• Wednesday, August 14, 2019

    Kata-kata Motivasi yang Menyemangati Ayah Bunda dalam Pengasuhan Anak

    kata-kata motivasi yang menyemangati ayah bunda dalam pengasuhan anak

           Dear Ayah Bunda. Menjadi orang tua itu tidak mudah ya. Ada saat-saatnya kita senang membersamai anak-anak kita tapi adakalanya kita merasa lelah dan bosan dengan peran kita sebagai orang tua. Itu wajar dan normal sekali. Hanya saja kita tidak boleh membiarkan perasaan lelah itu terus menggerogoti kita. Karena itu bisa membuat kita lupa menjadi orang tua yang bahagia dan tentu saja anak-anak kita kelak akan tumbuh menjadi anak yang tidak bahagia pula. Oleh sebab itu, kita perlu banyak belajar dan memotivasi diri kita agar menjadi orang tua yang lebih baik lagi. Salah satunya belajar dari kata-kata motivasi dalam pengasuhan anak agar kita bisa lebih bersemangat lagi

    Buat Ayah Bunda yang suka mengikuti akun media sosial aku seperti instagram atau facebook, pasti tahu kan ya kalau aku itu sukaaaa banget bikin parenting quotes untuk memotivasi diriku dan orang lain. Yang belum follow instagram aku bisa follow di sini ya @yenisovia

    Nah, hari ini kata-kata motivasi dalam pengasuhan anak itu, sengaja aku share di sini juga agar lebih bermanfaat lagi. Sekaligus agar tidak tercecer juga dimana-mana. Jadi insyAllah akan banyak part khusus yang ku buat ke depannya tentang topik ini. Semoga bisa membuat Ayah Bunda termotivasi ya sekaligus pengingat diri aku juga


    10 Kata-kata Motivasi yang Menyemangati Ayah Bunda dalam Pengasuhan Anak


    kata-kata motivasi dalam pengasuhan anak (quotes parenting)


    quotes parenting yang bagus


    Kata-kata bijak yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


    kata-kata motivasi yang menyemangati ayah bunda dalam pengasuhan anak


    parenting qoutes yang memotivasi

    Baca juga: KETIKA ENGKAU MERASA LELAH MENJADI SEORANG IBU


    kata-kata bijak yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


    perenting qoutes yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


    kata-kata motivasi untuk orang tua

    Baca juga: SUDAH SERINGKAH KITA MENYELIPKAN DOA DALAM NAMA PANGGILAN SAYANG KITA TERUNTUK ANAK KITA?

    perenting qoutes yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak

    Baca juga: TENTANG KEHILANGAN

    perenting qoutes yang memotivasi ayah bunda dalam mengasuh anak


          Buat Ayah Bunda yang ingin baca juga kutipan parenting dari para ahlinya bisa lihat di sini ya "Kutipan Parenting" klik saja ya link warna merahnya. Aku rangkum di sana juga. Nah, ini ya buat Ayah Bunda yang suka nonton drama korea atau nggak tetap aku mau sarankan Ayah Bunda nonton drama korea yang judulnya Sky Castle di situ banyakkkkkk banget pesan positifnya dalam pengasuhan anak kita. Makanya nggak aneh kenapa drakor ini meraih rating tertinggi dalam sejarah pertelevisian di sana. Sebelum nonton, Ayah Bunda bisa lihat tulisanku ini tentang drama korea Sky Castle itu di sini "Sky Castle Drama Korea yang Sarat Nilai Edukasi

          Nah, itu Ayah Bunda 10 kata motivasi yang bisa menyemangati Ayah Bunda. Semoga quote-quote yang aku bikin di atas benar-benar bisa menginspirasi dan bermanfaat ya Ayah Bunda.



    Sunday, August 11, 2019

    Penting Mana Kecerdasan Intelegensi (IQ) atau Kecerdasan Emosi (EQ)?

    penting mana kecerdasan intelegensi (IQ) atau kecerdasan emosi (EQ)
    Pixabay

          Halo Ayah Bunda, apa Ayah Bunda tahu apa itu kecerdasan intelegensi (IQ)? Kecerdasan emosi (EQ) ? Terus penting mana ya kecerdasan intelegensi atau kecerdasan emosi? Bagaimana tahapannya dan bagaimana cara melatih kecerdasan ini pada anak kita? Banyak banget ya pertanyaannya di pikiran kita.

    Tenang-tenang, hari ini aku mau share materi kulwap parenting yang aku ikuti tentang kecerdasan intelegensi dan kecerdasan emosi. Dimana materi kulwap parenting ini ada karena kerja sama antara Bebeclub, Mom Blogger Community dan Rumah Dandelion. Dan saya ucapkan terima kasih pada Mom Blogger Community yang telah mengijinkan saya untuk share materinya di sini untuk para Ayah Bunda semua. Pertanyaan ini langsung dijawab oleh Psikolog dari Rumah Dandelion. Langsung saja kalau begitu ya.

    Baca juga: Sudahkah Kita Mengenali Kecerdasan Anak Kita? Yuk, Belajar Kecerdasan Majemuk pada Anak


    Kecerdasan Intelegensi (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ), Penting Mana? Lalu Bagaimana Cara Melatihnya?


    1. Nah banyak yang bilang nih Bun kalau anak itu perlu seimbang kecerdasannya antara IQ (Kecerdasan Intelegensi) dan EQ (Kecerdasan Emosi) sebenarnya 2 itu apa sih Bun?

    Jawab

    *IQ* atau Intelligence quotient adalah kemampuan kognitif seseorang, sesuai dengan kelompok usianya, yang dapat membantu ia dalam menyelesaikan tantangan hidup sehari-hari. Atau bisa juga dijelaskan sebagai kemampuan berpikir anak dalam menentukan apa yang bisa ia lakukan dalam membantu lingkungannya.

    Sedangkan *EQ* atau sering kita kenal dengan sebutan kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang dalam mengenali emosi yang dirasakan diri sendiri dan orang lain, serta tahu bagaimana respon yang tepat atas emosi tersebut.


    2. Oh seperti itu Bun, lalu antara IQ dan EQ sama-sama penting tidak? atau ada yang lebih penting?

    Jawab

    Kedua hal ini tentu sama pentingnya dan saling berkesinambungan dalam membantu anak menjadi cepat tanggap yang lengkap.

    Bagaimana caranya? Jadi dengan adanya *EQ*, anak menggunakan hatinya dalam melihat situasi bermasalah dalam lingkungan, yang kemudian memunculkan keinginan membantu. Namun, keinginan saja tentu tidak cukup, anak perlu tahu apa yang bisa ia lakukan untuk membantu. Dan untuk ini, dibutuhkan *IQ*. Jadi memang IQ dan EQ adalah 2 hal yang sama pentingnya dan perlu dikembangkan bersamaan sejak anak usia dini.


    3.

    apa itu IQ dan EQ
    Pixabay

    Sepertinya para Bunda lebih familiar dengan IQ yah, ternyata keduanya sama pentingnya untuk anak. Nah, sekarang kita bahas dulu yuk tentang EQ ini, sebelum tahu bagaimana cara mengembangkannya. Sebenarnya anak yang cerdas secara emosional itu ditunjukkan dengan perilaku seperti apa sih Bun?

    Jawab

    Paling mudah sebenarnya dilihat dari kemampuan seseorang dalam berempati. Kan sering ya kita dengar orang berkomentar “kok ga ada empatinya sih?” Empati itu apa?

    Empati adalah respon emosi dan berpikir yang kompleks terhadap kondisi emosional orang lain. Dengan memiliki empati, maka seseorang dapat melakukan ketiga hal ini, yang menjadi bentuk perilaku dari EQ
    merasakan apa yang dirasakan orang lain
    bersimpati
    melihat situasi dan berusaha menyelesaikan masalah dari sudut pandang orang lain

    Baca juga: Tunagrahita, Anak Berkebutuhan Khusus dengan Kecerdasan Intelegensi (IQ) di Bawah Rata-rata


    4. Lalu bagaimana sih hubungannya antara EQ dengan IQ ini Bun? Bisa tidak ya anak yang cerdas secara emosi itu dapat meningkatkan daya pikirnya?

    Jawab

    Sangat bisa Bunda Farha. Singkat kata, anak yang cerdas secara emosi, dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk menjalani proses belajar di sekolah dan lingkungan agar daya pikirnya meningkat.
    Bayangkan seperti ini, ketika di sekolah anak sedang bosan, jenuh, atau stress dengan tugas/tuntutan sekolah lainnya, tentu akan berpengaruh pada semangat dan motivasinya dalam belajar.

    Nah anak yang memiliki kecerdasan emosi, dapat membantu dirinya sendiri untuk mengatasi masalah tersebut dan tetap optimal mengikuti proses belajar. Dengan cerdas secara emosi, maka anak memiliki kemampuan regulasi diri yang baik, yang membantu untuk menjalani tanggung jawabnya sehari-hari.


    5. Waah ternyata anak yang cerdas emosinya itu penting banget ya di lingkungan belajar, terus kalau di lingkungan sosial, bagaimana sih perilaku anak yang cerdas emosinya?

    Jawab

    Iya Bun heheh... anak yang cerdas emosinya akan mampu untuk berempati terhadap kesulitan yang dimiliki orang lain. Dan melalui empati ini, anak akan bisa memunculkan perilaku prososial, yaitu perilaku membantu orang lain tanpa pamrih.
    Perilaku prososial itu sendiri bentuknya bisa salah satu dari 3 hal ini, yaitu menolong, berbagi, dan bekerja sama..


    6. Jadi perilaku anak cerdas emosi di lingkungan sosial anak itu bakal mau membantu orang lain ya Bun?

    Jawab

    Kurang lebih begitu. Tapi tetap dibutuhkan bantuan orang tua untuk anak jadi mau membantu ya.. Dan bantuannya ga sekedar orangtua secara verbal ngingetin anak untuk bantu. Tapi kesempatan belajarnya pun ada.
    Tahukah Bunda disini bahwa sebenarnya ada prosesnya untuk orang mau membantu? Prosesnya adalah:
    a. Menyadari adanya situasi bermasalah
    b. Menilai situasi tersebut butuh dibantu
    c. Menyadari adanya tanggung jawab diri untuk membantu
    d. Tahu apa yang perlu dilakukan
    e. Memutuskan untuk membantu

    Jadi sebelum anak akhirnya bisa membantu, dia perlu belajar dari orangtua dan lingkungannya untuk mengenali adanya situasi bermasalah dan apa yang bisa dilakukan dalam situasi tersebut.


    7.
    bagaimana cara melatih rasa empati anak
    Pixabay

    Prosesnya ternyata anak belajar dari orang tua dan lingkungan sekitar ya. lalu, dari usia berapa Bun anak bisa melakukan empati?

    Jawab

    Iya betul Bun.. Ternyata dari bayi baru lahir pun sudah dapat berempati lho. Cuma memang bentuk empatinya tentu berbeda dengan empati yang ditunjukkan anak besar. Dan cara mengembangkan EQ (kecerdasan emosi) itu pun disesuaikan di tiap kelompok usia anak. Melalui pengalaman belajar, cerita di buku, bermain peran, dan terutama mencontoh orang tua dan orang lain di lingkungan, maka EQ anak pun akan terstimulasi..

    Di usia ini, bayi berada di tahap perkembangan empati yang disebut dengan nama Newborn Reactive Cry. Pernah ga mengalami tangisan yang menular? Misalnya lagi ngumpul nih ama teman-teman para bunda yang punya bayi-bayi seumuran, lalu ada 1 bayi nangis, yang lain ketularan juga deh jadi nangis berjamaah. Hal ini terjadi karena bayi yang baru lahir bereaksi atas emosi yang dimunculkan oleh bayi atau orang lain di sekitarnya. Atau saat orang tua sedang sedih atau stres, biasanya bayi akan ikutan rewel..


    8. Ah iya betul Bun, biasanya kalau hati kita lagi bermasalah bayipun akan ikutan rewel. Berarti empati itu ada tahap perkembangannya ya Bun, memang ada berapa tahapannya?

    Jawab

    Iya ada tahapannya ya.. tahap perkembangan empati terbagi ke dalam 4 tahap sesuai dengan usia anak:
    a. Newborn reactive cry (usia 0-1 tahun)
    b. Egocentric empathy (usia 1-2 tahun)
    c. Half egocentric empathy (mulai berkembang usia 2 tahun keatas)
    d. Veridical empathy distress (mulai berkembang di usia 3 tahun ke atas)
    e. Empathy beyond situation (berbeda-beda tiap anak, tergantung stimulasi lingkungan)

    Baca juga: Buku The Danish of Way Parenting, yang berisikan juga mengajarkan tentang empati pada anak

    9. Nah tahapan usia bayi tadi tahap pertama sudah dibahas, terus tahan kedua dan tiga, egocentric dan setengah egocentric, itu seperti apa Bun bentuknya?

    Jawab

    Di kedua tahap ini anak mulai dapat melihat masalah yang dialami oleh orang lain, tapi yang membedakan adalah cara mereka dalam mengatasi masalah tersebut. Jadi anak usia 1-2 tahun menunjukkan kemampuan empatinya sebatas pada kemampuannya mengenali distress atau ketidaknyamanan yang dialami orang lain tapi usaha penyelesaiannya adalah self comfort.

    Jadi misalnya lihat temannya nangis, alih-alih menenangkan teman, anak justru cari mamanya dan minta peluk untuk tenangin diri dia.

    Sedangkan yang setengah egocentric itu, perilaku membantu sudah ditunjukkan, yaitu menenangkan si teman yang nangis. Tapi caranya adalah cara dia. Jadi misalnya, untuk menenangkan si teman yang nangis, anak kita justru kasih mainan kesukaannya atau minta mamanya untuk peluk si teman ini.


    10. Betul juga ya Bun, pasti pernah mengalami dan melihat anaknya berperilaku seperti itu kan? Lucu yaa, anak tenangin si teman tapi dengan cara dia yang biasanya bikin dia tenang gitu yaa?

    Jawab

    Yes! Benar sekali, jadi belum membantu dengan cara atau solusi yang sesuai dengan kebutuhan orang lain tersebut. Makanya masih disebut dengan setengah egosentris..


    11. Nah, kalau *Veridical* itu bagaimana sih Bun? sepertinya tahap ini banyak diharapkan kebanyakan oleh para Bunda bisa muncul di anak-anaknya yah?

    Jawab

    Jadi kalau ditahap veridical ini, interaksi dua arah sudah mulai terjadi antar anak-anak ya.. Makanya juga biasanya mulai berkembang di usia 3 tahun, yang secara tahap perkembangan sosial, anak mulai bisa berinteraksi.

    Dengan pengalaman belajar dan stimulasi yang sesuai, biasanya anak usia 3 tahun mulai bisa mengenali emosi diri sendiri, emosi orang lain, memiliki keinginan untuk membantu dan bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan temannya.

    Jadi proses trial & error mulai dilakukan disini. Lihat temannya nangis, mulai ditanya kenapa dan apa yang bisa dibantu, coba-coba misalnya ajak main. Kalau ga berhasil, beri pelukan, ga berhasil juga, coba panggil orang lain. Dan seterusnya sampai anak merasa bahwa masalah sudah teratasi. Di tahap ini lah terutama sekali pengalaman belajar dan mencontoh orang dewasa perlu dimiliki anak, agar ia tahu, dalam masalah tertentu, apa saja ya yang bisa dilakukan untuk menyelesaikannya.


    12. Wah menarik banget ilmu baru tahap perkembangan empati ini ya Bun. Nah terakhir Bun untuk *empathy beyond situation* maksudnya gimana Bun?

    Jawab

    Kalau di tahap 1-4 sebelumnya kan anak bereaksi atas situasi yang secara langsung terjadi di depan matanya. Kalau yang di tahap terakhir ini, cakupan empatinya sudah jauh lebih luas. Kemampuan empati anak semakin meluas tidak hanya kepada temannya secara individu tapi juga kepada lingkungan dan komunitas secara umum.

    Misalnya melihat korban bencana alam di berita tv, lalu anak tergerak untuk memberikan bantuan sumbangan. Atau baru saja beberapa waktu yang lalu, anak saya lihat ada sekolah di daerah terpencil pulau Sulawesi yang lantainya tanah, dan buku serta alat tulisnya harus bergantian. Sedangkan anak saya, tidak hanya tidak perlu bergantian, bahkan dia punya berbagai pilihan untuk mau menggunakan alat tulis yang mana. Lalu muncullah inisiatif dia dan teman-temannya untuk membelikan alat tulis sejumlah murid di sekolah tersebut agar tidak perlu bergantian. Saya aja mungkin ga kepikiran 😁


    13.
    apa itu kecerdasan intelegensi (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ), penting mana dari ke dua kecerdasan tersebut dan bagaimana cara melatih kecerdasan itu
    Pixabay

    Ternyata Bunda kecerdasan emosi anak itu, terutama kemampuan empati anak itu perlu dikembangkan bertahap sesuai usianya. Nah Bun, misalnya anak sudah punya empati, punya akal yang cerdas untuk tahu apa yang perlu dilakukan, kayaknya sering juga aku lihat belum tentu perilaku membantunya keluar deh Bun. Mungkin karena malu atau takut. Itu apa yang bisa dilakukan?

    Jawab

    Iya benar sekali Bun Farha. Nah ini pertanyaan yang bagus nih. Punya IQ dan EQ. Lalu bagaimana "memasaknya" agar anak memunculkan perilaku membantu orang lain dalam menyelesaikan masalah?

    Disini peran orang tua sangat penting karena ternyata, untuk perilaku membantu itu sendiri muncul, ada tahapannya lagi, ga cuma di anak-anak, tapi juga di orang dewasa lho. Kita sebut biasanya disini dengan istilah “Train of thought” untuk berakhir pada munculnya perilaku. Jadi untuk bisa membantu orang lain yang dibutuhkan (1) anak lihat ada situasi bermasalah. Lalu (2) menilai situasi bermasalah tersebut sebagai sesuatu yang perlu dibantu dan (3) melihat dirinya bisa membantu. Kemudian (4) tahu apa yang bisa dilakukan untuk membantu. Dan akhirnya (5) membantu. Untuk lebih mudahnya, lihat bagan berikut ini ya..

    14. Kalau di zoom terlihat kok Bun, dilihat dari bagan nih, ketika anak sudah mulai memutuskan membantu, masih mungkin gak sih untuk tidak dilakukan Bun? karena ada konsekuensi negatif misalnya, contohnya seperti apa ya Bun?

    Jawab

    Contoh paling sederhana sebenarnya ketika kita ingin memberikan uang kepada pengemis yang kita lihat di jalan. Kemudian ada orang yang berkomentar “ngapain kamu kasinya ke dia? Komentar orang itu lah yang disebut dengan konsekuensi negatif.

    Coba kita lihat dari Melati Wijsen (di Bali), pada usia 12 tahun membuat gerakan Bye Bye Plastic Bag. Dari usia sangat muda sudah menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama hingga mendapat penghargaan Bambi di Jerman. Bayangkan apa yang terjadi ketika niatnya untuk melakukan kebaikan Bye Bye Plastic Bags tidak disetujui dan didukung orangtuanya. Mungkin pengalaman belajar seperti diundang berbicara TedTalks di London dan berbicara di event PBB saat World Oceans Day di New York tidak akan pernah didapatkan Melati. Jadi memang respon orang tua atas insiatif yang dimunculkan anak untuk membantu orang lain, sangat berperan penting dalam meningkatkan kepercayaan diri anak untuk membantu.


    15. Jadi, peran orang tua itu ternyata besar sekali dampaknya pada kemampuan anak untuk menunjukkan kepedulian sosialnya ya Bun?

    Jawab

    Benar sekali Bun Farha. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini. Melati bisa menginisiasi gerakan Bye Bye Plastic Bag di usia 12 tahun, pastinya bukan terjadi begitu saja. Sejak kecil kecerdasan emosionalnya pasti sudah terbiasa dilatih dan diasah oleh orang tuanya dan membantu juga dalam mengembangkan daya pikirnya. Sehingga muncul perilaku besar atau “grand gesture” di usia 12 tahun tersebut.

    Bayangkan kalau dari kecil Melati pun tidak dibiasakan orang tua untuk melihat kesulitan yang terjadi di lingkungan, tidak dibiasakan turun tangan langsung dalam membantu orang lain, sepertinya akan sulit juga bila kemudian di usia 12 tahun dia muncul ide kebaikan sebesar itu.


    16. Wah, menarik banget ini Bun bahasan kulwhap kita kali ini. Ok, terakhir nih Bun, sebelum menutup sesi. Selesai dari kulwhap ini, hal konkrit apa yang bisa para Bunda lakukan untuk melatih anak agar cepat tanggap terhadap lingkungan?

    Jawab

    Untuk melatih dan membiasakan anak agar bisa cepat tanggap terhadap lingkungan, maka orangtua bisa lakukan hal-hal dibawah ini:

    • Children see, children do. Orangtua menjadi panutan anak agar muncul keinginan dari dalam diri anak untuk membantu.
    • Asah kemampuan menyelesaikan masalah dengan stimulasi kemampuan berpikir anak agar kecerdasan akal dan kreativitasnya terus meningkat.
    • Berikan pujian dan penghargaan atas usaha anak membantu orang lain agar ia semakin percaya diri dalam berinteraksi dan membantu orang lain.
    • Konsistensi dalam memberikan kesempatan, pengalaman, dan penghargaan agar pengalaman belajarnya bisa terus terjadi.

    Bagaimana Ayah Bunda materinya tentang kecerdasan intelegensi (IQ) dan Kecerdasan Emosi (EQ) ini? Bergizi banget kan? Sudah tahu dong berarti sekarang bahwa kedua kecerdasan ini sama pentingnya dan sama-sama perlu di stimulasi. Nah, Ayah Bunda jika menurut Ayah Bunda materi ini bermanfaat juga untuk para orang tua yang lain, boleh banget di share ya untuk membantu mengedukasi para orang tua yang lainnya


    Monday, August 5, 2019

    Ini Dia Alasan Mengapa Aku Memilih Home Schooling untuk Anakku

    ini alasan mengapa memilih home schooling untuk anak usia dini
    Erysha sedang bermain menempelkan gambar Tayo dengan ampas kelapa di rumah


    "Wah, Erysha nanti sekolahnya mau dimana?"
    "Mba Yeni, nanti Erysha mau masuk sekolahnya usia berapa?"
    "Mba Yeni, kenapa Erysha nggak dimasukin PAUD?"

          Banyak yang bertanya seperti itu ke aku. Jujur, aku suka bingung menjawabnya. Bukan karena nggak tahu jawabannya. Bukan. Tapi, karena jawaban yang aku berikan ini untuk kebanyakan orang mungkin terkesan agak aneh ya "Kok anak nggak dimasukin paud atau TK?". Untung waktu itu ada teman yang bantu jawab "mungkin Mba Yeni ingin anaknya puasin dulu mainnya di rumah".

    Karena kalau aku jawab panjang lebar kayak di tulisan ini, khawatirnya menyinggung karena berbeda pemahaman atau aku yang dibilang menggurui. Karena buat orang yang paham akan mengerti setiap orang punya pemahaman masing-masing. Tapi, untuk yang nggak paham khawatir dianggap menyinggung. Tapi sekarang kalau di tanya "kenapa anaknya nggak dimasukkin ke TK?". Aku sekarang bisa jawab dengan mantap karena aku ingin anakku home schooling saja.

    Yup, karena untuk kebanyakan orang menganggap memasukkan anak ke PAUD atau taman kanak-kanak itu seolah-olah sesuatu yang wajib. Jadi, kalau ada anak usia dini belum sekolah di lembaga itu jadinya terkesan aneh dan bahkan mungkin ada juga yang menyalahkan. Bahkan ada juga kan yang begitu berlomba-lomba menyekolahkan anaknya sedini mungkin. Sedangkan aku malah sengaja menunda sekolah. Terkesan aneh ya?

          Tapi ada yang harus diingat, bahwa sebenarnya yang namanya sekolah wajib itu dimulai dari anak masuk SD. Jadi kalau usia-usia di bawah itu bukanlah sesuatu wajib anak sekolah di luar. Karena usia-usia TK itu adalah usia prasekolah. Jadi kalau ada anak usia dini belum sekolah di lembaga, jangan dianggap aneh ya Ayah Bunda 😉

    Tapi apa aku anti sekolah taman kanak-kanak? 

    Ya nggak dong. Lalu apa alasan aku tidak memasukkan Erysha ke kelompok bermain atau taman kanak-kanak? Untuk sementara ini kami memilih home schooling untuk Erysha. Inginnya nanti saja ketika Erysha 6 tahun langsung TKB saja masuk sekolahnya. Tapi kita nggak pernah tahu kan ke depannya bagaimana. Mungkin saja langsung SD

    Ini Alasan Mengapa Aku Memilih Home Schooling untuk Anakku


    alasan memilih home schooling untuk anak


    1. Mengikuti pendapat ahli

    Ada beberapa pendapat ahli seperti pendapatnya:

    Ibu Safithrie Sutrisno, Psikolog berpendapat boleh memasukkan anak sekolah tapi di usia 4 tahun ke atas

    Abah Ihsan menyatakan kalau untuk anak laki-laki sebaiknya dimasukkan sekolah di usianya di atas 5,5 tahun tapi kalau anak perempuan boleh di bawah usia itu, karena anak perempuan lebih cepat kematangannya dibandingkan anak laki-laki

    Elly Risman, Psikolog berpendapat untuk tidak perlu memasukkan anak ke taman kanak-kanak langsung SD saja. Jika memang ingin dimasukkan ke taman kanak-kanak nanti saja ketika TKB agar anak tidak terlalu lama sekolahnya

          Dari ke 3 pendapat ahli ini sama-sama berpendapat untuk tidak buru-buru memasukkan anak ke sekolah di usia yang dini. Misalnya di bawah 4 tahun. Aku setuju dengan ke 3 pendapat ahli itu. Oleh sebab itu, aku tidak ingin memasukkan Erysha ke PAUD untuk saat ini dan ambil pendapatnya Bu Elly Risman juga, nanti langsung TKB saja atau bisa saja nanti masuknya usia 5 tahun. Bagaimana situasi dan kondisi juga ya


    2. Penanaman pondasi itu harus dimulai dari orang tua

    penanaman pondasi dan bonding itu harus dimulai dari sedini mungkin

    Dari ke 3 pendapat ahli di atas mengapa mereka tidak ingin anak usia dini segera disekolahkan, itu semua karena usia dini adalah usia dimana penanaman pondasi yang kuat itu harus dimulai dari orang tua. Seperti penanaman bonding pada anak, mengenalkan nilai-nilai agama dan kebaikan pada anak, menanamkan tentang perilaku dan akhlak yang baik dan menstimulasi aspek tumbuh kembang anak. Pondasi itu harus kita orang tua dulu yang pertama menanamkannya pada anak karena

    "Sekolah pertama anak itu adalah di rumah dan guru pertamanya adalah kita orang tuanya bukan orang lain"


    3. Biarkan anak puas dulu bermainnya

          Anak usia dini dunianya adalah bermain tanpa banyak aturan. Jadi biarkan ia bermain sepuasnya. Cukupkan mainnya sebelum nanti ada masanya dia harus fokus belajar. Jika mainnya seorang anak belum puas dimasa periode perkembangannya, maka kelak anak akan tumbuh menjadi anak yang rentan cemas, putus asa, bosan dan kecerdasan emosinya kurang baik. Mengapa? Karena ada kebutuhan anak dimasa kecilnya yang tidak terselesaikan

    Tapi kan di sekolah taman kanak-kanak atau kelompok bermain belajarnya sambil bermain?

    Iya memang benar mereka belajarnya sambil bermain. Tapi tetap disekolah anak tidak bisa bermain bebas. Karena anak terikat pada aturan sekolah seperti harus masuk sekolah, harus belajar ini, setelah ini istirahat lalu belajar ini lagi dan lain-lain. Itu membuat anak tidak bisa bermain dengan bebas dan sesungguhnya konsep belajar anak usia dini itu adalah bermain sambil belajar bukannya belajar sambil bermain. Itu dua hal yang sangat berbeda. Mengapa? Karena orientasinya juga sudah berbeda. Oleh sebab itu, aku memasukkan Erysha di TKB saja karena usia seperti itu sudah mulai bisa diajak untuk lebih fokus ya dan berdasarkan teori pendidikan bermain bebas merupakan hal yang sangat penting dalam perkembangan anak.

    Bahkan di negara Denmark yang terkenal karena menjadi negara yang paling bahagia di dunia karena orang-orangnya dan gaya pengasuhannya yang bahagia, dalam beberapa tahun anak Denmark tidak diperbolehkan memulai sekolah sebelum usia mereka 7 tahun


    4. Memasukkan anak sekolah terlalu dini menimbulkan banyak masalah baru

          Memasukkan anak sekolah terlalu dini menimbulkan lebih banyak masalah baru pada anak dan kita orang tuanya. Karena di fase anak yang masih egosentris tapi sudah dipaksa untuk berbagi mainan dengan yang lain, dibully oleh teman-teman seusianya seperti diledek, dipukul, dan ada juga anak kita yang disuruh-suruh oleh tipe anak yang ngebos begitu.

    Baca juga: Apa itu Fase Egosentris pada Anak? dan Bagaimana Cara Mendampinginya?

    Tapi kan, kita ngga bisa Bun mensterilkan anak-anak kita?

          Yup, benar sekali kita tidak bisa mensterilkan lingkungan untuk anak-anak kita. Tapi, sebelum kita melepaskan anak kita ke dunia luar tanpa pengawasan kita di usianya yang masih dini, kitanya yang harus memberikan imun dulu kan pada anak kita. Karena anak usia dini itu belum tangguh imunnya, jadi sebelum dilepas ke luar anaknya harus ditanamkan pondasi yang kuat dulu dari rumahnya

          Kalau pondasinya belum kuat, ketika anak melihat teman-temannya suka pukul, dia akan mengikuti juga, ketika temannya ada yang berkata kasar nanti anak kita akan menirunya juga atau ada juga anak yang jadinya mogok sekolah karena pernah dibully temannya dan lain-lain.

    Itu baru masalah dengan teman-temannya ya, belum lagi masalah jika ditengah semester ternyata kurikulum dan metode belajarnya nggak cocok untuk anak kita, misalnya menekankan calistung, dikasih banyak PR dan banyak ujian padahal masih taman kanak-kanak, yang ada anak bukannya mencintai kegiatan belajarnya tapi malah membencinya cepat atau lambat


    5. Menghindari anak agar tidak bosan sekolah

          Kalau Erysha aku masukkan dari usia 3 tahun, aku khawatir dia akan mengalami kebosanan belajar dan bosan sekolah nantinya. Karena banyak kasus yang aku lihat dulu di sekolah, anak-anak yang terlalu dini disekolahkan suka mogok sekolah atau malas-malasan sekolah di usia SD. Tentu saja dampak setiap anak beda-beda ya. Hanya saja yang aku ceritakan di atas kecenderungan saja


    6. Sekolah yang bagus dan sesuai dengan kebutuhan anak itu biasanya harganya mahal

    apa itu home schooling

          Dari yang aku lihat dan berdasarkan pengalaman aku sebagai guru. Kebanyakan sekolah yang bagus dan sesuai dengan kebutuhan anak itu harganya mahal huhuhu. Karena biasanya selain fasilitas dan sarana mereka yang lengkap, kurikulum dan metode belajarnya itu memang ramah anak.

    Tidak terlalu menekankan calistung pada anak usia dini, tidak memberikan PR dan tidak terlalu menekankan akademik yang membuat anak stres. Pokoknya sesuai dengan aspek tumbuh kembang anak. Sayangnya sekolah seperti ini taman kanak-kanaknya saja sudah sekitar 10 juta uang masuknya belum lagi bayaran SPP perbulannya bisa ratusan ribu. Huhuhu mehonggggg kan

          Tapi, menurut aku pribady ya nggak ada salahnya kalau kita mengeluarkan banyak uang untuk pendidikan terbaik anak di luar lingkungan rumah. Selama visi misi sekolahnya selaras dengan visi misi keluarga kita, kenapa tidak?

    Memangnya kalau sekolah taman kanak-kanak murah itu bagaimana?

           Biasanya fasilitas dan sarananya kurang lengkap, metode belajarnya kebanyakan serius untuk anak usia dini, terlalu calistung dan kebanyakan nyanyi-nyanyi saja. Eh tapi ini kebanyakan ya. Nggak semuanya lho. Buktinya masih ada guru-guru yang tulus mengajar dari hati walau gaji mereka kecil dan sarana prasarananya kurang memadai tapi mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik. Biasanya guru-guru seperti ini banyak kita temukan jauh di pelosok sana, bukan berarti di kota nggak ada. Bukan ya


    7. Daripada kasih uang mahal ke sekolah lebih baik aku mengajar anak sendiri

          Nah Bunda, daripada aku kasih uang ke sekolah yang harganya 10 jutaan begitu, lebih baik aku ngajar sendiri Erysha di rumah 😂 *emak perhitungan. Aku malu juga sama ijazah sarjana aku, sama gelar pendidikan aku, sama pengalamannya aku bertahun-tahun mengajar anak orang lain tapi masa ngajar anak sendiri nggak bisa. Iya kan? Apalagi dengan title ku seorang Ibu sebagai pendidik pertama dan utama dari anaknya. Mau nggak mau memang harus belajar terus. Karena kalau untuk usia dini aku masih bisa. Tapi kalau sudah usia di atas itu, aku belum sanggup karena tidak semua materi pelajaran aku kuasai

          Intinya bukan hanya sekedar itu, tapi juga karena situasi dan kondisi aku saja yang pas untuk memilih home schooling Erysha di rumah. Kalau nanti ada adikknya terus aku nggak ada yang membantu pekerjaan rumah. Bisa jadi aku nggak bisa menstimulasi Erysha dengan sering di rumah. Bisa saja nanti dia masuk taman kanak-kanak di usianya misalnya 5 tahun. Kita nggak pernah tahu kan. Bunda bisa contek juga kegiatan Erysha di rumah ya di sini "Kegiatan Anak"


    8. Pekerjaan Ayah Erysha yang pindah-pindah

    jangan biarkan anak kehilangan peran ayahnya

          Aku pernah menulis di sini dengan judul "Rumah untuk Pulang". Bercerita tentang pekerjaan Ayah Erysha yang sebagai pengabdi negara tapi banyak orang yang berburuk sangka padanya. Lengkapnya langsung cuss saja ke link warna merah itu ya nanti 😘

    Karena sebagai pengabdi negara itu, membuat Ayah Erysha akan sering dipindahkan setiap 3 atau 4 tahun sekali dari satu kota ke kota yang lain dan dari satu pulau ke pulau yang lain dan itu tidak selalu menentu. Jadi harus siap kapan saja dan dimana saja. Jadi, kasian kalau Erysha baru masuk sekolah tetapi sudah dipindahkan lagi. Sayang uang yang sudah masuk dan khawatir dia jadi lebih sering lagi nanti beradaptasinya

    Nah, itu Ayah Bunda 8 alasan mengapa aku memilih home schooling untuk anakku, Erysha. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan dari tulisanku ini ya. Semoga menambah referensi sudut pandang kita. Apapun itu, setiap orang mempunyai pemahaman dan ilmunya masing-masing yang penting kita selalu berusaha belajar dan menyakini yang terbaik untuk anak-anak kita dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi kita




    Wednesday, July 31, 2019

    Tahukah Bunda Salesma dan Influenza Itu Berbeda, Lho. Ini Alasannya Kenapa Vaksin Flu Itu Penting

    salesma dan influenza itu berbeda. ini alasan kenapa vaksin flu itu penting


           Hai-hai Bunda. Hari ini aku mau berbagi kebahagiaan dan ilmu yang aku dapatkan waktu hari Sabtu, 27 Juli 2019. Dimana di hari itu aku diundang untuk meliput acara yang menurutku edukasi sekali tentang influenza dan #KenapaHarusVaksin? Ya sudah aku langsung ke sana dan tinggalkan Erysha bersama ayahnya di rumah. Kadang-kadang membiarkan ayah dan anak kencan berdua itu penting sekali lho menurut aku. 


          Nah Bunda, berbicara soal flu sebuah penyakit biasa yang sering kita dengar ya dan penyebarannya juga sangat cepat sekali. Dulu waktu awal menjadi ibu baru, ketika Erysha sudah terkena flu aku suka khawatir sekali, suka ikutan sedih kalau melihat dia jadi kurang nafsu makan, badan tidak enak dan terkadang ada batuknya juga dan itu sembuhnya lamaaaaa sekali. Apalagi kalau anak Bunda sudah bersekolah, flu bisa membuat anak tidak masuk sekolah dan tidak bisa bermain dengan teman-temannya ya Bun. 

          Seiring berjalannya waktu dan sebagai ibu, aku menuntut diriku sendiri untuk terus belajar. Selain ilmu parenting aku pun belajar tentang ilmu kesehatan. Pernah dengarkan bahwa seorang ibu itu banyak profesinya? Termasuk harus tahu juga tentang kesehatan agar bisa melindungi keluarga kecilnya dari berbagai penyakit. Begitu juga dengan aku dan aku baru tahu lho sejak punya anak bahwa flu biasa dengan influenza itu berbeda lho. Walau gejalanya mirip sih.

    Baca juga: Ibu yang Tidak Sempurna


    Apa Itu Influenza?


    apa itu influenza, bahayanya dan dampaknya

          Nah, di acara ini aku merasa semakin teredukasi karena panitianya mengundang pakarnya langsung yaitu dr Attila Dewanti Sp.A (K). Aku banyak dapat ilmu dalam acara ini. Jadi, penyakit pilek kebanyakan dan biasa sering kita sebut flu itu, tepatnya namanya adalah salesma yaitu penyakit yang disebabkan oleh virus tetapi tidak berbahaya. Kalau disebabkan oleh virus berarti tidak membutuhkan antibiotik ya Bun. 

    Salesma itu asalkan si penderitanya banyak makan makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, banyak minum air putih bisa sembuh dengan sendirinya. Tapi berbeda dengan influenza karena ternyata influenza ini penyakit berbahaya. Mengapa?


    Bahaya Penyakit Influenza


          Anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun rentan terkena komplikasi flu seperti pheumonia dan bronkitis, infeksi sinus dan telinga. Apalagi jika anak-anak memiliki riwayat asma, diabetes dan gangguan otak atau sistem saraf lebih bermasalah lagi jika terkena penyakit flu ini.

          Menurut CDC (Centers of Disease Control and Prevention) memperkirakan bahwa antara 7000 sampai 26.000 anak-anak di bawah 5 tahun telah dirawat di rumah sakit setiap tahun di Amerika Serikat karena Influenza. Sayangnya, kita suka menganggap penyakit ini ringan karena memang sulit membedakan antara salesma dan influenza ini. 

    Jadi, jika tidak ditangani segera bisa berbahaya bahkan menyebabkan kematian. Dan aku bersyukur sekali, ternyata flu yang dialami Erysha adalah salesma. Walau begitu tetap dong kita harus mempelajari influenza ini karena itu tadi sudah berbahaya dan penyebarannya cepat lagi. 

          Terutama dari lingkungan sekolah. Karena di sekolahlah anak banyak berinteraksi dengan teman-temannya dan lingkungan sekolah yang tidak selalu terjamin kebersihannya, saking cepatnya penularan ini bisa melalui dari bersin, memegang sesuatu yang telah terkontaminasi dengan virus influenza kemudian menyentuh hidung dan mulut. Huhuhu serem banget ya saking mudahnya penularannya membuat kita was-was ya Bun.


    Gejala Terkena Sakit Flu (Influenza)


    apa itu influenza, bahayanya dan dampaknya

    Bunda gejala flu ini mirip sekali dengan gejala salesma, oleh sebab itu, setiap anak pilek kita harus amati dan peka dengan perkembangan kesehatan anak kita. Apakah ini salesma atau sudah tanda-tanda gejala influenza? Berikut tanda-tanda gejala influenza:

    1. Demam mencapai suhu 39,4 Celcius sampai 40,5 Celcius
    2. Nyeri di badan
    3. Sakit kepala
    4. Sakit tenggorokan
    5. Batuk yang semakin parah


    Bagaimana Cara Melindungi Diri dan Anak dari Virus Influenza?


    1. Jaga jarak atau kontak dengan si penderita influenza 
    2. Membiasakan gaya hidup sehat untuk menjaga daya tahan tubuh agar kita tidak mudah tertular penyakit
    3. Sering mencuci tangan dengan sabun dan jika tidak ada sabun bisa menggunakan cairan antiseptik berbasis alkohol
    4. Pencegahan terbaik dan teraman adalah dengan melakukan vaksin flu


    Kenapa Harus Vaksin Flu?


    Jujur ya Bunda, aku baru tahu tentang vaksin flu ini adalah di acara ini. Yang aku tahu biasanya vaksin wajib seperti vaksin polio, bcg, dpt, campak dan lain-lain. Tapi ternyata ada vaksin flu juga dan ini anjurkan sekali. Karena influenza ini berbahaya, oleh karena itu organisasi kesehatan dunia (WH0) telah lama menyarankan anak-anak untuk divaksin flu juga sejak mereka berusia di atas 6 bulan.

    Baca juga: Panduan MPASI WHO

    Vaksin flu bukan hanya untuk anak-anak tapi bisa juga untuk orang dewasa sebagai salah satu cara melindungi diri dari influenza ini. Jadi, vaksin flu ini dilakukan setiap tahun. Sebenarnya di negara-negara maju seperti Amerika sudah menggratiskan vaksin flu ini. Semoga di Indonesia menyusul ya Bun. Kita doakan saja. 


    Apakah Vaksin Flu Itu Aman?


    apa itu vaksin flu, mengapa vaksin flu itu penting dan amankah vaksin flu itu untuk anak

    1. Jika sampai direkomendasikan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) berarti sudah aman ya Bun dan sudah melalui rangkaian penelitian dan uji coba.

    2. Vaksin flu dibuat dengan aman dan produksi yang ketat. Selain itu sudah digunakan oleh jutaan orang selama beberapa episode dan halal juga ya

    3. Vaksin flu ini telah mengandung strain yang lengkap, jadi bisa memberikan proteksi yang maksimal. 

    4. Efek sampingnya minim sekali

    Jadi, kita nggak perlu khawatir ya Bun soal keamanan vaksin ini. Lalu manfaat vaksin flu ini apa saja?


    Manfaat Vaksin Flu?


    - melindungi diri sendiri, anak, keluarga dan orang lain
    - mengurangi resiko terkena flu dan komplikasinya


    pentingnya vaksin flu


    Nah Bunda, semoga kita semakin mendapatkan pencerahan ya mengenai vaksin flu ini dan dilapangkan rezekinya agar anak kita bisa setiap tahun mendapatkan vaksin flu ini. Buat Bunda yang ingin mendapatkan informasi lengkap kenapa harus vaksin, boleh sekali mampir ke instagramnya ya @kenapaharusvaksin. Yuk Bunda kita lindungi diri kita n keluarga sedini mungkin 

    #KenapaHarusVaksin
    #4BetterProtection
    #LawanFluDiSekolah
    #TUMBloggersMeetUp

    Monday, July 29, 2019

    Bagaimana Cara Menemukan Minat dan Bakat pada Anak Umum dan Berkebutuhan Khusus?

    bagaimana cara menemukan minat dan bakat pada anak umum dan berkebutuhan khusus?


    "Bunda Yeni bagaimana cara kita menemukan minat dan bakat anak kita?"

          Itu adalah pertanyaan yang lebih dari satu orang yang ditanyakan ke aku waktu aku mengisi kulwap parenting tentang "Kecerdasan Mejemuk pada Anak". Materinya tinggal di klik link warna merah itu aja ya Ayah Bunda 😉. Oke, jawabannya aku share juga ya di sini agar bisa bermanfaat untuk yang lain juga

    Sebelumnya Ayah Bunda percaya nggak sih bahwa setiap anak itu cerdas? Jika belum. Aku mau kasih tahu bahwa sesungguhnya setiap anak itu terlahir dengan kecerdasannya masing-masing. Kenapa? karena setiap anak itu unik. Setiap anak itu terlahir dengan fitrah pembelajar di dalam diri mereka. Hanya saja terkadang banyak orang tua atau lingkungan terdekat yang merubah fitrah anak tersebut menjadi negatif

    Ayah Bunda, sekalipun setiap anak itu cerdas, tetap saja kecerdasan itu tidak akan keluar dengan maksimal jika kita tidak menstimulasinya dengan baik. Nah, kecerdasan masing-masing inilah  yang akan membantu kita menemukan dimana minat dan bakat anak kita berada. Jadi itu semua saling berkaitan.

    So, fokuslah pada kelebihan dan kebaikan anak kita. Galilah dimana minat dan bakat anak kita berada. Jangan sibuk melihat kekurangan anak melulu. Yang itu akan membuat kita memandang anak dengan konsep yang negatif

    Pertama kita harus tahu dulu ya Ayah Bunda apa bedanya minat dan bakat itu? Minat itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan perasaan. Sesuatu yang memang kita sukai. Sedangkan bakat itu soal hasil.


    cara menemukan bakat anak


    Contoh hampir semua anak laki-laki menyukai main bola. Tapi tidak semua anak laki-laki bisa seperti Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo kan? Nah, di sinilah yang membedakan antara minat dan bakat itu. Jadi bakat itu sesuatu yang hasil belajarnya signifikan melebihi anak-anak pada umumnya.


    Bagaimana Cara Menemukan Minat dan Bakat Anak

    cara melihat minat dan bakat anak kita

    Lalu, bagaimana cara kita bisa menemukan bakat anak kita?

    Menurut Ayah Edy dalam bukunya yang berjudul Memetakan Potensi Unggul Anak, ada 5 tahapan yang perlu dikerjakan orang tua (aku bahas pakai bahasa aku ya), yaitu:

    1. Membuat Program Stimulasi
           Buatlah sebuah program stimulasi untuk anak. Dimana isi program tersebut adalah mengenalkan anak dengan berbagai hal, berbagai kegiatan dan berbagai macam profesi. Misalkan mengajak anak jalan-jalan ke museum, pameran, mengenalkan anak pada berbagai tokoh dunia, memasak, berkebun dan lain-lain. Untuk kegiatan stimulasi di rumah bisa intip kegiatan aku bersama Erysha di sini, ya "Kegiatan Anak". . Klik aja yang warna merahnya. Berikan stimulasi sebanyak-banyaknya dan bervariasi ya Ayah Bunda

    2. Membuat Daftar Minat dan Bakat
           Setelah kita mengenalkan anak dengan berbagai kegiatan dalam waktu yang lama. Lama-lama anak akan menemukan sendiri kegiatan-kegiatan yang ia minati. Nah, apa saja yang ia minati ini kita data termasuk hasil pengamatan kita pada proses anak menekuni minatnya. Kita lihat di aktivitas mana anak lebih cepat belajarnya dibandingkan anak-anak pada umumnya. Karena siapa tahu bakatnya ada di sana

    3. Uji Coba Minat dan Bakat
           Nah, kita sudah punya kan ya data minat dan bakat anak kita. Saatnya kita menguji mana minat dan bakat anak kita. Misalkan ada itu ya anak yang masih berubah-ubah minatnya, misalkan bulan ini anak minta les renang tapi 2 bulan kemudian sudah bosan dan ingin mencoba kegiatan yang lain. Nah, aktivitas yang tidak lagi diinginkan oleh anak inilah yang kita coret atau eliminasi.

    Dalam fase uji coba minat dan bakat ini, Ayah Bunda bisa memberikan anak les sesuai keinginan anak mau les apa. Tetapi kalau anaknya masih usia dini, belum butuh les juga ya Bun. Lebih baik kita saja yang menstimulasi anak kita di rumah sambil membangun bonding yang kuat dengan anak.

    4. Penajaman Profesi
           Melalui uji coba minat dan bakat tadi, kita sudah mulai kan ya Ayah Bunda menemukan dimana bakat anak kita berada. Misalkan ternyata anaknya berbakat menggambar. Nah, saat inilah kita perlu melakukan penajaman profesi yang disesuaikan dengan bakat anak kita.

    cara mencari profesi yang cocok untuk anak ke depannya


    Kita amati dan observasi anak kita suka menggambar apa? Tipe gambarnya yang seperti apa? Misalkan anak kita suka menggambar pemandangan, tentang alam dan kehidupan. Oh profesi yang cocok untuknya misalnya seperti Pelukis? Atau anak suka menggambar ilustrasi begitu, bisa jadi dia bakatnya menjadi seorang Ilustrator. Atau anak-anak kita suka menggambar beraneka ragam bangunan seperti rumah, gedung, jembatan dan lain-lain, kita bisa mengarahkannya menjadi seorang Arsitek atau kalau anak kita suka mengambar interior begitu, dia bisa kita kenalkan dengan profesi Desainer Interior. Atau anak suka menggambar anime, bisa jadi dia cocok berprofesi sebagai Animator dan lain-lain.

    5. Membuat Rencana Hidup
           Setelah tahapan di atas sudah dilalui, saatnya kita membuat rencana pendidikan untuk anak-anak kita. Karena kita dan anak kita sudah tahu nih bakat dan passion mereka dimana. Selain kita bisa memetakkan pendidikan anak-anak kita, kita jadinya bisa juga lho mengatur dan merencanakan dana untuk pendidikan anak-anak kita ke depannya. Semuanya jadi terasa jadi lebih mudah kan ya kalau kita mempunyai rencana dan sistematika yang jelas

    Jadi, jika kita mau melalui tahapan-tahapan di atas, kita dan anak nggak akan galau lagi ya Ayah Bunda dalam menentukan jurusan atau pendidikan anak-anak kita kemana ke depannya.


    Cara Menemukan Minat dan Bakat Anak Berkebutuhan Khusus


    cara menemukan minat dan bakat anak berkebutuhan khusus

    Lalu, ada pertanyaan lagi ketika aku Kulwap itu.

    "Bunda bagaimana cara menemukan minat dan bakat untuk anak berkebutuhan khusus? Karena saya memiliki seorang anak berkebutuhan khusus"

          Secara konsep untuk menemukan minat dan bakat anak pada anak berkebutuhan khusus sama seperti tahapan di atas ya Ayah Bunda. Sama seperti untuk anak pada umumnya. Memang lebih sulit, lebih lama dan tentu harus lebih sabar dan turunkan standar ekspektasi kita pada anak agar tanpa disadari kita tidak banyak menuntut pada anak. Jangan lupa disesuaikan juga dengan jenis dan karakteristik berkebutuhan khusus anak kita

    Sekalipun sulit bukan berarti tidak bisa ya Ayah Bunda. Karena memiliki anak berkebutuhan khusus itu sekecil apapun progress yang mereka lakukan, bukankah itu selalu menjadi hal yang berharga bagi kita? 😍.

    "Selalu ada cara untuk mensyukuri nikmatNya".

    Semua tulisanku tentang anak berkebutuhan khusus (ABK) bisa baca di sini, ya "Anak Berkebutuhan Khusus"

    Baca juga: Anak Down Syndrome Berprestasi, Kenapa Tidak?

          Ayah Bunda, dalam menemukan minat dan bakat anak kita itu, hal pertama yang harus kita lakukan adalah menerima anak apa adanya. Tidak membanding-bandingkannya dengan anak yang lain. Percaya bahwa setiap anak itu cerdas. Penerimaan yang tulus membuat anak bisa berkembang dan belajar dengan rasa bahagia karena anak yang bahagia akan mencintai proses belajarnya dan mampu memaksimalkan potensinya dengan rasa yang nyaman. Kalau begitu yuk Ayah Bunda yang semangat kita menemukan minat dan bakat anak kita berada 😍


    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES