• Sunday, February 26, 2017

    Menjadi Ibu Rumah Tangga Itu Soal Kesempatan

            
         
            Dulu waktuku masih belia. Aku punya pemikiran yang begitu sempit mengenai ibu rumah tangga. Ku pikir ibu rumah tangga itu ibu-ibu yang kerjaannya di rumah aja, suka bergosip dan tak berwawasan. Tak pernah aku melihat dan bertemu ibu rumah tangga yang berwawasan, tak bergosip, dan terus memperbaiki diri. Akhirnya pemikiran sempitku itu langsung terpatahkan ketika ku menjadi seorang guru dari murid2 yang memiliki para ibu yang hebat. Yupz, mereka orang-orang yang berpendidikan tinggi dan berilmu tetapi mau mengabdikan diri mereka sebagai ibu rumah tangga, mengurus rumah, suami dan mendidik anak-anaknya.

    Baca juga : Wahai Ibu Bersabarlah 

            Aku banyak belajar dari mereka dan pola berpikirkupun langsung berubah dalam menilai sosok ibu rumah tangga, walau begitu belum dapat merubah keinginanku untuk terus berkarier setelah menikah. Aku tetap punya cita-cita yang tinggi dan hebat di luar sana. Tetapi lagi-lagi idealisku itu pun perlahan berubah setelah menikah dan memiliki seorang anak. Aku ingin mendidik, mengurus dan membesarkan anak-anakku kelak oleh tanganku sendiri. Awalnya itu terasa berat. Serasa cita-citaku yang dulu tlah hilang. Sebenernya bukan hilang hanya saja ditunda.

            Di saat ini banyak terjadi perdebatan antara wanita karier vs ibu rumah tangga di medsos. Walau begitu aku tidak ingin menjustice salah satunya. Karena bisa jadi wanita karier itu lebih bisa memanfaakan waktu berkualitasnya bersama ana-anak dibandingkan kita yang di rumah begitupun sebaliknya. 

            Aku slalu berharap wanita2 yang terpaksa harus meninggalkan anaknya di rumah untuk membantu suami dalam mencari nafkah, agar esok anak2nya masih bisa makan, masih punya tempat tinggal yang layak mesti harus mengontrak, punya pakaian yang layak yang bisa dipakai dan demi memenuhi kebutuhan yang lainnya yang tak kalah penting. Aku slalu berharap mereka dikuatkan.

    Baca juga : Cara Mengelola Stres Untuk Para Ibu 
      
            Bagiku mereka adalah wanita2 pejuang. Ku yakin hati merekapun pasti menangis ketika harus terpaksa meninggalkan anak2nya di rumah, semakin keras tangis anakknya dan merengek agar ibunya jangan pergi maka semakin keras juga hati wanita itu ikut menangis pula.  Hati ibu mana yang tidak cemas ketika meninggalkan stok air susu perahnya untuk buah hati tercintanya dan bertanya di dalam hatinya "ya Allah cukupkah stok asi ini untuk anakku?.  Hati ibu mana yang tidak galau ditempat kerja mengkwatirkan keadaan anaknya yang sedang sakit dirumah sedangkan ia tidak bisa menemani anaknya. Pasti masih banyak hal lain yang dirasakan oleh ibu yang terpaksa harus bekerja di luar sana. Lalu apa hak kita menjustice mereka? padahal kita tidak mengalami dan merasakan apa yang mereka rasakan. 

            Semua cerita itu membuatku semakin bersyukur dengan peranku sebagai ibu rumah tangga. Betapa aku bersyukur bisa melihat anakku dari bangun tidur sampai ia tertidur kembali. Bersyukur bisa bermain dengannya dan menemaninya tanpa dibatasi hari libur dan waktu. Bersyukur diberikan kesempatan melihat setiap pertumbuhan dan perkembangannya. Bersyukur diberikan kesempatan bisa fokus mendidik dan mengurus anak di rumah tanpa harus memikirkan banyak hal.

    " Bagiku jalani hidup ini tanpa banyak gaya, sederhana, penuh rasa syukur namun masih bisa berbagi dengan orang lain "

    Baca juga : Bedanya Ibu Rumah Tangga Biasa dengan Ibu Rumah Tangga Luar Biasa 

    Banyak sekali sebenarnya yang harus kita syukuri dengan peran kita sebagai ibu rumah tangga karena tak semua orang dapat memiliki kesempatan yang sama seperti kita. Lalu kenapa kita harus malu dengan peran kita sebagai ibu rumah tangga ?

    7 comments:

    1. Alhamdulillah.....selama ini, walau harus bekerja demi membantu ekonomi keluarga kecilku, anak tetap terpantau dengan baik.

      ReplyDelete
    2. Allhamdulillah ya ke, keluarga tetep no 1 ya. Semngat terus buat suke n dd Auliyanyanya. Yang sehatttt ya. Muachhhh 😘😘😘

      ReplyDelete
    3. Saya sering mendengar teman-teman yang memperkenalkan diri dengan mengatakan "cuma ibu rumah tangga." Disitu saya merasa sedih. Saya ingin sebagai ibu rumah tangga, kita harusnya bersyukur, dan percaya diri. Karena saya juga ibu rumah tangga, saya mulai dari diri sendirilah.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bunda, saya juga awal2 jadi ibu rumah tangga itu perlu perjuangan untuk berdamai dengan diri sendiri. Ternyata jadi ibubrumah tangga itu nggak mudah, sempet ngalamin minder n krisis kepercayaan diri juga. Tetapi makin ke sini saya semakin bersyukur dengan peran saya menjadi ibu rumah tangga. Karena menjadi ibu rumah tangga itu soal kesempatan 😃. Semangattt qta bun. Ibu bekerja atau wanita karier semangat

        Delete
      2. Saya juga sebal kalau dengar kalimat "cuma ibu rumah tangga" itu. Bagaimana caranya frase ibu-rumah-tangga itu bisa dibilang "cuma"? Tanpa ibu rumah tangga, rumah akan berantakan, jadinya kehidupan tiap anggota keluarga juga berantakan.

        Saya sekarang juga ibu rumah tangga. Tapi kerjaan saya nggak cuma ngurusin rumah. Saya punya bisnis sendiri, dan pendapatan bisnisnya signifikan banget untuk menopang perekonomian keluarga. Dan waktu saya juga sempit, karena sebagian besar waktu saya dipakai untuk urusan produktif. Kalau cuma nganggur mah, itu namanya bukan ibu rumah tangga, tapi itu namanya pengangguran.

        Delete
    4. Harus pintar bersyukur ya Mba', semoga nanti lelah kita jadi lillah, Aamiin. Semangat para Emak! :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Aaaminnn bunda. Smga kita jdi pribady yang slalu bersyukur ya 😘

        Delete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES