• Tuesday, August 20, 2019

    11 Alat Ini Wajib Ada di Rumah untuk Membantu Stimulasi Anak

    11 alat ini wajib ada di rumah untuk membantu stimulasi anak
    Pixabay

          Hai Ayah Bunda, sebagai orang tua kita memikul amanah besar dari peran kita ini. Sehingga membuat kita mau nggak mau harus terus belajar menempa diri untuk lebih baik apapun peran kita. Terutama peran kita sebagai orang tua. Dan salah satu peran kita sebagai orang tua adalah menstimulasi seluruh aspek tumbuh kembang anak agar anak bisa berkembang dengan optimal sesuai usianya. Nah, berikut aku mau berbagi alat edukasi apa saja sih yang wajib kita persiapkan untuk membantu menstimulasi anak kita di rumah


    11 Alat Ini Wajib Ada di Rumah untuk Membantu Stimulasi Anak


    1. Buku Cerita
          Ayah Bunda, Indonesia masih berada di peringkat terbawah dengan minat baca yang rendah di dunia dan ini sungguh membuatku miris. Padahal sebenarnya mengenalkan anak pada buku dan membuat anak menyukai buku banyak sekali manfaatnya dan bisa langsung menstimulasi beberapa aspek tumbuh kembangnya seperti aspek bahasa, kemampuan bicara, kognitifnya, perilakunya, imajinasi anak dan masih banyak lagi.

    Baca juga: Mengapa Perlu Mengenalkan Buku pada Anak Sejak Dini?

    pentingnya membacakan buku cerita pada anak sejak dini
    Pixabay

    Kita itu sanggup membeli handphone yang harganya berjuta-juta. Tapi mengapa merasa sayang ketika harus mengeluarkan uang untuk membeli buku untuk anak-anak kita. Padahal sesungguhnya manfaat membacakan buku ini bermanfaat seumur hidup anak. Sedangkan handphone 3 tahun lagi mungkin sudah kurang maksimal pemakaiaannya.

    Baca juga: Caraku Mengenalkan dan Membuat Anak Menyukai Buku 


    2. Mainan edukasi
          Mainan edukasi ini dan buku cerita penting sekali harus kita sediakan di rumah. Ini membantu kita mengalihkan anak dari tontonan TV dan main gadget. Ayah Bunda bisa baca juga ya di sini "Cara Mengalihkan Anak dari Gadget dan TV"

    Mainan edukasi ini bisa seperti bola, puzzle, balok, lego, boneka, mainan masak-masakkan, mainan kasir-kasiran, piano, pasir kinestetik dan lain-lain. Mainan edukasi ini nggak harus selalu beli ya Ayah Bunda. Kita bisa juga kok belajar membuatnya sendiri dan bisa disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak-anak kita. Karena memang menjadi orang tua itu kita itu harus dituntut kreatif juga bagaimana anak bisa bermain dan belajar dengan cara menyenangkan sehingga dia merasa tidak sedang belajar


    3. Alat tulis
          Sediakan alat tulis, kertas HVS dan alat warna (kecuali cat ya 😂) diletakkan ditempat yang terbuka di rumah dan mudah dijangkau anak. Ini penting agar anak bisa dengan bebas mencorat-coret dan menggambar apa saja yang anak suka. Alat tulis ini bisa buku, pulpen, pensil, penghapus dan penggaris


    4. Kertas HVS
    manfaat menggambar bebas pada anak
    Erysha sedang menggambar bebas

          Ayah Bunda, ketika kita telah menyediakan alat tulis dan kertas pada anak, anak bisa lebih bebas lagi dan bereksplorasi seperti apa yang anak inginkan. Ini membuat kita lebih mudah menstimulasi anak dengan mengajak anak menggambar bebas.

    Mungkin anak awalnya gambarnya berupa benang kusut. Tapi jika lama-lama sering kita ajak menggambar, gambar anak akan mulai terlihat dan terbentuk seiring bertambahnya usia anak, stimulasi yang ia dapatkan. Apalagi jika anak sering kita bacakan buku cerita, ini akan memperkaya imajinasi anak dan imajinasi inilah yang ia tuangkan lewat gambarnya

          Jangan lupa, setelah anak menggambar kita ajak anak berdiskusi. Tanyakan padanya apa yang ia gambar? Mengapa ia menggambar itu? Kenapa memilih warnanya itu? Dan lain-lain tanpa menghakiminya. Ini akan melatih anak untuk berpikir kritis, belajar mengungkapkan alasannya, belajar berkomunikasi karena betapa banyak orang pintar di luar sana tapi ia tidak pandai mengkomunikasikan gagasannya pada orang lain.

    Oleh sebab itu, mengajarkan anak berbicara itu penting dilatih sejak dini. Selain itu menggambar dan mewarnai itu penting untuk menstimulasi motorik halus anak. Selain kertas HVS kita jadikan alat untuk menggambar oleh anak, bisa juga kita gunakan untuk membuat worksheet atau DIY pada anak seperti kegiatan aku bersama Erysha ini lihat di sini ya "Membuat Kulit Jerapah dengan Kulit Telur" atau bisa juga kita ajak anak bermain melipat kertas seperti membuat perahu atau bermain pesawat-pesawatan


    5. Alat mewarnai


    kegiatan yang dapat melatih motorik halus anak
    Pixabay

     Ayah Bunda bisa sediakan crayon, pensil warna dan spidol di rumah dan diletakkan di tempat yang mudah anak jangkau. Ini satu paket ya dengan nomor 2 dan 4.


    6. Kertas warna
          Menurut aku kertas warna ini juga penting kita sediakan di rumah. Karena kebanyakan membuat kreativitas di rumah bersama anak banyak yang kegiatannya menggunakan kertas warna ini. Karena kertas warna menarik ya warnanya untuk anak jadi membuat anak jadi belajar warna sekaligus

    Biasanya kertas warna ini suka aku gunakan kalau mengenalkan pola warna, menggunting garis, mengenalkan bentuk contohnya lihat di sini ya "Mengenalkan Bentuk pada Anak" atau membuat kreativitas seperti "Membuat Permen Kupu-kupu" dan lain-lain. Klik aja ya link warna merahnya


    7. Gunting
          Nah, sebenarnya Erysha itu sudah aku kenalkan dengan kegiatan menggunting di usia kurang dari 2 tahun dengan gunting kecil dan bertahap. Dari awalnya belajar cara memegang gunting dengan benar, belajar menggunting bebas, menggunting garis lurus, zigzag dan sekarang Erysha sudah bisa menggunting bentuk seperti bentuk kotak, segitiga, kecuali bulat. Sekaligus mengenalkan bentuk pada Erysha. Erysha sudah bisa menggunting kotak dan segitiga. Hanya saja bentuk bulat belum bisa mengikuti garis bulatnya. Nanti kalau tahap ini sudah bisa, baru aku kenalkan Erysha menggunting dengan bermacam bentuk

          Tapi aku nggak menyarankan mengajarkan anak menggunting di usia kurang dari 2 tahun untuk anak yang lain, ya.  Karena setiap anak memiliki kemampuan motorik halus yang berbeda-beda. Aku menyarankan di usia 3 tahun saja. Karena jika anak dibawah 3 tahun tetapi motorik halusnya kurang terstimulasi dengan baik, khawatirnya kegiatan menggunting bisa berbahaya karena bisa melukai tangan anak kita.

    Ini aku nggak bermaksud sombong ya Ayah Bunda, nggak. Tapi sebenarnya yang paling tahu kemampuan anak kita adalah kita orang tuanya, jadi kalau Ayah Bunda merasa anak sudah mampu boleh dikasih di bawah 3 tahun, tapi kalau motorik halusnya masih kurang baik. Jangan dulu. Tunggu usia 3 tahun. Tapi ingat harus bertahap ya cara mengenalkan kegiatan ini dan di bawah pengawasan kita


    8. Lem
          Sediakan lem kertas dan lem kayu di rumah. Lem kertas ini bermanfaat sekali untuk membantu kita dan anak dalam kegiatan menempel yang bahannya dari kertas. Biasanya lem kertas ini bisa untuk membuat kreativitas bersama anak dan bisa juga menempel kertas pada worksheet yang sudah kita buat untuk anak sesuai usianya.

          Nah Ayah Bunda, selain menyediakan lem kertas, kita pun bisa menyediakan lem kayu di rumah. Kalau aku menggunakan lem kayunya merk Fox. Lem kayu ini berguna sekali menempelkan sesuatu yang bahannya bukan kertas. Biasanya untuk membuat DIY bersama anak. Contoh DIY aku bersama Erysha ketika "Membuat Domba". Klik aja ya link warna merahnya.


    DIY untuk anak usia dini


    Nah, lem fox ini ada ukuran besar dan kecilnya. Jadi, Ayah Bunda bisa beli sesuai kebutuhan dan bisa digunakan berkali-kali. Saya sarankan belinya yang ada wadahnya ya. Jangan yang di plastik. Karena kalau di plastik cepat kering.


    9. Cat atau pewarna makanan
          Aku juga di rumah menyediakan pewarna makanan untuk kegiatan bermain dan belajar Erysha di rumah. Warnanya warna primer yaitu warna merah, kuning, dan biru. Jadi, kalau ingin warna lain tinggal dicampurkan saja. Misalnya mau warna hijau, bisa campurkan warna biru dan kuning.

          Aku sengaja memilih pewarna makanan karena lebih aman untuk anak. Jadi bisa kita gunakan untuk anak usia di bawah 2 tahun juga. Jadi, nggak usah khawatir jika anak di bawah usia 2 tahun memasukkan tangannya yang sudah terkena pewarna makanan karena aman, selain aman pewarna makanan pun lebih murah dan isinya lebih banyak jika dibandingkan menggunakan cat air

    Tapi, kalau Ayah Bunda mau stock cat air di rumah juga nggak apa-apa. Selain pewarna makanan, cat air, bisa juga menggunakan cat biang atau bibitnya cat. Nah, kalau menggunakan cat biang sebaiknya dicampur dengan cat tembok warna putih.

    Karena cat biang itu kan kental sekali ya Ayah Bunda, jadi butuh campuran cat tembok warna putih agar tidak merusak warnanya juga. Belinya yang kiloan aja. Kan ada itu ya. Kalau Ayah Bunda beli cat biang, awet banget ini dan pemakaiannya cuma sedikit sekali. Biasanya cat biang ini suka digunakan di taman kanak-kanak karena mereka membutuhkan porsi yang banyak. Ayah Bunda bisa intip kegiatan aku dan Erysha bermain warna dari cat di sini, ya

    a. Membuat pelangi di atas susu
    b. Bermain finger painting
    c. Percobaan sains (Bermain percampuran warna)
    d. Membuat playdough sendiri
    e dan lain-lain


    10. Celemek Cat
          Jujur, kalau yang ini aku belum punya. Tapi aku merasa ini butuh untuk mengajak Erysha bermain cat di rumah. Soalnya sayang kan ya kalau baju anak-anak kita jadi korban ketika kita mengajak anak bermain cat dan mencuci bajunya jadi lebih susah. Jadi menurut aku celemek khusus cat ini perlu


    11. Sepeda


    cara melatih motorik kasar anak
    Erysha sedang bermain sepeda

          Nah, kalau sepeda aku merasa kita butuh untuk membantu menstimulasi motorik kasar dan keseimbangan anak. Selain itu kita bisa juga mengajak anak bermain sepeda setiap pagi atau sore. Selain bisa menstimulasi motorik kasar anak, bermain sepeda di luar rumah bisa menstimulasi kemampun sosial anak, rasa percaya diri anak bertemu dengan orang lain di luar  dan lain-lain

          Nah, Ayah Bunda menurut aku 11 hal di atas penting sekali kita sediakan di rumah untuk membantu kita menstimulasi aspek tumbuh kembang anak di rumah. Terutama karena aku juga memilih home schooling untuk Erysha. Doakan ya semoga kami dimudahkan. Ayah Bunda boleh intip cerita mengapa aku memilih home schooling untuk Erysha di sini




    Wednesday, August 14, 2019

    Kata-kata Motivasi yang Menyemangati Ayah Bunda dalam Pengasuhan Anak

    kata-kata motivasi yang menyemangati ayah bunda dalam pengasuhan anak

           Dear Ayah Bunda. Menjadi orang tua itu tidak mudah ya. Ada saat-saatnya kita senang membersamai anak-anak kita tapi adakalanya kita merasa lelah dan bosan dengan peran kita sebagai orang tua. Itu wajar dan normal sekali. Hanya saja kita tidak boleh membiarkan perasaan lelah itu terus menggerogoti kita. Karena itu bisa membuat kita lupa menjadi orang tua yang bahagia dan tentu saja anak-anak kita kelak akan tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia pula. Oleh sebab itu, kita perlu banyak belajar dan memotivasi diri kita agar menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Salah satunya belajar dari kata-kata motivasi dalam pengasuhan anak agar kita bisa lebih bersemangat lagi

    Buat Ayah Bunda yang suka mengikuti akun media sosial aku seperti instagram atau facebook, pasti tahu kan ya kalau aku itu sukaaaa banget bikin parenting quotes untuk memotivasi diriku dan orang lain. Yang belum follow instagram aku bisa follow di sini ya @yenisovia

    Nah, hari ini kata-kata motivasi dalam pengasuhan anak itu, sengaja aku share di sini juga agar lebih bermanfaat lagi. Sekaligus agar tidak tercecer juga dimana-mana. Jadi insyAllah akan banyak part khusus yang ku buat ke depannya tentang topik ini. Semoga bisa membuat Ayah Bunda termotivasi ya sekaligus pengingat diri aku juga


    10 Kata-kata Motivasi yang Menyemangati Ayah Bunda dalam Pengasuhan Anak


    kata-kata motivasi dalam pengasuhan anak (quotes parenting)


    quotes parenting yang bagus


    Kata-kata bijak yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


    kata-kata motivasi yang menyemangati ayah bunda dalam pengasuhan anak


    parenting qoutes yang memotivasi

    Baca juga: KETIKA ENGKAU MERASA LELAH MENJADI SEORANG IBU


    kata-kata bijak yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


    perenting qoutes yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


    kata-kata motivasi untuk orang tua

    Baca juga: SUDAH SERINGKAH KITA MENYELIPKAN DOA DALAM NAMA PANGGILAN SAYANG KITA TERUNTUK ANAK KITA?

    perenting qoutes yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak

    Baca juga: TENTANG KEHILANGAN

    perenting qoutes yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


          Buat Ayah Bunda yang ingin baca juga kutipan parenting dari para ahlinya bisa lihat di sini ya "Kutipan Parenting" klik saja ya link warna merahnya. Aku rangkum di sana juga. Nah, ini ya buat Ayah Bunda yang suka nonton drama korea atau nggak tetap aku mau sarankan Ayah Bunda nonton drama korea yang judulnya Sky Castle di situ banyakkkkkk banget pesan positifnya dalam pengasuhan anak kita. Makanya nggak aneh kenapa drakor ini meraih rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian di sana. Sebelum nonton, Ayah Bunda bisa lihat tulisanku ini tentang drama korea Sky Castle itu di sini "Sky Castle Drama Korea yang Sarat Nilai Edukasi

          Nah, itu Ayah Bunda 10 kata motivasi yang bisa menyemangati Ayah Bunda. Semoga quote-quote yang aku bikin di atas benar-benar bisa menginspirasi dan bermanfaat ya Ayah Bunda.



    Sunday, August 11, 2019

    Penting Mana Kecerdasan Intelegensi (IQ) atau Kecerdasan Emosi (EQ)?

    penting mana kecerdasan intelegensi (IQ) atau kecerdasan emosi (EQ)
    Pixabay

          Halo Ayah Bunda, apa Ayah Bunda tahu apa itu kecerdasan intelegensi (IQ)? Kecerdasan emosi (EQ) ? Terus penting mana ya kecerdasan intelegensi atau kecerdasan emosi? Bagaimana tahapannya dan bagaimana cara melatih kecerdasan ini pada anak kita? Banyak banget ya pertanyaannya di pikiran kita.

    Tenang-tenang, hari ini aku mau share materi kulwap parenting yang aku ikuti tentang kecerdasan intelegensi dan kecerdasan emosi. Dimana materi kulwap parenting ini ada karena kerja sama antara Bebeclub, Mom Blogger Community dan Rumah Dandelion. Dan saya ucapkan terima kasih pada Mom Blogger Community yang telah mengijinkan saya untuk share materinya di sini untuk para Ayah Bunda semua. Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Psikolog dari Rumah Dandelion. Langsung saja kalau begitu ya.

    Baca juga: Sudahkah Kita Mengenali Kecerdasan Anak Kita? Yuk, Belajar Kecerdasan Majemuk pada Anak


    Kecerdasan Intelegensi (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ), Penting Mana? Lalu Bagaimana Cara Melatihnya?


    1. Nah banyak yang bilang nih Bun kalau anak itu perlu seimbang kecerdasannya antara IQ (Kecerdasan Intelegensi) dan EQ (Kecerdasan Emosi) sebenarnya 2 itu apa sih Bun?

    Jawab

    *IQ* atau Intelligence quotient adalah kemampuan kognitif seseorang, sesuai dengan kelompok usianya, yang dapat membantu ia dalam menyelesaikan tantangan hidup sehari-hari. Atau bisa juga dijelaskan sebagai kemampuan berpikir anak dalam menentukan apa yang bisa ia lakukan dalam membantu lingkungannya.

    Sedangkan *EQ* atau sering kita kenal dengan sebutan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengenali emosi yang dirasakan diri sendiri dan orang lain, serta tahu bagaimana respon yang tepat atas emosi tersebut.


    2. Oh seperti itu Bun, lalu antara IQ dan EQ sama-sama penting tidak? atau ada yang lebih penting?

    Jawab

    Kedua hal ini tentu sama pentingnya dan saling berkesinambungan dalam membantu anak menjadi cepat tanggap yang lengkap.

    Bagaimana caranya? Jadi dengan adanya *EQ*, anak menggunakan hatinya dalam melihat situasi bermasalah dalam lingkungan, yang kemudian memunculkan keinginan membantu. Namun, keinginan saja tentu tidak cukup, anak perlu tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu. Dan untuk ini, dibutuhkan *IQ*. Jadi memang IQ dan EQ adalah 2 hal yang sama pentingnya dan perlu dikembangkan bersamaan sejak anak usia dini.


    3.

    apa itu IQ dan EQ
    Pixabay

    Sepertinya para Bunda lebih familiar dengan IQ yah, ternyata keduanya sama pentingnya untuk anak. Nah, sekarang kita bahas dulu yuk tentang EQ ini, sebelum tahu bagaimana cara mengembangkannya. Sebenarnya anak yang cerdas secara emosional itu ditunjukkan dengan perilaku seperti apa sih Bun?

    Jawab

    Paling mudah sebenarnya dilihat dari kemampuan seseorang dalam berempati. Kan sering ya kita dengar orang berkomentar “kok ga ada empatinya sih?” Empati itu apa?

    Empati adalah respon emosi dan berpikir yang kompleks terhadap kondisi emosional orang lain. Dengan memiliki empati, maka seseorang dapat melakukan ketiga hal ini, yang menjadi bentuk perilaku dari EQ
    merasakan apa yang dirasakan orang lain
    bersimpati
    melihat situasi dan berusaha menyelesaikan masalah dari sudut pandang orang lain

    Baca juga: Tunagrahita, Anak Berkebutuhan Khusus dengan Kecerdasan Intelegensi (IQ) di Bawah Rata-rata


    4. Lalu bagaimana sih hubungannya antara EQ dengan IQ ini Bun? Bisa tidak ya anak yang cerdas secara emosi itu dapat meningkatkan daya pikirnya?

    Jawab

    Sangat bisa Bunda Farha. Singkat kata, anak yang cerdas secara emosi, dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk menjalani proses belajar di sekolah dan lingkungan agar daya pikirnya meningkat.
    Bayangkan seperti ini, ketika di sekolah anak sedang bosan, jenuh, atau stress dengan tugas/tuntutan sekolah lainnya, tentu akan berpengaruh pada semangat dan motivasinya dalam belajar.

    Nah anak yang memiliki kecerdasan emosi, dapat membantu dirinya sendiri untuk mengatasi masalah tersebut dan tetap optimal mengikuti proses belajar. Dengan cerdas secara emosi, maka anak memiliki kemampuan regulasi diri yang baik, yang membantu untuk menjalani tanggung jawabnya sehari-hari.


    5. Waah ternyata anak yang cerdas emosinya itu penting banget ya di lingkungan belajar, terus kalau di lingkungan sosial, bagaimana sih perilaku anak yang cerdas emosinya?

    Jawab

    Iya Bun heheh... anak yang cerdas emosinya akan mampu untuk berempati terhadap kesulitan yang dimiliki orang lain. Dan melalui empati ini, anak akan bisa memunculkan perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih.
    Perilaku prososial itu sendiri bentuknya bisa salah satu dari 3 hal ini, yaitu menolong, berbagi, dan bekerja sama..


    6. Jadi perilaku anak cerdas emosi di lingkungan sosial anak itu bakal mau membantu orang lain ya Bun?

    Jawab

    Kurang lebih begitu. Tapi tetap dibutuhkan bantuan orang tua untuk anak jadi mau membantu ya.. Dan bantuannya ga sekedar orangtua secara verbal ngingetin anak untuk bantu. Tapi kesempatan belajarnya pun ada.
    Tahukah Bunda disini bahwa sebenarnya ada prosesnya untuk orang mau membantu? Prosesnya adalah:
    a. Menyadari adanya situasi bermasalah
    b. Menilai situasi tersebut butuh dibantu
    c. Menyadari adanya tanggung jawab diri untuk membantu
    d. Tahu apa yang perlu dilakukan
    e. Memutuskan untuk membantu

    Jadi sebelum anak akhirnya bisa membantu, dia perlu belajar dari orangtua dan lingkungannya untuk mengenali adanya situasi bermasalah dan apa yang bisa dilakukan dalam situasi tersebut.


    7.
    bagaimana cara melatih rasa empati anak
    Pixabay

    Prosesnya ternyata anak belajar dari orang tua dan lingkungan sekitar ya. lalu, dari usia berapa Bun anak bisa melakukan empati?

    Jawab

    Iya betul Bun.. Ternyata dari bayi baru lahir pun sudah dapat berempati lho. Cuma memang bentuk empatinya tentu berbeda dengan empati yang ditunjukkan anak besar. Dan cara mengembangkan EQ (kecerdasan emosi) itu pun disesuaikan di tiap kelompok usia anak. Melalui pengalaman belajar, cerita di buku, bermain peran, dan terutama mencontoh orang tua dan orang lain di lingkungan, maka EQ anak pun akan terstimulasi..

    Di usia ini, bayi berada di tahap perkembangan empati yang disebut dengan nama Newborn Reactive Cry. Pernah ga mengalami tangisan yang menular? Misalnya lagi ngumpul nih ama teman-teman para bunda yang punya bayi-bayi seumuran, lalu ada 1 bayi nangis, yang lain ketularan juga deh jadi nangis berjamaah. Hal ini terjadi karena bayi yang baru lahir bereaksi atas emosi yang dimunculkan oleh bayi atau orang lain di sekitarnya. Atau saat orang tua sedang sedih atau stres, biasanya bayi akan ikutan rewel..


    8. Ah iya betul Bun, biasanya kalau hati kita lagi bermasalah bayipun akan ikutan rewel. Berarti empati itu ada tahap perkembangannya ya Bun, memang ada berapa tahapannya?

    Jawab

    Iya ada tahapannya ya.. tahap perkembangan empati terbagi ke dalam 4 tahap sesuai dengan usia anak:
    a. Newborn reactive cry (usia 0-1 tahun)
    b. Egocentric empathy (usia 1-2 tahun)
    c. Half egocentric empathy (mulai berkembang usia 2 tahun keatas)
    d. Veridical empathy distress (mulai berkembang di usia 3 tahun ke atas)
    e. Empathy beyond situation (berbeda-beda tiap anak, tergantung stimulasi lingkungan)

    Baca juga: Buku The Danish of Way Parenting, yang berisikan juga mengajarkan tentang empati pada anak

    9. Nah tahapan usia bayi tadi tahap pertama sudah dibahas, terus tahan kedua dan tiga, egocentric dan setengah egocentric, itu seperti apa Bun bentuknya?

    Jawab

    Di kedua tahap ini anak mulai dapat melihat masalah yang dialami oleh orang lain, tapi yang membedakan adalah cara mereka dalam mengatasi masalah tersebut. Jadi anak usia 1-2 tahun menunjukkan kemampuan empatinya sebatas pada kemampuannya mengenali distress atau ketidaknyamanan yang dialami orang lain tapi usaha penyelesaiannya adalah self comfort.

    Jadi misalnya lihat temannya nangis, alih-alih menenangkan teman, anak justru cari mamanya dan minta peluk untuk tenangin diri dia.

    Sedangkan yang setengah egocentric itu, perilaku membantu sudah ditunjukkan, yaitu menenangkan si teman yang nangis. Tapi caranya adalah cara dia. Jadi misalnya, untuk menenangkan si teman yang nangis, anak kita justru kasih mainan kesukaannya atau minta mamanya untuk peluk si teman ini.


    10. Betul juga ya Bun, pasti pernah mengalami dan melihat anaknya berperilaku seperti itu kan? Lucu yaa, anak tenangin si teman tapi dengan cara dia yang biasanya bikin dia tenang gitu yaa?

    Jawab

    Yes! Benar sekali, jadi belum membantu dengan cara atau solusi yang sesuai dengan kebutuhan orang lain tersebut. Makanya masih disebut dengan setengah egosentris..


    11. Nah, kalau *Veridical* itu bagaimana sih Bun? sepertinya tahap ini banyak diharapkan kebanyakan oleh para Bunda bisa muncul di anak-anaknya yah?

    Jawab

    Jadi kalau ditahap veridical ini, interaksi dua arah sudah mulai terjadi antar anak-anak ya.. Makanya juga biasanya mulai berkembang di usia 3 tahun, yang secara tahap perkembangan sosial, anak mulai bisa berinteraksi.

    Dengan pengalaman belajar dan stimulasi yang sesuai, biasanya anak usia 3 tahun mulai bisa mengenali emosi diri sendiri, emosi orang lain, memiliki keinginan untuk membantu dan bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan temannya.

    Jadi proses trial & error mulai dilakukan disini. Lihat temannya nangis, mulai ditanya kenapa dan apa yang bisa dibantu, coba-coba misalnya ajak main. Kalau ga berhasil, beri pelukan, ga berhasil juga, coba panggil orang lain. Dan seterusnya sampai anak merasa bahwa masalah sudah teratasi. Di tahap ini lah terutama sekali pengalaman belajar dan mencontoh orang dewasa perlu dimiliki anak, agar ia tahu, dalam masalah tertentu, apa saja ya yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya.


    12. Wah menarik banget ilmu baru tahap perkembangan empati ini ya Bun. Nah terakhir Bun untuk *empathy beyond situation* maksudnya gimana Bun?

    Jawab

    Kalau di tahap 1-4 sebelumnya kan anak bereaksi atas situasi yang secara langsung terjadi di depan matanya. Kalau yang di tahap terakhir ini, cakupan empatinya sudah jauh lebih luas. Kemampuan empati anak semakin meluas tidak hanya kepada temannya secara individu tapi juga kepada lingkungan dan komunitas secara umum.

    Misalnya melihat korban bencana alam di berita tv, lalu anak tergerak untuk memberikan bantuan sumbangan. Atau baru saja beberapa waktu yang lalu, anak saya lihat ada sekolah di daerah terpencil pulau Sulawesi yang lantainya tanah, dan buku serta alat tulisnya harus bergantian. Sedangkan anak saya, tidak hanya tidak perlu bergantian, bahkan dia punya berbagai pilihan untuk mau menggunakan alat tulis yang mana. Lalu muncullah inisiatif dia dan teman-temannya untuk membelikan alat tulis sejumlah murid di sekolah tersebut agar tidak perlu bergantian. Saya aja mungkin ga kepikiran 😁


    13.
    apa itu kecerdasan intelegensi (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ), penting mana dari ke dua kecerdasan tersebut dan bagaimana cara melatih kecerdasan itu
    Pixabay

    Ternyata Bunda kecerdasan emosi anak itu, terutama kemampuan empati anak itu perlu dikembangkan bertahap sesuai usianya. Nah Bun, misalnya anak sudah punya empati, punya akal yang cerdas untuk tahu apa yang perlu dilakukan, kayaknya sering juga aku lihat belum tentu perilaku membantunya keluar deh Bun. Mungkin karena malu atau takut. Itu apa yang bisa dilakukan?

    Jawab

    Iya benar sekali Bun Farha. Nah ini pertanyaan yang bagus nih. Punya IQ dan EQ. Lalu bagaimana "memasaknya" agar anak memunculkan perilaku membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah?

    Disini peran orang tua sangat penting karena ternyata, untuk perilaku membantu itu sendiri muncul, ada tahapannya lagi, ga cuma di anak-anak, tapi juga di orang dewasa lho. Kita sebut biasanya disini dengan istilah “Train of thought” untuk berakhir pada munculnya perilaku. Jadi untuk bisa membantu orang lain yang dibutuhkan (1) anak lihat ada situasi bermasalah. Lalu (2) menilai situasi bermasalah tersebut sebagai sesuatu yang perlu dibantu dan (3) melihat dirinya bisa membantu. Kemudian (4) tahu apa yang bisa dilakukan untuk membantu. Dan akhirnya (5) membantu. Untuk lebih mudahnya, lihat bagan berikut ini ya..

    14. Kalau di zoom terlihat kok Bun, dilihat dari bagan nih, ketika anak sudah mulai memutuskan membantu, masih mungkin gak sih untuk tidak dilakukan Bun? karena ada konsekuensi negatif misalnya, contohnya seperti apa ya Bun?

    Jawab

    Contoh paling sederhana sebenarnya ketika kita ingin memberikan uang kepada pengemis yang kita lihat di jalan. Kemudian ada orang yang berkomentar “ngapain kamu kasinya ke dia? Komentar orang itu lah yang disebut dengan konsekuensi negatif.

    Coba kita lihat dari Melati Wijsen (di Bali), pada usia 12 tahun membuat gerakan Bye Bye Plastic Bag. Dari usia sangat muda sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama hingga mendapat penghargaan Bambi di Jerman. Bayangkan apa yang terjadi ketika niatnya untuk melakukan kebaikan Bye Bye Plastic Bags tidak disetujui dan didukung orangtuanya. Mungkin pengalaman belajar seperti diundang berbicara TedTalks di London dan berbicara di event PBB saat World Oceans Day di New York tidak akan pernah didapatkan Melati. Jadi memang respon orang tua atas insiatif yang dimunculkan anak untuk membantu orang lain, sangat berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri anak untuk membantu.


    15. Jadi, peran orang tua itu ternyata besar sekali dampaknya pada kemampuan anak untuk menunjukkan kepedulian sosialnya ya Bun?

    Jawab

    Benar sekali Bun Farha. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Melati bisa menginisiasi gerakan Bye Bye Plastic Bag di usia 12 tahun, pastinya bukan terjadi begitu saja. Sejak kecil kecerdasan emosionalnya pasti sudah terbiasa dilatih dan diasah oleh orang tuanya dan membantu juga dalam mengembangkan daya pikirnya. Sehingga muncul perilaku besar atau “grand gesture” di usia 12 tahun tersebut.

    Bayangkan kalau dari kecil Melati pun tidak dibiasakan orang tua untuk melihat kesulitan yang terjadi di lingkungan, tidak dibiasakan turun tangan langsung dalam membantu orang lain, sepertinya akan sulit juga bila kemudian di usia 12 tahun dia muncul ide kebaikan sebesar itu.


    16. Wah, menarik banget ini Bun bahasan kulwhap kita kali ini. Ok, terakhir nih Bun, sebelum menutup sesi. Selesai dari kulwhap ini, hal konkrit apa yang bisa para Bunda lakukan untuk melatih anak agar cepat tanggap terhadap lingkungan?

    Jawab

    Untuk melatih dan membiasakan anak agar bisa cepat tanggap terhadap lingkungan, maka orangtua bisa lakukan hal-hal dibawah ini:

    • Children see, children do. Orangtua menjadi panutan anak agar muncul keinginan dari dalam diri anak untuk membantu.
    • Asah kemampuan menyelesaikan masalah dengan stimulasi kemampuan berpikir anak agar kecerdasan akal dan kreativitasnya terus meningkat.
    • Berikan pujian dan penghargaan atas usaha anak membantu orang lain agar ia semakin percaya diri dalam berinteraksi dan membantu orang lain.
    • Konsistensi dalam memberikan kesempatan, pengalaman, dan penghargaan agar pengalaman belajarnya bisa terus terjadi.

    Bagaimana Ayah Bunda materinya tentang kecerdasan intelegensi (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ) ini? Bergizi banget kan? Sudah tahu dong berarti sekarang bahwa kedua kecerdasan ini sama pentingnya dan sama-sama perlu di stimulasi. Nah, Ayah Bunda jika menurut Ayah Bunda materi ini bermanfaat juga untuk para orang tua yang lain, boleh banget di share ya untuk membantu mengedukasi para orang tua yang lainnya


    Monday, August 5, 2019

    Ini Dia Alasan Mengapa Aku Memilih Home Schooling untuk Anakku

    ini alasan mengapa memilih home schooling untuk anak usia dini
    Erysha sedang bermain menempelkan gambar Tayo dengan ampas kelapa di rumah


    "Wah, Erysha nanti sekolahnya mau dimana?"
    "Mba Yeni, nanti Erysha mau masuk sekolahnya usia berapa?"
    "Mba Yeni, kenapa Erysha nggak dimasukin PAUD?"

          Banyak yang bertanya seperti itu ke aku. Jujur, aku suka bingung menjawabnya. Bukan karena nggak tahu jawabannya. Bukan. Tapi, karena jawaban yang aku berikan ini untuk kebanyakan orang mungkin terkesan agak aneh ya "Kok anak nggak dimasukin paud atau TK?". Untung waktu itu ada teman yang bantu jawab "mungkin Mba Yeni ingin anaknya puasin dulu mainnya di rumah".

    Karena kalau aku jawab panjang lebar kayak di tulisan ini, khawatirnya menyinggung karena berbeda pemahaman atau aku yang dibilang menggurui. Karena buat orang yang paham akan mengerti setiap orang punya pemahaman masing-masing. Tapi, untuk yang nggak paham khawatir dianggap menyinggung. Tapi sekarang kalau di tanya "kenapa anaknya nggak dimasukkin ke TK?". Aku sekarang bisa jawab dengan mantap karena aku ingin anakku home schooling saja.

    Yup, karena untuk kebanyakan orang menganggap memasukkan anak ke PAUD atau taman kanak-kanak itu seolah-olah sesuatu yang wajib. Jadi, kalau ada anak usia dini belum sekolah di lembaga itu jadinya terkesan aneh dan bahkan mungkin ada juga yang menyalahkan. Bahkan ada juga kan yang begitu berlomba-lomba menyekolahkan anaknya sedini mungkin. Sedangkan aku malah sengaja menunda sekolah. Terkesan aneh ya?

          Tapi ada yang harus diingat, bahwa sebenarnya yang namanya sekolah wajib itu dimulai dari anak masuk SD. Jadi kalau usia-usia di bawah itu bukanlah sesuatu wajib anak sekolah di luar. Karena usia-usia TK itu adalah usia prasekolah. Jadi kalau ada anak usia dini belum sekolah di lembaga, jangan dianggap aneh ya Ayah Bunda 😉

    Tapi apa aku anti sekolah taman kanak-kanak? 

    Ya nggak dong. Lalu apa alasan aku tidak memasukkan Erysha ke kelompok bermain atau taman kanak-kanak? Untuk sementara ini kami memilih home schooling untuk Erysha. Inginnya nanti saja ketika Erysha 6 tahun langsung TKB saja masuk sekolahnya. Tapi kita nggak pernah tahu kan ke depannya bagaimana. Mungkin saja langsung SD

    Ini Alasan Mengapa Aku Memilih Home Schooling untuk Anakku


    alasan memilih home schooling untuk anak


    1. Mengikuti pendapat ahli

    Ada beberapa pendapat ahli seperti pendapatnya:

    Ibu Safithrie Sutrisno, Psikolog berpendapat boleh memasukkan anak sekolah tapi di usia 4 tahun ke atas

    Abah Ihsan menyatakan kalau untuk anak laki-laki sebaiknya dimasukkan sekolah di usianya di atas 5,5 tahun tapi kalau anak perempuan boleh di bawah usia itu, karena anak perempuan lebih cepat kematangannya dibandingkan anak laki-laki

    Elly Risman, Psikolog berpendapat untuk tidak perlu memasukkan anak ke taman kanak-kanak langsung SD saja. Jika memang ingin dimasukkan ke taman kanak-kanak nanti saja ketika TKB agar anak tidak terlalu lama sekolahnya

          Dari ke 3 pendapat ahli ini sama-sama berpendapat untuk tidak buru-buru memasukkan anak ke sekolah di usia yang dini. Misalnya di bawah 4 tahun. Aku setuju dengan ke 3 pendapat ahli itu. Oleh sebab itu, aku tidak ingin memasukkan Erysha ke PAUD untuk saat ini dan ambil pendapatnya Bu Elly Risman juga, nanti langsung TKB saja atau bisa saja nanti masuknya usia 5 tahun. Bagaimana situasi dan kondisi juga ya


    2. Penanaman pondasi itu harus dimulai dari orang tua

    penanaman pondasi dan bonding itu harus dimulai dari sedini mungkin

    Dari ke 3 pendapat ahli di atas mengapa mereka tidak ingin anak usia dini segera disekolahkan, itu semua karena usia dini adalah usia dimana penanaman pondasi yang kuat itu harus dimulai dari orang tua. Seperti penanaman bonding pada anak, mengenalkan nilai-nilai agama dan kebaikan pada anak, menanamkan tentang perilaku dan akhlak yang baik dan menstimulasi aspek tumbuh kembang anak. Pondasi itu harus kita orang tua dulu yang pertama menanamkannya pada anak karena

    "Sekolah pertama anak itu adalah di rumah dan guru pertamanya adalah kita orang tuanya bukan orang lain"


    3. Biarkan anak puas dulu bermainnya

          Anak usia dini dunianya adalah bermain tanpa banyak aturan. Jadi biarkan ia bermain sepuasnya. Cukupkan mainnya sebelum nanti ada masanya dia harus fokus belajar. Jika mainnya seorang anak belum puas dimasa periode perkembangannya, maka kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang rentan cemas, putus asa, bosan dan kecerdasan emosinya kurang baik. Mengapa? Karena ada kebutuhan anak dimasa kecilnya yang tidak terselesaikan

    Tapi kan di sekolah taman kanak-kanak atau kelompok bermain belajarnya sambil bermain?

    Iya memang benar mereka belajarnya sambil bermain. Tapi tetap disekolah anak tidak bisa bermain bebas. Karena anak terikat pada aturan sekolah seperti harus masuk sekolah, harus belajar ini, setelah ini istirahat lalu belajar ini lagi dan lain-lain. Itu membuat anak tidak bisa bermain dengan bebas dan sesungguhnya konsep belajar anak usia dini itu adalah bermain sambil belajar bukannya belajar sambil bermain. Itu dua hal yang sangat berbeda. Mengapa? Karena orientasinya juga sudah berbeda. Oleh sebab itu, aku memasukkan Erysha di TKB saja karena usia seperti itu sudah mulai bisa diajak untuk lebih fokus ya dan berdasarkan teori pendidikan bermain bebas merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan anak.

    Bahkan di negara Denmark yang terkenal karena menjadi negara yang paling bahagia di dunia karena orang-orangnya dan gaya pengasuhannya yang bahagia, dalam beberapa tahun anak Denmark tidak diperbolehkan memulai sekolah sebelum usia mereka 7 tahun


    4. Memasukkan anak sekolah terlalu dini menimbulkan banyak masalah baru

          Memasukkan anak sekolah terlalu dini menimbulkan lebih banyak masalah baru pada anak dan kita orang tuanya. Karena di fase anak yang masih egosentris tapi sudah dipaksa untuk berbagi mainan dengan yang lain, dibully oleh teman-teman seusianya seperti diledek, dipukul, dan ada juga anak kita yang disuruh-suruh oleh tipe anak yang ngebos begitu.

    Baca juga: Apa itu Fase Egosentris pada Anak? dan Bagaimana Cara Mendampinginya?

    Tapi kan, kita ngga bisa Bun mensterilkan anak-anak kita?

          Yup, benar sekali kita tidak bisa mensterilkan lingkungan untuk anak-anak kita. Tapi, sebelum kita melepaskan anak kita ke dunia luar tanpa pengawasan kita di usianya yang masih dini, kitanya yang harus memberikan imun dulu kan pada anak kita. Karena anak usia dini itu belum tangguh imunnya, jadi sebelum dilepas ke luar anaknya harus ditanamkan pondasi yang kuat dulu dari rumahnya

          Kalau pondasinya belum kuat, ketika anak melihat teman-temannya suka pukul, dia akan mengikuti juga, ketika temannya ada yang berkata kasar nanti anak kita akan menirunya juga atau ada juga anak yang jadinya mogok sekolah karena pernah dibully temannya dan lain-lain.

    Itu baru masalah dengan teman-temannya ya, belum lagi masalah jika ditengah semester ternyata kurikulum dan metode belajarnya nggak cocok untuk anak kita, misalnya menekankan calistung, dikasih banyak PR dan banyak ujian padahal masih taman kanak-kanak, yang ada anak bukannya mencintai kegiatan belajarnya tapi malah membencinya cepat atau lambat


    5. Menghindari anak agar tidak bosan sekolah

          Kalau Erysha aku masukkan dari usia 3 tahun, aku khawatir dia akan mengalami kebosanan belajar dan bosan sekolah nantinya. Karena banyak kasus yang aku lihat dulu di sekolah, anak-anak yang terlalu dini disekolahkan suka mogok sekolah atau malas-malasan sekolah di usia SD. Tentu saja dampak setiap anak beda-beda ya. Hanya saja yang aku ceritakan di atas kecenderungan saja


    6. Sekolah yang bagus dan sesuai dengan kebutuhan anak itu biasanya harganya mahal

    apa itu home schooling

          Dari yang aku lihat dan berdasarkan pengalaman aku sebagai guru. Kebanyakan sekolah yang bagus dan sesuai dengan kebutuhan anak itu harganya mahal huhuhu. Karena biasanya selain fasilitas dan sarana mereka yang lengkap, kurikulum dan metode belajarnya itu memang ramah anak.

    Tidak terlalu menekankan calistung pada anak usia dini, tidak memberikan PR dan tidak terlalu menekankan akademik yang membuat anak stres. Pokoknya sesuai dengan aspek tumbuh kembang anak. Sayangnya sekolah seperti ini taman kanak-kanaknya saja sudah sekitar 10 juta uang masuknya belum lagi bayaran SPP perbulannya bisa ratusan ribu. Huhuhu mehonggggg kan

          Tapi, menurut aku pribady ya nggak ada salahnya kalau kita mengeluarkan banyak uang untuk pendidikan terbaik anak di luar lingkungan rumah. Selama visi misi sekolahnya selaras dengan visi misi keluarga kita, kenapa tidak?

    Memangnya kalau sekolah taman kanak-kanak murah itu bagaimana?

           Biasanya fasilitas dan sarananya kurang lengkap, metode belajarnya kebanyakan serius untuk anak usia dini, terlalu calistung dan kebanyakan nyanyi-nyanyi saja. Eh tapi ini kebanyakan ya. Nggak semuanya lho. Buktinya masih ada guru-guru yang tulus mengajar dari hati walau gaji mereka kecil dan sarana prasarananya kurang memadai tapi mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik. Biasanya guru-guru seperti ini banyak kita temukan jauh di pelosok sana, bukan berarti di kota nggak ada. Bukan ya


    7. Daripada kasih uang mahal ke sekolah lebih baik aku mengajar anak sendiri

          Nah Bunda, daripada aku kasih uang ke sekolah yang harganya 10 jutaan begitu, lebih baik aku ngajar sendiri Erysha di rumah 😂 *emak perhitungan. Aku malu juga sama ijazah sarjana aku, sama gelar pendidikan aku, sama pengalamannya aku bertahun-tahun mengajar anak orang lain tapi masa ngajar anak sendiri nggak bisa. Iya kan? Apalagi dengan title ku seorang Ibu sebagai pendidik pertama dan utama dari anaknya. Mau nggak mau memang harus belajar terus. Karena kalau untuk usia dini aku masih bisa. Tapi kalau sudah usia di atas itu, aku belum sanggup karena tidak semua materi pelajaran aku kuasai

          Intinya bukan hanya sekedar itu, tapi juga karena situasi dan kondisi aku saja yang pas untuk memilih home schooling Erysha di rumah. Kalau nanti ada adikknya terus aku nggak ada yang membantu pekerjaan rumah. Bisa jadi aku nggak bisa menstimulasi Erysha dengan sering di rumah. Bisa saja nanti dia masuk taman kanak-kanak di usianya misalnya 5 tahun. Kita nggak pernah tahu kan. Bunda bisa contek juga kegiatan Erysha di rumah ya di sini "Kegiatan Anak"


    8. Pekerjaan Ayah Erysha yang pindah-pindah

    jangan biarkan anak kehilangan peran ayahnya

          Aku pernah menulis di sini dengan judul "Rumah untuk Pulang". Bercerita tentang pekerjaan Ayah Erysha yang sebagai pengabdi negara tapi banyak orang yang berburuk sangka padanya. Lengkapnya langsung cuss saja ke link warna merah itu ya nanti 😘

    Karena sebagai pengabdi negara itu, membuat Ayah Erysha akan sering dipindahkan setiap 3 atau 4 tahun sekali dari satu kota ke kota yang lain dan dari satu pulau ke pulau yang lain dan itu tidak selalu menentu. Jadi harus siap kapan saja dan dimana saja. Jadi, kasian kalau Erysha baru masuk sekolah tetapi sudah dipindahkan lagi. Sayang uang yang sudah masuk dan khawatir dia jadi lebih sering lagi nanti beradaptasinya

    Nah, itu Ayah Bunda 8 alasan mengapa aku memilih home schooling untuk anakku, Erysha. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dari tulisanku ini ya. Semoga menambah referensi sudut pandang kita. Apapun itu, setiap orang mempunyai pemahaman dan ilmunya masing-masing yang penting kita selalu berusaha belajar dan menyakini yang terbaik untuk anak-anak kita dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi kita




    Wednesday, July 31, 2019

    Tahukah Bunda Salesma dan Influenza Itu Berbeda, Lho. Ini Alasannya Kenapa Vaksin Flu Itu Penting

    salesma dan influenza itu berbeda. ini alasan kenapa vaksin flu itu penting


           Hai-hai Bunda. Hari ini aku mau berbagi kebahagiaan dan ilmu yang aku dapatkan waktu hari Sabtu, 27 Juli 2019. Dimana di hari itu aku diundang untuk meliput acara yang menurutku edukasi sekali tentang influenza dan #KenapaHarusVaksin? Ya sudah aku langsung ke sana dan tinggalkan Erysha bersama ayahnya di rumah. Kadang-kadang membiarkan ayah dan anak kencan berdua itu penting sekali lho menurut aku. 


          Nah Bunda, berbicara soal flu sebuah penyakit biasa yang sering kita dengar ya dan penyebarannya juga sangat cepat sekali. Dulu waktu awal menjadi ibu baru, ketika Erysha sudah terkena flu aku suka khawatir sekali, suka ikutan sedih kalau melihat dia jadi kurang nafsu makan, badan tidak enak dan terkadang ada batuknya juga dan itu sembuhnya lamaaaaa sekali. Apalagi kalau anak Bunda sudah bersekolah, flu bisa membuat anak tidak masuk sekolah dan tidak bisa bermain dengan teman-temannya ya Bun. 

          Seiring berjalannya waktu dan sebagai ibu, aku menuntut diriku sendiri untuk terus belajar. Selain ilmu parenting aku pun belajar tentang ilmu kesehatan. Pernah dengarkan bahwa seorang ibu itu banyak profesinya? Termasuk harus tahu juga tentang kesehatan agar bisa melindungi keluarga kecilnya dari berbagai penyakit. Begitu juga dengan aku dan aku baru tahu lho sejak punya anak bahwa flu biasa dengan influenza itu berbeda lho. Walau gejalanya mirip sih.

    Baca juga: Ibu yang Tidak Sempurna


    Apa Itu Influenza?


    apa itu influenza, bahayanya dan dampaknya

          Nah, di acara ini aku merasa semakin teredukasi karena panitianya mengundang pakarnya langsung yaitu dr Attila Dewanti Sp.A (K). Aku banyak dapat ilmu dalam acara ini. Jadi, penyakit pilek kebanyakan dan biasa sering kita sebut flu itu, tepatnya namanya adalah salesma yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus tetapi tidak berbahaya. Kalau disebabkan oleh virus berarti tidak membutuhkan antibiotik ya Bun. 

    Salesma itu asalkan si penderitanya banyak makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, banyak minum air putih bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi berbeda dengan influenza karena ternyata influenza ini penyakit berbahaya. Mengapa?


    Bahaya Penyakit Influenza


          Anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun rentan terkena komplikasi flu seperti pheumonia dan bronkitis, infeksi sinus dan telinga. Apalagi jika anak-anak memiliki riwayat asma, diabetes dan gangguan otak atau sistem saraf lebih bermasalah lagi jika terkena penyakit flu ini.

          Menurut CDC (Centers of Disease Control and Prevention) memperkirakan bahwa antara 7000 sampai 26.000 anak-anak di bawah 5 tahun telah dirawat di rumah sakit setiap tahun di Amerika Serikat karena Influenza. Sayangnya, kita suka menganggap penyakit ini ringan karena memang sulit membedakan antara salesma dan influenza ini. 

    Jadi, jika tidak ditangani segera bisa berbahaya bahkan menyebabkan kematian. Dan aku bersyukur sekali, ternyata flu yang dialami Erysha adalah salesma. Walau begitu tetap dong kita harus mempelajari influenza ini karena itu tadi sudah berbahaya dan penyebarannya cepat lagi. 

          Terutama dari lingkungan sekolah. Karena di sekolahlah anak banyak berinteraksi dengan teman-temannya dan lingkungan sekolah yang tidak selalu terjamin kebersihannya, saking cepatnya penularan ini bisa melalui dari bersin, memegang sesuatu yang telah terkontaminasi dengan virus influenza kemudian menyentuh hidung dan mulut. Huhuhu serem banget ya saking mudahnya penularannya membuat kita was-was ya Bun.


    Gejala Terkena Sakit Flu (Influenza)


    apa itu influenza, bahayanya dan dampaknya

    Bunda gejala flu ini mirip sekali dengan gejala salesma, oleh sebab itu, setiap anak pilek kita harus amati dan peka dengan perkembangan kesehatan anak kita. Apakah ini salesma atau sudah tanda-tanda gejala influenza? Berikut tanda-tanda gejala influenza:

    1. Demam mencapai suhu 39,4 Celcius sampai 40,5 Celcius
    2. Nyeri di badan
    3. Sakit kepala
    4. Sakit tenggorokan
    5. Batuk yang semakin parah


    Bagaimana Cara Melindungi Diri dan Anak dari Virus Influenza?


    1. Jaga jarak atau kontak dengan si penderita influenza 
    2. Membiasakan gaya hidup sehat untuk menjaga daya tahan tubuh agar kita tidak mudah tertular penyakit
    3. Sering mencuci tangan dengan sabun dan jika tidak ada sabun bisa menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol
    4. Pencegahan terbaik dan teraman adalah dengan melakukan vaksin flu


    Kenapa Harus Vaksin Flu?


    Jujur ya Bunda, aku baru tahu tentang vaksin flu ini adalah di acara ini. Yang aku tahu biasanya vaksin wajib seperti vaksin polio, bcg, dpt, campak dan lain-lain. Tapi ternyata ada vaksin flu juga dan ini anjurkan sekali. Karena influenza ini berbahaya, oleh karena itu organisasi kesehatan dunia (WH0) telah lama menyarankan anak-anak untuk divaksin flu juga sejak mereka berusia di atas 6 bulan.

    Baca juga: Panduan MPASI WHO

    Vaksin flu bukan hanya untuk anak-anak tapi bisa juga untuk orang dewasa sebagai salah satu cara melindungi diri dari influenza ini. Jadi, vaksin flu ini dilakukan setiap tahun. Sebenarnya di negara-negara maju seperti Amerika sudah menggratiskan vaksin flu ini. Semoga di Indonesia menyusul ya Bun. Kita doakan saja. 


    Apakah Vaksin Flu Itu Aman?


    apa itu vaksin flu, mengapa vaksin flu itu penting dan amankah vaksin flu itu untuk anak

    1. Jika sampai direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) berarti sudah aman ya Bun dan sudah melalui rangkaian penelitian dan uji coba.

    2. Vaksin flu dibuat dengan aman dan produksi yang ketat. Selain itu sudah digunakan oleh jutaan orang selama beberapa episode dan halal juga ya

    3. Vaksin flu ini telah mengandung strain yang lengkap, jadi bisa memberikan proteksi yang maksimal. 

    4. Efek sampingnya minim sekali

    Jadi, kita nggak perlu khawatir ya Bun soal keamanan vaksin ini. Lalu manfaat vaksin flu ini apa saja?


    Manfaat Vaksin Flu?


    - melindungi diri sendiri, anak, keluarga dan orang lain
    - mengurangi resiko terkena flu dan komplikasinya


    pentingnya vaksin flu


    Nah Bunda, semoga kita semakin mendapatkan pencerahan ya mengenai vaksin flu ini dan dilapangkan rezekinya agar anak kita bisa setiap tahun mendapatkan vaksin flu ini. Buat Bunda yang ingin mendapatkan informasi lengkap kenapa harus vaksin, boleh sekali mampir ke instagramnya ya @kenapaharusvaksin. Yuk Bunda kita lindungi diri kita n keluarga sedini mungkin 

    #KenapaHarusVaksin
    #4BetterProtection
    #LawanFluDiSekolah
    #TUMBloggersMeetUp

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES