• Wednesday, September 12, 2018

    Identifikasi ABK Sejak Dini Melalui Tumbuh Kembang Anak

    identifikasi ABK sejak dini melalui tumbuh kembang anak
    Happy Parenting

    Bismillahirrahmannirrahim
    Hai Ayah Bunda! Banyak dari kita sebagai orangtua yang kurang peka atau kurang menyadari bahwa betapa pentingnya kita sebagai orangtua memantau tumbuh kembang anak kita. Padahal dari tumbuh kembang inilah kita bisa mengindentifikasi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) dari sejak dini

    Akhirnya, banyak anak-anak yang tumbuh dan berkembang tidak sesuai dengan usianya, banyak mengalami ketertinggalan dari aspek yang seharusnya mereka kuasai dan yang lebih dikhawatirkan lagi, orangtua yang terlambat menyadari bahwa anaknya tidak tumbuh dan berkembang dengan normal, karena adanya penyimpangan atau hambatan dari yang seharusnya.

    Anak-anak yang mengalami hambatan atau penyimpangan dari tumbuh kembangnya inilah yang disebut dengan anak berkebutuhan khusus dan banyak orang yang menyebutnya sebagai anak yang spesial. Sayangnya, jika orangtua tidak segera menyadari betapa pentingnya memantau tumbuh kembang anak sejak dini, maka anak berkebutuhan khusus ini akan mengalami keterlambatan dalam mendapatkan penanganannya

    down syndrome
    Pixabay

    Selain itu, memantau tumbuh kembang anak akan membuat kita mempunyai standar atau indikator dalam menstimulasi anak-anak kita. Kita akan tahu, apakah anak kita sudah sesuai belum tumbuh kembangnya? Jika ada yang kurang , kita pun bisa mencari letak kurangnya dan menstimulasi kekurangan anak hingga anak bisa mencapai aspek tumbuh kembangnya dengan baik.

    Dan rasanya kalau kita selalu memantau dan mengetahui ilmu tumbuh kembang anak dengan baik, akan membuat kita tidak perlu khawatir juga ya Ayah Bunda dengan kata-kata orang lain, nyinyiran orang atau atas pertanyaan orang lain akan tumbuh kembang anak kita. Mengapa? Karena kita mempunyai ilmunya.

    Ada 3 ciri anak sehat yang perlu kita ketahui Ayah Bunda, yaitu bertambah berat badannya, bertambah tinggi dan bertambah pintar dalam setiap bulannya.

    Sayangnya, banyak orangtua yang hanya fokus pada fisik anak tetapi merasa tidak perlu memperhatikan perkembangan anak.

    Contoh komentar banyak orangtua "Ah nggak apa-apa anak saya mah sehat-sehat aja, nambah kok berat badannya, cuma belum bisa ngomong aja" (padahal seharusnya di usia anak ini sudah bisa bicara).

    Baca juga: 10 CARA MENSTIMULUS ANAK TERLAMBAT BICARA

    Baca juga: PIJAT WAJAH UNTUK ANAK TERLAMBAT BICARA

    Anggapan orangtua yang seperti inilah yang perlu kita luruskan Ayah Bunda. Jadi, anak sehat itu anak yang harus meliputi 3 aspek di atas ya Ayah Bunda. Untuk itu, betapa pentingnya kita perlu setiap bulan memeriksakan anak kita ke posyandu atau tenaga kesehatan. Selain untuk mengukur berat badan dan tinggi anak, kita pun dapat berkonsultasi pada ahlinya di sana mengenai tumbuh kembang anak kita.


    Cara Identifikasi ABK Melalui Tumbuh Kembang Anak 


    Buku Kesehatan Ibu dan Anak
    Sumber: Glitzmedia.co

    Lalu, dari manakah kita sebagai orangtua bisa melihat aspek tumbuh kembang anak kita? Nah, ada beberapa sumber yang bisa kita jadikan pegangan dalam memantau tumbuh kembang anak kita, yaitu:

    1. Kita bisa mendownload atau mengisi KPSP = Kuesioner Pra Skrining Perkembangan.
    KPSP adalah alat atau instrumen untuk memantau tumbuh kembang anak. Apakah sudah sesuai dengan usia anak atau mengalami penyimpangan. Bisa langsung di cek di sini ya (KPSP), atau di sini https://www.facebook.com/notes/fatimah-berliana-monika-purba/kuesioner-pra-skrining-perkembangan-anak-kpsp/10201713638108584

    2. Buku Tumbuh Kembang Anak
    Sekarang banyak ya, Ayah Bunda buku tumbuh kembang anak bisa kita temukan dimana-mana. Biasanya dalam buku ini, selain bisa digunakan untuk memantau tumbuh kembang anak, bisa juga belajar cara menstimulasi anak sesuai usianya. Biasanya di buku ini dijelaskan lengkap dan detail sesuai tahapan usia anak

    3. Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)
    Apa Ayah Bunda tahu buku ini? Tahu dong ya. Yap, buku berwarna pink ini adalah buku dari kementerian kesehatan yang diberikan kepada ibu yang sedang hamil dan isinya lengkap. Di sana kita bisa memantau tumbuh kembang anak kita dan cara menstimulasinya juga

    Mudah sekali ya, Ayah Bunda kita menemukan dan tahu cara mengamati tumbuh kembang anak kita. Hanya saja, banyak orangtua yang tidak mengetahuinya.


    Apa yang harus dilakukan apabila anak tumbuh tidak sesuai dengan tumbuh kembang yang seharusnya?


    Jika kita sudah mengisi tabel tumbuh kembang anak kita, tetapi banyak yang jawabannya meragukan atau tidak sesuai dengan usianya. Saya sarankan sebaiknya Ayah Bunda segera berkonsultasi kepada dokter anak, untuk mendapatkan penjelasan dan cara menstimulasi anak.

    Ketika anak kita ternyata mengalami hambatan atau gangguan, di saat inilah anak kita dinyatakan sebagai anak berkebutuhan khusus. Yang bisa mendiagnosa seorang anak sebagai anak berkebutuhan khusus itu bukan kita ya Ayah Bunda. Tetapi tenaga profesional atau tim ahli seperti dokter anak, psikolog, terapis, dll


    Apa itu anak berkebutuhan khusus?


    quote tentang anak berkebutuhan khusus

    Anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami gangguan atau hambatan baik secara permanen maupun temporer.

    Anak berkebutuhan khusus secara permanen adalah anak berkebutuhan khusus yang mengalami gangguan atau hambatan dari internal dan ini sifatnya menetap (selamanya).
    Contoh: Tunanetra, tunarungu, tunagrahita dll

    sedangkan anak berkebutuhan khusus temporer adalah anak yang mengalami hambatan yang dikarenakan faktor eksternal atau faktor penyebab yang datangnya dari luar dan ini sifatnya sementara. Contoh: Anak yang trauma karena menjadi korban bully, korban peperangan, dll. Mengapa anak korban pererangan, korban bully dll termasuk anak berkebutuhan khusus? Itu dikarenakan anak-anak seperti itu membutuhkan layanan khusus

    Namun, jika anak berkebutuhan khusus yang sifatnya temporer ini tidak segera mendapatkan intervensi yang seharusnya, maka hambatan atau gangguan yang dialaminya bisa berubah menjadi permanen.


    Apa penyebab anak menjadi berkebutuhan khusus?


    Banyak hal yang bisa menjadikan seorang anak berkebutuhan khusus. Penyebabnya bisa dibagi menjadi 3 sebab yaitu:

    1. Masa sebelum kelahiran / Prenatal
    Masa ketika anak belum lahir atau masih di dalam kandungan. Penyebabnya bisa karena dari virus, kekurangan nutrisi, keturunan, kekurangan oksigen ketika di dalam kandungan, penggunaan obat-obat keras atau mengkomsumsi dengan cara berlebihan, meminum alkohol, dll

    2. Pada saat kelahiran / Neonatal
    Penyebabnya karena memakai alat bantu, lahir dengan prematur, posisi bayi yang sulit dikeluarkan, kekurangan oksigen dll

    3. Kejadian setelah kelahiran / Post Natal
    Umumnya terjadi karena factor eksternal seperti trauma, terkena sakit, kecelakaan, dll


    Apa saja jenis anak berkebutuhan khusus itu?


    Jenis anak berkebutuhan khusus itu ada banyak ya Ayah Bunda. Apa saja itu?


    Waw banyak ya Ayah Bunda. Karena ada banyak, sehingga saya tidak bisa menuliskan satu persatu ciri-cirinya. Dari ulasan di atas, bisa kita simpulkan ya Ayah Bunda, bahwa betapa pentingnya setiap orangtua mengamati dan memantau tumbuh kembang anaknya sejak dini, sehingga kita sebagai orangtua dapat memberikan stimulasi pada anak yang sesuai dengan kebutuhan anak. Untuk apa kita menstimulasi anak? Salah satunya agar kita bisa mengoptimalkan kemampuan anak sesuai usianya

    Karena tentu beda kan ya anak yang terstimulasi dengan baik dengan anak kurang stimulasi dari orangtuanya. Buat Ayah Bunda yang bingung melakukan kegiatan stimulasi untuk anaknya di rumah, boleh meniru kegiatan saya bersama Erysha ya di sini.

    Ayah Bunda, ilmu terus mengalami pembaruan dan terus berkembang mengikuti perkembangan zamannya. Untuk itu, diharapkan kita sebagai orangtua mau untuk terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang cerdas di zamannya dan menjadi orangtua yang lebih baik lagi dalam membersamai tumbuh kembang anak-anak kita tercinta.

    Kalau begitu, yuk kita sama-sama belajar Ayah Bunda dan bantu orangtua yang lain dalam memenuhi tumbuh kembang anak. Sehingga, jika terdapat anak berkebutuhan khusus, dapat segera tertangani dengan baik.  Itu dia Ayah Bunda cara mengindentifikasi ABK sejak dini melalui tumbuh kembang anak. Semoga bermanfaat dan selamat belajar ya



    Wednesday, September 5, 2018

    Membangun Keluarga Bahagia dengan Sundate

    membangun keluarga bahagia dengan sundate

    Dulu, saya pernah bertanya dalam hidup saya "apa saya bahagia? Apa keluarga saya bahagia". Mungkin pertanyaan yang berkali-kali saya tanyakan pada diri saya sendiri. 

    Dalam hidup saya, tak pernah terpikirkan saya akan menjadi seorang penulis. Tepatnya seorang blogger. Sejak menjadi ibu rumah tanggalah, saya menemukan profesi ini.

    Dulu, sebelum menikah saya sibuk sekali mengajar dari pagi sampai malam. Agar saya bisa membiayai kuliah saya sendiri dan membantu keluarga terutama agar bisa memberi mama uang. Menurut saya, itu semua melelahkan. Tetapi ternyata ketika saya kini menjadi seorang ibu rumah tangga dan menjadi seorang Ibu, ternyata itu lebih melelahkan lagi.

    Tapi saya paham mengapa menjadi ibu itu lebih melelahkan. Oleh karena itu, Dia meletakkan syurga itu berada di kaki seorang ibu dan meninggikan tiga kali posisinya dari ayah. Karena menjadi ibu itu luar biasa proses belajar di dalamnya

    Dulu pula, ketika baru berperan menjadi seorang ibu baru dan menjadi ibu rumah tangga, saya sering menangis karena kelelahan, saya bosan dengan pekerjaan rumah yang tak pernah usai dan begitu setiap hari. Dan terkadang membuat saya begitu uring-uringan. Tapi saya pun tak bisa menyalahkan siapa pun. Yang ada, saya marah pada diri saya sendiri mengapa saya suka mengeluh? Mengapa kualitas diri saya begitu buruk?

    Keadaan dan perasaan itu semua, membuat saya merasa tidak bahagia. Lalu, bagaimana kita sebagai ibu akan membesarkan anak-anak kita dengan kebahagian jika diri kita sendiri merasa tak bahagia? Bukankah anak-anak yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia?

    Tapi, memang begitulah menjadi seorang ibu baru. Serasa dunia langsung terbalik hampir 180 derajat. Saya kehilangan banyak hal, karier, mimpi, kebebasan, waktu dan bahkan kehilangan diri saya sendiri. Saya menangis dan menangis untuk semuanya. Saya yang memilih berada di posisi itu semua demi anak dan karena anak. Hingga saya lupa

    "Pada saat kita mengeluhkan banyak hal tentang anak kita, pada saat itu pulalah kita menjadi lupa, bahwa anak adalah kado terindah dalam hidup kita"

    Dan lagi-lagi membuat saya lupa. Bahwa

    "Ketika kita mengeluhkan satu hal, kita jadi lupa mensyukuri banyak hal"

    Ada banyak hal yang membuat saya menampar diri saya sendiri dan sungguh saya ucapkan teramat terima kasih kepada suami saya yang telah membantu saya melewati semua hal dan menguatkan saya. Seorang ibu memiliki peranan penting dan tonggak pondasi yang kuat dalam membangun sebuah generasi. Jika peran ibu ini lemah, bagaimana ia akan bisa membangun peradaban di dunia dengan generasi yang berkualitas.

    Perlahan-lahan saya bangkit dan cepat belajar. Menjadi ibu rumah tangga, pekerjaan dan kesuksesannya memang tidak terukur. Tapi mungkin nanti, ketika kita telah berhasil mendidik dan mengurus anak-anak kita oleh tangan kita sendiri, akan ada kebahagian tersendiri di sana. Karena setiap orang memiliki perannya masing-masing. Ada di bagian domestik dan ada di bagian publik. Apapun itu, yang terpenting berusaha memberikan konstribusi dengan cara kita masing-masing

    Tapi kini, dengan seiring waktu, saya mulai terbiasa dengan peran saya. Saya mulai membuat diri saya bahagia dan saya menemukan bahwa ternyata bahagia itu sesuatu yang receh  sekali

    Iya receh, ketika saya bisa makan dengan tenang tanpa rengekan anak saja, saya bahagia. Ketika saya bisa mandi dengan santai rasanya saya bahagia, rasanya kayak sedang spa di salon hahaha. Ketika malam-malam bisa makan mie rebus pakai cabe rawit dan telur ceplok, saja sudah bahagia dan satu yang pasti yang membuat saya bahagia sekali, ketika saya bisa melaksanakan panggilan alam ke kamar mandi dengan tenang saja, tanpa diiringi soundtrack tangisan anak di balik pintu kamar mandi saja, saya sudah merasa bahagiaaaa sekali. Hahaha

    Memang begitulah bahagianya seorang ibu, receh banget bukan? Dan berperan menjadi seorang ibu membuat bahagia saya menjadi semakin sederhana.

    Namun, di tengah perjalanan profesi saya sebagai seorang blogger. Kebahagian dan kebersamaan saya dengan keluarga, mulai memudar. Bukan... bukan profesi bloggernya yang salah, namun sayanya yang belum mampu berkomitmen pada diri saya sendiri.

    Saya menulis, ngeblog dan berinteraksi menggunakan handphone saya. Profesi blogger adalah profesi yang memang pekerjaannya banyak di dunia maya terutama di media sosial. Tanpa saya sadari, saya jadi suka memegang handphone dalam keseharian saya, bahkan ketika sedang berkumpul dengan keluarga.

    Tanpa saya sadari pula, Erysha jadi lebih banyak bermain sendiri sedangkan saya asyik dengan handphone saya. Walau pun saya bukan main handphone dan saya sedang bekerja, tetapi ternyata itu tidak baik antara hubungan saya dengan suami dan bonding saya bersama Erysha pun mulai berkurang.

    Hingga suatu hari, Erysha di usianya yang masih sangat kecil sekali, mengungkapkan protes pertamanya pada saya dengan bahasa verbalnya. Ia berkata "Bunda, simpan HPnya, simpan HPnya!"

    Ya Allah, saat itu saya tersadar bahwa saya telah salah. Saya merasa buruk menjadi ibu, saya merasa sedih telah sering membiarkannya main sendiri, terabaikan, dan tak dibersamai. Bagaimana saya akan mengajarkan anak tidak main handphone, jika saya sibuk memegang handphone di depan dia *plakkkk ini tamparan sekali lagi untuk saya.

    Lalu, saya memeluk Erysha dan meminta maaf padanya. Sejak itu, saya membuat komitmen pada diri saya sendiri, bahwa saya tidak akan membiarkan gadget merampas waktu kebersamaan saya dengan keluarga saya. Terutama dengan anak saya, Erysha. Karena saya tahu, masa kecilnya hanya sekali dan tak akan pernah terulang kembali. Jadi, saya tidak ingin menyia-nyiakan kebersamaan saya dengan Erysha dan menjadikannya terbuang begitu saja

    Sejak saat itu pula saya ingin berubah. Saya membuat jadwal kapan saja saya bisa memegang handphone. Saya ingin memperbaiki itu semua, saya ingin menjadi ibu yang lebih baik untuk anak saya dan menjadi istri yang lebih baik untuk suami saya. Saya ingin kembali membangun bonding dan membangun kebersamaan yang berkualitas dengan keluarga saya seperti bermain dengan Erysha dan jalan-jalan dengan keluarga kecil saya. Karena salah satu cara saya membangun keluarga bahagia adalah dengan sundate yang berkualitas

    membuat  anak bahagia
    Erysha sedang jalan-jalan

    Membangun Keluarga Bahagia dengan Sundate


    cara menjadi keluarga yang bahagia

    Berbicara soal jalan-jalan dan menikmati kebersamaan yang berkualitas, tepat sekali dengan kegiatan yang sama yang diadakan oleh PT Sun Life Financial Indonesia (“Sun Life”) yang mengadakan kegiatan Sundate untuk para nasabah setianya di Jakarta, 30 Agustus 2018 dalam memperingati hari pelanggan nasional


    kegiatan keluarga

    anak-anak bahagia


    lomba keluarga

    Sun Life ingin membantu para keluarga dalam meningkatkan kualitas kebersamaan dengan keluarga serta mempererat hubungan dengan perusahaan, selaku perencana keuangan terpecaya keluarga. Ada 5 kota tempat kegiatan diadakan yaitu Jakarta, Bali, Medan, Surabaya dan Yogyakarta

    Saya mendukung sekali program sundate ini, apalagi di zaman ini yang era digital para anggota keluarga lebih disibukkan dengan urusan masing-masing dan disibukkan pula dengan gadget masing-masing. Akhirnya, kebahagiaan keluarga menjadi berkurang dan tidak terjalin dengan harmonis. Kalau begitu, ayo Ayah Bunda kita semangat #Sundate2018 untuk menuju ke arah #LebihBaik !

    Apa itu Sun Life?


    sun life, asuransi

    PT Sun Life atau Sun Life Finansial Indonesia  adalah perusahaan perencana keuangan keluarga yang telah mengeluarkan banyak layanan proteksi dan pengelolaan kekayaan seperti asuransi pendidikan, asuransi kesehatan, asuransi jiwa dan perencanaan di hari tua.

    Mengutip pernyataan Elin Waty, Presiden Direktur Sun Life menyampaikan, “Menurut data BPS, dimensi keharmonisan keluarga memiliki pengaruh tertinggi dalam membentuk kebahagiaan seseorang, dengan indikator sebesar 80,5. Ini semua menjadi tujuan Sun Life untuk mengajak para keluarga untuk meningkatkan kualitas kebersamaan keluarga dan membangun keluarga yang bahagia dengan sundate ini

    Jadi Ayah Bunda, menurut saya bahagia itu letaknya ada di sini, di hati yang selalu bersyukur. Dan jangan lupa, jadilah orangtua yang bahagia dan bangunlah keluarga yang bahagia karena menjadi orangtua yang bahagia adalah kado terindah yang tak terucap untuk anak-anak kita

    So, jangan lupa bahagia, ya



    Monday, September 3, 2018

    3 Cerita Sederhana yang Menginspirasi



    Hai Ayah Bunda, saya sama seperti manusia-manusia yang lain. Saya sama seperti ibu yang lain, yang mudah stres dan merasa tidak bahagia. Namun, terkadang pada saat itu terjadi, saya kembali  merenung diri mengambil hikmah yang berserakan dalam cerita sehari-hari, cerita yang sederhana namun mampu menginspirasi diri saya sendiri atau terkadang hanya ingin berbagi ilmu

    Dan semoga lewat tulisan ini, mampu menginspirasi orang lain, menyemangati, saling menguatkan dan membuat diri kita sendiri bahagia. Karena lagi-lagi saya akan menuliskannya bahwa

    "Bahagia itu bukan soal rasa tetapi, bagaimana cara kita merasa"

    Jadi, kebahagian itu dikembalikan lagi pada diri kita sendiri. Bahwa, diri kita sendirilah yang bisa membuat kebahagian itu untuk diri kita. Tulisan ini tertulis di status facebook saya. Lalu, saya kumpulkan di sini, agar bisa bermanfaat pula untuk orang lain

    Cerita 1: Sudahkah Kita Meminta Izin Pada Anak Kita?



    Ayah Bunda, pernahkah kita bertanya pada anak kita atau meminta izin pada mereka, bolehkah kita mengambil foto atau gambar dirinya lalu mengunggahnya di media sosial kita? Jawabannya "TIDAK"

    Yup, kita lupa bertanya seperti itu pada mereka karena terkadang, banyak dari diri kita yang tanpa kita sadari suka memperlakukan anak semau kita dan melupakan haknya. Kita lupa bahwa setiap manusia memiliki hak akan dirinya sendiri

    Atau pernahkah kita bertanya pada mereka, bolehkah kita meminjam barang miliknya? Atau meminta izin terlebih dahulu pada mereka? Jawabannya lagi-lagi "Tidak". Yup, karena terkadang kita suka merasa mentang-mentang barang itu pemberian dari kita. Jadi kita suka seenaknya pada anak. Padahal kita lupa bahwa anak memiliki hak dan keinginannya sendiri.

    Kita selalu menganggap itu hal kecil dan tampak sepele. Tetapi, kita lupa bagaimana kita akan mengajarkan anak akan haknya dan hak orang lain, jika diri kita sendiri pun suka luput menghargai hak anak kita sendiri.

    Jika kita senantiasa menghargai hak anak kita, maka kelak ia akan tumbuh menjadi pribady yang tahu bagaimana menghargai hak orang lain seperti hak pada pasangannya, hak pada keturunannya, hak pada bawahannya dan hak-hak yang lainnya.

    Dan jika kita sendiri sebagai orangtua suka mengabaikan hak anak kita, maka jangan salahkan jika ia tumbuh menjadi manusia yang suka mengabaikan hak-hak orang lain. Karena ia tidak tahu mana yang benar-benar haknya mana yang bukan. Mana yang benar-benar miliknya mana yang bukan.

    So, jangan lupa kita menghargai hak-hak anak kita, dimulai dari sesuatu yang tampak kecil


    Cerita 2: Berhenti Sejenak untuk Mencari Makna



    Tahukah kita Bunda, di balik kerempongan kita sebagai ibu dari shubuh, memasak, mencuci piring, menyiapkan bekal suami dan anak-anak, menyiapkan sarapan dll hingga malam hari. Memang tidak bisa kita pungkiri, betapa lelahnya diri kita. Tetapi, ketika lelah itu menyergap kita, sepertinya kita harus berhenti sejenak dan kembali mencari makna. Makna agar cinta kembali hadir di hati kita dari rasa syukur.

    Yup, rasa syukur. Rasa syukur ketika membuka mata ini kita masih bisa melihat mereka, suami dan anak-anak kita. Rasa syukur karena kita masih memiliki waktu dan kesempatan dalam membersamai mereka hingga hari ini dan detik ini.

    Rasa syukur karena mereka masih bebas bergerak ke sana kemari dalam tubuh yang sehat. Rasa syukur ketika pagi hari,  kita masih bisa menikmati momen-momen berharga dalam hidup kita. Momen ketika mereka masih memanggil kita dengan sebutan "Bunda" dengan senyum manis mereka.

    Momen ketika kita masih melihat lelaki kita memeluk anak-anaknya dengan hangat di pagi hari, bercerita dan tertawa bersama. Rasa syukur ketika kita masih bisa menciup tangan lelakinya kita, ketika hendak pergi bekerja demi kita dan anak-anak. Momen ketika ia mencium lembut kening kita dan anak-anak. Dan kita masih memiliki kesempatan untuk mengantarkannya ke depan pintu, lalu melihatnya pergi hingga punggungnya menghilang dengan perlahan.

    Rasa syukur ketika anak-anak berlari untuk memeluk kita. Rasa syukur ketika kita masih ada untuk mengucapkan, ohh betapa kita mencintai mereka. Dan momen-momen lain yang sesungguhnya betapa itu begitu amat berharga.

    Percayalah Bunda, suatu hari nanti ketika anak-anak itu pergi, kitalah yang akan selalu merindukan momen-momen kecil seperti ini. Dan percayalah lagi Bunda, momen-momen seperti itu pasti sangat berharga ketika kematian datang merenggut semuanya dengan tiba-tiba dari kita.

    Untuk itu, jangan biarkan semua momen tersebut terlihat menjadi biasa dan hanya sebuah rutinitas yang berlalu begitu saja tanpa makna. Dan jangan biarkan pula, rasa lelah itu merenggut momen berharga kita dan rasa syukur kita yang membuat kita lupa untuk merasa bahagia.
    Jangan lupa bahagia kita, Bundaa

    Tangerang Selatan, 27 Juli 2018


    Cerita 3: Inner Child yang Bermasalah



    Ibu-ibu, pernah nggak sih ngerasain dan nanya ama diri sendiri "Aku tuh knapa, sih?" Atau pernah nggak sih ngerasa aneh ama diri kita sendiri "Aku tuh suka ngikutin seminar dan baca-baca buku parenting ini itu, tapi kok aku masih kurang sabar dan masih suka bentak-bentak dan bahkan mukul anak, ya? Kok ilmu parentingnya nggak mempan sih ke aku?" Pernah nggak nanya gitu ke diri sendiri?

    Coba kita tengok ke dalam diri kita. Jangan-jangan ada luka lama (inner child) yang belum tersembuhkan oleh kita akibat pengasuhan di jaman waktu kita kecil dahulu. Jangan-jangan kita suka bentak-bentak anak dan mukul anak, karena dulu sewaktu kecil kita diperlakukan seperti itu dan kita besar dengan cara begitu, sampai tanpa kita sadari itu menjadi luka di masa lalu kita, dan melakukan hal yang sama pula pada anak-anak kita. Karena itu terjadi di bawah alam sadar kita

    Hampir kebanyakan orang memiliki inner child yang bermasalah dalam hidupnya. Namun, ada yang menyadarinya ada yang tidak. Sehinga luka yang tidak tersadari ini terus berulang dan terjadi di setiap keturunan. Dan jadilah itu semua menjadi lingkaran setan yang tak selesai-selesai.

    Jadi, Bu ibu kalau kita ngerasa ada yang salah dengan diri kita karena inner child ini dan kita belum mampu memaafkan, belum mampu berdamai dengan diri sendiri sehingga mengganggu pola asuh kita pada anak dan pada pasangan. Sebaiknya segera minta pertolongan pada ahlinya untuk membantu menyembuhkan luka atau inner child ini.

    Jangan merasa kita baik-baik saja tetapi sebenarnya tidak. Sebelum semuanya terlambat dan akan berulang pada keturunan kita selanjutnya.

    ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

    Bagaimana Ayah Bunda, ceritanya? Cerita yang sederhana bukan? Namun terkadang suka luput dari pandangan kita, dari perhatian kita. Padahal sesungguhnya pesannya begitu dekat dengan kita




    Sunday, September 2, 2018

    Talkshow "Mendidik Anak di Era Digital" bersama Singapore Intercultural School Bona Vista

    talkshow "mendidik anak di era digital" bersama singapore intercultural school bona vista

    Hai-hai Ayah Bunda, allhamdulillah kemarin hari Jumat, tanggal 31 Agustus 2018, saya berkesempatan diundang datang oleh komunitas Blogger Perempuan untuk meliput talkshow tentang "Mendidik Anak di Era Digital" yang berlokasikan di Singapore Intercultural School Bona Vista, Jakarta Selatan

    Ketika sampai, saya dan para blogger lain di sambut dengan sangat ramah oleh panitia acara. Acara dibuka oleh Ibu Desy Yusnita dari Komunitas Blogger Perempuan dan sambutan dari kepala sekolah Singapore Intercultural School Bona Vista yaitu Mr John P Birch

    Kepala Sekolah
    Mr John dan Ibu Elizabeth

    Nah, talkshow mendidik anak di era digital ini langsung mendatangkan ahlinya yang nggak sembarangan lho, Ayah Bunda yaitu Ibu Elizabeth T. Santosa, Psikolog sebagai narasumbernya. Beliau ini adalah seorang penulis buku "Raising Children in Digital Era", dosen di Swiss German University, sering diundang sebagai narasumber di media (cetak & televisi) dan aktif membantu komnas perlindungan anak.

    MasyAllah, saya merasa beruntung sekali bisa dapat ilmu langsung dari beliau. Ilmunya juga saya bagikan di sini, ya Ayah Bunda 😉. Agar kita bisa sama-sama belajar

    Ayah Bunda, sebagai orangtua dengan membesarkan anak yang katanya zaman now ini, tentu kita tidak bisa dong menutup mata dengan segala perkembangan yang terjadi di zaman ini. Begitu juga dengan kita yang memang orangtua zaman now pula.

    Pada saat ini, kita berada di era digital dan dengan segala tantangannya. Salah satunya yaitu gadget. Sebagai orangtua zaman now, kita tidak bisa anti pada zaman. Jadi, kita tidak bisa juga anti pada gadget. Bukankah juga pada saat ini banyak anak muda yang cerdas karena mengikuti perkembangan zaman seperti artis Raisa yang bisa terkenal dengan unggahan nyanyinya di you tube, atau Raditya Dika yang terkenal karena tulisannya lewat media sosial yang bernama blog? Dll.

    Nah, daripada kita sibuk melarang anak main gadget kenapa kita tidak meng-upgrade diri kita terlebih dahulu dengan kemajuan zaman ini dan memanfaatkannya menjadi hal yang positif.

    Jadi, orangtua di zaman now ini dilarang gaptek. Kalau kita gaptek, bagaimana kita bisa membersamai anak kita di era digital ini dan dengan segala tantangannya yang ada.

    Baca juga: 7 ALASAN MENGAPA ORANG TUA PERLU BELAJAR TEKNOLOGI. YUK MENJADI ORANG TUA YANG KREATIF BERSAMA ASUS EEEBOOK E202 DALAM MEMBUAT PROSES BELAJAR YANG MENYENANGKAN BAGI ANAK

    Karakteristik Anak Era Digital


    Ayah Bunda, sebagai orangtua kita harus tahu dahulu dengan karakterkstik anak di era digital ini. Apa saja itu?


    mendidik anak era digital

    Tips Penggunaan Sosmed & Informasi untuk Anak


    Lalu, bagaimana sebaiknya perlakuan kita kepada anak tentang gadget ini?

    1. Penggunaan sosial media tidak diperuntukkan untuk anak di bawah usia 13 tahun
    2. Aplikasikan peraturan dasar
    3. Setting privaci untuk sosial media
    4. Gunakan perangkat lunak yang dapat menyaring website (filtering software)
    5. Tidak menggunakan laptop/komputer di kamar untuk anak usia di bawah 14 tahun
    6. Orangtua perlu jeli untuk memperhatikan situs-situs yang sering dikunjungi dan orang-orang yang berkomunikasi dengannya

    Tips Menggunakan Internet dan Sosmed untuk Orangtua


    1. Orangtua wajib mencontohkan perilaku teladan dalam menggunakan sosial media
    2. Batasi penggunaan telepon genggam
    Fenomena nomophobia (no mobile phone phobia)
    3. Bicarakan pada anak mengenai bahaya online

    dampak negatif gadget
    Bahaya Online

    Ilmunya banyak sekali ya Ayah Bunda, dan terlihat banyak para hadirin yang bertanya di sesi acara.

    mempersiapkan anak memasuki era digital

    Namun, ada sesuatu yang membuat saya termenung ketika Ibu Elizabeth ini bertanya pada peserta acara

    "Siapa ibu-ibu di sini yang sehari-hari memberikan tontonan TV dan gadget pada anaknya?"

    Dan hampir semua peserta memberikan tontonan TV dan gadget pada anaknya setiap hari dan jujur itu membuat saya sedih, karena betapa masih banyak dari kita yang belum menyadari bahayanya itu semua untuk tumbuh kembang anak-anak kita.

    Tahu respon Ibu Elizabeth ini bagaimana? Beliau langsung bilang "Kalau begitu, pulang dari sini kita semua harus bertobat ya" sambil bercanda. Kami semua tersenyum malu padanya karena apa yang kami lakukan pada anak-anak kami.

    psikolog

    Tahu nggak Ayah Bunda, ternyata Ibu Elizabeth ini anaknya tidak terbiasa nonton TV lho, di rumahnya. Karena memang mereka sehari-hari diisi dengan banyak kegiatan stimulasi di rumah dan walau anaknya sudah SD, hanya diperbolehkan main gadget hanya seminggu satu kali dan itu cuma 2 jam.

    MasyAllah, keren ya Ayah Bunda. Allhamdulillah sejauh ini saya dan suami menerapkan pola yang sama dengan ibu Elizabeth ini di rumah untuk Erysha. Erysha dirumah banyak bermain stimulasi dengan saya dan sehari-hari tidak dikasih handphone dan TV juga. Doakan semoga saya dan suami bisa terus menerapkan itu ya pada Erysha, dan itu harus.

    "Lebih baik kita membiarkan anak-anak kita menangis sekarang karena tidak diberi gadget daripada kitalah yang menangis-nangis nantinya karena gadget telah merusak anak kita".

    Setelah sesi talksow mendidik anak di era digital ini. Kami diajak untuk berkenalan dan berkeliling oleh Ibu Monika mengenal sekolah bertaraf internasional ini yaitu Singapore Intercultural School atau disingkat dengan SIS Bona Vista dan rasanya saya senang sekali bisa belajar juga secara langsung tentang sekolah bertaraf internasional itu seperti apa.


    Bertahun-tahun saya mengajar di sekolah, walau sekarang jadi ibu rumah tangga, ini pertama kalinya bagi saya datang ke sekolah bertaraf internasional. Jujur, waktu pertama kali saya menginjakkan kaki saya ke gedung Singapore Intercultural School ini. Ada perasaan "waw" di dalam hati. Kenapa? Karena memang gedungnya besar dan megah sekali. Memang tidak aneh juga kenapa sekolah ini bisa bertaraf internasional, karena dari bangunannya saja sudah wah, ya

    Karena mumpung sedang meliput di sekolah ini, tentu membuat jiwa saya sebagai orangtua ingin tahu lebih jauh lagi apa visi misi sekolah ini, bagaimana kurikulumnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan lingkungan sekolah dan apa yang membedakan sekolah bertaraf internasional dengan sekolah-sekolah yang lain.




    Emang penting ya sebagai orangtua kita perlu tahu visi misi sekolah itu? Iya dong penting sekali. Mengapa? Karena dari visi misi sekolah itulah kita bisa melihat gambaran ke depannya, apakah sekolah itu sesuai dengan visi misi pendidikan kita terhadap anak kita sendiri atau tidak, dan apakah konsep pendidikannya sama dengan keluarga kecil kita terhadap anak kita ataukah tidak. Buat Ayah Bunda yang ingin tahu mengapa kita perlu mempunyai konsep pendidikan pada anak kita, boleh lihat di sini ya lengkapnya

    Tentu, kita tidak mau dong asal-asalan memasukkan anak kita ke sekolah tanpa tahu output-nya nanti bagaimana. Walau tetap ya, Ayah Bunda pendidikan utama seorang anak ada di tangan kita orangtuanya, bukan sekolah. Walau begitu, tetap sekolah merupakan bagian penting untuk membantu kita mendidik anak-anak kita di luar lingkungan rumah.

    Baca juga: APA YANG SUDAH KITA PERSIAPKAN DALAM PENDIDIKAN ANAK KITA DI ERA KEKINIAN?

    Nah, apa Ayah Bunda juga penasaran seperti saya dengan gambaran visi misi sekolah bertaraf internasional itu seperti apa, ya? dan salah satunya visi misi dari Singapore School ini.

    Visi Misi Singapore Intercultural Scholl

    singapore intercultural school

    Vision

    Inspiring Learners Toward Greater Heights

    Mission

    To spark curiosity and inquiry while developing values and 21st century skills. We prioritise learners and personalise learning to make a better world.

    Waw visi misinya kekinian sekali ya Ayah Bunda. Berusaha memberikan apa yang anak butuhkan sesuai dengan perkembangan zamannya. Beda sekali dengan visi misi belajar kita zaman dulu. Yang konsep belajarnya duduk tenang berjam-jam lalu buka buku, kerjakan dan hapalkan. Akhirnya, kita cuma hapal tetapi nggak paham. Iya kan? Yang ada sekarang kita malah lupa dengan apa yang kita hapalkan dulu. Hahaha soalnya kita dituntut untuk hapal bukannya memahami. Bener nggak? Atau kita beda zaman ya? Hahaha

    Lalu, bagaimana dengan kurikulumnya? Sebagai orangtua, sebaiknya kita bukan hanya belajar visi misi pendidikan anak, tetapi belajar juga memahami kurikulumnya. Jangan-jangan kurikulumnya tidak nyambung lagi dengan visi misi kita tadi.

    Kurikulum ini adalah penjabaran dari visi misi itu sendiri. Kurikulum ini bagian penting yang perlu kita ketahui jika nanti akan memasukkan anak kita sekolah. Kalau begitu, yuk Ayah Bunda kita belajar sedikit mengenai kurikulum dan kita ambil contohnya, bagaimana kurikulum di Singapore Intercultural School ini?

    Kurikulum Singapore Intercultural School


    Selama saya mengajar dan berlatar belakang pendidikan, setahu saya biasanya di suatu sekolah itu hanya memiliki satu kurikulum saja. Tetapi, ternyata di Singapore Intercultural School ini memiliki 3 kurikulum lho, Ayah Bunda. Dimana, setiap kurikulum di sesuaikan dengan jenjang pendidikannya. Karena memang di Singapore Intercultural School ini memberikan pendidikan dari usia prasekolah sampai SMA.

    Nah, kurikulum apa saja itu?
    1. Kurikulum Singapura
    2. Kurikulum Singapura dan mengadopsi program universitas cambridge
    3. Program IB (diploma)

    Karena memiliki 3 kurikulum inilah yang membedakan Singapore Intercultural School dengan sekolah-sekolah yang lain, bahkan berbeda dengan sekolah bertaraf internasional yang lainnya. Unik juga ya, Ayah Bunda.

    Nah, itu dia Ayah Bunda, hasil liputan saya mengenai mendidik anak di era digital di Singapore Intercultural School Bona Vista. Semoga bermanfaat dan ayo kita sama-sama belajar untuk membersamai anak-anak kita dengan cinta dan ilmu



    Sunday, August 26, 2018

    Review Buku Bertemakan Parenting "Nanny Belia" dan Pesan di Dalamnya

    review buku bertemakan parenting "nanny belia" dan pesan di dalamnya

    Hai-hai Ayah Bunda, udah lama ya saya nggak mereview buku. Oke deh kalau begitu, hari ini saya ingin mereview salah satu buku yang memang bertemakan parenting. Judulnya adalah "Nanny Belia" dan saya akan mengupas pesan yang ada di dalamnya. 

    Judul Buku : Nanny Belia
    Penulis      : Afida Nasiha
    ISBN           : 978-602-6663-01-6
    Penerbit     : Gong Publishing

    "Buku ini berceritakan tentang seorang anak perempuan yang baru lulus SMA dan merantau ke ibu kota dengan niat untuk mendapatkan pekerjaan. Akhirnya, perjalanan membawanya menjadi seorang Nanny dan dengan dibekali berbagai ilmu termasuk ilmu parenting dari yayasan tempatnya dididik, agar ia bisa mengurus anak asuhnya dengan baik nantinya"

    Buku berjudul "Nanny Belia" ini, termasuk buku yang tipis dibandingkan buku-buku lainnya. Terlihat, penulisnya seseorang yang sedang belajar menulis. Walau saya temukan sedikit kekurangan dari buku ini, tetapi tetap ilmu di dalamnya jauh lebih banyak dari kekurangannya, sangat saya maklumi sekali. Karena ada proses belajar di dalamnya. Apalagi, karena saya belum bisa menulis buku seperti ini hahaha. Jadi, saya ancungi jempol untuk penulisnya Mba Afida. Terima kasih untuk bukunya Mba

    Awal membacanya, membuat saya bertanya-tanya pada buku ini "ini buku kok bisa sedetail ini ya?" Apa yang penulis ceritakan di dalamnya begitu detail dan penuh dengan ilmu. Itu semua karena riset penulisnya yang dalam tentang suatu keadaan dari sebuah profesi atau karena diambil dari kisah nyata penulis itu sendiri ya? Ternyata di akhir kalimat, saya baru tahu bahwa cerita di buku ini diambil dari kisah nyata penulis itu sendiri. Pantesan aja detail

    daftar isi buku cerita bertemakan parenting

    Review Buku Bertemakan Parenting "Nanny Belia" dan Pesan yang Ada di Dalamnya


    Ada beberapa hal yang saya pelajari dari buku bertemakan parenting ini. Yaitu

    1. Jangan biarkan orang lain mengambil peranmu, Ibu
    Di buku ini diceritakan tentang sehari-hari anak yang lebih banyak bersama asisten rumah tangga dan pengasuhnya. Bahkan ketika orangtua telah pulang ke rumah, anak tetap diurus oleh pengasuhnya dan tak jarang tidur malam pun bersama pengasuh

    Sehingga, ini membuat bonding antara pengasuh dengan anak terjalin dengan eratnya. Lalu, ketika bonding ini begitu erat, dimanakah sosok ibu? Dimanakah peran ibu? Relakah peran kita dan arti kita diambil semuanya oleh pengasuh anak kita? Terlihat lebay, ya? Tapi memang begitulah nyatanya.

    Betapa banyak seorang anak berubah menjadi anak pengasuhnya atau anak dari neneknya.

    Hai, ingin sekali saya berkata:

    "Bunda, jangan biarkan orang lain mengambil peranmu. Sesibuk apapun engkau di luar sana, tetap ketika engkau sampai di rumah. Engkaulah yang seharusnya mengambil alih semua urusan tentang anakmu. Jangan biarkan ia menjadi anak dari asisten rumah tanggamu atau anak neneknya. Sebelum engkau menyesal suatu hari nanti, ketika anakmu lebih mencintai pengasuhnya daripada dirimu.

    Dan jangan biarkan orang lain membangun bonding pada anakmu melebihi bondingnya bersamamu. Karena masa kecil anak hanyalah sekali. Buktikan engkaulah ibunya yang akan selalu ada di hatinya. Jangan biarkan engkau termasuk orangtua yang menyesal di hari tuamu karena kehilangan banyak waktu bersama anak-anakmu"

    Sedih, saya sedih melihatnya. Jika orang lain saja bisa melihat kesedihan dan kebutuhan anak yang tidak terpenuhi, bagaimana tidak dengan diri kita sebagai ibunya? Ayo Bunda, cepat pulang! Temani anakmu, engkaulah yang seharusnya mengurusnya. Jadi, ketika keadaan membuatmu terpaksa harus bekerja di luar sana, tetaplah setelah engkau sibuk dari luar, temani ia, bacakan buku cerita untuknya, bermainlah dengannya. Agar engkau akan selalu tetap dicinta olehnya hingga suatu hari nanti. Karena engkaulah ibunya

    2. Buku ini menggambarkan suatu profesi seorang nanny dengan detail
    Di sini, kita akan diajak bagaimana proses dan apa saja yang diajarkan untuk menjadi seorang nanny oleh sebuah yayasan tempat para nanny di salurkan untuk bekerja. Banyak ilmu parenting yang dibekali kepada nanny ini oleh yayasannya. Termasuk mengajarkan menyanyi dan efek positifnya pada anak.

    Baca juga: REVIEW BUKU "AYAHKU BUKAN PEMBOHONG" DILIHAT DARI SUDUT PARENTING

    Oleh sebab itulah, mengapa gaji seorang nanny ini biasanya lebih mahal dari gaji asisten rumah tangga ya, Ayah Bunda. Karena mereka biasanya memanglah lebih berilmu.

    3. Ceritanya detail dan dikemas dengan ringan
    Di buku ini, karena diceritakannya cukup detail ya. Jadi, ada beberapa ilmu parenting yang terselip di dalamnya yang bisa kita pelajari tanpa terkesan menggurui. Buku cerita ini ringan ya. Jadi nggak banyak drama dan nggak lebay juga. Cocok dibaca oleh para orangtua maupun oleh anak remaja. Isi di dalamnya semuanya positif, tak ada pesan yang negatif yang di sampaikan penulisnya. Jadi menurut saya, buku ini aman sekali dibaca oleh siapapun.

    4. Terdapat beberapa istilah yang tidak umum
    Di buku ini saya menemukan beberapa istilah yang tidak umum digunakan dan itu ilmu sekali bagi saya. Serasa saya sedang belajar sesuatu yang baru

    5. Menjadi tahu dunia asisten rumah tangga dan dunia nanny
    Buku ini, karena ditulis dari pengalaman langsung dari penulisnya sendiri, jadi membuat penulis dengan gamplang menuliskan pekerjaan dan profesinya. Setelah kita tahu tentang profesi nanny dan asisten rumah tangga, semoga membuat kita jadi belajar menghargai segala sesuatunya termasuk tidak memandang remeh profesi apapun itu

    6. Kita jadi tahu bagaimana sebaiknya membuat jadwal kegiatan anak
    Buku ini pun menceritakan pula tentang seorang anak kecil tetapi memiliki jadwal kegiatan yang begitu padat seperti setiap sepulang sekolah harus mengikuti les ini itu. Sehingga, menyebabkan seorang anak kehilangan dunianya dan waktu bermainnya.

    Ini pelajaran sekali untuk kita ya Ayah Bunda, agar kita sebagai orangtua sebaiknya sebelum membuat jadwal kegiatan anak, disesuaikan dahulu dengan stamina anak kita, kebutuhan anak, usianya dan kematangannya. Apakah sesuai dengan tumbuh kembangnya atau tidak. Karena jadwal yang terlalu padat, rentan membuat anak kelelahan, stres dan berdampak buruk pada psikologisnya nantinya.

    Ini yang terkadang suka kita lupakan, hanya demi mencapai target kita pada anak, akhirnya tanpa disadari anak yang menjadi korban obsesi kita, orangtuanya.

    Hmmm apalagi ya? kayaknya segitu dulu ya Ayah Bunda pelajaran yang saya ambil dari buku bertemakan parenting ini yaitu "Nanny Belia". Tetapi sepertinya buku ini tidak dicetak lagi. Karena penulisnya pernah menyampaikan pada saya bahwa buku ini tidak akan dicetak lagi. Sayang ya Ayah Bunda, semoga ke depannya bisa kembali muncul di dunia literasi Indonesia ya. Aaaminnn. Buat Ayah Bunda yang ingin berkenalan dengan penulisnya, bisa kontak beliau di facebooknya ya Afida Nasiha

    Baca juga: REVIEW BUKU PANDUAN MEMILIH SEKOLAH UNTUK ANAK ZAMAN NOW

    Nah, itu dia Ayah Bunda yang bisa saya bagikan hari ini. Semoga bermanfaat ya dan selamat belajar kita 🙏





    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES