• Sunday, September 2, 2018

    Talkshow "Mendidik Anak di Era Digital" bersama Singapore Intercultural School Bona Vista

    talkshow "mendidik anak di era digital" bersama singapore intercultural school bona vista

    Hai-hai Ayah Bunda, allhamdulillah kemarin hari Jumat, tanggal 31 Agustus 2018, saya berkesempatan diundang datang oleh komunitas Blogger Perempuan untuk meliput talkshow tentang "Mendidik Anak di Era Digital" yang berlokasikan di Singapore Intercultural School Bona Vista, Jakarta Selatan

    Ketika sampai, saya dan para blogger lain di sambut dengan sangat ramah oleh panitia acara. Acara dibuka oleh Ibu Desy Yusnita dari Komunitas Blogger Perempuan dan sambutan dari kepala sekolah Singapore Intercultural School Bona Vista yaitu Mr John P Birch

    Kepala Sekolah
    Mr John dan Ibu Elizabeth

    Nah, talkshow mendidik anak di era digital ini langsung mendatangkan ahlinya yang nggak sembarangan lho, Ayah Bunda yaitu Ibu Elizabeth T. Santosa, Psikolog sebagai narasumbernya. Beliau ini adalah seorang penulis buku "Raising Children in Digital Era", dosen di Swiss German University, sering diundang sebagai narasumber di media (cetak & televisi) dan aktif membantu komnas perlindungan anak.

    MasyAllah, saya merasa beruntung sekali bisa dapat ilmu langsung dari beliau. Ilmunya juga saya bagikan di sini, ya Ayah Bunda 😉. Agar kita bisa sama-sama belajar

    Ayah Bunda, sebagai orangtua dengan membesarkan anak yang katanya zaman now ini, tentu kita tidak bisa dong menutup mata dengan segala perkembangan yang terjadi di zaman ini. Begitu juga dengan kita yang memang orangtua zaman now pula.

    Pada saat ini, kita berada di era digital dan dengan segala tantangannya. Salah satunya yaitu gadget. Sebagai orangtua zaman now, kita tidak bisa anti pada zaman. Jadi, kita tidak bisa juga anti pada gadget. Bukankah juga pada saat ini banyak anak muda yang cerdas karena mengikuti perkembangan zaman seperti artis Raisa yang bisa terkenal dengan unggahan nyanyinya di you tube, atau Raditya Dika yang terkenal karena tulisannya lewat media sosial yang bernama blog? Dll.

    Nah, daripada kita sibuk melarang anak main gadget kenapa kita tidak meng-upgrade diri kita terlebih dahulu dengan kemajuan zaman ini dan memanfaatkannya menjadi hal yang positif.

    Jadi, orangtua di zaman now ini dilarang gaptek. Kalau kita gaptek, bagaimana kita bisa membersamai anak kita di era digital ini dan dengan segala tantangannya yang ada.

    Baca juga: 7 ALASAN MENGAPA ORANG TUA PERLU BELAJAR TEKNOLOGI. YUK MENJADI ORANG TUA YANG KREATIF BERSAMA ASUS EEEBOOK E202 DALAM MEMBUAT PROSES BELAJAR YANG MENYENANGKAN BAGI ANAK

    Karakteristik Anak Era Digital


    Ayah Bunda, sebagai orangtua kita harus tahu dahulu dengan karakterkstik anak di era digital ini. Apa saja itu?


    mendidik anak era digital

    Tips Penggunaan Sosmed & Informasi untuk Anak


    Lalu, bagaimana sebaiknya perlakuan kita kepada anak tentang gadget ini?

    1. Penggunaan sosial media tidak diperuntukkan untuk anak di bawah usia 13 tahun
    2. Aplikasikan peraturan dasar
    3. Setting privaci untuk sosial media
    4. Gunakan perangkat lunak yang dapat menyaring website (filtering software)
    5. Tidak menggunakan laptop/komputer di kamar untuk anak usia di bawah 14 tahun
    6. Orangtua perlu jeli untuk memperhatikan situs-situs yang sering dikunjungi dan orang-orang yang berkomunikasi dengannya

    Tips Menggunakan Internet dan Sosmed untuk Orangtua


    1. Orangtua wajib mencontohkan perilaku teladan dalam menggunakan sosial media
    2. Batasi penggunaan telepon genggam
    Fenomena nomophobia (no mobile phone phobia)
    3. Bicarakan pada anak mengenai bahaya online

    dampak negatif gadget
    Bahaya Online

    Ilmunya banyak sekali ya Ayah Bunda, dan terlihat banyak para hadirin yang bertanya di sesi acara.

    mempersiapkan anak memasuki era digital

    Namun, ada sesuatu yang membuat saya termenung ketika Ibu Elizabeth ini bertanya pada peserta acara

    "Siapa ibu-ibu di sini yang sehari-hari memberikan tontonan TV dan gadget pada anaknya?"

    Dan hampir semua peserta memberikan tontonan TV dan gadget pada anaknya setiap hari dan jujur itu membuat saya sedih, karena betapa masih banyak dari kita yang belum menyadari bahayanya itu semua untuk tumbuh kembang anak-anak kita.

    Tahu respon Ibu Elizabeth ini bagaimana? Beliau langsung bilang "Kalau begitu, pulang dari sini kita semua harus bertobat ya" sambil bercanda. Kami semua tersenyum malu padanya karena apa yang kami lakukan pada anak-anak kami.

    psikolog

    Tahu nggak Ayah Bunda, ternyata Ibu Elizabeth ini anaknya tidak terbiasa nonton TV lho, di rumahnya. Karena memang mereka sehari-hari diisi dengan banyak kegiatan stimulasi di rumah dan walau anaknya sudah SD, hanya diperbolehkan main gadget hanya seminggu satu kali dan itu cuma 2 jam.

    MasyAllah, keren ya Ayah Bunda. Allhamdulillah sejauh ini saya dan suami menerapkan pola yang sama dengan ibu Elizabeth ini di rumah untuk Erysha. Erysha dirumah banyak bermain stimulasi dengan saya dan sehari-hari tidak dikasih handphone dan TV juga. Doakan semoga saya dan suami bisa terus menerapkan itu ya pada Erysha, dan itu harus.

    "Lebih baik kita membiarkan anak-anak kita menangis sekarang karena tidak diberi gadget daripada kitalah yang menangis-nangis nantinya karena gadget telah merusak anak kita".

    Setelah sesi talksow mendidik anak di era digital ini. Kami diajak untuk berkenalan dan berkeliling oleh Ibu Monika mengenal sekolah bertaraf internasional ini yaitu Singapore Intercultural School atau disingkat dengan SIS Bona Vista dan rasanya saya senang sekali bisa belajar juga secara langsung tentang sekolah bertaraf internasional itu seperti apa.


    Bertahun-tahun saya mengajar di sekolah, walau sekarang jadi ibu rumah tangga, ini pertama kalinya bagi saya datang ke sekolah bertaraf internasional. Jujur, waktu pertama kali saya menginjakkan kaki saya ke gedung Singapore Intercultural School ini. Ada perasaan "waw" di dalam hati. Kenapa? Karena memang gedungnya besar dan megah sekali. Memang tidak aneh juga kenapa sekolah ini bisa bertaraf internasional, karena dari bangunannya saja sudah wah, ya

    Karena mumpung sedang meliput di sekolah ini, tentu membuat jiwa saya sebagai orangtua ingin tahu lebih jauh lagi apa visi misi sekolah ini, bagaimana kurikulumnya, bagaimana mereka berkomunikasi dengan lingkungan sekolah dan apa yang membedakan sekolah bertaraf internasional dengan sekolah-sekolah yang lain.




    Emang penting ya sebagai orangtua kita perlu tahu visi misi sekolah itu? Iya dong penting sekali. Mengapa? Karena dari visi misi sekolah itulah kita bisa melihat gambaran ke depannya, apakah sekolah itu sesuai dengan visi misi pendidikan kita terhadap anak kita sendiri atau tidak, dan apakah konsep pendidikannya sama dengan keluarga kecil kita terhadap anak kita ataukah tidak. Buat Ayah Bunda yang ingin tahu mengapa kita perlu mempunyai konsep pendidikan pada anak kita, boleh lihat di sini ya lengkapnya

    Tentu, kita tidak mau dong asal-asalan memasukkan anak kita ke sekolah tanpa tahu output-nya nanti bagaimana. Walau tetap ya, Ayah Bunda pendidikan utama seorang anak ada di tangan kita orangtuanya, bukan sekolah. Walau begitu, tetap sekolah merupakan bagian penting untuk membantu kita mendidik anak-anak kita di luar lingkungan rumah.

    Baca juga: APA YANG SUDAH KITA PERSIAPKAN DALAM PENDIDIKAN ANAK KITA DI ERA KEKINIAN?

    Nah, apa Ayah Bunda juga penasaran seperti saya dengan gambaran visi misi sekolah bertaraf internasional itu seperti apa, ya? dan salah satunya visi misi dari Singapore School ini.

    Visi Misi Singapore Intercultural Scholl

    singapore intercultural school

    Vision

    Inspiring Learners Toward Greater Heights

    Mission

    To spark curiosity and inquiry while developing values and 21st century skills. We prioritise learners and personalise learning to make a better world.

    Waw visi misinya kekinian sekali ya Ayah Bunda. Berusaha memberikan apa yang anak butuhkan sesuai dengan perkembangan zamannya. Beda sekali dengan visi misi belajar kita zaman dulu. Yang konsep belajarnya duduk tenang berjam-jam lalu buka buku, kerjakan dan hapalkan. Akhirnya, kita cuma hapal tetapi nggak paham. Iya kan? Yang ada sekarang kita malah lupa dengan apa yang kita hapalkan dulu. Hahaha soalnya kita dituntut untuk hapal bukannya memahami. Bener nggak? Atau kita beda zaman ya? Hahaha

    Lalu, bagaimana dengan kurikulumnya? Sebagai orangtua, sebaiknya kita bukan hanya belajar visi misi pendidikan anak, tetapi belajar juga memahami kurikulumnya. Jangan-jangan kurikulumnya tidak nyambung lagi dengan visi misi kita tadi.

    Kurikulum ini adalah penjabaran dari visi misi itu sendiri. Kurikulum ini bagian penting yang perlu kita ketahui jika nanti akan memasukkan anak kita sekolah. Kalau begitu, yuk Ayah Bunda kita belajar sedikit mengenai kurikulum dan kita ambil contohnya, bagaimana kurikulum di Singapore Intercultural School ini?

    Kurikulum Singapore Intercultural School


    Selama saya mengajar dan berlatar belakang pendidikan, setahu saya biasanya di suatu sekolah itu hanya memiliki satu kurikulum saja. Tetapi, ternyata di Singapore Intercultural School ini memiliki 3 kurikulum lho, Ayah Bunda. Dimana, setiap kurikulum di sesuaikan dengan jenjang pendidikannya. Karena memang di Singapore Intercultural School ini memberikan pendidikan dari usia prasekolah sampai SMA.

    Nah, kurikulum apa saja itu?
    1. Kurikulum Singapura
    2. Kurikulum Singapura dan mengadopsi program universitas cambridge
    3. Program IB (diploma)

    Karena memiliki 3 kurikulum inilah yang membedakan Singapore Intercultural School dengan sekolah-sekolah yang lain, bahkan berbeda dengan sekolah bertaraf internasional yang lainnya. Unik juga ya, Ayah Bunda.

    Nah, itu dia Ayah Bunda, hasil liputan saya mengenai mendidik anak di era digital di Singapore Intercultural School Bona Vista. Semoga bermanfaat dan ayo kita sama-sama belajar untuk membersamai anak-anak kita dengan cinta dan ilmu



    39 comments:

    1. Betul sekali bunda di zaman digital ini memang harus pintar2 memanfaatkannya dengan bijak. Orangtua pun mininal harus setingkat lebih pintar, banyak tau, dari pada anak.
      Btw, serunya bisa diundang sekolah keren Singapore hehe...
      Jadi penasaran sama kurikulum 3 itu termasuk kurikulum Singapura ...
      Tks for sharing

      ReplyDelete
    2. Whuaa Bun, ini deket banget sama rumahku. *semoga gak mengira rumahku yg di Bona ya... haha doakan aja itu mah. Btw terima kasih banget sharingnya, aku pengen tahu banget juga emang tty sekolah ini.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hahaha aaaminnn Bun. Saya juga mau punya rumah daerah sana hihihi

        Delete
    3. SubhanaAlloh anda beruntung Bund. Bisa mendapatkan informasi tentang ini. Karena ini adalah ujian bagi para Ibu dijaman Digital. Satu sisi kita butuh edukasi dan informasi. Dibutuhkan komitment waktu untuk bergadget bagi anak anak

      ReplyDelete
    4. kalau menurut aku teknologi itu gak bisa dihindari..maka tugas ayah bunda sih untuk membuat teknologi itu menjadi fun dan ke arah yg positif..:)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bener ga bisa dihindari malah harud dimanfaatkan secara positif

        Delete
    5. setuju bun, gadget memang berdampak negatif pada anak. untuk Aira pun aku menerapkan aturan yang tegas perihal gadget dan tontonan tivi. karena aktifitasnya sangat padat, dalam satu hari Aira masih aku beri kesempatan untuk menonton tivi atau pegang gadget sebagai cara untuk mengendurkan syarafnya. tapi waktunya tidak lebih dari 30 menit dalam 1 hari. kecuali akhir pekan, baru sedikit saya beri kelonggaran, tp channel yg ditonton pun saya atur khusus untuk anak-anak.

      ReplyDelete
    6. Ini dia... Kidz zaman now emang beda, perilakunya juga. Duh, kalo kita gak pinter2 mengarahkan, bisa terseret arus yg gak bener. Untungnya ada acara kayak gini ya mom, jd nambahin ilmu.

      ReplyDelete
    7. Bener bgt mba. Membatasi gadget ke anak itu harus banget. Terus memberi contoh itu harus bet. Ibaratnya mah nasihat terbaik ya sebuah contoh.

      ReplyDelete
    8. Dari pas kapan har BP share mau ada kegiatan ini, aku langsung ngebatin, mesti baca nih postingan temen yang ikutan acara ini. TFS ya Bun dah share hasil kegiatannya...
      Btw, itu kurikulum pake tiga model gimana nerapinnya ya? Hihihi, sebagai mantan guru, dulu pas ngekombinasiin kurikulum nasional sama Cambridge aja dah lieur. Apalagi ini pake tiga kurikulum...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hahahha ini kurikulumnya di sesuaikan dengan jenjang pendidikannya Bun .jdi ga langsung di satuin semuanya.

        Delete
    9. Main Gadget dengan hape memang nggak baik banyak dilakukan untuk mereka yang masih usia sekolah. Karena masanya untuk sosialisasi maupun bermain dengan alam akan berkurang bahkan bisa jadi hilang.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bener Mba. Bahkan buat orang dewasa juga jd ga baik juga ya kalau penggunaannya brlbihan. Jdi ketergantungan

        Delete
    10. Ride-on toys are particularly devised for kids making use of their constant pleasure and love
      mind. When baby is 7 months old the subsequent cereal meals,
      prepared in your own home, could be fed. As serious trained scientist they've got used their training to study their particular abilities scientifically and to constantly improve on energy
      healing techniques.

      ReplyDelete
    11. Ini bener banget. Ini jadi PR terbesar aku buat batasi screen time. Tapi suka stuk ide untuk stimulus anak.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Coba cari idenya di internet dan buku bun. Banyak tinggal pilih 😉

        Delete
      2. Setuju banget mbak, anak2 emang harus banyak distimulasi dengan permainan2 yang dapat mengasah kreatifitasnya. Tapi sayangnya masih banyak ibu yang mencari jalan praktis dengan memberikan gadget utk anaknya agar mereka anteng alias tenang/diam

        Delete
      3. Iya Bun. Semoga banyak orangtua yang kini peka akan bahaya gadget jika berlebihan dan sebelum waktunya

        Delete
    12. separah itu ya mbak gaadget buat anak... merasa bersalah nih kalo aku kadang kasih dia tablet hikz

      ReplyDelete
      Replies
      1. Biasanya dampak gadget itu baru kerasa kalau udah lama penggunaannya pada anak. Beda kalau pisau langsung keliatan hasilnya klo diksh sblum wktunya pada anak

        Delete
    13. Indeed. TV itu godaan banget ya bun. Dari zaman single aku hobi nonton TV, alhamdulillah brkurang saat baru baru lahiran munvkin karena sibuk ngurus bayi juga hehe

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hihihi iya kalau ngurud bayi, kita jadi sibuk banget ya hahah

        Delete
    14. Aku datang ke acara ini dan senang banget dengan materi yang luar biasa membuka mata ya mba. Jadi nggak perlu parno untuk penggunaan gadget ya mba. Tapi fungsi kontrol orangtua harus ada

      ReplyDelete
      Replies
      1. Nah iya Bun. Fungsi kontrolnya ini yang harus dipegang oleh orangtua sepenuhnya ya

        Delete
    15. Zaman skrng kita emang gak bisa gak ngasi gadget ya mom. Yg penting control.
      Wah sekolahnya bagus banget. Berharap semua sekolah (negeri) di Indonesia seperti itu dan pendidikan makin merata di Indonesia...

      ReplyDelete
    16. Ini sekolah dari jaman dulu kualitasnya memang bagus. Dulu banyak anak-anak boss di kantorku yang memilih sekolah di SIS

      ReplyDelete
      Replies
      1. Oh gitu Bun. Berarti udah sering dengar tentang SIS ini ya Bunda ☺️

        Delete
    17. Pertama kali datang ke sekolah SIS nih aku. Sekolah idaman aku banget buat anak-anak kelak.
      Gadget nggak selamanya buruk,pasti ada hal positifnya. Pengawasan dari orangtua harus lebih ketat.

      ReplyDelete
    18. mba yenn, makasi banget informasinya. kmrn pas pada posting d instagram, aku nunggu2 bangetinformasi d blognya, akhirnya mba yen publish juga. bookmark dulu ah.

      ReplyDelete
    19. Seneng ya dapat ilmu dari pakarnya,plus sekalian keliling ke sekokah yg baru.

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES