• Tuesday, May 22, 2018

    Cara Meninggalkan Anak di Rumah Tanpa Drama

    cara meninggalkan anak di rumah tanpa drama
    Pixabay

    Hari ini karena saya ada keperluan dulu sebentar ke luar. Lalu, saya meninggalkan Erysha (2y3m) ke neneknya di rumah. Karena kebetulan kami sedang berlibur di rumah nenek tanpa ayahnya. Walau pasti ada sedikit keresahan ya di dalam hati. karena dalam waktu setengah hari pasti akan berbeda pola asuh antara saya dan neneknya selama berjam-jam dan Erysha pasti dibolehin sering-sering nonton TV dan makannya jadi kurang baik. Kenapa? Karena Erysha pasti lebih banyak makan cemilan daripada makan menu utamanya dan di rumah banyak orang yang senang nonton sinetron hehehe. Bikin deg-degan dong. 

    Jadi, mau nggak mau saya jadi sering mengingatkan orang rumah kalau ada Erysha hihihi. Walau begitu, pasti ada banyak juga ya Bun nilai-nilai dari pengasuhan keluaga besar kita, yang bisa kita ajak anak untuk mengambilnya. Seperti rasa kekeluargaan, bonding nenek dengan cucunya, dan momen-momen kebersamaan dengan tante dan omnya. Asal tetap di bawah asuhan kita sebagai tonggak utamanya dan nggak sering-sering juga kan anak kita berkumpul dengan keluarga besar

    Soal meninggalkan anak, saya lebih suka meninggalkan Erysha pada ayahnya atau neneknya. Nggak berani menitipkan Erysha pada selain itu. Tetapi, bagaimana dengan ibu bekerja, yang terkadang terpaksa harus menitipkan anak kepada pengasuh yang bukan berasal dari keluarga. Menurut saya tidak apa-apa ya Bun. Asalkan pengasuh itu memang sudah terpecaya oleh kita.

    Namun, sebagai ibu terkadang ketika kita harus pergi keluar sebentar atau untuk bekerja. Membuat kita terpaksa juga ya Bun untuk meninggalkan anak kita di rumah. Sayangnya dalam meninggalkan anak di rumah ini suka banyak drama ya Bun biasanya. Ya nggak?

    Nah, hari ini saya dan Bunda Eni janjian nih bikin colab berdua. Bunda Eni ini Blogger Parenting juga lho, Bun. Ceritanya kita mau membagikan tips dari versi masing-masing kita, bagaimana cara kita meninggalkan anak di rumah tanpa drama. Karena memang Bunda Eni ini pernah ninggalin anaknya lebih dari sehari karena harus keluar kota.

    Buat Bunda yang mau lihat cara Bunda Eni meninggalkan anaknya di rumah. Boleh mampir ke sini ya.

    Meninggalkan Anak Bersama Suami, is The Best 

    Cara Meninggalkan Anak di Rumah Tanpa Drama 

    memeluk anak
    Pixabay

    1. Sering ajak anak bicara 
    Bunda, terkadang banyak dari kita sebagai orangtua senang meninggalkan anak di rumah dengan diam-diam atau dengan cara membohongi anak. Tetapi, kita lupa dengan cara kita yang selalu membohongi anak, tanpa kita sadari akhirnya kita pun mengajarkan anak bahwa berbohong itu diperbolehkan karena anak melihat contoh itu dari kita. Jangan salahkan jika anak-anak kita belajar itu dari kita, ya

    Jadi, daripada kita membohongi anak. Lebih baik sering kita ajak anak bicara. "De, Bunda kerja dulu ya? Bunda kerja biar bisa beli susu dede". Jelaskan kepada anak mengapa kita harus meninggalkannya dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami anak. Agar anak tahu alasannya. Kalau kita perginya hanya sebentar, kita bisa sebelum tidur malam ajak anak bicara bahwa besok kita mau pergi tanpa dia. Dan kalau kita mau pergi untuk beberapa hari. Sering ajak anak bicara jauh-jauh hari pula. Cara itu agar kita bisa memberikan waktu pada anak untuk mempersiapkan hatinya

    2. Mantapkan diri kita
    Bunda, jika memang kita harus meninggalkan anak. Lakukanlah dengan hati yang mantap. Karena jika kita ragu-ragu dan begitu khawatir, anak bisa merasakan itu dan itu pasti membuat keadaan menjadi sebuah drama

    3. Meminta izin pada anak
    Jika akan pergi, jangan lupa untuk meminta izin dan pamit secara baik-baik pada anak. Peluk dia, cium keningnya dan lambaikan tangan pada anak dan katakan kalau Bunda hanya pergi sebentar dan kita akan bertemu kembali.

    4. Buat program anak di rumah
    Buat program anak di rumah. Seperti jadwal aktivitas anak sehari-hari di rumah. Jadi, kita pun tahu jam segini anak sedang melakukan apa saja dan pastinya itu lebih menenangkan ya Bun ke kitanya, walau sedang tidak ada di samping anak

    5. Bekerjasama dengan pengasuh
    Samakan pola asuh kita pada pengasuh. Mana saja yang boleh untuk anak dan mana yang tidak dan jelaskan alasannya. Misalnya anak tidak boleh nonton film-film orang dewasa seperti sinetron, film kekerasan dll dan batasi waktu nonton yang diperbolehkan untuk anak. Misalnya sehari cuma boleh sejam aja dan semua tergantung usia anak.

    6. Buat kegiatan untuk anak di rumah
    Buat kegiatan anak di rumah. Baik itu kegiatan stimulasi untuk anak atau mengerjakan PR sekolah. Jika, memang kita ingin menstimulasi anak misalnya mewarnai, jangan lupa falitasi sarana belajarnya. Dan minta pengasuh yang mengawasinya. Ada baiknya kita sendirilah yang menyediakan alat belajarnya, karena kitalah yang lebih mengetahui apa yang dibutuhkan anak

    Baca juga: KEGIATAN ANAK

    Baca juga: 5 KEGIATAN SEDERHANA UNTUK MENSTIMULASI ANAK DI RUMAH

    7. Sering menghubungi anak
    Sering-seringlah menelepon anak. Apalagi sekarang sudah ada video call ya Bun. Jadi semakin memudahkan untuk kita berkomunikasi. Sering menghubungi anak akan membuat anak merasa tetap dekat dengan ibunya walau sedang berjauhan

    8. Tepati janji 
    Jika kita sudah bilang kita hanya pergi sebentar pada anak. Berarti kita harus tepati kata-kata itu. Jika tidak, anak akan lebih sulit lagi ditinggal nanti. Karena anak tidak percaya lagi pada kita. Dan memang sebaiknya kalau urusan kita sudah selesai. Segeralah untuk pulang, ada anak-anak kita yang sedang menunggu ibunya di rumah.

    Setelah di rumah kitalah yang seharusnya mengambil alih anak-anak kita dari pengasuh. Walau selelah apapun kita di luar sana. Ini untuk membangun bonding kita bersama anak-anak kita. Jangan sampai anak-anak kita lebih merindukan pengasuhnya daripada kita ibunya. Dan itu pasti sakit sekali bukan

    Baca juga: BUNDA, INGIN MENJADI SESEORANG YANG DIRINDUKAN OLEH ANAK-ANAK KITA? LAKUKAN SAJA 4 HAL SEDERHANA INI!

    Begitu Bunda cara saya meninggalkan anak di rumah tanpa drama. Kalau untuk ibu bekerja pasti akan sulit di awal, tetapi percayalah jika kita sering memberikan pengertian pada anak dan tetap berusaha memenuhi kebutuhan psikis anak, tak akan ada lagi drama ketika harus meniggalkan anak di rumah.

    Nah, Bunda setelah setengah hari saya meningglkan Erysha di rumah. Pas pulang-pulang, Erysha langsung berlari menyambut Bundanya. Langsung meluk terus ngesun Bundanya. Aduh saya langsung terharu sambil bilang di dalam hati "Aduhhhh, nih anak ya meni so sweeeet bangettt sih". Lalu, saya membalas memeluk Erysha "Dede, kangen Bunda, ya?" Tanyaku. "Iya Dede kangen Bunda" jawabnya sambil berkata selanjutnya"Tadi Dede cedihhhhh". "Oh Dede, tadi sedih ya ditinggalin Bunda?" Tanya saya. "Iyaaaa" jawabnya sambil memeluk saya

    Ya Allah lagi-lagi saya terharuuuu. Apa Bunda pernah merasakan momen kayak gitu? Pasti pernahlah ya. Gimana rasanya? Pasti senenglah ya, kepulangan kita selalu dirindukan oleh anak-anak kita. Kehadiran kita selalu mereka pertanyakan. Indah bukan rasanya? Kalau begitu, nikmatin momen itu. Jangan suka mengeluh anak yang inginnya ditemanin terus, anak yang inginnya sama kita terus, anak yang kemana-mana harus ada ibunya di sampingnya, dan anak yang maunya apa-apa sama kita.

    Pokoknya membuat kita sampai berkali-kali tarik nafas karena selalu ditempelin sama anak terus. Terkadang membuat kita kurang memiliki waktu untuk diri kita sendiri. Nikmatilah momen-momen anak yang begitu, yang berusaha keras mencari perhatian kita. Tetapi percayalah, suatu hari nanti ketika mereka mulai tumbuh remaja dan dewasa. Kitalah yang akan rindu dan kita pulalah yang akan berusaha keras mencari perhatian mereka. Termasuk momen ketika kita meninggalkan anak di rumah tanpa drama dan berterima kasihlah padanya untuk pengertianya itu







    Sunday, May 20, 2018

    Bersabarlah Mengajarkan Sabar pada Anak

    bersabarlah mengajarkan sabar pada anak
    Pixabay


    Dear Ayah Bunda!
    Apa kabar puasanya beberapa hari ini? Tetap semangat kan? Nah, hari ini saya lagi-lagi akan memberikan materi seminar parenting online yang saya ikuti. Seminar ini diadakan oleh Sygma Daya Insani, (gentara). Sayang kan kalau materinya buat saya sendiri atau terlupakan begitu saja. Jadi, hari ini saya bagikan kepada Ayah Bunda semua untuk kita sama-sama belajar tentang "Cara Mengajarkan Sabar pada Anak"

    Baca juga: BUNDA INGIN MENGAJARKAN MEMBACA PADA ANAK? BISA COBA DENGAN METODE MONTESSORI INI

    Bersabarlah Mengajarkan Sabar pada Anak 


    Sebelumnya buat Ayah Bunda yang belum kenal narasumbernya. Boleh lihat profilnya dulu, ya 😉

    pembicara parenting
    Miarti Yoga

    Nama : Miarti Yoga
    Tempat tanggal lahir : Ciamis, 22 Maret 1981
    Status : Menikah dengan Yoga Suhara, ST
    FB/Instagram/Twitter/Line : Miarti Yoga

    Aktivitas:
    ✅ Direktur Sekolah Ramah Anak Zaidan Educare
    ✅ Penulis lepas di berbagai media cetak nasional
    ✅ Penulis buku-buku parenting (Unbreakable Woman, Best Father Ever, Adversity Quotient, dll )
    ✅ Relawan Literasi Jawa Barat
    ✅ Kontributor Ahli rubrik parenting di Majalah Intima'
    ✅ Nara sumber seminar parenting di berbagai lembaga
    ✅ Nara sumber workshop dan pelatihan pendidikan guru TK/PAUD
    ✅ Pengasuh Bincang Pengasuhan Online di komunitas Keluarga Ramah Anak
    ✅ Manager Seba Music Entertainment

    Motto : *Semangat, Berkarya, Bermanfaat*

    Gimana? Subhanallah ya narasumber kita yang satu ini 😉. Yuk, kita simak langsung materi dari beliau ya

    🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    *SABAR MENGAJARKAN SABAR PADA BUAH HATI*

    *By : Miarti Yoga*
    *_Early Childhood Consultant_*

    Ayah Bunda yang dirahmati Allah.
    Selamat membersamai keluarga, selamat bergembira dalam kebersamaan. Selamat menikmati rangkaian sabar dan selamat menikmati indahnya.

    SABAR. Satu kata sangat familiar, sangat mengalir diucapkan, sangat sering diungkapkan, dan sangat biasa dijadikan sebagai pesan seperti “Mohon bersabar yaaa!”, “Orang sabar pasti disayang Allah”, “Sabar aja dulu!”, dan lain-lain.

    Di balik familiar kata SABAR, ada keunikan khusus dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya. Unik apanya? Unik karena sangat refleks diucapkan namun tak sederhana untuk dilakukan.

    Baik Ayah Bunda yang dirahmati Allah. Ngomong-ngomong tentang bagaimana kita mengajarkan sabar pada buah hati.

    Seringkali, kita sebagai orangtua secara spontan mengatakan bahwa anak kita belum bisa sabar atau anak kita tidak sabaran. Setiap keinginannya harus diikuti pada saat itu juga, setiap rengekannya harus diberikan “feedback” pada saat itu juga. Nah, tentang persepsi. Selama ini kita sudah salah persepsi tentang siapa anak kita. Dan inilah alasannya kenapa anak-anak relatif “tidak sabaran” (tentu saja saat kita lihat secara kasat mata). Berikut alasan-alasannya yang wajib kita ketahui.

    Penyebab Anak Tidak Sabar


    1⃣. Karena anak masih belum mampu menjabarkan secara utuh tentang perasaan dirinya. Sehingga wajar jika mereka merengek, memaksa, dan sejenisnya. Dalam hal ini, anak masih terbatas cara atau teknik komunikasi, bahkan masih terbatas berkata-kata (mempersuasi).  Contoh yang sangat mudah kita temukan adalah bagaimana seorang bayi yang tak nyaman karena buang air kecil atau karena tak ada teman, maka secara refleks dia akan menangis, bahkan bisa menangis hebat saat hajatnya/kenyamanannya belum terpenuhi.

    2⃣. Karena anak belum tahu atau belum sadar konsep. Konsep lama dan sebentar, konsep mudah dan sulit, dan lain-lain. Sehingga sangat wajar ketika anak usia 3 tahun meminta dibuatkan jus. Dalam benaknya, ketika dia meminta jus, maka jusnya sudah ada dan tinggal munum. Dia belum sadar kalau ibunya harus menyiapkan sekian variable sehingga satu gelas jus itu terhidang dan siap santap. Oleh karenanya, disebabkan konsep pemikirannya masih belum matang, maka mereka akan kesulitan untuk menunggu, untuk sabar, dan lain-lain.

    3⃣. Tipis perbedaannya dengan alasan kedua, yakni karena anak berada pada masa egosentris. Mereka berpikir dan berpersepsi atas egonya sendiri. Mereka tak memikirkan bagaimana orang lain. Mereka berpersepsi sekehendak mereka. Maka, wajar jika mereka belum mampu menyesuaikan terhadap apa yang kita haruskan atau terhadap apa yang kita amanahkan.

    Contohnya adalah ketika seorang anak kelas 1 SD yang nangis-nangis minta dibelikan benda tertentu (padahal harganya mahal), sementara keuangan orangtuanya tengah berada dalam keadaan terbatas. Dia belum paham betul bahwa orangtuanya tak selamanya memegang uang atau ia belum paham bahwa tak mudah untuk membeli benda tersebut.

    Nah, ketika kita tahu alasannya, maka seharusnya kita bisa lebih paham tentang siapa mereka. Sehingga tak ada lagi vonis-vonis negatif yang mengalir spontan dari mulut kita. InsyaAllah.

    Ayah Bunda. Sabar itu bagian dari karakter, yang jika sudah dipolakan pada seorang manusia –apalagi sedari kecil-, maka melekatlah padanya sikap sabar. Nah, tentunya, sikap sabar ini tak cukup kita sampaikan dalam bentuk amanah atau pesan saja. Melainkan harus terupayakan dalam hal-hal yang sangat teknis atau dalam hal-hal yang sangat opersional. Apa maksudnya? Maksudnya adalah, kesabaran itu perlu dilatih dalam detail keseharian anak-anak. Contohnya? Yuk kita simak uraian berikut.

    Cara Melatih Anak untuk Sabar


    cara melatih anak sabar
    Pixabay

    1. Latihan Menunggu
    Ini hal kecil yang efeknya sangat positif. Biarkan anak kita belajar menunggu. Menunggu giliran, menunggu antrean, menunggu ditunaikannya janji, menunggu jadwal, dan lain-lain. Latihan seperti ini, akan melatih refleks  anak untuk melunakkan hal-hal yang mendesak dalam dirinya serta untuk melatih logika bersosial.

    2. Menuntaskan Pekerjaan
    Ini juga adalah hal yang tak boleh diremehkan. Biasakan anak kita melakukan sesuatu sampai selesai. Makan sampai habis, memasang puzzle sampai rapi, mandi sampai bersih, dan lain-lain. JIka mereka mengalami kesulitan, maka tugas kita adalah membantunya. Karena bukan tak mungkin, anak akan gelisah dan kesal saat mereka kesulitan mengerjakan sesuatu. Ini jangan dibiarkan.

    Dampingi dan ulurkan bantuan sehingga pekerjaannya tuntas. Dan jangan lupa, ketika kita meminta mereka melakukan sesuatu, takarlah bebannya dengan kemampuan mereka. Supaya apa? Supaya mereka wajar menghadapinya. Misalnya, memberikan sepiring nasi harus sesuai dengan takaran kebutuhan rasa lapar. Jika tidak, tentu akan sangat memberatkan dan tak bisa dipaksa. Anak sudah kenyang, tak mungkin dipaksa untuk menghabiskan makanan.

    3. Intruksi Terstruktur
    Hal ini butuh perhatian dan latihan khusus bagi kita sebagai orangtua. Kenapa? Karena seringkali kita lupa saat kita memberi tugas atau meminta bantuan pada anak-anak. Seringkali, 2 atau 3 bahkan 4 interuksi secara bersamaan mengalir dari mulut kita. Belum juga anak selesai menyimpan piring kotor, sudah disusul dengan interuksi membuang sampah. Disusul kemudian untuk mengambil handphone, dan sebagainya

    4. Latihan Berproses
    Mari hindarkan anak-anak kita dari kebiasaan serba instan. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang sambil menikmati proses. Banyak hal bisa kita kondisikan seperti mengajaknya menabung untuk membeli atau untuk rencana tertentu. Mengajak mereka “cooking class” juga melatih mereka menyadari konsep.

    Konsep bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Termasuk ketika anak sudah memungkinkan mencuci piring bekas dirinya makan, maka lakukanlah. Pun ketika anak punya keinginan seperti ingin sepeda, ingin jam tangan baru, ingin sepatu roda, sekalipun kondisi finansial sangat memungkinkan, namun alangkah bijaknya ketika kita mengajaknya untuk berjuang terlebih dahulu. Ajak mereka mengumpulkan rupiah demi rupiah, meski pada akhirnya kita yang meng-cover biaya untuk membeli benda tersebut.

    Dari sekian tips tentang bagaimana agar anak kita terlatih untuk sabar, maka yang jangan dilupakan adalah bagaiamana kita mampu mengemas dan menyelamatkan profil kita sendiri. Kenapa? Karena hanya gara-gara kapasitas sabar kita sangat terbatas, maka kita gagal mengajarkan anak-anak kita tentang sabar. Hanya gara-gara kita tak mampu mengendalikan kesal, maka lagi-lagi anak yang terkorban dan memiliki konsep diri yang mengabur, dimana dirinya diharuskan untuk sabar, sementara ayah ibunya hampir tak bisa sabar. Oleh karenanya, yuk siapkan terlebih dahulu diri kitanya dengan berbagai upaya.

    Baca juga: WAHAI IBU BERSABARLAH

    Cara Melatih Diri untuk Menjadi Orangtua yang Sabar


    🌹 Satu 🌹
    Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi (makan, minum, tidur, istirahat, hajat suami isteri, dan lain-lain).

    🌹 Dua 🌹
    Terbiasa menenangkan diri saat menghadapi masalah atau saat menghadapi hal-hal yang membuat kita kesal. Paling tidak, pandai mengatur nafas, pandai mengatur kata-kata, pandai beristighfar tentu saja.

    🌹 Tiga 🌹
    Latihan meluaskan persepsi. Untuk apa? Untuk melatih perasaan supaya kita tetap berpikir positif. Sehingga kita terjauh dari prasangka, terjauh dari sikap justifikasi, terjauh dari perasaan-perasaan buruk tentang orang lain.

    🌹 Empat 🌹
    Penuhi hak berhibur. Hidup itu banyak keharusan, banyak variable. Namun akan menjadi penat saat kita tak merasa bahagia.

    Baca juga: BELAJAR BAHAGIA DARI ANAK

    Oleh karenanya, setiap kita butuh hiburan. Sesederhana apapun bentuknya. Kita butuh itu. Dan ini sangat manusiawi. Sangat fitrah. Bahkan sekadar minun teh hangat sambil nonton televisi, lakukanlah jika hal demikian mampu mengurai beban.

    🌹 Lima 🌹
    Meng-Allah-lah untuk mengikis kebiasaan mengeluh. Kita punya Allah. Kita punya Al-Qur’an untuk kita memperkaya batin. Maka biarlah setiap dzikir dan amalan-amalan harian kita menjadi terapi batin. Biarlah rangkaian ibadah tersebut menjadi inputan berharga yang membuat aliran darah kita lebih kondusif. Jangan pernah pisahkan antara ibadah dengan ketenangan jiwa. Karena dalam kekhusyukan ibadah kita, dalam tukmaninahnya sholat kita, mengalirkan efek yang luar biasa.

    Yuk, bismillah. Meski tak mudah, namun Allah tentu akan hadiahkan ragam keberkahan atas ikhtiar-ikhtiar kita. Dan karena kita manusia maka

    “do the best dan give the best”.

    Lakukan yang terbaik. Berikan yang terbaik. InsyaAllah upaya kita tak kan ke mana. InsyaAllah anak kita akan sesuai harapan. Adapaun riak-riak ujian yang muncul, anggaplah itu ladang belajar. Bukan sebagai ketidakberhasilan kita dalam menghadapi buah hati.

    Terakhir, yuk berhenti berstament bahwa sabar itu ada batasnya. Yakinlah bahwa semua proses ujian itu akan terlampaui satu demi satu. Yuk berkaca pada teladan kita Rasulullah Saw. Bagaimana beliau diludahi oleh seorang perempuan tua saat beliau lewat ke depan rumahnya. Lalu di hari kemudian, Rasulullah ikhlash menjenguknya saat wanita tua itu dikabarkan sakit. Bila mengukur strata, sangat memungkinkan bagi Rasulullah membalas atau menghardik si wanita tua itu. Namun beliau tak lakukan itu.

    Demikian yang dapat saya bagikan pada edisi kali ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat. _Allohu’alam bishshowab_.

    😘 *Salam Pengasuhan* 😘

    💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞

    MasyAllah ilmunya ya Ayah Bunda luar biasa sekali. Jadi, ingat ya Ayah Bunda sebelum kita mengajarkan sabar pada anak, kitanya pun jangan lupa untuk mendidik diri menjadi orangtua yang sabar pula *nunjuk ama diri sendiri. Nah, ternyata sudah selesai ya Ayah Bunda materi cara mengajarkan sabar ini pada anak. Kalau Ayah Bunda sendiri biasanya jadi kurang sabar ketika dalam keadaan apa? Kalau saya biasanya suka kurang sabar ketika dalam keadaan lelah dan lapar. Itu bawaannya ingin istigfar terus 😂


    Wednesday, May 16, 2018

    8 Hiasan Bertemakan Ramadan dan Idul Fitri yang Bisa Bunda Buat Bersama Anak di Rumah

    8 hiasan bertemakan ramadan dan idul fitri yang bisa bunda buat bersama anak di rumah

            Ramadan telah tiba. Horeee....horeeee. yeyyyyyy 👏👏👏. Hai-hai Bunda apa kabarnya hari ini? Hari ini, hari pertama Ramadan kita ya? Gimana dengan anak-anak? Apakah penuh drama hari ini? Semoga nggak ya hihihi. Nah, hari ini saya mau menepati janji saya di tulisan sebelumnya, berbagi tentang berbagai macam hiasan yang bertemakan Ramadhan dan Idul Fitri yang pastinya bisa menyemangati anak-anak kita di rumah

    Tentu berbeda ya Bun rasanya rumah yang biasa saja dan tanpa hiasan, dengan rumah yang ada hiasannya. Lebih menarik mana? Pastinya lebih menarik yang ada hiasannya dong. Warna ruangan saja bisa mempengaruhi psikologis penghuni yang di dalamnya. Apalagi sebuah hiasan. Iya kan? 
    Dan yang lebih asyiknya juga. Kita bisa lho Bunda mengajak anak membuat salah satu atau beberapa hiasan Ramadan dan Idul Fitri di bawah ini, yang pastinya menyenangkan untuk anak-anak kita lho. Yuk, kita tengok aja ya Bunda!

    8 Hiasan Bertemakan Ramadan dan Idul Fitri yang bisa Bunda Buat Bersama Anak di Rumah


    1⃣

    dekorasi ramadan
    Pinterest

    2⃣
    kegiatan ramadan bersama anak
    Kalender Ramadhan - muslimlearninggarden

    3⃣

    bulan suci ramadan
    Zee

    4⃣

    pernak pernik ramadan
    Sementigaroda

    5⃣

    hiasan ramadan

    6⃣

    dekorasi
    IG: Pipit Ika

    7⃣

    hiasan idul fitri

    8⃣
    hiasan ramadhan
    Pinterest
    Wah lucu-lucu ya Bun hiasan Ramadan dan Idul Fitrinya. Kalau anak-anak paling suka no 3 tuh. Tapi, tentu berbeda ya kesukaan setiap anak. Nah, kalau anak Bunda paling suka no berapa?

    Selain lucu, kegiatan membuat hiasan Ramadan dan Idul Fitri ini banyak sekali lho manfaatnya. Apa saja ya?

    Manfaat Hiasan Ramadan dan Idul Fitri untuk Anak


    1. Membangun Bonding
    Bundaaaaa ketika kita selalu menjadikan kegiatan membuat hiasan Ramadan dan Idul Fitri ini di setiap tahunnya. Itu menjadi salah satu cara kita membangun bonding yang kuat bersama anak-anak. Bahkan menjadi sesuatu berkesan yang akan anak kenang kelaknya

    2. Memberikan kegiatan yang positif
    Kalau Bulan Ramadan tentu tidak semua kegiatan bisa kita lakukan. Nah, membuat hiasan Ramadan dan Idul Fitri ini bisa menjadi kegiatan yang aman dan positif buat anak. Nah, kok aman? Iya dong aman tanpa harus menguras banyak energi dan tidak akan membuat anak kehausan atau kelelahan.

    3. Melatih kreativitas
    Nah, di sini anak akan dilatih kreativitasnya dalam membuat hiasan ini. Desain hiasannya nggak harus selalu seperti gambar-gambar di atas ya Bun. Kita bisa kok berimprovisasi dengan anak atau membuat yang lebih bagus lagi dari yang di atas. Paling tidak gambar hiasan di atas bisa memberikan gambaran pada kita untuk membuat hiasan yang lain yang anak-anak kita sukai

    4. Mengembangkan imajinasi
    Anak-anak yang dari kecilnya telah terlatih dan terbiasa untuk membuat sesuatu, pada umumnya anak tersebut akan lebih kaya imajinasinya dibandingkan anak-anak yang tidak dibiasakan atau tidak diarahkan dari kecil

    5. Menstimulasi motorik halus
    Ketika anak menempel, menggulung, menggunting, atau mengikat alat dan bahannya. Tanpa disadari kegiatan ini dapat menstimulus motorik halus anak. Dimana, motorik halus ini akan bermanfaat pada anak untuk skill kemandiriannya dalam kehidupan sehari-hari seperti berpakaian sendiri, menalikan tali sepatu dll

    6. Mengenalkan warna
    Untuk anak yang usianya di bawah 4 tahun. Ini bisa kita jadikan sebagai kegiatan untuk mengenalkan warna pada anak

    7. Menambah pengetahuan
    Alat dan bahan yang kita gunakan untuk membuat hiasan Ramadan dan Idul Fitri ini, pastinya kurang dikenal anak karena bukan benda yang digunakan sehari-hari ya Bun. Jadi, kita pun bisa menambah pengetahuan anak dengan mengenalkan alat dan bahan yang dibutuhkan untuk membuat hiasan ini

    8. Dll

    Baca juga: Bulan Ramadhan dan 7 Kegiatan Positif yang Dapat Membentuk Karakter Anak Sejak Dini

    Nah, itu Bunda 8 hiasan bertemakan Ramadan dan Idul Fitri yang bisa kita buat bersama anak di rumah. Mudah bukan? Kalau saya, karena Erysha masih kecil sekali dan belum paham. Saya belum bisa memulainya tahun ini.  Kalau Bunda rencananya mau bikin no berapa? Dan kenapa? Apapun pilihan Bunda, selamat mencoba di rumah ya 😘


    Sunday, May 13, 2018

    Jika Ini menjadi Ramadhan Terakhirku


    jika ini menjadi ramadhan terakhirku
    Canva

    "Kita hidup bagaikan di dalam sebuah kotak. Kemanapun dan sejauh apapun kita melangkah dan setinggi apapun kita menyombongkan diri, akan selalu ada tembok persegi yang membatasinya yaitu KEMATIAN". (Bunda Erysha)

    Pernahkah terpikir oleh kita, bagaimana jika ini menjadi Ramadhan terakhir kita? Terlintas tanya pada hati kita, bagaimana jika peran kita sebagai istri sekaligus ibu, langsung berhenti seketika saat ini juga? Perasaan bilamana kita tidak akan pernah bisa melihat kekasih hati kita kembali. Perasaan yang tak akan pernah bisa memeluk dan membesarkan anak-anak kita. Apa kalian pernah merasakannya? Yah, aku pernah bahkan sering. 

    Baca juga: 6 KEGIATAN POSITIF DI BULAN RAMADHAN YANG DAPAT MEMBENTUK KARAKTER ANAK SEJAK DINI

    Kehilangan dua orang yang berarti dalam hidupku, papa dan adikku, masih begitu membekas dalam hidupku. Pada saat itu, aku tersadar bahwa kematian itu benar-benar nyata dan begitu dekat dengan kita

    Aku melihat dengan jelas dan menemani adikku ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya.  Saat itu aku benar-benar hanya berdua dengannya. Aku melihat dengan jelas ia kesakitan ketika ruh itu dicabut darinya dengan perlahan

    Dimulai dari kakinya yang gemetaran perlahan hingga ke atas. Ku lihat matanya yang ke atas dan berair mata. Mulutnya yang berbusa. Aku ketakutan dan sungguh ketakutan pada saat itu. Tetapi, aku tidak ingin meninggalkannya seorang diri ketika nafasnya terhembus untuk terakhir kalinya. Apa yang bisa ku lakukan sebagai kakak yang baik untuknya. Hanya bisa menemaninya dan mengingatkannya kepada Tuhannya dengan Asma Allah yang selalu ku perdengarkan padanya. Hanya itu yang terbaik yang bisa ku lakukan untuknya.

    Walau hati selalu ingin meminta maaf padanya. Yup, aku selalu merasa aku ini bukan kakak yang baik untuknya. Aku selalu merasa aku ini kakak yang gagal untuknya. Dan aku selalu menyalahkan dan menyesali diri kenapa tidak bisa jadi kakak yang baik untuknya. Itu yang selalu ku lakukan pada diriku sendiri sejak kepergiannya. Selama itu pula,  bertahun-tahun aku selalu bermimpi buruk dan belum bisa berdamai dengan diriku sendiri bahwa aku seorang kakak yang gagal.

    Waktu terus bergulir dan itu mengobati luka di hatiku. Sejak kepergian mereka, membuatku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari nanti, aku akan membangun keluarga kecilku dengan penuh kasih sayang dan ilmu. Aku ingin memperbaiki kekurangan keluargaku dulu, dengan menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk keluarga kecilku

    Tetapi, malam ini aku terduduk sendirian di sudut kamar yang gelap. Aku pun bertanya-tanya "ada apa dengan diriku? Ada apa dengan hatiku? Kok, nggak ngerasain apa-apa ya? Padahal bulan Ramadhan akan menyapa sebentar lagi. Kemana rinduku yang dulu akan hadirnya bulan Ramadhan ini? Ada apa denganku?" Aku sibuk bertanya-tanya pada diriku sendiri dan ketika aku belum menemukan jawabannya, ketika itu pula aku tersadar, ada yang salah pada diriku

    Baca juga: BUNDA, YUK BANTU ANAK MENYAMBUT BULAN RAMADHAN DENGAN 6 PERSIAPAN INI

    Ketika hati ini tak lagi merasakan rindu pada bulan suci, saat itu kita harus berhenti sejenak  untuk memeriksa diri dan menelisik semuanya. Yup, mungkin diri ini terlalu disibukkan oleh urusan dunia, hingga tanpa tersadar ada banyak hal yang kita lalaikan secara hati kepadaNya. Astagfirullah "maafkan hambamu ini ya Allah"

    Lalu aku pun bertanya "apa yang sudah ku persiapkan untuk menyambut bulan Ramadhan nanti? Dari perenungan ini, aku kembali menata hatiku, menata keimananku. Karena ku tahu, siapalah diri ini, dan aku bukanlah apa-apa tanpa cintaNya padaku "Terima kasih ya Allah"

    Dan mata ini kembali berkaca-kaca mengingat semua nikmatNya, tentang cintaNya, tentang kebaikanNya dan tentang semua ketulusanNya. Terima kasih ya Allah, Engkau selalu dengan sabar menungguku untuk kembali kepadamu. Walau aku selalu takut waktuku telah habis dalam keadaan  Engkau tidak meridhaiku.

    Aku tahu waktuku tak banyak. Selalu ada batas untuk semuanya. Kita boleh bercita-cita setinggi apapun dan berjalan sejauh-jauhnya. Tetapi, satu hal yang pasti. Kita pasti akan kembali lagi kepadanya. Karena kita hidup bagaikan di dalam sebuah kotak.

    Memiliki kenangan akan kehilangan orang-orang yang berarti dalam hidupku. Membuatku terkadang diam-diam suka menatap suami dan anakku yang sedang tertidur dengan lelapnya. Hati ini selalu bergetar menatap mereka, hingga terucap doa di dalam hati "Ya Allah ijinkan aku menemani dan membersamai mereka dengan usia yang berkah penuh ridhaMu".


    Jika Ini Menjadi Ramadhan Terkahirku


    bulan suci ramadhan

    Aku tidak pernah tahu kapan diri ini berakhir. Tetapi, jika ini menjadi Ramadhan terakhirku. Ingin sekali ku meminta maaf pada suamiku, karena dialah seseorang terdekatku sejak aku menikah "Maafin Bunda, Ayah. Semoga Ayah Ridha pada Bunda. Love U". Lalu, ku ingin meminta maaf pada anakku, Erysha karena masih banyak kekurangan yang ku miliki sebagai seorang ibu "Jadi anak yang sholeha ya, De dan jagain Ayah untuk Bunda. Bunda sayang Dede"

    Aku pun ingin meminta maaf pada Mama, "Mama, maafin Yeni ya untuk semua kesalahan Yeni yang tanpa Yeni sadari bisa menyakiti Mama" Aku pun ingin meminta maaf pada keluarga besarku, sahabatku dan orang-orang yang mengenaliku atas ucap dan perbuatan yang tak sengaja menyakiti. Dan tak lupa meminta maaf pada pembacaku, jika ada tulisanku yang menyinggung dan kurang berkenan. Mohon dimaafkan ya.

    Tetapi, satu yang pasti, aku mencintai dan menyayangi kalian semua. Dan terima kasih banyak untuk semuanya yang telah menemani dan membersamaiku selama ini

    Selain itu, jika ini menjadi Ramadhan terakhirku. Aku ingin memperbaiki hatiku. Karena bagaimana pun juga. Hatilah rajanya di sebuah tubuh. Jika hatinya sakit, maka sakit pula akhlak dan ibadah kita. Begitu pun sebaliknya. Aku ingin memperbaiki hubungan cintaku padaNya.

    "Bukankah Dia telah memberikan dan memenuhi semua kebutuhan kita. Lalu, mengapa kita sibuk mencari alasan untuk berpaling dariNya?"

    Bukan Dia yang membutuhkan kita. Tetapi, kitalah yang membutuhkanNya. Dan Dia akan selalu menjadi tempat kita untuk kita pulang. Lalu pertanyaannya "Dalam keadaan apa kita pulang dan kembali padaNya? Dan bekal apa yang akan kita bawa untuk pulang?

    Semua itu hanya kita yang bisa menjawabnya sendiri. Segeralah berbenah. Karena kita tidak pernah tahu kapan kita akan pulang dan kumpulkanlah semua bekal-bekal kita. Jangan sampai kita pulang dalam keadaan yang rugi dan menyesal.

    Itulah persiapanku jika ini menjadi Ramadhan terakhirku. Apa persiapan kalian semua jika ini menjadi Ramadhan terakhirnya kalian? Pernahkah kalian memikirkan dan merenunginya? Boleh diungkapin sedikit aja di sini ya. Semoga tulisan ini bisa mengajak kita untuk bertanya-tanya pada diri kita sendiri dan merenungi tentang kehidupan kita denganNya.

    Selamat Menyambut Bulan Suci Ramdhan semuanyaaa. Mohon Maaf Lahir dan Bathin ya 🙏🙏🙏


    Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik  Blogger Muslimah Indonesia
    #PostinganTematik
    #PosTemSpesialRamadhan
    #BloggerMuslimahIndonesia





    Wednesday, May 9, 2018

    Bunda, Yuk Bantu Anak Menyambut Bulan Ramadhan dengan 6 Persiapan Ini

    bunda, yuk bantu anak menyambut bulan ramadhan dengan 6 persiapan ini
    Pixabay

    Hai-hai Bunda, bulan Ramadhan sebentar lagi mau tiba nih. Horeeee 👏👏👏. Nggak terasa ya, Bun waktu cepat sekali berlalunya dan sekarang sudah tiba lagi. Allhamdulillah, kita masih berkesempatan untuk menyongsong hadirnya bulan Ramadhan ini. Nah, ngomongin soal Ramadhan, apa Bunda sekeluarga sudah ada persiapan belum untuk menyambut bulan Ramadhan ini? Tentu, saja yang perlu kita persiapkan bukan hanya tentang diri kita ya Bun. Tetapi juga mempersiapkan anak-anak kita juga. Hari ini saya akan berbagi cara membantu anak dalam menyambut bulan Ramadhan dengan 6 persiapan ini. 


    Bunda, Yuk Bantu Anak Menyambut Bulan Ramadhan dengan 6 Persiapan ini


    bulan ramadhan
    Pixabay

    1. Mengenalkan Ramadhan lewat cerita
    Bunda, yuk kita kenalkan Ramadhan ini dengan cara yang menyenangkan pada anak. Bisa dengan membacakan buku cerita, mendongeng dan bahkan cerita pengalaman seru kita di masa kecil pada saat bulan Ramadhan.

    Kita bisa mengenalkan pada anak apa itu Ramadhan? Kenapa kita harus berpuasa selama bulan Ramadhan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Ramadhan atau Islam. Kita bisa memilih buku cerita yang sesuai dengan tema kita dan pesan yang ingin kita sampaikan pada anak.

    Baca juga: MENGAPA MEMBACA BUKU PERLU DIPERKENALKAN PADA ANAK SEJAK DINI?

    2. Ajak anak berbicara dan buat kesepakatan bersama anak
    Untuk anak-anak yang sudah agak besar, kita tidak perlu khawatir ya Bun dalam mengajarkan anak soal berpuasa. Karena mereka sudah tahu dan terlatih dari sejak kecil. Tetapi bagaimana puasa anak yang masih berusia prasekolah? Karena usia mereka masih usia prasekolah dan belum dijatuhkan kewajiban untuk berpuasa. Jadi, kita tidak boleh memaksa anak untuk tamat berpuasa seperti kita. Kita hanya bisa mengenalkan dan melatih anak berpuasa sesuai kemampuan mereka. Misalnya anak usia 4 tahun hanya mampu berpuasa sampai jam 10 pagi, dll.

    Pelan-pelan dan bertahap saja Bunda mengenalkan puasa ini pada anak. Jangan sampai anak membenci bulan Ramadhan ini karena cara kita yang salah dan suka memaksa anak sebelum waktunya

    Nah, untuk batas waktu berpuasa bagi usia anak prasekolah ini, bisa kita obrolkan pada anak dan buatlah kesepakatannya bersama anak.

    3. Mengajak anak menata rumah
    Ajaklah anak membersihkan rumah dan menatanya. Kembali menata rumah, akan membuat kita dan seluruh anggota keluarga merasakan sesuatu yang baru lho, Bunda. Rasanya membuat kita kembali bersemangat deh

    3. Membuat hiasan rumah dengan tema ramadhan
    Apa Bunda pernah mengajak anak-anak membuat hiasan rumah dengan tema Ramadhan? Kayak display gitu. Nah, kalau belum saya sarankan untuk membuatnya. Membuat hiasan rumah dapat juga lho Bun memberikan aura Ramadhannya pada anak. Dijamin ini pasti menyenangkan untuk anak.

    hiasan dengan tema ramadhan

    Kita bisa juga lho Bun membuat mereka berkreativitas sesuai imajinasi mereka. Bahkan bisa ditambahkan dengan menempel kata-kata semangat atau target pencapaian diri seluruh anggota keluarga dalam hiasannya seperti kayak bikin mading gitu atau Bunda punya imajinasi yang lebih liar lagi, bolehhhhh bangetttt dicoba

    4. Menyusun rencana permainan selama bulan ramadhan
    Tanyakan pada anak-anak, permainan apa saja yang ingin mereka lakukan di bulan Ramadhan. Tentu saja permainannya yang nggak menguras tenaga juga ya Bun. Yang ada nanti anak-anaknya malah kehausan dan kehabisan energi

    Kita bisa bangettt lho Bun memasukkan kegiatan stimulus dalam permainannya. Misalnya bermain membuat playdough sendiri, bermain slime, membuat finger painting dll. Nah, untuk lengkap kegiatannya bisa bunda lihat di sini ya ide-ide kegiatannya

    Baca juga: CARA MEMBUAT PLAYDOUGH ATAU MALAM SENDIRI YANG PASTINYA LEBIH AMAN BUAT ANAK

    Baca juga: KEGIATAN ANAK 

    5. Membuat rencana keluarga di bulan Ramadhan 
    Buatlah rencana keluarga selama bulan Ramadhan dan jadikan rencana keluarga ini selalu ada di setiap tahunnya di bulan Ramadhan. Nah, saya kasih sedikit ide ya Bun untuk membuat rencana keluarganya misalnya:

    👉 Buka puasa bersama anak yatim / panti jompo
    Nah, kita bisa lho Bun mengadakan buka puasa bersama anak yatim atau panti jompo. Nggak harus yang meriah dan megah yang penting kita bisa mengajak anak-anak untuk memaknai bulan Ramadhannya dengan sesuatu yang berkesan.

    Berbuka puasa di bulan Ramadhan bersama anak yatim atau panti jompo akan melatih jiwa simpati dan empati anak-anak kita tentunya. Bunda, jangan biarkan semua berlalu begitu saja tanpa sesuatu yang berkesan dalam diri anak kita. Oh iya kita pun bisa lho mengajak anak-anak kita belajar menabung. Dimana, uang tabungannya nanti akan disumbangkan pada anak yatim atau panti jompo ini.

    Sebenarnya nggak harus berbuka puasa bersama anak yatim atau panti jompo sih. Kita juga bisa kok berbuka bersama dengan anak-anak jalanan dll yang sesuai keadaan dan batas kesanggupan kita.

    👉 Bagi takjil
    Kita bisa juga lho Bun mengajak anak untuk berbagi takjil di jalan atau pada orang-orang yang membutuhkan. Dijamin, pasti ada kebahagian di hati kita dan anak-anak kita karena telah berbuat baik pada orang lain. Takjilnya pun nggak usah yang wah juga ya, Bun. Sesuaikan saja dengan kemampuan kita.

    👉 Berbagi makanan pada tetangga
    Nah, kegiatan ini bisa kita lakukan misalnya seminggu sekali atau seminggu dua kali. Bebas ya Bun.

    "Lakukan dan berikan apa yang bisa kita berikan. Sekalipun sekecil apapun itu. Karena sesuatu yang wah, terkadang tidak selalu berasal dari hal-hal yang besar. Bahkan bisa berasal hal-hal kecil tetapi rutin kita lakukan" Bunda Erysha 

    👉 Berbuka puasa bersama keluarga di luar
    Rasanya anak-anak pasti bosen juga ya Bun kalau buka puasanya di rumah mulu. Jadi, kita dan anak-anak bisa merencanakan buka puasa keluaga di luar misalnya, sekali dalam sebulan makan-makan di tempat favorit keluarga. Pastinya selain menyenangkan tetapi juga bisa membangun bonding bersama anak-anak ya Bun 😍. Wah, pasti ini jadi salah satu momen yang membahagiakan untuk mereka kenang kelak ketika dewasa

    👉 dll

    6. Menyusun menu favorit anak-anak
    Ajak anak untuk menyusun menu favorit mereka selama bulan Ramadhan nanti. Menu favorit ini, bisa menu saat berbuka puasa atau pada saat sahur. Tapi, jangan lupa ya Bun tetap memperhatikan asupan gizi seimbangnya agar anak-anak dan anggota keluarga memiliki stamina yang baik selamat menjalani ibadah puasanya.

    menu berbuka puasa
    Pixabay

    Mengajak anak untuk membuat menu favoritnya, salah satu cara menyemangati anak untuk mau menjalankan ibadah puasanya. Jujur pas bagian menu makanan ini, bikin saya deg-degan juga sih Bun maklum nggak jago masaknya hehe

             Bunda, bulan Ramadhan hanya hadir setahun sekali pada kita. Jadi, manfaatkanlah bulan Ramadhan nanti dengan sesuatu yang berkesan pada kita dan anak-anak kita. Buatlah Ramadhan nanti semenarik dan semenyenangkan mungkin pada anak. Agar anak-anak kita kelak, akan selalu merindukan kedatangan bulan Ramadhan ini di setiap tahunnya.

    Jadikan momen Ramadhan nanti, sebagai salah satu sarana kita untuk menumbuhkan fitrah iman anak-anak kita. Bantulah anak-anak kita mencintai Rabbnya dengan cara yang menyenangkan dan berkesan di dalam hati. Hingga, penumbuhan rasa cinta pada Rabbnya itu sejak dini, akan selalu berbekas pada mereka hingga mereka dewasa nanti. Percayalah Bunda.

    Baca juga: Bulan Ramadhan dan 7 Kegiatan Positif yang Dapat Membentuk Karakter Anak Sejak Dini"

    Nah, itu dia Bunda cara membantu anak menyambut bulan Ramadhan dengan 6 persiapan di atas. Kalau Bunda sendiri apa aja sih persiapannya untuk anak-anak di rumah? Sharing yuk! Oh ya Bunda, insyAllah selama bulan Ramadhan nanti, saya akan menuliskan parenting dengan tema Ramadhan ya. Pengennya sih membahas hiasan-hiasan rumah penyemangat anak di bulan Ramadhannya atau nulis kegiatan-kegiatan khusus di bulan Ramadhan untuk anak. Wah, doakan ya semoga saya sempat dan tunggu tulisan saya selanjutnya ya. Semoga bermanfaat

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES