• Tuesday, June 12, 2018

    Bunda Bingung Menghadapi Perbedaan Pola Asuh dengan Orangtua Terhadap Anak? Begini Cara Menyiasatinya

    bunda bingung menghadapi perbedaan pola asuh dengan orangtua terhadap anak? begini cara menyiasatinya
    Pixabay

    Apa kabar Bunda? Bagaimana puasanya? Lancar kan ya? Udah pada mudik belum? Tepat sekali ya Bun, momen lebaran saat ini bertepatan dengan liburan sekolah anak-anak kita. Berarti liburnya lama banget nih. Nah, adakah para Bunda yang galau atau sedang bingung, gimana sih caranya walau anak-anak di rumah kakek neneknya tetapi tetap menjalankan kebiasaan yang baik seperti yang dilakukan di rumah? Atau bagaimana cara menyiasati adanya perbedaan pola asuh kita dengan orangtua terhadap anak selama liburan?

    Baca juga: INI DIA 5 KESALAHAN POLA ASUH GIZI PADA ANAK YANG JARANG DIKETAHUI ORANGTUA

    Hmmn memang nggak mudah ya Bun, apalagi yang kita hadapi adalah orangtua kita baik itu mama papa kita apalagi mertua kita. Kalau berbicara dengan mama papa kita sendiri, kita bisa lebih nyaman. Tetapi, bagaimana dengan mertua? Pastinya ada perasaan canggung atau takut salah ya, Bun. Apalagi buat ibu baru. Siapa yang kayak gitu? Sayaaaa hahaha. Tetapi, untungnya saya termasuk harus bersyukur sih karena mempunyai mertua yang pengertian dan menghormati pola asuh saya dan suami. Makasih Amih dan Apihnya, Erysha 😘

    Ceritanya selain mudik ke rumah orangtua sendiri, saya pun mudik ke rumah mertua. Dan saya ingin menuliskan ilmu ini sebagai pengingat diri saya sendiri dan siapa tau bisa bermanfaat untuk orang lain. Oh ya, tulisan saya ini adalah tulisan colab saya dengan Bunda Eni. Nah, kalau Bunda memilih lebaran bersama ibu atau mama (mertua)? Boleh banget nih baca ceritanya Bunda Eni di sini ya

    Lebaran Memilih Bersama Ibu atau Mama (Mertua)?

    Pola Asuh yang Umumnya Berbeda dengan Orangtua dan Cara Menyiasatinya


    perbedaan pola asuh dengan kakek dan nenek anak-anak
    Pixabay

    Sebenarnya pola asuh apa sih yang secara umum berbeda antara kita dengan orangtua?

    1. Kekek nenek yang suka memanjakan anak
    Suka mengamati nggak sih Bun, kalau kakek nenek itu sukaaaaa sekali memanjakan anak-anak kita. Semua keinginan anak kita itu dituruti. Mau ini silahkan mau itu silahkan. Semuanya terserah anak dan maunya anak.

    Terkadang suka bikin kita gemes ya di dalam hati. Padahal selama ini, kita nggak mengajarkan anak dengan cara memanjakannya. Tetapi, ketika sampai di rumah kakek nenek, semua itu berubah. Padahal kita tahu, bahwa tidak semua keinginan anak itu perlu diikuti karena itu tentu tidak baik untuk anak ke depannya.

    Kalau sudah begitu apa yang harusnya kita lakukan? Tarik nafas dan turunkan standar kita. Mengapa? Selama cara memanjakan kakek nenek tidak keluar dari prinsip kita. No problem. Biarkan kakek neneknya menumpahkan rasa kasih sayang mereka dengan cara memanjakan anak kita. Toh, sifatnya kan kali-kali ya, nggak sering-sering. Karena memang sedang liburan. Itu salah satu bentuk cara kita menyenangkan hati orang tua pula

    2. Kemandirian
    Kemandirian ini juga termasuk pola asuh yang berbeda antara kita dengan orangtua. Misalnya kita terbiasa mengajarkan anak untuk makan sendiri, mandi sendiri, berpakaian sendiri. Tetapi, kakek nenek malah ingin menyuapi anak kita, memandikan anak kita dan melayani anak kita. Akhirnya, kita lagi-lagi jengkel sendiri, namun di pendam dalam hati. Adakah yang begitu? hahaha. Banyak yaaaa apalagi bingung kalau sama mertua hahaha #CumaMenantuYangTahuRasanya 😂

    Baca juga: AYAH BUNDA! YUK, KITA AJARKAN KEMANDIRIAN PADA ANAK SEJAK DINI

    Kalau begitu, kita bisa menyiasatinya dengan berkata "Erysha hebat lho, Ma udah bisa makan sendiri. Ayo, Erysha makan sendiri, yuk!" (sambil mengarahkan anak untuk makan sendiri). Kata-kata ini secara tidak langsung, memberitahu orangtua bahwa anak kita sudah bisa sendiri. Apalagi, setelah melihatnya secara langsung. Jadi, kakek neneknya pun jadi tahu deh, bahwa cucunya ini sudah mandiri dan menjadi bangga pada anak kita dan memuji kita hebat dalam mendidik cucunya *Uhuk

    3. Pola makan
    Sebagai seorang ibu, kita suka punya taktik sendiri ya, Bun bagaimana caranya agar anak mau makan. Seperti tidak memberikan cemilan berdekatan dengan jam makan anak, karena bisa membuat anak malas makan nantinya yang disebabkan oleh kenyang.

    Baca juga: MENGHADAPI ANAK GTM ATAU SUSAH MAKAN

    Tetapi, ketika berada di rumah kakek neneknya suka berubah ya Bun. Kalau liburannya hanya sebentar sih, nggak apa-apa. Tetapi, kalau liburannya lama. Itu bisa menjadi masalah dan menjadi tidak terpenuhinya gizi anak atau pola makan anak menjadi berantakan. Kalau anaknya sudah besar, anak sudah tahu dengan pola makannya sendiri. Tetapi, kalau masih kecil kan repot ya. Nah, kalau anak masih kecil, sebaiknya kita yang tetap memegang peranan dalam pemberian makan pada anak

    Misalnya dengan berkata "Nenek, Dede sebentar lagi makan. Khawatirnya kalau di kasih cemilan sekarang, nanti Dedenya nggak mau makan". Katakan seperti itu dengan bercanda, hangat dan tanpa menggurui. Alasan di atas pasti mudah diterima logikanya oleh orangtua. Sehingga kakek neneknya pun ikut berpikir "oh iya ya, nanti bisa kenyang ama cemilan"

    Tapi kalau kali-kali makan anak berantakan ketika bersama kakek dan neneknya. Tidak apa-apalah ya Bun.

    4. Tontonan
    Bunda sadar nggak sih dengan tontonan zaman sekarang itu begitu mengkhawatirkan? Tentang kehidupan komsumtif, materialistis, kekerasan, menjurus pada pornografi, bahasa yang kasar, pembullyan dan semua itu diapik semenarik mungkin dalam tontonan acara-acara di TV seperti sinetron, acara musik, berita yang vulgar dll yang semua itu kurang baik juga kita tonton sebagai orang dewasa apalagi oleh anak-anak. Hanya saja, banyak oleh kita yang tidak menyadari dampak dari tontonan itu untuk kita dan anak-anak kita.

    Jadi, jangan heran mengapa sekarang banyak kasus perselingkuhan, pembunuhan, anak masih kecil udah pacaran, kekerasan, bully dll pada saat ini, itu semua salah satu pemicunya adalah dari tontonan negatif yang kita tonton dan kita lihat secara berulang-ulang yang tanpa kita sadari akhirnya itu semua terekam di dalam otak kita dan memberikan pemahaman yang salah pada diri kita. Dan kita menganggap itu menjadi biasa.

    Jadi, kalau di keluarga besar kita ada yang menonton tayangan yang memang bukan untuk anak-anak atau menonton TV nya berlebihan. Kita bisa mengalihkan perhatian anak dengan mengajak anak jalan-jalan di sekitar rumah, bermain mainan edukasi, baca buku atau membuat kegiatan positif lainnya untuk anak. Karena kita nggak mungkin dong ya Bun banyak melarang keluarga kita untuk tidak menonton di dekat anak-anak kita. Karena bagaimana pun juga, kita dalam keadaan bertamu. Ingat pepatah

    "Dimana kaki berpijak, di situlah langit dijinjing"

    Jadi, sebaiknya fokus kita hanya pada anak-anak saja

    5. Bahasa
    Nah, pada umumnya yang namanya kakek dan nenek itu kan suka khawatir ya ama cucunya. Jadi, tanpa disadari mereka akan banyak melarang sesuatu yang mereka anggap tidak baik seperti melihat anak manjat yang dangkal dilarang, main pasir dilarang? Dll. Jadi, sering menggunakan kata larangan pada anak.

    Kalau udah begitu, biarkan saja Bunda. Ingat, toh mereka bersama kakek dan neneknya hanya sebentar. Tak perlu kita banyak melarang pada orangtua, khawatirnya bisa membuat mereka tersinggung. Paling kita bisa mengantipasinya "Iya, Ma. Saya akan mengawasi anak-anak" atau senyumin saja

    6. Dll

    Hal yang Perlu Kita Ingat Tentang Kakek Nenek


    Bunda, walau pun pola asuh kita berbeda dengan orangtua. Ada yang harus kita ingat, bahwa niat orangtua kita itu selalu baik. Karena tidak ada kakek nenek yang berniat tidak baik pada cucunya dan suatu hari nanti, kita pun akan menjadi seorang nenek dan mertua. Pemahaman inilah yang harus kita gigit baik-baik, agar kita mau pula bertoleransi dan bersabar dengan mereka, jika menemukan sesuatu yang kurang sesuai dan ajaklah anak-anak kita untuk mengambil nilai-nilai yang positif dari kakek neneknya. Ingatlah tidak semua kakek nenek berbeda pola asuhnya dengan kita

    Cara Berkomunikasi pada Anak, Agar Anak Tetap Menjalankan Pola Asuh Kita Walau di rumah Kakek Neneknya


    cara berkomunikasi yang positif dengan anak
    Pixabay

    Bunda, ketika kita mengajak anak berlibur baik itu bersama kita atau pun tanpa kita. Walau pun pola pengasuhan dan pendidikan terhadap anak adalah tetap hak privacynya kita sebagai orangtua. Tetapi, tetap kitalah yang sebaiknya mengikuti aturan dimana kita berada. Jadi, sebelum liburan kita perlu ajak anak bicara, tugas kita cukup memberikan penguatan pada anak. Nah, bagaimana ya cara berkomunikasinya pada anak?

    Bunda: "Kak, nanti kita mau liburan lho ke rumah Kakek dan Nenek. Di sana ada banyak orang dan saudara sepupu. Pasti seru ya liburannya karena Kakak punya banyak  teman terus bisa main juga sama Kakek dan Nenek. Kakak seneng kan ya?"

    Kakak: oh iya Bun seneng dong. Jadi, nggak sabar ya Bun"

    Bunda: "iya"

    (Sampaikanlah sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan pada anak, lalu ungkapkanlah apa yang Bunda harapkan dari anak)

    Bunda: Nanti di rumah Kakek dan Nenek, Kakak tetap anak yang hebat, kita kan punya beberapa kesepakatan di rumah, dan Bunda akan senang sekali kalau Kakak tetap menjalankan kesepakatan kita selama ini. Bunda yakin Kakak bisa"

    Sampaikan dengan rasa penuh kepercayaan pada anak dan kasih sayang. Pastikan anak bahwa kita percaya padanya. Dan jangan lupa Bunda, selalu peluk anak setiap kali kita selesai menyampaikannya

    Nah, itu dia Bunda cara menyiasati perbedaan pola asuh kita dengan orangtua terhadap anak dan cara mengkomunikasikannya pada anak. Kalau Bunda sendiri ada cerita apa nih selama liburan bersama anak ke rumah orangtua? Sharing yuk di sini. Semoga bermanfaat ya





    14 comments:

    1. Ternyata kekhawatiran kita sama ya bun. Haha

      ReplyDelete
    2. Emang ya Bun, sering kali aturan ortu dan nenek kakek berseberangan. Kita yang harus bijak menyikapinya. Thanks gor sharing!

      ReplyDelete
    3. Hihiiii ini betul banget Kak Yeni.
      Alhamdulillah dengan komunikasi yang intens ortu lebih mengerti maksud saya. Apalagi menangani anak ABK perlu usaha lebih keras dan harus diajarkan mandiri sejak dini, kadang itu yang jadi kendala. Mereka tidak tegaan hehehe

      ReplyDelete
      Replies
      1. Nah iya bener, mereka suka nggak tegaan ya bun hihihi

        Delete
    4. Iyaaa bener banget, Bund. Anak-anak kalo ada kakek-neneknya jadi manjanya minta ampun

      ReplyDelete
    5. Cucu saya ABK. Kalo saya anter terapi suka nggak mau ditinggal. Saya tinggal aja supaya ga terdistrek pas lagi terapi. Nangis, gamblok ke saya. Padahal saya engga manjain lho. Lhah kalo dianter ibunya kenapa diem aja, lebih mandiri. Terapisnya smp heran.

      ReplyDelete
    6. Kalo anaknya dah bisa dikasih tau enak, klo masih terlalu kecil.. gemes juga .. karena kadang masih terbawa tuhh ... sikap manjanya sampe dirumah..

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kalau anaknya masih kecil, sebaiknya tetap kita yang memegang anak Bun. Karena anaknya masih kecil belum bisa banyak diajak berkomunikasi 😃

        Delete
    7. Ketakutan mamah-mamah muda semua sama ya bun.
      Ini yang bikin saya kadang mikir kalau ke rumah mama atau mertua.
      Soalnya saya jadi di cap galak gegara tetap tegas sama anak.

      Jadi sebelum berangkat saya sudah sounding ke anak, kalau sampai di sana ga boleh manja.
      Kalau gak mau denger maminya gak segan2 marah meski ada kakek neneknya hehehe

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES