• Friday, March 22, 2019

    Sudahkan Kita Memperhatikan Nutrisi Anak Kita? Yuk, Ikuti Aksi Nutrisi Generasi Maju Bersama SGM Eksplor

       
    sudahkah kita memperhatikan nutrisi anak kita? yuk, ikuti aksi nutrisi generasi maju bersama sgm eksplor


          Hai Ayah Bunda, pernah nggak sih kita bertanya pada diri kita, apa kita yakin anak kita sudah tercukupi asupan nutrisinya selama ini? Sudah sesuaikah berat badannya dengan usianya? Sudah sesuaikah tingginya dengan grafik tumbuh kembangnya? Suka di cek nggak sih di grafiknya? Bagaimana hasilnya?

          Tidak bisa kita pungkiri ya Ayah Bunda, salah satu kebahagian kita sebagai orang tua adalah ketika kita bisa melihat anak kita tumbuh sehat dan cerdas. Hanya saja, banyak orang tua yang belum bisa memberikan hak nutrisi pada anaknya baik itu karena faktor ekonomi atau karena kurang teredukasi hingga akhirnya mereka menyerah.

          Padahal memperhatikan nutrisi ini adalah modal utama anak untuk tumbuh sehat. Bagaimana anak akan cerdas jika fisik dan otaknya tidak diberi makanan kan?

    Nah, allhamdulillah pada hari Rabu, 20 Maret 2019. Aku senang sekali bisa hadir dalam sebuah acara yang positif sekali ya isinya yang di adakan oleh SGM Eksplor di The Hermitage Hotel.

          Dimana acara ini bertujuan mengajak kita semua untuk mendukung masa depan 33 juta anak Indonesia melalui Aksi Nutrisi Generasi Maju. Di sini mendatangkan langsung para ahlinya untuk berbagi ilmu dan pengalaman mereka berdasarkan peran mereka masing. Siapa saja mereka?


    aksi nutrisi generasi maju

    1. Meida Octarina, MCN - Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak dan Kesehatan Lingkungan, Kemenko PMK*
    2. dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M. Gizi, SpGK - Dokter Gizi Klinis
    3. Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc. Sci. - Sosiolog
    4. Alyssa Soebandono - Aktris dan Ibu dari dua orang anak
    5. Astrid Prasetyo - Marketing Manager SGM Eksplor

    Bagaimana? Keren-keren ya narasumbernya dan aku senang sekali bisa belajar langsung lho dari mereka.

          Tahukah Ayah Bunda, ada banyak jutaan anak Indonesia yang tidak terpenuhi asupan nutrisinya padahal banyak sekali dampak anak kekurangan nutrisi salah satunya adalah anak bisa terkena stunting.

    Baca juga: Tentang stunting dan dampaknya

    Ini tentu bisa menjadi hal yang menghambat tumbuh dan kembangnya suatu bangsa. Oleh sebab itu, kita perlu memperhatikan asupan nutrisi anak bangsa ini dan berkomitmen di sana.

    Meida Octarina, MCN selaku Asisten Deputi Ketahanan Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak, dan Kesehatan Lingkungan Kemenko PMK mengatakan

    "Anak-anak yang sehat dan berkualitas merupakan harapan terbaik untuk masa depan sebuah bangsa. Sebagai kelompok populasi yang besar, lebih dari 33 juta anak Indonesia ini akan menjadi penggerak roda kemajuan ke depannya. Dapat dibayangkan, seperti apa majunya Indonesia jika setiap anak dari jumlah tersebut memberikan ide, berinovasi, dan berkarya sesuai kemampuan terbaik mereka. 
    Harapan yang mengiringi usia 100 tahun Indonesia pada tahun 2045 tentunya harus diikuti dengan tumbuhnya generasi yang memiliki kualitas yang mumpuni. Fenomena Bonus Demografi juga harus dimanfaatkan dengan bijak agar anak Indonesia berkembang menjadi lebih berdaya dan produktif. 
    Pun, untuk mengemban amanat ini pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Seluruh elemen masyarakat memiliki porsi masing-masing untuk memberikan dukungan, salah satunya dengan pemenuhan gizi anak dan jaminan akses untuk mendapatkan gizi yang optimal.
    Kami mengapresiasi SGM eksplor yang mencentuskan gerakan dukungan bagi 33 juta anak ini serta komitmennya yang konsisten selama ini dalam menyediakan produk bergizi yang terjangkau bagi anak Indonesia" Ungkap Meida Octarina 



    Ayah Bunda, diperkirakan sekitar tahun 2040 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi. Dimana jumlah penduduk usia produktif yang berkisar 15 sampai 64 tahun lebih banyak dibandingkan usia yang tidak produktif. Jadi, alangkah lebih baiknya kita mempersiapkan generasi ini dengan sebaik-baiknya dan dimulai dari memperhatikan asupan nutrisinya.

    Dimana di sampaikan juga oleh Dokter Gizi Klinis, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M. Gizi bahwa

    "Kecukupan nutrisi sangatlah penting dipenuhi sejak dini, karena akan menjadi modal tumbuh kembang optimal anak di setiap tahap pertumbuhannya. Asupan makanan seimbang yang kaya zat gizi makro dan mikro akan membuat anak sehat, tidak mudah terserang penyakit sehingga mereka dapat beraktivitas dan berkarya. 
    Status nutrisi seorang anak dapat mempengaruhi kondisi suatu bangsa. Maka, pemenuhan nutrisi yang tepat pada anak-anak masa ini juga akan berkonstribusi pada kualitas kesehatan generasi masa depan, sehingga tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs) bisa tercapai"

    pentingnya memperhatikan nutrisi pada anak untuk membantu tumbuh kembang anak dengan optimal

    Apa Ayah Bunda tahu maksudnya pemenuhan gizi makro dan mikro ini? Nah, contohnya gizi makro itu seperti karbohidrat, protein, lemak, serat dan air sedangkan contoh mikro itu lebih bervariasi lagi seperti zat besi, seng dan mineral lainnya.

    Jika kebutuhkan gizi makro ini sudah terpenuhi maka kebutuhan mikro ini pasti sudah tercukupi juga. Karena makanan yang mengandung gizi makro pasti didalamnya pun sudah mengandung gizi mikro. Jadi, kita nggak perlu khawatir ya Ayah Bunda.


    Siapa yang bertugas memperhatikan asupan nutrisi pada anak bangsa?


    Sekarang muncul pertanyaan kita. Siapa sih sebenarnya yang bertugas memperhatikan nutrisi anak bangsa ini?

    Menurut Sosiolog dari Universitas Indonesia, Daisy Indira Yasmine, S.Sos., M.Soc. Sci mengatakan

    "Menciptakan generasi maju harus dimulai dari pengembangan kualitas hidup seorang anak sejak dini dan didukung oleh lingkungan sekitar secara massif. Dukungan kolektif masyarakat untuk memberikan akses pemenuhan nutrisi bagi anak sejak dini dapat mendorong terciptanya generasi yang berkualitas dan ikut menentukan masa depan bangsa ini. 
    Peningkatkan kualitas kehidupan merupakan tanggung jawab bersama pemerintah, pelaku usaha dan industri, akademisi serya warga masyarakat. Sektor swasta harus memainkan peran pentingnya dengan kapasitas dan keahlian yang dimiliki sebagai penyedia kebutuhan nutrisi, akademisi dan berbagai pihak lain dapat menyediakan edukasi bagi masyarakat. 
    Dengan sinergi antara pemeritah, pihak swasta, akademisi dan masyarakat akan membentuk support system bagi 33 juta anak Indonesia untuk tumbuh menjadi generasi maju yang bisa berkonstribusi terhadap pembangunan bangsa ke depannya"

    Jadi Ayah Bunda, terkadang banyak orang suka menyalahkan pemerintah ya "itu kan tugas pemerintah, bukan kita". Padahal sebenarnya kita itu bukanlah objek dari program pemerintah itu, tapi kita adalah aktor. Jadi, kita pun ikut bertanggung jawab dengan bangsa kita ini karena kita bagian dari bangsa ini.




    Nggak bisa saling menyalahkan, saling melempar tugas. Kalau begitu, siapa yang akan berusaha bersama-sama membangun bangsa lebih baik lagi jika bukan kita semua. Salah satunya dalam menghadapi permasalahan soal nutrisi generasi saat ini yang begitu memprihatikankan.


    Aksi Nutrisi Generasi Maju


    susu formula sgm

    Untuk itu Marketing Manager SGM Eksplor, Astrid Prasetyo mengajak masyarakat.

    "Masyarakat bisa berpartisipasi dalam gerakan 'Aksi Generasi Maju' ini dengan cara mengupload foto di media sosial facebook dan instagram menggunakan pledge (di facebook dengan menggunakan frame profile foto dan instagram dengan sticker gift) yang sudah kami buat.
    Untuk mekanisme pledge bisa diperoleh informasinya di facebook dan instagram Aku Anak SGM. Satu aksimu melalui foto yang di-upload sama dengan satu dukungan nutrisi berupa 1 kotak susu SGM Eksplor untuk anak Generasi Maju"


    Artis cantik sekaligus ibu dari dua anak yaitu Alyssa Soebandono juga sama-sama mengajak kita semua para orang tua untuk mulai memperhatikan dan berkomitmen dalam memperhatikan asupan gizi anak-anak kita di rumah dan juga ikut mendukung masa depan 33 juta anak Indonesia melalui Aksi Nutrisi Generasi Maju. Yuk, Ayah Bunda kita semarakkan wacana positif ini untuk Indonesia yang lebih baik lagi! Penuhi gizinya, stimulasi aspek tumbuh kembangnya dan besarkan dengan cinta

    Baca juga: INI DIA 5 KESALAHAN POLA ASUH GIZI PADA ANAK YANG JARANG DIKETAHUI ORANG TUA



    Monday, March 18, 2019

    5 Alasan Penting Ini Mengapa Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga

    5 alasan penting ini mengapa memilih menjadi ibu rumah tangga


    "Kak Yeni, aku sekarang lagi hamil. Rencananya abis ngelahirin pengen resign aja. Aku pengen jadi ibu rumah tangga. Tapi aku bingung juga kak, kalau nanti aku jadi ibu rumah tangga, nanti pemasukan kami berkurang dong? Sedangkan kebutuhan sejak ada anak pasti makin bertambah. 

    Terus gimana kalau nanti di tengah jalan aku ngerasa bosen juga dengan peranku sebagai ibu rumah tangga? Terus nanti sia-sia juga ijazah pendidikan tinggi aku? Aduhhh aku galau kak. Gimana dong ini. Kalau kakak sediri kenapa sih mutusin buat jadi ibu rumah tangga?"

    Ya ampunnnnn bertubi-tubi aku ditembak dengan berbagai macam pertanyaan seputar ibu rumah tangga ini. Bukan cuma satu atau dua orang yang bertanya. Tapi banyak. Hahaha 😂. Ya sudah aku share di sini ya ceritanya dan alasan aku kenapa memilih menjadi ibu rumah tangga.

          Tentu saja aku senang dong ditanya ini. Bisa membantu orang memberikan gambaran seperti apa sih ibu rumah tangga itu? Benarkah dia tidak bekerja walaupun dia rumah? Sayang dong pendidikan tingginya? Nanti kalau bosan di rumah bagaimana? Nanti rezekinya berkurang dong? Dan lain-lain

          Sebelumnya aku minta maaf, tulisan ini murni alasan aku. Tak ada maksud untuk membanding-bandingkan ibu bekerja dan ibu rumah tangga. Karena tentu setiap orang memiliki situasi dan kondisi yang berbeda, memiliki alasan yang berbeda dan tantangan yang berbeda-beda juga.

          Menurut aku di luar sana juga membutuhkan peran perempuan untuk tampil di ranah public seperti dokter, perawat, guru dan lain-lain yang memang peran mereka dibutuhkan oleh banyak orang.

    Terbayang dong kalau kita hamil terus melahirkan, tapi nggak ada dokter perempuan. Kan repot juga. Terbayang juga kalau nggak ada peran guru, siapa yang mau membantu kita di luar sana dalam mendidik anak-anak kita.

          Jadi intinya, selama kita bekerja di luar sana alasannya sesuai syar'i dan memang profesinya dibutuhkan banyak orang juga. Itu sah-sah aja. Malah bagus. So, jangan sampai tulisan ini bikin baper ya untuk ibu yang bekerja.

    Nah, kembali lagi dengan alasan kenapa aku memilih menjadi ibu rumah tangga


    Alasan Menjadi Ibu Rumah Tangga


    bingung memilih menjadi wanita karier atau ibu rumah tangga

          Sejujurnya dalam hidupku, aku hampir sama seperti perempuan kebanyakan yang terlahir di masa kini. Zaman ini membuatku tak pernah bercita-cita menjadi seorang ibu rumah tangga. Karena aku dibesarkan dan dididik bukan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga tapi untuk berkarier di luar

          Pada umumnya didikan orang tua kita, ingin anak perempuan mereka sukses, terpandang di luar sana, kerja kantoran dan memiliki gaji besar. Bukannya di rumah seputar sumur, kasur dan dapur. Iya kan, seola-olah peran ibu rumah tangga itu begitu direndahkan. Bukan hanya paradigma orang pada umumnya, tapi juga oleh diri sendiri.

    Tapi apakah sebenarnya kita hidup sebagai ibu rumah tangga seputar itu? Kalau ini tergantung kita memandangnya dari konsep berpikir yang positif atau negatif.

          Nah, karena dibesarkan dengan cara begitu, akhirnya membuat kita tidak mudah menerima keadaan dan peran ini. Begitu juga denganku. Banyak proses panjang yang ku lalui dengan pilihan ku ini sebelum kini ku malah mensyukuri banyak hal dengan peranku ini.

    Kalau gitu langsung aja ya dengan alasannya:

    1. Totalitas
          Yup, alasan pertama kenapa aku memilih menjadi seorang ibu rumah tangga adalah karena aku ingin TOTALITAS dengan peranku. Sesuatu yang total tentu tidak menghasilkan sesuatu yang dikerjakan dengan setengah-setengah bukan? Jadi, aku ingin mengerjakan sesuatu dengan total untuk mengharapkan sesuatu yang total pula. Apa itu? Yaitu pendidikan anak

    2. Fokus dalam mendidik anak
    Pernah mendengar quote ini
    "Karier gagal bisa diulang, usaha gagal bisa diulang. Tapi kalau mendidik anak harus berhasil. Karena mendidik anak tak akan pernah bisa diulang"


    menjadi ibu rumah tangga agar lebih fokus dalam mendidik anak
    Pixabay


          Aku tak tahu siapa orang pertama yang menuliskan quote itu. Tapi aku setuju sekali dengan pesannya. Yup mendidik anak itu nggak boleh gagal. Kecuali jika kita ingin hari tua kita banyak diisi dengan penyesalan.

    Ayah Bunda, segala sesuatu itu pakai ilmu. Contohnya hal paling kecil saja, ke kamar mandi saja ada adabnya dan ilmunya kan yang harus kita perhatikan seperti harus berdoa dulu sebelum masuk kamar mandi, melangkah kaki kiri dulu dan lain-lain.

          Semuanya pakai ilmu, tapi apakah kita bisa menjamin asisten rumah tangga kita hapal doanya, orang tua kita yang kita titipkan anak tahu dengan teori pendidikan saat ini. Tidak kan? Sedangkan segala sesuatunya pakai ilmu kan dan ilmu terus berkembang.

    Karena alasan itulah yang membuatku ingin fokus di rumah dan mendidik generasi selanjutnya. Jadi ibu rumah tangga fokus di rumah mendidik generasi selanjutnya, ibu yang bekerja yang fokus menebar manfaat di luar sana.

          Jadi menurut aku, dua peran ini penting. Bukannya saling bersaing atau merasa lebih baik tapi harusnya saling menguatkan dan saling melengkapi satu sama lainnya. Tentu saja ibu bekerja yang aku maksud adalah ibu bekerja kerena alasan syar'i ya.

    3. Masa kecil anak yang tak akan terulang kembali
          Aku ingin menikmati setiap momen dan kebersamaanku dengan anakku. Karena ku tahu masa kecilnya hanya sebentar saja dan tak akan pernah terulang kembali. Seperti yang pernah ku tuliskan sebelumnya bahwa aku tak ingin menyesal di hari tuaku karena kehilangan banyak waktu bersamanya.

    alasan menjadi ibu rumah tangga karena masa kecil anak yang tak akan pernah terulang kembali
    Pixabay


          Aku masih ingin menjadi orang pertama yang ia cari ketika ia terbangun dan orang pertama yang ia cari untuk ia peluk ketika ia akan tertidur. Orang pertama yang selalu ia minta untuk menemaninya bermain dan belajar.

    Sebelum kelak akan datang masanya ia tak ingin lagi selalu dipeluk olehku, akan ada masanya bukan lagi orang pertama yang ia cari menemaninya karena nanti ia akan sibuk mencari teman-temannya untuk bermain di luar sana.

          Akan ada masa ketika ku tak lagi membersamainya karena ia telah sibuk dengan lain dan meninggalkanku yang kesepian. Akan ada masanya ia pergi dari rumah dan membangun hidupnya sendiri dengan caranya sendiri.

    Akan datang masanya ketika ia terasa diambil oleh orang lain pada saat dia harus menikah dan meniti hidupnya yang baru

          Sebelum masa itu datang. Sebelum kesepian itu merayapi hati. Aku ingin menikmati masa kecilnya dan memaknai semua momen-momen kebersamaananya dengan hati. Sebelum nanti sebelum nanti ia pergi dari hari-hariku untuk menikmati hari-harinya mengejar mimpi di luar sana. Jadi aku ingin menikmati masa kecil itu yang tak akan pernah terulang kembali

    4. Selalu ingin menjadi orang pertama baginya
          Di masa kecilnya, di masa tumbuh kembangnya, aku selalu ingin menjadi orang pertama yang tahu perkembangannya. Menjadi orang pertama yang tahu kepintaran apa yang telah ia buat dalam hari-harinya. Selalu ingin menjadi orang pertama yang ia panggil sebagai ibu. Selalu ingin menjadi orang pertama yang ada disaat ia membutuhkan ibunya.

    alasanku memilih menjadi ibu rumah tangga adalah demi anak


    Terutama usia 5 tahun ke bawah adalah usia-usia seorang anak yang sangat membutuhkan peran ibunya. Jadi, aku tak ingin melewatinya

    5. Masa keemasan anak
          Usia 5 tahun ke bawah adalah masa golden age anak. Dimana di masa ini anak banyak sekali dan mudah sekali untuk menyerap dan belajar segala sesuatunya.

    Jadi, aku ingin memanfaatkan masa ini untuk mengenalkan banyak hal padanya dan mengenalkan dunia ini dengan cara yang menyenangkan padanya

    Nah, selain alasan di atas, banyak juga pertanyaan yang dilontarkan padaku seperti:

    Baca juga: JANGAN KATAKAN 9 HAL INI PADA IBU RUMAH TANGGA



    Buat apa dong kuliah tinggi-tinggi tapi cuma jadi ibu rumah tangga?

          Menurut aku, segala sesuatu itu nggak ada yang sia-sia, ya. Bahkan sebuah daun yang jatuh saja memiliki alasan kenapa ia harus jatuh dan apa yang ia lakukan itu tak sia-sia, bukan? Karena jatuhnya daun untuk membantu sebuah pohon agar bisa menumbuhkan daun yang baru dan menyuburkan tanah. Apalagi kita.

          Menjadi seorang ibu itu dan mendidik itu butuh ilmu. Butuh bekal, jadi memang sudah sewajarnya dan sebaiknya seorang perempuan berpendidikan tinggi. Dimana pendidikan tingginya dan ilmunya dia gunakan untuk mendidik anak-anaknya

    Nggak takut rezekinya berkurang karena udah nggak kerja lagi?

          Nggak. Karena aku berprinsip suami bekerja dan istri yang bekerja atau tidak. Rezekinya tetap sama. Mungkin bagi istri yang tidak bekerja lagi, rezekinya berupa materi berkurang, tapi Allah melebihkan rezekinya di tempat yang lain.

          Misalnya di kesehatan anak dan keluarga. Anak dan suami jadi jarang sakit, karena kitalah yang mengurus langsung asupan nutrisi mereka. Anak kita bisa jadi lebih pintar, karena kitalah yang langsung mendidik mereka bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun

          Yang namanya rezeki itu kan sudah ada yang ngatur ya dan nggak melulu berupa materi tetapi ada rezeki bentuk lain. Tapi mungkin yang aku syukuri, aku nggak harus bekerja di luar sana adalah karena aku memiliki suami yang bertanggung jawab yang menjalankan sepenuhnya tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.

          Tapi bukan berarti ibu yang bekerja karena suaminya kurang bertanggung jawab, bukan. Hanya saja untuk sebagian ibu yang terpaksa bekerja karena alasan suaminya kurang bekerja keras dan kurang bertanggung jawab. Yang kayak gini ini nih yang aku bikin aku sedih

    Apa nggak takut bosan menjadi ibu rumah tangga?

          Kayaknya profesi apapun pasti akan pernah juga kita merasa di titik bosan. Ibu bekerja maupun ibu di rumah akan ada masa bosannya sendiri. Nah saran aku, agar kita tidak bosan dengan peran kita di rumah, kita harus temukan aktualisasi diri yang baru yang membuat hidup kita lebih berwarna.

          Karena bagaimanapun juga ya rasa untuk diakui dan aktualisisasi diri itu adalah kebutuhan dasar manusia. Oleh sebab itu, kok banyak ibu rumah tangga merasa dirinya tak lagi berguna atau malu dengan perannya? Salah satu alasannya adalah karena tak ada lagi yang mengakui keberadaan mereka.

          Jadi, penting sekali seorang ibu rumah tangga itu tetap di berikan sedikit ruang untuk mereka menemukan bentuk aktualisasi diri yang membuat mereka tetap mendapakan pengakuan dan tetap juga bisa fokus di rumah

    Misalnya seperti aku, sejak jadi ibu rumah tangga aku jadi tahu bahwa ternyata aku bisa menulis juga lho dan jadilah aku seperti saat ini yaitu menjadi seorang parenting blogger

    Apa aku akan jadi ibu rumah tangga selamanya?

    Nggak. Karena nanti ketika anak aku udah bisa ditinggal misalnya ketika dia sudah berusia 5 tahun dan udah sekolah. Aku ingin mengejar mimpiku kembali. Merajutnya dan mengembangkannya. Aku ingin terbang tinggi untuk mengejar ketertinggalanku di luar sana dan meraih mimpi

          Nah, karena alasan-alasan itulah yang membuatku memilih peran sebagai ibu rumah tangga dan membuatku mensyukuri banyak hal dari peranku ini. Karena aku bisa membersamai buah hatiku di awal-awal kehidupannya dan di masa-masa terpentingnya. Selain itu, karena ku tahu tak semua ibu bisa memilih peranku seperti ini walau mereka ingin sekali.

    Baca juga: BEDANYA IBU RUMAH TANGGA BIASA DENGAN IBU RUMAH TANGGA LUAR BIASA

    Dan teruntukmu para ibu yang terpaksa berjuang di luar sana dengan alasanmu. Semoga Allah menguatkanmu dan menjaga anak-anakmu di rumah. Tetaplah semangat apapun profesimu dan dimanapun engkau berada. Jadi ibu bekerja dan ibu rumah tangga itu, sama-sama hadir untuk saling mengisi dari peran mereka masing-masing di kehidupan ini.

    Buat Bunda yang ingin membaca cerita blogger profesional Mba Dian kenapa beliau juga memilih menjadi ibu rumah tangga atau Teh Nurul yang berbagj tentang cara produktif dari rumah bisa klik link warna merah itu ya

    Baca juga: INI DIA ALASAN MENGAPA IBU RUMAH TANGGA HARUS TETAP PUNYA PERAN DI MASYARAKAT


    Semangatttt kita 😘😘😘








    Tuesday, March 12, 2019

    Keterampilan Seperti Apa yang Perlu Kita Persiapkan untuk Bekal Anak Kita di Masa Depan?


    keterampilan yang perlu kita persiapkan untuk bekal anak kita di masa depan
    Pixabay

           Pernah nggak sih kita bertanya pada diri kita atau bersama-sama pasangan kita, bekal apa sih yang akan kita persiapkan untuk anak kita di masa depannya? Karena penting lho Ayah Bunda, mempersiapkan pendidikan anak kita di masa depan itu. Kita membangun sebuah rumah saja harus ada konsep dan perhitungannya kan ya? Masa mempersiapkan anak kita tidak memiliki konsep pendidikannya dan tindak lanjut dari rencana kita itu.

    Nah, kembali lagi pada bekal ini. Kita sah-sah saja mewariskan rumah, uang, asuransi dan segala bentuk materi pada anak. Hanya saja apa kita yakin semua materi itu dapat menjaga anak-anak kita? Tentu tidak bukan. Sebanyak apapun materi yang kita punya lalu diwariskan kepada mereka, pasti akan habis juga.

          Dari sana kita bisa belajar bahwa materi bukanlah segalanya. Terutama menghadapi tantangan di zaman ini. Tentu kita tahu ya Ayah Bunda, bahwa zaman ini berbeda dengan zaman kita dulu dibesarkan. Jadi tantangannya di zaman ini semakin banyak dan semakin rumit untuk anak-anak kita.

          Jadi, jika kita tidak mempersiapkan anak-anak kita untuk tangguh menghadapi tantangan di zamannya, itu bisa repot sekali. Boleh dibaca ya Ayah Bunda di sini hasil kajian parenting yang saya ikuti tentang mendidik anak agar tangguh di zamannya dan mendidik generasi aqil baligh. 

    Lalu, muncul pertanyaan bekal seperti apa sih yang perlu kita persiapkan untuk anak-anak kita di masa depannya?


    Keterampilan Seperti Apa yang Perlu Kita Persiapkan untuk Bekal Anak Kita di Masa Depan?


    bekal dan keterampilan  yang perlu kita persiapkan untuk masa depan anak-anak kita
    Pixabay

          Jujur ya Ayah Bunda, bahasan materi tulisanku kali ini berat sampai aku banyak baca untuk memperkuat tulisanku ini hahaha. Allhamdulillahnya aku dibantu oleh Ibu Nanan Nuraeni untuk memberikan tambahan materi ini padaku.

          Beliau adalah guruku dan seorang praktisi pendidikan yang sudah lama sekali mencurahkan ilmu dan kemampuan beliau di dunia pendidikan. Makasih Bu Nanan sudah membantu 😘.

    Langsung aja kalau begitu ya Ayah Bunda kita bahas. Keterampilan atau skill yang dibutuhkan anak di masa mendatangnya ada 2 yaitu:

    keterampilan anak secara akademik, hard skil
    Pixabay

    1. Hard Skill
          Hard skill adalah keterampilan yang bisa tampak langsung oleh kita atau keterampilan yang bisa dilatih. Contohnya seperti keterampilan akademik, keterampilan sosial dan keterampilan teknis. Kita bahas satu-satu ya Ayah Bunda

    Keterampilan akademik 
    Contohnya kemampuan berhitung, membaca, dan sesuatu yang sifatnya pengetahuan

    Keterampilan bersosialisasi
    contohnya mudah bergaul, ramah, bagus dalam berkomunikasi, mau bekerja sama dan lain-lain

    Keterampilan teknis 
    Contoh bisa memasak, mengendarai kendaraan, keterampilan pertukangan, mengasah bakat, dan lain-lain


    Cara Menstimulasi Hard Skill


    mengajarkan anak dengan cara menyenangkan
    Pixabay

    1. Membuat anak mencintai pengetahuan bisa kita mulai dari hal-hal sederhana dan dari sedini mungkin. Misalnya sering membacakan anak buku cerita, dari sana anak akan belajar mencintai buku. Dari mencintai buku itu anak akan belajar mencintai ilmu dan pengetahuan. Bukankah salah satu sumber ilmu dan pengetahuan itu adalah buku? Kalau begitu buat ia mencintai buku. Buku di sini bukan hanya buku umum ya tapi juga Al-Quran

    2. Biarkan anak bereksloprasi sebebas-bebasnya
    Biarkan anak bereksplorasi sebebas-bebasnya selama masih jalur aman, biarkan saja. Karena dari bereksplorasi inilah anak belajar menemukannya sendiri.

    3. Biarkan anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar
    Jadi jangan banyak melarang anak ya Ayah Bunda. Selama itu tidak berbahaya, tidak melanggar prinsip dan tidak mengganggu orang lain. Biarkan saja. Percaya tidak, katanya pengalaman adalah guru terbaik untuk kita belajar. Jadi biarkan anak belajar dari pengalaman langsung dan dari interaksinya itu

    5. Buatlah proses belajarnya itu menyenangkan bagi anak
    Nah, kalau kita ingin anak kita pintar ya caranya harus menyenangkan dong. Misalnya kita ingin anak belajar sesuatu, kemas materinya dengan metode permainan, atau pengamatan, atau dengan nonton dan lain-lain pokoknya yang bikin anak senang

    6. Stimulasi aspek tumbuh kembangnya seperti aspek agama, bahasa, kognitif dan lain-lain

    7. Stimulasi kecerdasasan majemuk anak seperti kecerdasan matematika, spatial, kecerdasan musikal dan lain. Lengkapnya tentang kecerdasan majemuk ini ada di sini ya

    8. Dan lain-lain.

    Sementara yang di atas hanya gambarannya saja ya Ayah Bunda cara menstimulasi hard skill ini


    Pengetahuan seperti apa yang perlu anak pelajari?


    membacakan buku cerita pada anak menstimulasi keterampilan berbahasanya
    Pixabay

    Pengetahuan agama
    Ini wajib ya Ayah Bunda. Kenapa? Karena

    "Agama tanpa ilmu itu lumpuh. Sedangkan ilmu tanpa agama itu buta"

    Jadi, agama dan ilmu ini saling berkaitan. Nggak bisa dipisah-pisahkan. Bahkan Allah saja

    Dalam surat Al Mujadilah ayat 11. Allah Ta’ala berfirman :

    يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

    “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.“ (Al Mujadilah : 11).

    Nah, dari ayatnya saja sudah jelas ya bahwa iman (agama) dan ilmu itu saling berkaitan

    Pengetahuan umum
    Nah, yang kedua baru pengetahuan umum ya bisa apa aja dan ilmu ini banyak

    Itu dia Ayah Bunda soal hard skill ya. Sekarang kita lanjut ke soft skill


    2 Soft Skill
       

    keterampilan soft kill
    Pixabay

          Soft skill ini adalah keterampilan yang berhubungan dengan kecerdasan emosi dan ini bukan keterampilan yang tampak secara langsung oleh kita atau kemampuan ini bisa disebut metakognitif. Pada umumnya keterampilan soft skill ini berhubungan dengan intra personal atau interpersonal.

    Contoh Soft Skill 


    Misalnya kemampuan merencanakan, mempertimbangkan, meng-analisis, beradaptasi, survival, coping/akomodatif terhadap masalah, dll.

          Nah, sepintar apapun akademik atau hard skill anak kita, tetapi tidak mempersiapkan untuk aspek emosinya, itu berbahaya. Buat apa pintar tetapi pengecut, gampang menyerah, mudah marah pada orang lain, tidak tangguh menghadapi tantangannya dan lain-lain. Sedangkan keterampilan emosi ini akan bermain ke dalam semua aspek kehidupan dan dalam semua peran kita


    Cara Menstimulasi Soft Skill

    kemandirian adalah salah satu bekal yang perlu kita persiapkan pada anak kita sedini mungkin
    Pixabay


    1. Hindari pola asuh yang keras atau pola asuh yang memanjakan anak

    2. Biarkan anak berusaha sendiri tetapi harus disesuaikan dengan kemampuannya.

    3. Ajarkan anak hidup dengan cara adaptif. Ini akan membuat anak mudah beradaptasi baik di waktu lapang maupun di waktu sulitnya. Jadi, jangan biasakan anak dengan hidup yang nyaman terus hingga ia tak tertempa oleh rasa sulit

    4. Stimulasi aspek emosinya dengan menumbuhkan rasa simpati dan empati pada orang lain. Agar anak bisa belajar menghargai segala sesuatunya

    5. Biasakan hidup mandiri dari sejak dini sesuai usianya. Kemandirian adalah salah satu keterampilan cara bertahan hidup di masa depannya

    Baca juga: AYAH BUNDA! YUK, KITA AJARKAN KEMANDIRIAN PADA ANAK SEJAK DINI

    6. Arahkan anak untuk merencanakan apa yang ada dipikirannya dan ajarkan ia untuk mengambil keputusan. Jika banyak saat ini para kepala keluarga yang tidak tegas, tidak bertanggung jawab. Salah satu alasannya karena kemampuan memecahkan masalah dan mengambil keputusan tidak terstimulasi sejak kecilnya

    7. Dan lain-lain

          Jadi, Ayah Bunda keterampilan hard skill dan soft skill ini penting sekali kita persiapkan untuk bekal anak kita di masa depannya. Terutama soft skill ya. Tapi jangan lupa yang terpenting ya Ayah Bunda adalah bekali keterampilan ini dengan membersamainya dengan iman. Agar anak kita bukan hanya tangguh di masa depan tapi juga dicintai Rabbnya.

           Nah, sudahkah kita memulai mempersiapakan keterampilan ini untuk masa depan anak-anak kita? Share dong ceritanya 😉. Oh ya buat Ayah Bunda yang ingin menambah pengetahuannya bisa juga membaca tulisan ini "Pentingnya bekal pengetahuan, keterampilan, dan sikap positif untuk masa depan anak" dan "Strategi melatih metakognisi pada anak"




    Sunday, March 10, 2019

    Tahukah Kita Ayah Bunda Bahwa Bahaya Stunting sedang Mengancam Anak-anak Kita

    tahukah kita ayah bunda bahwa bahaya stunting sedang mengancam anak-anak kita
    Kegiatan pengukuran tinggi badan anak di sebuah posyandu 

    "Ayah, Dede usianya udah 3 tahun tapi kok tingginya cuma 87 cm, ya? Harusnya kan minimal 87,4 cm untuk usianya dia. Jangan-jangan Dede stunting lagi. Huhuhu 😭"

    Itulah kata-kata yang mengandung kecemasan di dalam hatiku yang terlontar begitu saja pada suami. Sebagai seorang perempuan yang baru 3 tahun bergelar menjadi seorang ibu, aku sungguh mengkhawatirkan itu dan sibuk bertanya pada diri "Erysha pendek karena turunan aku ama suami atau stunting ya?" Secara aku dan ayahnya Erysha juga termasuk pendek dan mungil sih hehehe

          Tapi untungnya yang membuatku lega adalah berat badan Erysha dari masa kandungan hingga kini, selalu sesuai dengan usianya dan termasuk kategori gizi baik. Aku memang berusaha sekali memperhatikan asupan gizi yang ku berikan pada Erysha dengan gizi seimbang seperti memperhatikan karbohidratnya, proteinnya (protein nabati & hewani), seratnya, vitaminnya dan lain-lain.

    "Kok Bunda Erysha bisa tahu sih anak kita berat badannya sesuai usianya atau tidak begitu juga dengan tingginya?" Nanti aku jelaskan di bawah ya Ayah Bunda

    Allhamdulillahnya juga Erysha dari lahir tumbuh sangat sehat dan gemuk karena makannya bagus. Saking gemuk dan beratnya, banyak orang-orang tidak percaya kalau Erysha itu bukan anak kami, lho *nggak sopan sekali ya mereka. Mentang-mentang orang tuanya kurus pendek, tapi kok anaknya gendut hehehe atau jangan-jangan yang stunting itu bukan anaknya tapi orang tuanya ya *plakkkkk

          Tapi untung kalau tetangga percaya sih itu anak kami, karena tahu waktu aku lagi hamilnya hahaha. Tapi beneran lho Ayah Bunda, stunting itu bukan hanya soal pendek, tapi ada bahaya lain yang mengancam dibalik itu. Kita belajar tentang stunting, yuk!


    Apa itu stunting?


    pentingnya menimbang berat badan anak setiap bulannya untuk mengetahui gizi anak
    Erysha lagi ditimbang berat badannya di posyandu

          Stunting adalah sebuah keadaan gagal tumbuh yang terjadi pada anak balita. Dimana faktor utamanya adalah anak kekurangan gizi secara kronis yang berlangsung dalam waktu yang lama. Biasanya stunting ini disebabkan oleh kemiskinan, kurang gizi, salah pola asuh dan kurangnya orang tua membekali diri dengan pengetahuan.

    Baca juga: INI DIA 5 KESALAHAN POLA ASUH GIZI PADA ANAK YANG JARANG DIKETAHUI ORANGTUA

    Stunting ini terjadi dari janin dalam masa kandungan dan mulai nampak pada anak berusia 2 tahun. Apa yang menyebabkan seorang anak mengalami stunting?


    Penyebab Stunting 


          Situs Adoption Nutrition menyebutkan, stunting berkembang dalam jangka panjang karena kombinasi dari beberapa atau semua faktor-faktor berikut:
    ✔️ Kurang gizi kronis dalam waktu lama
    ✔️ Retardasi pertumbuhan intrauterine
    ✔️ Tidak cukup protein dalam proporsi total asupan kalori
    ✔️ Perubahan hormon yang dipicu oleh stres
    ✔️ Sering menderita infeksi di awal kehidupan seorang anak

    Jadi, betapa pentingnya kita sebagai orang tua memperhatikan apa saja yang menyebabkan seorang anak menjadi stunting dan berusahalah memberikan asupan gizi yang seimbang ya Ayah Bunda. Walau pun kita suka menemukan anak kita terkadang susah makan ya Bun huhuhu. PR kita ini


    Gejala Stunting


    Ayah Bunda kita perlu memperhatikan apa saja gejala stunting ini seperti

    ✔️ ketika tubuh anak pendek dan tidak sesuai usianya
    ✔️ berat badannya tidak sesuai usianya
    ✔️ terlambat pertumbuhan tulangnya


    Bagaimana kita bisa tahu anak kita termasuk pendek atau tidak?


    pemeriksaan anak di posyandu, bahaya stunting
    Kegiatan di posyandu

          Periksakan anak setiap bulannya ke petugas kesehatan misalnya posyandu. Catatlah setiap bulan berat badan anak. Apakah mengalami kenaikkan ataukah tidak. Jika dalam 2 bulan berturut-anak tidak mengalami kenaikan berat badan, konsultasikan pada petugas kesehatan dan cek apakah berat badan anak sesuai dengan usianya ataukah tidak.

          Selain itu jangan lupa setiap bulan ukur pula tinggi badan anak. Apakah bertambah ataukah tidak dan sesuai dengan usianya ataukah tidak.

    Ayah Bunda, kita bisa mengecek berat badan dan tinggi anak kita sesuai dengan usianya ataukah tidak, dengan melihat tabel tumbuh kembang anak yang ada di buku kesehatan ibu dan anak, yang berwarna pink ini lho Ayah Bunda. Ini adalah buku dari pemerintah yang biasanya diberikan pada ibu hamil dan orang tua yang memiliki balita. Ayah Bunda punya kan ya? Jika tidak, bisa meminta pada petugas kesehatannya ya atau boleh juga menggunakan tabel tumbuh kembang sumber lain


    foto buku kesehatan ibu dan anak, buku kesehatan dari pemerintah
    Foto: Glitzmedia.co


          Aku pun mengecek tabel tumbuh kembang Erysha dengan mengunakan buku ini juga, lho. Dicatat ya Ayah Bunda, kalau seandainya tidak kita catat, minimal kita ingat ukuran berat badan anak kita dan tingginya di bulan sebelumnya lalu membandingkannya di bulan yang sekarang untuk memudahkan kita memantau tumbuh kembang anak kita

          Jika anak kita tidak tumbuh dan berkembang sesuai usianya atau tidak seperti anak kebanyakan, segera konsultasikan pada ahlinya ya Ayah Bunda.


    Apa bahaya stunting?


    Stunting ini bukan hanya menyebabkan anak pendek, tapi ada banyak bahaya lain yang mengintainya seperti

    1. Menghambat tumbuh kembang anak ke depannya

    Baca juga: IDENTIFIKASI ABK SEJAK DINI MELALUI TUMBUH KEMBANG ANAK

    2. Cenderung menjadikan anak berkebutuhan khusus dikemudian hari
    3. Kesulitan belajar
    4. Bermasalah dalam aspek kognitifnya
    5. Kurang lincah jika dibandingkan anak-anak yang lain karena aspek motoriknya menjadi terganggu
    6. Rentan terkena infeksi dan mudah terkena sakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan lain-lain

          Huhuhu seram ya Ayah Bunda dan anak yang sudah terkena stunting ini tidak bisa dikembalikan lagi kondisinya seperti dulu. Walau begitu, tetap diperhatikan gizinya untuk tidak memperparah keadaannya dan tahukah kita Ayah Bunda bahwa Indonesia saat ini dalam keadaan darurat stunting, lho. Yuk kita tengok faktanya


    Stunting Mengancam Anak-anak Indonesia


    buku tumbuh kembang anak, standar tinggi anak sesuai usianya


          Tahukah kita Ayah Bunda menurut riset Kesehatan Dasar 2013 mencatat prevalensi stunting nasional mencapai 37,2 persen, meningkat dari tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Artinya, pertumbuhan tak maksimal diderita oleh sekitar 8,9 juta anak Indonesia, atau satu dari tiga anak Indonesia. Prevalensi stunting di Indonesia lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Myanmar (35%), Vietnam (23%), dan Thailand (16%).

          Bahkan Indonesia menduduki peringkat ke lima terbanyak di dunia. Lebih dari sepertiga anak berusia di bawah lima tahun di Indonesia tingginya berada di bawah rata-rata. Hiks sedih ya.

    Menurut data tersiar (World Bank) yang terbaru, “Sekitar 37% atau 9 juta balita Indonesia saat ini mengalami stunting, yaitu pertumbuhan yang terhambat termasuk otak sang anak,” demikian ujar Country Director World Bank Indonesia Rodrigo Chavez dalam sebuah acara di Jakarta (19/9/18).

          Tentu saja ini pun menjadi kerugian ekonomi jangka panjang bagi Indonesia. Karena banyak anak-anak bangsa yang seharusnya produktif pada masanya tetapi tidak tumbuh dan berkembang dengan seharusnya. Bagaimana tidak menyedihkan jika generasi bangsa kekurangan gizi begini dan apa kabarnya masa depan anak bangsa kita jika ini terus berlanjut? Karena stunting mempengaruhi kualitas dan kuantitas SDM yang mampu berkembang dan berkontribusi untuk bangsa ini

    Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita sama-sama memutuskan lingkaran setan ini dan bergabung dengan saya menjadi salah satu pejuang di generasi emas (bisa di klik ya Ayah Bunda) dengan visi misinya


    VISI & MISI GERAKAN EMAS


    1. Mempersiapkan Indonesia memasuki Jaman keemasan pada tahun 2030 "Indonesia Emas"

    2. Indonesia Emas bergantung kepada Generasi Emas Indonesia. Mereka berusia 15-64 tahun yang jumlahnya 70% tenaga kerja produktif pada tahun 2030.

    3. Gerakan Emas bertujuan menyelamatkan Generasi Emas dari ancaman-ancaman yang menjadi penghalang, yang terutama ancaman Stunting.

    4. Gerakan Emas adalah Gerakan Emak-Emak dan Anak-Anak minum susu, yang akan menghilangkan ancaman Stunting atau kurang gizi kronis yang menghambat Generasi Emas.

    5. Gerakan Emas adalah gerakan membagi Sapi Perah dan Kambing kepada sebuah komunal yang terdiri atas 10 keluarga. Susunya akan diminum anak-anak mereka, sisanya dijual ke koperasi/pasar

          Nah, itu dia Ayah Bunda betapa stunting ini perlu kita perhatikan. Jangan sampai bahaya stunting ini semakin mengancam anak-anak kita dan memperburuk keadaan anak bangsa. Yuk, kita penuhi asupan gizi seimbang anak-anak kita sedini mungkin terutama di 1000 hari kehidupan pertama mereka


    Twitter : @gerakanemas2030
    Instagram : @gerakanemas2030
    Website : GerakanEmas.id


    Wednesday, March 6, 2019

    Ini Tentang Pekerjaan Rumah, ART, dan Anak yang Sering Terlupakan Oleh Kita

    ini tentang pekerjaan rumah, art dan anak yang sering terlupakan oleh kita

           Terkadang kalau dipikir-pikir ya. Waktu kita itu lebih banyak menghabiskan pekerjaan rumah yang tiada habis-habisnya dan disibukkan ngurus ini itu daripada membersamai anak kita ya. Terkadang juga saking lelahnya mengerjakan pekerjaan rumah itu, anak bertingkah sedikit saja membuat kita lebih mudah emosian jadinya. Boro-boro mau membersamai anak dengan cinta. Kalau lagi capek itu pengennya istirahat, dan hiburan. Betul ibu-ibuuuuu?

    Jadi, kalau ada yang pakai asisten rumah tangga itu, jangan suka dinyinyirin maleslah, nggak hebatlah, manjalah. Nggak usahhhhhhhh. Kenapa? Kalau mereka mampu membayar seorang asisten rumah tangga, berbagi rezeki dengan orang lain, mereka ingin lebih fokus mengurus suami dan anak-anak mereka dan demi kewarasan mereka. Lalu, dimana letak salahnya???

          Daripada kita udah sibuk aja terus mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi ketika anak minta main, minta ditemani, kita jadi ogah-ogahan dan nggak dengan hati membersamai mereka atau mungkin dengan marah-marah menghadapi mereka. Terus udah gitu nyinyirin orang yang pakai ART dan ngerasa diri kita lebih hebat. No...no...no. Dimana letak hebatnya begitu?


    Tentang Pekerjaan Rumah, ART dan Anak yang Sering Terlupakan Oleh Kita

    hal-hal yang harus diperhatikan ketika memilih asisten rumah tangga atau tidak

          Jadi, kalau kita belum mampu menyewa ART atau nggak mau pakai ART dan masih punya anak kecil yang butuh perhatian. Nggak perlulah ya terlalu perfeksionis rumah harus rapi, semua harus tertata pada tempatnya, semua harus selesai tepat pada waktunya atau semua harus berjalan sesuai keinginan kita. Nggak perlu. Karena itu hanya membuat kita semakin lelah gara-gara terlalu banyak ekspektasi di dalam diri kita.

    Baca juga: BEKERJA DI RUMAH TANPA ART. YES OR NO?

    Nggak apa-apalah rumah berantakan juga, piring kotor numpuk, cucian baju minta dicuci, baju nggak kesetrika. Nggak apa-apa. Kita kerjakan aja semampu kita. Yang terpenting prioritas utama kita adalah anak bukan pekerjaan rumah. Daripada kita sibuk mengerjakan ini itu, tapi membuat kita kehilangan banyak waktu bersama anak-anak kita atau raga kita ada tapi hati kita bukan pada anak. Lalu dimanakah kita bisa membuat anak kita merasa bahagia jika hati ibu mereka bukan pada mereka?

          Percaya deh ibu-ibuuuuuu. Salah satu kebahagian anak kita adalah ketika kita mau menemaninya bermain dan tertawa bersama.  Sederhana bukan? Yup, sesederhana itu kebahagiannya. Jadi jangan lupa temani mereka dan stimulasi tumbuh kembang mereka.

          Terus kalau kita udah mampu menyewa asisten rumah tangga. Jangan jugalah ya semua dikerjakan ama ART. Kenapa? Bagaimana anak bisa belajar cara mengerjakan pekerjaan rumah dan melatih kemandirian mereka kalau mereka tidak melihat teladan itu dari diri kita?

          Walau punya ART tetap sesuatu yang sifatnya kemandirian kita dan anak kita itu. Kita usahakan sendiri. Jangan sedikit-dikit nyuruh-nyuruh ART dan bikin anak kita manja ama nggak mandiri. Itu bahaya cinnnnn.

          Terus jangan juga ya. Mentang-mentang punya ART bikin kita ngasih anak kita ke mereka. Tetap dong harus kita yang mengurus mereka, harus kita yang megang mereka. Biarkan para ART itu bekerja soal pekerjaan rumah saja. Anak tetap harus kita yang men-handle karena itu tanggung jawab kita. Kecuali kalau anak kita banyak atau usianya berdekatan, mau nggak mau kita perlu minta tolong ART untuk ikut membantu kita. Beda cerita kalau ibunya bekerja di luar ya, karena sikonnya nggak sama

    Jadi, pinter-pinter kitalah ya nyeimbangin semuanya dan kitalah yang paling tahu sikon kita. Bukan orang lain. Udah gitu doang. Oh ya jangan lupa bahagia ya. Karena lagi-lagi aku ulangi

    "Anak-anak kita itu tidak butuh ibu yang tangguh, dia cuma butuh ibu yang bahagia"

    Baca juga: BELAJAR BAHAGIA DARI ANAK

    So, jangan lupa bahagia kita

    #Lagi Ngomong Ama Diri Sendiri
    #Menjadi ibu itu nggak mudah
    #Cuma Emak Yang Tahu Rasanya
    #Nggak Usah Galau Lagi antara Pekerjaan Rumah, ART dan Anak


    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES