, tentu kitalah yang pertama yang harus belajar. Bagaimana caranya? Caranya adalah teruslah menjadi orangtua yang mau belajar lagi, lagi dan lagi. Mengapa?

    "Karena sekolahnya orangtua itu seumur hidup dan masa kecil anak tak akan pernah terulang kembali"

    2. Jangan berikan anak gadget sebelum waktunya
    Ayah Bunda, sebaiknya jangan terburu-buru dalam memberikan gadget pada anak. Menurut beberapa ahli parenting seperti Abah Ihsan, Ust Muhammad Faudzil Adhim dan lainnya mengatakan sebaiknya, semakin lama waktu kita memberikan anak gadget sendiri, maka itu akan semakin baik untuk perkembangan anak kita

    Baca juga: KAPAN WAKTU YANG TEPAT MENGENALKAN GADGET PADA ANAK?

    Jadi, jangan berikan anak gawai sebelum waktunya. Jika anak membutuhkannya, cukup pinjamkan saja dan buatlah kesepakatan sebelumnya. Seperti aturan penggunaannya, waktunya, untuk apa saja dll

    3. Mintalah anak menggunakan internet di luar kamar.
    Baik itu lewat laptop atau gawai sebaiknya di luar kamar. Agar kita lebih mudah dalam mengawasi anak-anak kita

    4. Protek situs yang negatif di internet atau di gawai

    Ayah Bunda, saat ini telah keluar beberapa fitur protektif untuk melindungi anak-anak kita dari konten-konten negatif yang tidak layak dilihat oleh anak. Sebagai orangtua, kita bisa mengaktifkan fitur ini di internet dan di gawai. Jadi, betapa pentingnya juga kita sebagai orangtua perlu belajar dan mau melek teknologi agar kita bisa mengikuti perkembangan zaman

    5. Bangun bonding dengan anak
    Bonding yang kuat dengan anak, akan membuat anak lebih nyaman dan terbuka dengan orangtuanya. Sehingga, ini bisa mempermudah komunikasi yang positif antara kita dan anak. Selain itu, bonding yang kuat dengan anak akan membuat kita lebih mudah menyampaikan pesan kita pada diri anak. Termasuk pesan agar anak bisa bijak dalam memanfaatkan perkembangan teknologi ini

    6. Perbaiki cara berkomunikasi pada anak
    Bangunlah komunikasi positif dua arah antara kita dan anak. Terkadang, sebagai orangtua kita lebih banyak main perintah pada anak, memaksa anak mengikuti keinginan kita, berceramah, berbicara terlalu cepat pada anak tetapi lupa untuk mendengar mereka, lupa untuk memahami perasaan mereka. Lalu, bagaimana anak akan merasa nyaman berada di samping kita? Bagaimana anak mau terbuka pada kita?

    Ingatlah Ayah Bunda, jika seorang anak tidak merasa nyaman pada kita orangtuanya. Maka, ia akan mencari kenyamanan di luar sana yang belum tentu baik untuknya. Jadi, jangan salahkan jika anak kita bisa berkata kasar pada orangtuanya, salah pergaulan, mendapatkan bully dan keadaan negatif lainnya. Itu semua berawal dari dalam rumahnya yang telah rapuh

    7. Dll

    Ayah Bunda, belajarlah ilmu parenting sedini mungkin. Jangan sampai kelak, kitalah yang dibuat kebingungan bagaimana lagi cara menghadapi anak karena keterbatasan ilmu yang kita punya. Sungguh Ayah Bunda, mendidik itu butuh ilmu. Lalu, bekal apa yang akan kita punya untuk mendidik anak-anak kita? Ingatlah mereka tumbuh, mereka belajar. Jadi, jika kita tidak ikut belajar. Bagaimana caranya kita agar bisa mengimbangi langkah mereka?

    Jadi, pentingnya pendidikan di era kekinian itu, dimulai dari dalam rumah. Lalu, tanyakanlah pada diri! apa yang sudah kita persiapkan dalam pendidikan anak-anak kita di era kekinian ini? Ayo kita mulai Ayah Bunda, sebelum semuanya benar-benar terlambat untuk diperbaiki

    #sahabatkeluarga

    Referensi

    https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id













    Sunday, August 5, 2018

    Terima Kasih Mama telah Membesarkanku di Atas Ketidakbahagiaanmu

    terima kasih mama telah membesarkanku di atas ketidakbahagiaanmu

    Terima Kasih Mama telah Membesarkanku di Atas Ketidakbahagiaanmu



    Hai saya Yeni. Dahulu sewaktu saya kecil, saya suka sekali berandai-andai "Andai aku tidak terlahir dari keluarga yang seperti ini" atau "Coba aja aku, dibesarkan oleh ibu yang lain, ya" saking saya merasa tidak bahagianya dengan hidup saya sewaktu itu.
    Saya dilahirkan dari keluarga yang tidak mampu. Papa saya hanya seorang tukang koran dan ibu saya, ibu rumah tangga. Dan kami 5 bersaudara dengan anak ke 1 sampai ke 3, jarak usianya yang amat berdekatan. Terlebih papa saya hanya lulusan SD dan ibu saya hanya bisa bersekolah sampai kelas 2 SD.

    Terbayang bagaimana cara kami dibesarkan oleh orangtua yang memiliki keterbatasan ilmu, kakak dan adik yang masih kecil-kecil dan tekanan perekonomian? Yah, saya hidup dengan keras sekali. Karena saya sadar, saya berasal dari keluarga miskin. Menyadarkan saya untuk tekun belajar dan berusaha mendapatkan beasiswa atau bantuan dari SD sampai saya SMK.  

    Dari kecil, ketika anak-anak yang lain sibuk bersekolah dengan menaiki kendaraan. Saya pun sibuk pula berjalan kaki sambil mengantar koran. Karena saya tahu, untung dagang koran papa, hanya bisa untuk makan kami dan tempat tinggal. Bahkan lebih sering kurangnya. Sehingga membuat papa suka berhutang pada orang lain, agar kami bisa makan dan punya tempat tinggal.

    Kami mengontrak di sebuah kamar kecil dan diisi oleh 7 orang di dalamnya. Sehingga kami tidak memiliki ruang privacy untuk diri kami sendiri. Rumah kami berada di sebuah gang sempit nan kumuh. Bahkan kotoran tikus pun dengan mudahnya ditemukan dimana-mana.

    Saya pun dari kecil sudah mengerti keadaan keluarga. Sehingga, membuat saya tak banyak meminta pada mama dan papa. Saya tumbuh begitu dewasa, di usia saya yang masih kanak-kanak.

    tukang koran
    Pixabay

    Sepulang sekolah, saya suka langsung lanjut berjualan koran di pasar menggantikan papa atau mama. Namun, ketika masuk SMK. Mama dan papa tidak memiliki uang untuk memasukkan saya ke SMK waktu itu, yang saya ingat mama sampai menjual perhiasan emasnya. Agar anak-anaknya bisa bersekolah.

    Karena sekolah kami semakin tinggi dan membutuhkan biaya sekolah yang lebih besar lagi. Akhirnya, membuat mama terpaksa ikut berjualan kue di pasar. Beliau selalu berangkat berjualan dari jam 2 shubuh sampai jam 7 pagi. Setelah itu, gantian dengan papa untuk  berjualan koran. 

    Mama, seseorang yang tangguh dan berkemauan keras. Walau sedang hamil besar, hujan dan bahkan sakit, mama tetap memaksakan diri untuk  berangkat ke pasar, demi kami anak-anaknya.

    Sedangkan papa, seorang perokok berat. Hidupnya yang sulit membuatnya senang melarikan diri pada rokok yang perlahan-lahan membunuhnya. Membuat papa sering keluar masuk rumah sakit. Dan membuat mama harus menanggung semuanya seorang diri. 

    Dulu, waktu pertama kali mendengar papa masuk rumah sakit, sewaktu saya pulang sekolah. Rasanya hati saya sakit mendapatkan kabar itu. Saya suka menangis dan menunggui papa di rumah sakit. Tetapi, setelah itu saya menjadi terbiasa untuk menghadapi situasi dan kondisi seperti itu

    Ketika SMK, saya sibuk berorganisasi sebagai bentuk pelarian atas ketidaknyamanan saya di rumah dan keadaan saya. Sehingga, terkadang membuat saya suka menangis dahulu sendirian sebelum berangkat sekolah atau menangis sepanjang jalan ketika akan ke sekolah.

    Ada satu momen yang tak akan pernah saya lupakan dalam hidup saya. Saya ingat sekali, waktu pagi-pagi berangkat sekolah, saya meminta uang ongkos pada mama di pasar, karena memang sekolah saya jauh dari tempat tinggal saya. Tetapi ternyata, jualan kue mama belum laku pagi itu. Padahal mama sudah berjualan dari jam 2 shubuh, tetapi belum ada pembeli sama sekali. Membuat mama terpaksa meminjam uang orang lain di depan saya, agar saya tetap bisa berangkat ke sekolah.

    Saat itulah tangis saya meledak di sepanjang jalan melihat uang yang mama berikan pada saya. Tangis yang saya tahan-tahan agar tak tumpah di depan mama. Lalu meledak di sepanjang jalan hingga saya tak mempedulikan orang-orang yang lewat sibuk memperhatikan saya. Pada saat itu pulalah saya berjanji pada diri saya sendiri, bahwa saya akan membahagiakan mama suatu hari nanti. Dan itu, saya catat baik-baik di lubuk hati saya yang terdalam.

    kenangan
    Pixabay

    Waktu sekolah, selain suka berjalan kaki agar bisa menghemat uang. Saya pun suka tidak jajan di sekolah. Saya suka kelaparan di sekolah, karena uang jajan yang tidak seberapa di kasih mama, suka saya tabung untuk keperluan sekolah seperti harus membeli buku, atau pun untuk membayar renang yang wajib diadakan ketika ujian sekolah. Sedangkan biaya bulanan sekolah saya, gratis dari beasiswa saya. Begitulah salah satu cara saya meringankan beban mama dan papa

    Ketika lulus dari SMK. Membuat saya sulit mendapatkan pekerjaan, karena saya tidak menyukai jurusan yang dipilihkan mama untuk saya. Akhirnya, setelah lulus dan tidak mau merepotkan mama dan papa lagi, saya nekat membawa ijazah saya lalu datang ke ITC Kebon Kelapa Bandung, yaitu sebuah pusat belanja di kota Bandung.

    Saya memberanikan diri untuk bertanya pada setiap toko apakah membutuhkan karyawan toko atau tidak. Dari sekian toko yang saya datangi, allhamdulillah ada yang mau menerima saya jadi SPG di tokonya. Dan saya merasakan untuk pertama kali berdiri berjam-jam di toko karena kebetulan saat itu pada momen mau lebaran.

    Saya pernah mencoba melamar pekerjaan di pabrik, dan saya pun pernah bekerja sebagai sales pulpen yang mengetuk pintu rumah setiap orang. Hanya demi bisa memberikan mama uang dan membahagiakan mama. Saya tanggalkan gengsi dan rasa malu saya. Saat itu, usia saya masih belasan tahun.

    Hingga suatu hari, saya memiliki kesempatan untuk merubah jalan hidup saya. saya mendapatkan lowongan pekerjaan di TK untuk menjadi seorang guru pendamping anak berkebutuhan khusus dan saya mendapatkan pelatihan menangani anak berkebutuhan khusus di sana dan saya digaji Rp. 300.000,- perbulan.

    karyawisata
    Fieltrip Ke Kidzania

    Gaji yang kecil ya, tetapi memang begitulah jika kita bekerja di dunia pendidikan. Dunia pendidikan, bukan dunia untuk mengayakan diri. Tetapi, di sanalah saya menemukan kesempatan untuk bekerja sesuai passion saya

    Dengan kerumitan dan banyaknya permasalahan dari dalam rumah, yang membuat saya tidak tahan. Akhirnya, saya putuskan untuk pergi dari rumah. Walau pun, saya tidak tahu dari mana saya punya uang untuk tempat tinggal, untuk makan dan biaya hidup saya. Karena gaji saya yang masih kecil sekali waktu itu
    Tapi, ada satu hal yang membuat saya yakin bahwa 

    "Allah saja tidak pernah lupa untuk memberi makan seekor semut, apalagi saya, seorang manusia"

    Hanya keyakinan itu, menguatkan saya untuk pergi. Beberapa tahun kemudian, papa saya meninggal dan 2 tahun kemudian adik saya pun meninggal karena sakit. Itu sungguh pukulan terbesar dan terberat dalam hidup saya. Dan pada saat itulah, saya merasa gagal menjadi seorang kakak dan itu berbekas sekali hingga detik ini

    Dan dengan modal nekat pula, saya memberanikan diri untuk kuliah. Saya buktikan pada dunia, pada siapapun dan pada orang-orang yang telah merendahkan saya dan keluaga saya, bahwa saya seorang anak tukang koran, mampu untuk kuliah, mampu untuk berpendidikan, dan mampu untuk berilmu. Karena

    "keberhasilan dan kesuksesan itu milik siapapun yang ingin berusaha"

    Dan Allah selalu menguatkan saya dalam setiap langkah saya. 

    "Dimana ada kemauan, di situ ada jalan" 

    Itu adalah salah satu prinsip yang saya pegang baik-baik dalam hidup saya. Dengan perjuangan yang tidak mudah, saya mengajar dari pagi sampai malam hari sambil kuliah. Agar saya tetap bisa membiayai kuliah saya sendiri, memberikan mama uang, mengontrakan rumah yang layak untuk keluarga saya, dan membiayai hidup saya sendiri

    Terima Kasihku untukmu, Mama


    rumah
    Pembangunan rumah kami dulu di Bandung untuk mama tinggal

    Senyum mama kini

    Kini saya telah lulus kuliah, telah bertahun-tahun pula menjadi seorang guru. Telah menikah dan menjadi seorang ibu pula. Kini, lewat tangan suami Allah telah memberikan saya rezeky berupa rumah yang lebih dari kata layak untuk ditinggali mama di hari tuanya.

    Rumah yang di depannya ada taman, halaman samping dan halaman belakang untuk  menyalurkan hoby mama yang suka sekali berkebun. Rumah yang lebih indah dari yang saya banyangkan sebelumnya. Rumah yang suka menyambut kami, ketika kami anak, menantu, dan cucunya pulang untuk melihatnya. 

    Dan mama pun selalu terlihat bahagia ketika kami pulang dan menyambutnya dengan memasak masakan terenaknya untuk kami.

    Ingin sekali ku katakan pada mama.
    Mama, terima kasih banyak, ya. Telah membesarkanku diatas ketidakbahagianmu. Terima kasih banyak telah merawat dan mengurusku, di saat engkau sesungguhnya perlu dibantu. Terima kasih banyak untuk perjuanganmu. Sehat selalu ya mama, agar aku selalu punya kesempatan untuk membahagiakanmu. Terima kasih mama. Love You. Doaku selalu untukmu 😘.

    Terima Kasih ya Allah telah menemaniku dalam setiap langkahku. TanpaMu, aku tak berarti apa-apa.

    Terima kasih suamiku, engkau adalah cintaku. Semoga Allah selalu menjagamu  😘. Sarangeeeeeee, Ayah 😘😘😘

    Saya ucapkan banyak terima kasih kepada para murobi saya, para sahabat, teman, dan orang-orang hebat dalam hidup saya. Hanya satu kalimat untuk kalian "Semoga Allah membalas kabaikan untuk kalian" 😘

    💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗

    #Menyimpan cerita untuk sebuah kenangan

    Hai anakku, ini adalah alasan mengapa Bundamu tidak mendidik dan membesarkanmu dengan cara memanjakanmu. Tetapi, tidak akan pula membiarkanmu kekurangan kasih sayang dan cinta dari Bundamu ini. Agar Engkau kelak tahu arti sebuah perjuangan, agar engkau tahu cara menghargai apapun dan siapapun, terutama Tuhanmu, Allah SWT, agar Engkau kelak menjadi manusia yang bahagia karena mensyukuri banyak hal dan berterima kasih pada siapapun dan untuk apapun

    Baca juga: CARA AGAR ANAK PANDAI BERSYUKUR

    Nak, hiduplah dengan terus belajar dalam mengarungi perjalanan ini, cintai Tuhanmu dan jadilah yang dicintai Tuhanmu. Karena

    "Kita hidup bagaikan di dalam sebuah kotak. Setinggi apapun cita-cita-cita kita dan sejauh apapun kaki kita melangkah. Akan selalu ada yang membatasi kita yaitu sebuah Kematian". 
    Ingat pesan Bunda, sayang 😘😘

    Dari Bundamu, yang cintanya dan doanya selalu untukmu, anakku. Hingga jiwa ini suatu hari nanti tak akan lagi mampu mendampingimu 😘.

    Tangerang Selatan, 2018

    Sunday, July 29, 2018

    Cara agar Anak Pandai Bersyukur

    cara agar anak pandai bersyukur

    Hai-hai Ayah Bunda. Bagaimana kabarnya hari ini? Masih semangat kan belajar parentingnya? Oke deh, hari ini saya ingin berbagi materi parenting tentang "Cara Mengajarkan Anak agar Pandai Bersyukur". Materi parenting dari grup parenting Sygma Daya Insani asuhan teh Titi ini, sengaja saya simpan di blog saya agar nggak hilang begitu aja dan bisa bermanfaat juga untuk orang lain.

    Nah, berbicara soal bersyukur pernah nggah sih Ayah Bunda memikirkan cara mengajarkan rasa syukur ini pada anak? Sebenarnya mendidik anak untuk bersyukur sejak dini itu penting lho, Ayah Bunda. Mengapa? Karena

    "Anak yang hebat itu bukan anak yang masuk sekolah ternama, atau punya karier bagus atau punya jabatan bagus. Tapi anak yang dekat dengan Tuhannya"

    Bagaimana? Setuju kan? Jadi, nggak usah lama-lama kalau begitu ya Bun. Kita simak langsung penjelasannya dari ahlinya yaitu ibu Miarti Yoga. Berikut profil narasumbernya

    Profil Narasumber 

    pembicara parenting

    Nama : Miarti Yoga
    Tempat tanggal lahir : Ciamis, 22 Maret 1981
    Status : Menikah dengan Yoga Suhara, ST
    Anak : 3
    Facebook : Miarti Yoga

    Aktivitas:

    ✅ Direktur Sekolah Ramah Anak Zaidan Educare
    ✅ Penulis lepas di berbagai media cetak nasional
    ✅ Penulis buku-buku parenting (Unbreakable Woman, Best Father Ever, Adversity Quotient)
    ✅ Relawan Literasi Jawa Barat
    ✅ Kontributor Ahli rubrik parenting di Majalah Intima'
    ✅ Nara sumber seminar parenting di berbagai lembaga
    ✅ Nara sumber workshop dan pelatihan pendidikan guru TK/PAUD
    ✅ Pengasuh Bincang Pengasuhan Online di komunitas Keluarga Ramah Anak
    ✅ Manager Seba Music Entertainment

    Motto : *Semangat, Berkarya, Bermanfaat*

    AGAR BUAH HATI TETAP DALAM KESYUKURAN

    By : Miarti Yoga
    (Early Childhood Consultant)

    🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    Ayah Bunda yang dirahmati Allah.  Berbicara tentang syukur, seperti halnya berbicara sabar. Bertebaran teori dan petuahnya, namun tak sederhana dalam tataran praktis keseharian. Nah, ketika praktiknya memang tak sederhana, maka jelas butuh latihan dan pengkondisian sedari awal.

    Baca juga: BERSABARLAH MENGAJARKAN SABAR PADA ANAK

    Selanjutnya, sebuah keterangan yang tak terbantahkan mengingatkan kita bahwa ketika kita bersyukur, maka jelas Allah akan melipat gandakan apa yang kita dapat. Ketika berterimakasih atas segala nikmat yang Allah beri, maka akan bertambahlah nikmat yang kita dapat.

    Pun Imam Syafi’i telah mengngatkan kita

    "bahwa siapa saja diantara manusia yang tak mampu berterimakasih, maka berarti dia tidak bersyukur kepada Tuhannya"

    Dan mungkin perlu malu dengan orang-orang yang jelas-jelas bukan muslim, namun mereka bergitu tertib dalam menikmati nikmat Tuhannya, satu demi satu. Bahkan ketika tengah –mohon maaf- buang air besar sekalipun, mereka dengan tertibnya memohon kepada Tuhan, seraya berucap; “Ya Tuhan, Engkau yang menciptakan perut dan seisinya. Maka keluarkanlah segala racun yang ada di dalamnya lewat kotoran yang ku buang ini.”

    Bayangkan. Mereka setertib itu. Kita? Kadang atau bahkan seringkali terlupa. Punya serangkaian mesin canggih mulai dari jantung hingga ginjal saja, kita lupa bahwa benda-benda tersebut sangat “amazing” dan tak ada bandingannya. Lalu, bagaimana kita bisa mengkondisikan anak-anak kita untuk menjadi manusia ahli syukur, jika kitanya sendiri masih banyak terlupa dengan apa yang telah Allah anugerahkan.

    Sekarang, bagaimana konteks syukur nikmat tersebut melekat pada anak-anak kita, pada buah hati kita.

    Cara Mengenalkan Rasa Syukur pada Anak


    terima kasih

    Untuk mengenalkan syukur nikmat pada buah hati, paling tidak kita harus memahami terlebih dahulu tentang konsep syukur itu sendiri. Tentu saja, konsep syukur nikmat bagi anak. Ayah Bunda silakan simak satu per satu.

    1. Belajar bersyukur dengan kebiasaan berterima kasih
    Ini sebetulnya sangat sederhana. Mengajarkan anak kita untuk bersyukur pada Tuhannya, bermula dari kebiasaan mereka berterimakasih kepada orang-orang sekitar.

    Bersyukur pada ayah ibunya, kepada adik dan kakaknya, kepada teman-temannya, kepada bapak ibu gurunya, kepada asisten rumah tangga yang ada di rumahnya, kepada bapak sampah yang setiap pekan mengambil sampah ke rumahnya, dan kepada siapa saja yang ada hubungan dengan kehidupannya.

    Caranya pun sederhana. Mulai hal sekecil apapun, anak kita dibudayakan untuk berterimakasih. Ketika diambilkan sepiring nasi oleh ibunya, ketika selesai diantar ke suatu tempat, ketika dibukakan pintu mobil, ketika selesai dibantu mengerjakan PR, dan ketika konteks sederhana lainnya. Sehingga dengan demikian, insyaAllah anak kita terbiasa berterimakasih secara detail.

    2. Belajar bersyukur melalui kebiasaan mengharagai orang-orang sekitar
    Konteks ini semacam resiprokal atau saling memberi dampak. Ketika anak kita terbiasa berterimakasih, maka secara refleks, jiwanya tumbuh untuk dapat menghargai orang-orang sekitar. Bermula dari aksi, maka tumbuhlah emosi. Kurang lebih demikian.

    Baca juga: CARA MENGELOLA EMOSI DALAM PENGASUHAN ANAK

    Atau dalam kata lain, setelah membiasakan sikap, maka muncullah rasa. Rasa apa? Rasa penghargaan terhadap orang lain. Lebih jauhnya lagi, anak akan tumbuh empatinya, anak akan tumbuh pedulinya. Dan ketika dirinya mampu memperlakukan manusia dengan demikian, maka akan berbanding lurus dengan penghargaan dirinya kepada Tuhannya, Allah SWT

    3. Bagaimana kesyukuran mampu menumbuhkan ke rendah hatian
    Dengan terbiasa berterimakasih, maka muncullah rasa penghargaan diri terhadap orang lain. Selanjutnya, akan tumbuh pula sikap rendah hati. Oleh karenanya, mari ajarkan anak kita dengan kebiasaan bersyukur. Untuk apa? Untuk menumbuhkan sikap rendah hati. Sikap ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan.

    Sebaliknya, betapa kesombongan dan keangkuhan sangat mengganggu kehidupan sosial. Betapa banyak orang yang tak nyaman dengan sikap tinggi hati. Dan secara otomatis, ketika anak bersyukur pada Tuhannya, maka akan terbentuk pada jiwanya sebuah sikap penghambaan, sebuah kelurusan aqidah, sebuah ketaatan yang paripurna, yang membuktikan bahwa dirinya merasa bukan siapa-siapa di hadapan Tuhannya. Di samping itu, anak yang dibudayakan untuk bersyukur, maka akan merasa tak layak untuk sombong. Karena yang berhak untuk sombong, jelas hanya Allah Maha Segalanya.

    4. Bagaimana kesyukuran mampu membimbing “attitude” (sikap tubuh, pengelolaan hati, perilaku, dan lain-lain) menjadi halus dan semakin halus.
    Ini poin yang tak kalah menarik. Setelah kesyukuran itu berefek pada sikap menghargai dan rendah hati, juga secara perlahan akan membentuk “attitude”. Oleh karenanya, insyaAllah anak kita yang dekat dengan syukur, akan halus budi pekertinya.

    Dia akan mampu mengatur nada bicara, dia akan mengatur mimik muka, dia akan mampu mengatur gestur tubuh, dan atau sejenisnya. Dan sikap menawan seperti inilah yang akan membuat orang-orang sekitar merasa takjub.

    Cara Agar Anak Pandai Bersyukur


    syukur

    Sekarang, setelah kita memahami konteks syukur bagi anak, maka kewajiban kita adalah memahami tentang upaya apa saja yang bisa lakukan untuk menumbuhkan kesyukuran tersebut.

    1. Adalah dengan membiasakan mereka untuk berterimakasih dengan apa saja yang mereka dapat, baik kepada makhluk, maupun kepada Sang Khalik.
    Dalam hal ini, jangan pernah remehkan arti kalimat-kalimat thoyyibah. Biarkan mereka refleks dalam mengucapkan dan memaknai kalimat tersebut.

    2. Berikan mereka cerita-cerita indah tentang kisah Nabi, kisah para sahabat, kisah para tabiit tabi’in dan kisah-kisah menarik lainnya yang mampu menyentuh alam bawah sadarnya. 
    Sehingga, mereka merasakan sebuah ketauhidan yang hakiki. Biarkan kisah hikmah menjadi inputan yang kuat dalam masa pertumbuhannya, sehingga aqidah mereka tumbuh subur.

    3. Pandai-pandailah kita membuat hubungan antara konteks-konteks keseharian yang ada, dengan keyakinan yang tinggi terhadap Allah SWT. 
    Contohnya, ketika mendapat musibah. Sedapat mungkin, kita yakinkan bahwa itu semuanya dari Allah. Bersyukur kita mendapat musibah yang jauh lebih ringan daripada orang lain. Pun dengan keberlimpahan yang kita punya.

    Ajak mereka untuk bersyukur dengan kondisi rumah yang nyaman, dengan kendaraan yang kondusif, dengan jamuan makan dan minum yang sehat dan bergizi dalam setiap harinya. Setelah itu, arahkan mereka untuk dapat membandingkan dengan orang-orang yang bernasib kurang beruntung. Lalu giring mereka untuk bertafakur bahwa semua kenikmatan yang berpihak pada kita, semata-mata karena kuasa Allah SWT.

    4. Jadilah kita teladan yang paling baik bagi mereka. 
    Berhentilah menjadi orangtua dengan segala kesah. Berhentilah menjadi orangtua dengan segala kepesimisan. Tunjukkan dengan sikap terbaik, dengan bahasa terbaik, dengan energi positif, bahwa kita adalah orangtua yang tentram berada di jalan Allah. Perlihatkan bahwa kita adalah orangtua yang mampu menikmati kehidupan.

    5. Hindari mereka dari sikap manja dan biarkan mereka menjadi pribadi pejuang. 
    Untuk apa? Supaya mereka menjadi pribadi yang menikmati proses dan mensyukuri seluruh perjuangannya. Sebaliknya, sikap manja hanyalah fatamorgana untuk perjalanan mereka.

    Banyak dampak negatif yang akan muncul dari akibat terlalu memanjakan anak. Salah satunya, anak yang terlalu dmanjakan memiliki peluang besar untuk tampil sebagai pribadi yang penakut. Bahkan pada titik ekstrim, anak akan sangat bergantung pada orang lain dan tidak memiliki kepercayaan diri untuk sekadar menyatakan dirinya “mampu” berbuat sesuatu.

    Sehingga, sangat wajar jika kemudian timbul beberapa perilaku yang sangat tidak diharapkan seperti;
    Tidak mampu menyelesaikan masalah
    Tidak memiliki second opinion
    Egois
    Semua keinginannya harus selalu terlayani dan terpenuhi
    Harus selalu sempurna
    Keras kepala
    Emosi tidak stabil
    Kurang peka terhadap kondisi atau permasalahan yang ada
    Tidak percaya diri
    Kurang mampu bergaul dengan baik
    Penakut

    Demikian yang dapat saya bagikan pada edisi kali ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Sekian dan semoga bermanfaat. _Allohu ‘alam bish showaab.

    💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗

    MasyAllah penjelasannya detail dan lugas sekali ya Ayah Bunda. Mudah sekali untuk di pahaminya. Mengajarkan anak untuk pandai bersyukur pun salah satunya bisa lewat cerita lho, Ayah Bunda. Ada buku produk dari Sygama yang khusus mengajarkan syukur pada anak dengan meneladani rasulullah. Judulnya "Syukur seperti Rasulullah" (no sponsored post) ini hahhaha

    Nah, itu dia ya Ayah Bunda meteri parenting tentang cara agar anak pandai bersyukur. Tunggu materi parenting dan tulisan saya selanjutnya ya. Sampai ketemu daa 😃

    Sunday, July 22, 2018

    Kegiatan Anak Usia Dini "Membuat Permen Kupu-Kupu"

    kegiatan stimulasi

    Hai-hai Bunda! Lagi bingung cari kegiatan anak usia dini di rumah untuk anaknya? Pas banget nih waktunya, karena hari ini saya ingin berbagi kegiatan Erysha (2y5m) beberapa waktu yang lalu yaitu membuat permen kupu-kupu. Apa Bunda pernah mencobanya di rumah? Kalau belum, yuk tengok langsung kegiatan saya bersama Erysha, ya 😃.

    Kegiatan Anak Usia Dini "Membuat Permen Kupu-kupu"


    kegiatan anak usia dini "membuat permen kupu-kupu"

    kegiatan stimulasi anak usia dini
    Gambar: Chai's Play
    Baca juga: PRAKARYA DENGAN MEDIA DAUN UNTUK ANAK USIA DINI

    Nama Kegiatan: Kegiatan Anak Usia Dini "Membuat Permen Kupu-kupu"

    Untuk usia : 2 - 6 tahun

    Alat dan Bahan

    stimulus

    1. Kertas warna
    2. Permen tangkai bentuk bulat
    3. Gunting
    4. Pensil & penghapus
    5. Stiker motif ukuran kecil. Contohnya seperti ini

    stiker anak-anak
    Alliexpress.com

    6. Satu pasang kecil bola mata boneka gerak. Contohnya seperti ini

    prakarya

    7. Cutter
    8. Selotip

    Cara Membuat dan Cara Mengajarkannya pada Anak

    Baca juga: CARA MEMBUAT DAN BERMAIN FINGER PAINTING UNTUK ANAK USIA DINI

    1. Kenalkan nama-nama dan alat/bahan yang akan digunakan pada anak
    2. Buatlah gambar pola sayap kupu-kupu pada kertas warna dan ukurannya disesuaikan dengan permen tangkai.

    Usia 2 - 3 tahun:
    - Bisa kitalah yang membuat pola gambar sayap kupu-kupunya

    Usia 3 - 6 tahun
    - mintalah anak menggambar pola sayap kupu-kupunya yang sebelumnya sudah kita beri contoh

    3. Guntinglah pola sayap kupu-kupu yang telah dibuat tadi

    Usia 2 - 3 tahun
    Bisa kita yang mengguntingnya sendiri ya Bun

    Usia 3 - 6 tahun
    Anak bisa diajarkan untuk mengguntingnya sendiri

    4. Iris kecil di bagian atas dan bawah sayap kupu-kupu dengan menggunakan cutter untuk memasukkan permen kupu-kupunya nanti, lalu beri selotip bagian belakangnya

    Ini bisa dibantu dan dicontohkan oleh kita ya Bun cara mengiris kertasnya

    Usia 2 - 4 tahun
    Kita saja yang membuat irisannya

    5. Masukkan permen tangkai ke dalam sayap kupu-kupu tersebut yang telah diiris tadi.

    Usia 2 - 3 tahun
    Bisa kita bantu anak memasukkan permennya ke dalam lubang irisan tadi

    Usia 3 - 6 tahun
    Bisa belajar untuk memasukkannya sendiri dengan diberi contoh atau tanpa contoh (diarahkan)

    6. Setelah selesai, kita bisa mengajak anak untuk menghias sayap kupu-kupunya dengan stiker kecil bermotif. Nah, karena saya kesulitan sekali menemukan penjual stiker ini, akhirnya saya dan Erysha memakai stiker yang apa adanya hiks. Tetapi, untungnya masih kecil dan bisa digunakan

    Usia 2 - 3 tahun
    Kita bisa meminta anak untuk menghias sayap kupu-kupunya sendiri. Boleh menempel bebas, boleh juga kita mengajarkan gambarnya disusun dengan berpola. Tergantung anaknya ya Bun 😃

    DIY

    kegiatan stimulus anak

    Usia 3 - 6 tahun
    Kita bisa meminta anak menempelkan stikernya dengan berpola. Misalnya kalau gambar stikernya berwarna hitam dan putih, bisa kita ajak anak menyusunnya seperti hitam-putih-hitam-putih begitu seterusnya. Atau mengajak anak untuk membuat polanya sendiri. Biarkan anak berkreasi sendiri

    7. Dan terakhir adalah menempelkan 1 pasang mata boneka pada permen tangkai tadi untuk bagian kepalanya. Nah, karena saya tidak menemukan 1 pasang mata boneka ini, akhirnya saya buat sendiri deh hehehe.

    Usia 2 - 3 tahun
    Bisa kita bantu dalam menempelkannya

    Usia 3 - 6 tahun
    Mintalah anak untuk menempelkannya sendiri.

    Tadaaaaa begini hasilnya Bunda.

    DIY membuat permen kupu-kupu

    Aduhh, ini banyak kekurangannya karena tanpa banyak persiapan dan mendadak dapat idenya hahaha. Ya sudahlah ya Bun, yang penting kan usahanya wkwkwk 😂. Nah, buat Bunda yang bingung caranya, bisa lihat video ini ya


    Manfaat Kegiatan Anak Usia Dini "Membuat Permen Kupu-kupu"

    Baca juga: KEGIATAN STIMULASI ANAK USIA DINI DENGAN MEMBUAT "PELANGI DI ATAS SUSU"

    1. Membangun bonding
    2. Mengenalkan warna melalui kertas warna
    3. Melatih motorik halus (ketika menghias sayap kupu-kupu dan mengguntingnya)
    4. Anak tanpa disadari belajar konsep matematika dari pola stiker yang ia tempeli (aljabar)
    5. Memberikan kegiatan positif pada anak
    6. Membuat anak tidak bosan di rumah
    7. Belajar berkreasi
    8. Merangsang daya kreativitas anak
    9. Dll

    Nah, itu dia Bunda kegiatan anak usia dini "membuat permen kupu-kupu". Bagaimana? Mudah bukan? Kalau begitu, tunggu apa lagi? Boleh banget nih, dicoba di rumah ya Bun bersama putra putri tercintanya 😘.

    Selamat mencoba 😍


    Sumber
    Chai's Play

    Sunday, July 15, 2018

    Produktif dari Rumah? Kenapa Enggak?

    produktif dari rumah? kenapa enggak?

    Hai Bunda! Ini adalah project collab pertama saya dengan Bunda Enny, mom blogger dari Jambi yang juga working mom. Beliau ini adalah salah satu ibu hebat yang saya kagumi. Bagaimana tidak, karena beliau ini seorang ibu, bekerja pula di luar dan juga sambil kuliah. MasyAllah betapa waktunya selalu bermanfaat ya 😍. Nah, tema kita hari ini adalah tentang produktif. Karena saya ibu rumah tangga jadi saya memilih judul "Produktif dari Rumah? Kenapa Nggak? Dan buat Bunda yang ingin tahu produktif versi Bunda Enny, working mom.  😘

    Baca juga postingan Bunda Enny di sini ya:
    Tips Menjadi Ibu Produktif

    Bunda pernah nggak sih merasa diri kita ini nggak ada apa-apanya dibandingkan para wanita yang memiliki banyak karya hebat atau bisa bekerja dan begitu produktif di luar sana? Dan kita ini apa atuhhhhh cuma seorang ibu rumah tangga, yang pekerjaannya begitu lagi begitu lagi. Tidak terlihat dan seisi dunia tidak ada yang memperhatikan diri kita. Karena kita tak memiliki kesuksesan yang bisa diukur di luar sana.

    Pernah merasakan begitu? Saya pernah. Dulu, waktu awal saya menjadi ibu rumah tangga, melepaskan karier saya di luar dan hanya di rumah saja. Rasanya itu baperrrr banget hahaha 😂. Tetapi, percayalah Bunda

    "ketika kita memutuskan untuk berkarier di rumah dan tidak terlihat lagi oleh dunia demi suami dan anak-anak kita, pada saat itulah sesungguhnya kitalah yang telah menjadi dunianya orang-orang terkasih kita di rumah"

    Bukankah itu tak kalah spesialnya di hati kita, Bunda? Jadi, janganlah bersedih dan malu dengan karier kita sebagai ibu rumah tangga. Karena setiap orang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda maupun jalan hidup yang berbeda-beda. Jadi, tak perlu merasa rendah diri dan tak perlu pula merasa lebih baik dari orang lain apalagi merasa lebih baik dari ibu yang bekerja. Karena setiap orang punya tantangannya masing-masing

    Walau pada saat ini saya sudah produktif menulis dan menjadi seorang Blogger dari rumah. Tetap saja, saya selalu merasa kurang produktif. Sekarang banyak para Blogger bukan hanya sekedar menulis dan ngeblog saja. Tapi, mereka juga sudah merambah ke dunia video dan juga merangkap profesi sebagai Youtubers. Nah, saya masih di sini-sini saja. Boro-boro ikutan membuat video, baru pegang handphone saja anak sudah merengek minta diperhatikan wkwkwkw. Nasib emak-emak 😂😂😂.

    Baca juga: SATU TAHUN NGEBLOG. 8 HAL INI YANG TIDAK TERDUGA SAYA CAPAI

    Ngak apa-apa Bunnnnn, yang namanya produktif itu, bukan selalu tentang sesuatu yang terlihat di depan banyak orang. Tapi, ketika kita bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik antar diri kita dan terkadang antar kita dengan Tuhan kita. Itu juga disebut sebuah Produktif. Karena semua ada masanya. Semangatttttt *ceritanya lagi nyemangatin diri sendiri hahaha 😂😂😂

    Apa itu produktif?


    produktif
    Pixabay

    Lalu, muncul pertanyaan besar kita "sebenarnya apa sih arti produktif itu?". Menurut kamus besar bahasa Indonesia produktif itu adalah
    1 a bersifat atau mampu menghasilkan (dalam jumlah besar)

    2 a mendatangkan (memberi hasil, manfaat, dan sebagainya); menguntungkan

    3 a Ling mampu menghasilkan terus dan dipakai secara teratur untuk membentuk unsur-unsur baru

    Baca juga: SUDAHKAH KITA MEMBUAT RESOLUSI UNTUK MENJADI SESEORANG YANG PRODUKTIF DALAM HIDUP KITA?

    Jadi, kesimpulan dari penjelasan di atas tentang produktif adalah "menghasilkan". Menghasilkan di sini bisa berbeda-beda arti ya Bun, tidak selalu seperti apa yang kita lihat. Karena ketika kita belajar sesuatu yang lebih baik, ini juga termasuk "menghasilkan sesuatu" yaitu seperti ilmu, pemahaman, atau menghasilkan sebuah manfaat. Ini juga disebut sebagai sebuah produktif

    Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam memandang arti produktif yang sebenarnya dan bagi saya produktif itu adalah

    "Apapun peran kita berikanlah peran yang terbaik dari versi terbaik yang kita punya"

    Misalnya ketika kita berperan menjadi seorang istri, jadilah istri yang baik untuk pasangan kita. Ketika kita berperan menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang baik untuk anak-anak kita, begitu juga dengan peran-peran kita yang lain selalu berusaha memberikan yang terbaik dengan versi terbaik kita

    Nah, sebelum kita menjadi seseorang yang benar-benar produktif, yang pertama kita lakukan adalah mengurangi "baper" kita. Karena bagaimana kita bisa produktif jika kita sedikit-sedikit baper, sedikit-sedikit baper melihat orang lain. Itu sungguh melelahkan Bundaaaaa. Berikut saya kasih tipsnya ya, cara mengurangi bapernya kita hahaha, walau saya pun masih tahap belajar ilmu ini. Maklum namanya juga perempuan ya Bun, apa-apa suka dibaperin duluan baru dipikirin belakangan *plakkkkk

    Cara Agar tidak Mudah Baper:


    baper
    Pixabay

    1. Belajar menerima diri sendiri
    Pertama kita harus mengenal diri kita sendiri, mengenal situasi dan kondisi kita. Dan percaya bahwa setiap orang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda, jadi kita harus pahami kondisi diri kita sendiri dan kenapa kita memilih ada di rumah

    2. Berhenti membanding-bandingkan diri kita

    Berhentilah membanding-bandingkan diri kita dengan diri orang lain. Karena setiap orang memiliki tantangannya masing-masing dalam hidup mereka. Begitu juga dengan diri kita

    3. Belajar bersyukur 
    Syukuri apa yang bisa kita syukuri dan tentu itu ada banyakkkkk sekali yang bisa kita syukuri ya Bun. Jangan biarkan ....

    "Kita mengeluhkan satu hal tetapi kita jadi melupakan banyak hal yang perlu kita syukuri"

    4. Belajar meningkatkan kualitas diri
    Jadilah pribady yang terus belajar meningkatkan kualitas diri baik itu dari segi rohani, etika, hubungan dengan banyak orang dll. Terus belajar membuat kita tidak akan pernah tertinggal oleh orang lain di belakang. Bahkan kita bisa sama-sama berlari bersama mereka

    5. Dll

    Setelah baper itu bisa kita kendalikan, baru kita bisa lebih mudah untuk fokus pada apa yang ingin kita lakukan. Lagi-lagi muncul pertanyaan kita "apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi seseorang yang produktif dari rumah?" Jawabannya banyakkkk. Apa saja itu?

    Produktif dari Rumah


    produktif, rencana
    Pixabay

    1. Kenali diri kita
    Tanyakan pada diri apa yang ingin kita lakukan dari rumah? Misalnya kita ingin menjalankan bisnis dari rumah, ingin menjadi seorang blogger, atau produktif dalam meningkatkan kualitas diri juga boleh dlll.

    Mengenali diri dan ingin kita, membuat kita lebih mudah fokus produktif dalam satu bidang

    2. Membuat konsep produktif diri kita sendiri
    - mengatur rencana
    Rencana ini penting Bun. Bagaimana kita mau produktif tanpa sebuah rencana apa saja yang ingin kita hasilkan. Misalnya, sebagai seorang blogger saya ingin produktif menulis dan berbagi kebaikan lewat tulisan untuk membantu para orangtua dan masyarakat yang membutuhkan ilmu saya.

    Jadi, saya memiliki gambaran dan rencana tema tulisan yang seperti apa yang akan saya tulis

    - buat daftar tugas
    Buatlah daftar tugas secara detail. Misalnya minggu ini kita mengerjakan apa saja dan minggu depan apa saja. Membuat daftar tugas membuat kita lebih tersistematika mengatur rencana kita dan lebih mudah membayangkannya setelah dijabarkan satu-persatu dari rencana awal

    - evaluasi
    Evaluasi ini wajib ketika kita ingin menghasilkan sesuatu. Tidak melulu tentang materi, tetapi bisa juga evaluasi tentang diri kita. Apa yang kurang dan apa yang masih perlu kita perbaiki dari diri kita

    Kalau saya pribady sebagai blogger, sering mengevaluasi diri misalnya saya kurang banyak membaca jadi pemahaman dan kosa katanya masih miskin sekali, atau belajar bagaimana saya bisa membuat konten-konten yang berkualitas yang memang dibutuhkan oleh pembaca saya tanpa membuat mereka bosan dengan materi saya (ini PR saya bangettttt nih 🙈)

    3. Memiliki ruang / tempat khusus untuk bekerja
    Sebaiknya kita memiliki ruang khusus untuk berpikir dan bekerja ya Bun. Jangan di tempat tidur. Karena bukannya pekerjaannya selesai yang ada malah kitanya yang ketiduran nantinya wkwkwk 😂

    4. Kelola waktu dengan baik
    Ini penting sekali. Sebagai ibu rumah tangga yang selalu digantungin anak seharian, membuat kita tidak mudah mencari waktu untuk diri kita sendiri ya Bun, apalagi kalau anaknya masih kecil *hadeuhhh. Jadi, sebaiknya kita harus pintar-pintar mengelola waktu dan mencari waktu yang terbaik untuk kita.

    Kalau saya pribady biasanya malam setelah anak tidur atau shubuh. Itu adalah waktu terbaik saya. Bagaimana dengan Bunda? Sepertinya kita sama ya *namanya juga emak-emak 😂.

    5. Komitmen
    Setelah kita telah menentukan rencana, maka berkomitmenlah dengan rencana itu. Jangan karena kita bekerja di rumah, jadi membuat kita seenaknya dalam mengerjakan pekerjaan kita. Aduhhh jangan ya Bun, karena tidak akan benar untuk selanjutnya. Komitmen inilah yang harus kita pegang baik-baik

    Walau misalnya kita belum bisa menghasilkan sesuatu yang produktif untuk kita bagikan untuk banyak orang karena situasi dan kondisi kita belum memungkinkan, tidak apa-apa ya Bun. Mungkin kita bisa memulai produktif dari hal-hal kecil dan sederhana. Seperti berbagi makanan kepada tetangga, kepada orang-orang yang membutuhkan dll. Karena kita tidak pernah tahu kan amal mana yang akan diterima olehNya.

    Tapi, ada sesuatu yang perlu kita ingat Bunda. Ketika suatu hari nanti kondisi kita sudah memungkinkan, belajarlah produktif yang manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak orang. Karena bagaimanapun juga, kita pun perlu memiliki peran di masyarakat dan kita memiliki tanggung jawab pada masyarakat kita sendiri. Karena ..

    "sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberi manfaat untuk banyak orang"

    Baca juga: INI DIA ALASAN MENGAPA IBU RUMAH TANGGA HARUS TETAP PUNYA PERAN DI MASYARAKAT

    Nah, apa Bunda sekarang sudah punya versi terbaik di dalam pandangan Bunda? Kalau begitu jangan ragu menjadi seseorang yang produktif menurut versi kita, yang terpenting selalu berusaha ke arah yang lebih baik. Produktif dari rumah? Kenapa nggak. Siappp Bunda? Tunggu apa lagii!!!



    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES