• Sunday, March 18, 2018

    Begini Cara Menjadi Pendengar yang Baik untuk Anak

    begini cara menjadi pendengar yang baik untuk anak
    Pixabay

    "Hei, bukankah kamu ingin menjadi pendengar yang baik untuk anakmu kelak, tetapi mengapa kamu mengacuhkannya?" Itulah suara yang muncul di dalam hatiku. Malam itu membuatku benar-benar termangu seorang diri. Ku turunkan buku yang sedang ku baca ke bawah tanganku. Lalu, menatap ke arah Erysha dalam-dalam. Yah, dalam-dalam dari kejauhan.

    Beberapa kali, tanpa ku sadari, aku sering mengabaikan ocehan Erysha, pertanyaannya yang terus berulang-ulang ia lontarkan padaku. Yang terkadang karena lelah dan rasa bosan, membuatku tanpa sengaja menjawabnya dengan sekenanya dan tanpa menatap matanya, bahkan beberapa kali sampai menarik nafas panjang karena rasaku yang ingin beristirahat sebentar saja dari semuanya.

    Membuatku segera tersadar, "Bagaimana aku akan menjadi tempat ternyamannya anakku kelak,  jika tanpa ku sadari, aku mengabaikan dirinya?, bagaimana aku bisa menjadi tempatnya bercerita, jika mendengar dan menjawab kata-katanya saja ogah-ogahan?" Lalu, bagaimana aku bisa menjadi pendengar yang baik, yang akan ia rindukan nantinya, jika aku tidak meninggalkan kesan yang mendalam di hatinya dari kenyamanan yang harusnya terbangun dari sejak dininya

    Baca juga: Bunda, Ingin Menjadi Seseorang yang Dirindukan Oleh Anak-anak Kita? Lakukan Saja 4 Hal Sederhana Ini!


    Mengapa menjadi pendengar yang baik untuk anak perlu dibangun dari sejak dini?


    Hai Yeni, jika Engkau ingin menjadi pendengar yang baik, yang kelak akan ia rindukan, belajarlah dari sekarang. Bukan nanti ketika dia sudah mulai beranjak besar. Tapi sekarang. Karena untuk menjadi pendengar yang baik itu tidak bisa tiba-tiba langsung berhasil. Semua perlu waktu, semua butuh proses. Tidak ada yang instan. Begitu juga untuk menjadi pendengar yang baik untuk anak. Karena

    "Yang terbaik itu, selalu tercipta dengan proses yang terbaik. Tak ada sesuatu yang terbaik itu tercipta dengan sesuatu yang instan lalu menghilang begitu saja"

    Itulah pergulatan batin yang berkecamuk di dalam diriku di hari itu. Yup, setiap ibu pasti pernah mengalami kondisi-kondisi seperti itu. Rasa lelah, rasa bosan, rasa ingin membutuhkan "me time" membuat kita, tanpa disadari melupakan kebutuhan anak. Walau terkadang kita berpikir, "Bagaimana kita akan bisa memenuhi kebutuhan anak, jika kebutuhan kita untuk diri kita sendiri masih terasa kurang.

    Baca juga: Ini Dia 12 Me Time Menyenangkan yang Bisa Menjadi Pilihan Bunda

    Untuk itu, betapa pentingnya kita selalu berusaha menyediakan waktu untuk mendengarkan kebutuhan diri kita sendiri. Karena ketika kebutuhan kita telah terpenuhi, maka akan lebih mudah pula bagi kita memenuhi kebutuhan orang-orang di sekitar kita.

    Tapi, apakah rasa lelah itu harus kita jadikan senjata untuk kita mencari pembenaran dalam  mengabaikan perasaan anak kita yang ingin di dengar oleh kita? Rasanya bukan. Bukan begitu

    Baca juga: 9 Alasan Ini yang Akan Menyemangati Bunda Ketika Kelelahan Mengurus Si Kecil

    Memang benar seorang ibu bukanlah malaikat yang selalu sempurna. Dan tidak ada ibu yang sempurna pula di dunia ini. Begitu juga anak kita, ia tidak membutuhkan ibu yang sempurna untuk menjaga dan mendidiknya. Yang ia butuhkan hanya ibu yang mau belajar dan terus belajar menjadi ibu yang baik, lagi...lagi...dan lagi untuk dirinya. Dan itu lebih dari cukup baginya

    Ibu
    Pixabay

    Wahai Bunda, memang benar menjadi ibu itu tidaklah mudah. Tetapi, di sanalah proses belajar kita. Dari sanalah kita tertempa untuk menjadi seorang ibu. Dari sanalah Allah memberikan salah satu letak pintu ke syurgaNya. Bukankah itu indah sekali? Bukankah itu menandakan bahwa betapa istimewanya diri kita menjadi seorang ibu? Jangan pernah berhenti untuk belajar, jangan pernah menyerah untuk lebih baik. Karena percayalah bahwa semua tak akan sia-sia.


    Lalu bagaimana cara kita agar kita bisa belajar menjadi pendengar yang baik untuk anak kita? 

    mendengarkan
    Pixabay

    1. Fokuslah pada anak dan ceritanya 

    Belajarlah dari sejak dini untuk mendengarkan cerita anak. Agar kelak hingga ia dewasa, ia akan tetap terbuka dan nyaman bercerita pada kita. Fokuslah pada anak dan cerita anak. Dengarkan dia, jangan menyambinya dengan bermain handphone, membaca buku, atau menyambi anak dengan pekerjaan yang lainnya. Jangan biarkan ia merasa bahwa cerita dan dirinya itu terabaikan oleh apa yang kita lakukan

    Bunda, jangan pernah kita marah dan menyalahkannya, jika kelak anak tidak mau lagi mendengarkan kata-kata kita, nasehat kita, atau ketika kita mengajaknya berbicara, tetapi anak malah asyik dengan handphonenya, dengan gamesnya, dengan teman-temannya, dan dengan apa yang sedang ia lakukan. Kenapa bisa begitu? Itu karena dia belajar dari kita. Jangan pernah kita lupa Bunda, bahwa anak adalah seorang peniru ulung orangtuanya dan sebuah mesin fotocopy tercanggih yang ada di zamannya

    2. Jangan memotong cerita anak

    Suka nggak Bun, kalau kita sedang asyik bercerita tiba-tiba ada yang memotongnya? Nggak kan? Karena memang selain memotong pembicaraan itu nggak sopan, juga terasa tidak nyaman bagi pembicaranya. Itu akan membuat anak menjadi malas bercerita dikemudian harinya dan itu akan berdampak buruk terhadap hubungan kita dengan anak untuk ke depannya

    3. Jangan menyalahkan atau menginterogasi anak ketika sedang bercerita

    Biasanya tanpa kita sadari, kita sebagai orangtua suka mencela dan menyalahkan anak, ketika anak sedang jujur dan bercerita tentang keadaannya. Misalkan "Bunda, tadi aku dihukum di sekolah" lalu kita dengan tiba-tiba langsung berkomentar menyalahkan "Kamu pasti nakal ya tadi di sekolah atau kamu nggak ngerjain PR ya di sekolah, makanya kamu di hukum"

    Enak nggak sih Bun, ketika kita bercerita tiba-tiba orang yang tidak tahu kejadian sebenarnya langsung menyalahkan kita? Nggak kan. Karena bisa jadi anak dihukum disebabkan hanya karena ia membela diri dibully oleh temannya, tapi guru nggak tahu kejadian sebenarnya, atau anak bercerita karena menyesali perbuatannya dll".

    Atau dengan kasus ke dua yang senangnya kita menginterogasi anak. Contoh, ketika anak pulang sekolah terlambat dan ia baru bercerita dan menjelaskan setengah jalan, kita langsung memotongnya dan menginterogasi anak seperti "Kenapa kamu baru pulang? Kamu ga tau sekarang jam berapa? Kenapa nggak ngasih kabar? Kamu pergi ama siapa aja?" Atau deretan pertanyaan interogasi yang terus-terusan kita lontarkan pada anak dan membuat anak langsung merasa tidak dipercaya atas kata-kata kita dan tak diberi kesempatan pula untuk menjelaskan

    Jadi, berhati-hatilah jika berkata-kata pada anak. Pintar-pintarlah melihan situasi dan kondisi dari anak kita, dan pekalah dengan perasaannya. Jangan sampai kita salah berkata-kata. Dengarkan dan fokus pada cerita anak dan dengarkan semuanya, baru kita bertanya dengan baik-baik.

    Kan nggak enak baru pulang sekolah udah disalahkan dan diinterogasi dengan pertanyaan yang menuduh. Apalagi ketika anak sedang lelah pula. Itu bisa menjadi anak malas jujur dan bercerita selanjutnya dan bahkan bisa menjadi salah satu pemicu anak untuk melawan pada kita, dikarenakan kita yang tidak mengerti dirinya. Apalagi terhadap anak remaja zaman now, ya yang lebih labil dibandingkan zaman kita dulu.

    Nah, itulah Bunda 3 cara untuk kita, bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk anak kita. Tulisan ini ku buat terkhususkan untuk mengingatkan diriku sendiri dan semoga bisa bermanfaat pula untuk orang lain.

    Salam ❤️









    13 comments:

    1. Saya dari kecil apa-apa selalu cerita ke ibu saya.
      Bahkan saya dulu smpet di tawarin rokok oleh temen, tapi saya bilang dlu k ibu saya dan cerita kejadian nya. terus di nasehati di kasih tau bahayanya. AKhirnya sampe sekarang gak pernah merokok
      sampe sakrang pun saya selalu curhat ke ibu kalo ada apa2. Bahkan sampe kenal dengan perempuan. hahaha, tapi sbgai anak sneng aja kalo di dengarkan dan dapet nasehat setelahnya.
      Kalo sekarang sudah di suruh curhat ke Allah sama ibu

      ReplyDelete
      Replies
      1. Wah hebat ya ibunya udah jadi tempat ternyaman untuk anaknya. Semoga saya bisa kayak gtu ya. Aaaminnn 🙏

        Delete
    2. Kayaknya kalau udah punya anak, bakal susah ya untuk punya Me Time?
      Hiiiii~ Saya jangan cepet2 punya anak deh kalo gitu...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hihihi biasanya susah me time itu buat emak2 mas. Tpi tetep sih mengurangi waktunya sang ayah juga hahaha karena bantuin ngasuh. Tapi walau lelah malah nanti akan kita rindukan klo anak2 sudah besar nanti

        Delete
    3. jarang sekali anak yg bisa terbuka terhadap orang tuanya.
      karena kebanyakan orang tua kadang tidak bisa menjadi pendengar yg baik untuk anaknya.

      ReplyDelete
    4. Duh, kadang saya masih susah nahan utk ga motong cerita anak

      ReplyDelete
    5. anakku suka cerita banget tentang kejadian di sekolah, tentang teman2nya bahkan yang lucu itu neyna pernah cerita "bunda aku ga suka main sama si X abis bau mulutnya" aku ngakak anak TK bo ya udah gitu akhirnya ku nasehati ga boleh begitu hehehe ;p

      dengerin cerita anak itu hiburan banget mba buat aku makanya sebisa mungkin aku sll dengerin dan paling yang neyna ga suka kalau aku dengerin sambil main hp pasti nanti dy bilang hp-nya simpen atau kalau aku ga fokus neyna sampe bilang punya uping ga bunda wkkwwkk makanya aku harus fokus

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hahaha Neyna lucu sekali ya, jadi ngebayangin nanti Erysha udah gedenya ☺️

        Delete
    6. Saya juga belajar pelan pelan, Bun supaya menjadi pendengar yang baik untuk anak-anak. Apalagi anak-anak usia sekolah yang dari sekolah ada banyaaaak sekali cerita dari mereka yaa

      ReplyDelete
    7. Semoga bisa terus belajar jadi pendengar yg baik sampai anak remaja hingga dewasa 😃

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES