• Monday, November 19, 2018

    Tentang Ayah

    tentang ayah
    Pixabay

    "Kita tidak pernah bisa meminta dari ayah mana kita berasal. Tetapi paling tidak, kita selalu punya pilihan untuk mencintainya dalam hidup kita"

       Tak banyak hal yang aku ingat tentang ayahku, walau aku hidup puluhan tahun bersamanya. Bukan...bukan karena dia orang jahat. Dia hanya seorang ayah yang tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan rasa cintanya kepada anak perempuannya. Keterbatasan ilmu membuatnya tak tahu bagaimana cara berkencan dengan anak-anaknya dan aku pun tak tahu bagaimana caranya menjadikannya cinta pertama dalam hidupku.

    Baca juga: WAHAI AYAH, JADILAH CINTA PERTAMA ANAK PEREMPUANMU

         Hingga aku tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang selalu haus kasih sayang dan tak memiliki standar laki-laki yang seperti apa yang aku cari dalam hidupku. Begitulah caraku menjalani hidupku sampai aku berusia remaja. Hingga Dia (Allah) memberikanku ilmu serta pemahaman laki-laki seperti apa yang seharusnya aku cari untuk mendampingiku dan menjadi ayah yang hebat untuk anak-anakku kelaknya dan kini aku telah menemukannya. Karena

    "Masa depan anak-anak kita kelak, tidak ditentukan ketika kita baru menjadi orangtua. Tetapi dimulai dari ketika kita memilih siapa pasangan kita"

    Ayah pemegang kendali utama sebagai pemimpin keluarga dan sebagai suri teladan untuk anak-anaknya. Untuk itu, memilih pasangan bukan hanya soal rasa tapi harus ada ilmu serta doa yang menyertai proses di dalamnya. Jadi, jangan menikah hanya berdasarkan cinta. Tapi menikahlah dengan seseorang pembelajar. Tak harus seseorang yang sempurna tetapi yang terpenting mau belajar. Karena seseorang yang mau untuk terus belajar akan membuatnya terus belajar bagaimana memberikan yang terbaik dari setiap peran yang ia mainkan

         Ketika ia berperan menjadi seorang pasangan. Ia akan terus belajar bagaimana menjadi pasangan yang baik untuk belahan jiwanya. Ketika ia berperan menjadi orangtua, ia akan terus belajar membekali dirinya bagaimana menjadi orangtua yang baik dan lebih baik lagi untuk anak-anaknya dan begitu juga dengan peran-perannya yang lain.


    Tentang Ayah 


    berdua dengan ayah
    Pixabay

         Dalam hidupku, aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya dipeluk oleh ayah. Mungkin dia pernah memelukku sewaktu aku kecil tapi aku lupa rasanya, aku pun tak pernah di bilang cantik, hebat, dan tak tahu bagaimana rasanya dibesarkan dengan konsep diri yang positif. Aku tumbuh dengan self esteem rendah karena pola asuhku sewaktu kecil. Apa aku pernah marah dan bahkan membenci? Pernah, tapi itu dulu. Sekarang aku hanya melihat bahwa sesungguhnya orangtuaku terutama ayah adalah sosok yang perlu dikasihani bahwa sesungguhnya ia pun tak dibesarkan dengan kebahagiaan

    Baca juga: TERIMA KASIH MAMA TELAH MEMBESARKANKU DI ATAS KETIDAKBAHAGIAANMU

         Masa kecilnya pasti diperlakukan seperti itu oleh orangtuanya hingga ia besar menjadi orangtua yang tak tahu juga bagaimana menyatakan cintanya pada anak-anaknya. Seandainya waktu bisa diputar ulang kembali, aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin akulah yang memulai menyatakan rasa cintaku padanya dan jika ditanya hadiah apa yang paling ingin aku berikan kepadanya andaikan aku masih remaja, jawabnya adalah aku hanya ingin memeluknya

    wahai ayah jadilah cinta pertama untuk anak perempuanmu
    Pixabay

         Iya, aku ingin memeluknya. Aku ingin tahu bagaimana rasanya memeluk dan dipeluk ayah dalam hidupku. Aku ingin merasakan bagaimana menjadi anak perempuan yang mencintai dan merasa dicintai seperti anak-anak perempuan yang lainnya. Aku ingin memeluknya, laki-laki yang selama ini membesarkanku, mengurusku, membiayai hidupku, yang sibuk berhutang ke sana kemari agar aku dan keluarga bisa makan, sekolah dan memiliki tempat tinggal sekalipun harus mengontrak dan tidak layak untuk kami huni.

    Tak ada manusia yang sempurna, begitupun dirinya. Tapi aku  selalu punya pilihan untuk menyayanginya. Karena

    "Seorang anak berhutang nyawa kepada ibunya ketika ia dilahirkan dan seorang anak berhutang hidup pada ayahnya karena ialah yang membiayai hidup"

    Itu semua membuatku ingin memperbaikinya. Aku ingin menemaninya, menguatkannya dan membahagiakannya. Karena aku tahu betapa hidupnya tak bahagia dengan keadaannya. Setiap hari dia jejalkan rokok yang berbatang-batang itu ke mulutnya atas pelariannya dari kehidupannya. Atas ketidakbahagiannya dalam hidupnya. Hingga ia pun sakit-sakitan menanggung semuanya. Ingin sekali aku berkata

    "Ayah, maafkan aku terlambat menyadari hadirmu. Hingga Engkaupun pergi di saat aku belum sempat membahagiakanmu. Padahal aku tahu betapa ada banyak hal yang engkau korbankan untukku dan keluarga. Ayah, maafkan aku yang belum sempat dan belum pernah memelukmu, karena aku tidak tahu bagaimana caranya memeluk, tapi tahukah engkau Ayah, kini ku hebat sekali dalam memeluk. Karena suami dan anakku tiada hari tanpa aku memeluk mereka

    Ayah, maafkan aku membuatmu merasa kesepian dan membuatmu merasa sendirian di dunia ini selama ini. Maafkan atas semua salahku. Engkau pasti merasa kesepian dan begitu terluka waktu itu hingga engkau pun menyerah pada dunia yang fana ini dan pergi begitu saja sebelum aku sempat meminta maaf padamu,  memelukmu dan berkata bahwa aku mencintaimu, Ayah. Ayah, jangan khawatir, aku memaafkanmu. Karena engkau adalah ayahku. Semoga engkau tenang di sana, dan doaku selalu teruntukmu"

    Baca juga: IBU, AKU MEMAAFKANMU!

    quality time dengan ayah
    Pixabay

    Walau tak banyak kenangan manis bersama Ayah yang ku ingat. Tapi ada dua kenangan yang begitu berkesan di hatiku bersamanya. Pertama waktu aku sakit dan ayahlah yang begitu memperhatikanku hari itu. Ia mengelus rambutku hingga aku tertidur di sebelahnya dan kenangan terakhir yang berkesan ketika ayah datang menemaniku mengambil raporku di TPA sewaktu aku kecil dulu.

         Dulu aku dengan percaya dirinya berkata pada ayah bahwa aku akan mendapatkan rengking 3 karena mendengar kata orang lain bahwa aku masuk 3 besar dan aku benar-benar berharap sekali aku rengking 3 karena aku ingin membuat ayah bangga padaku. Tetapi, ternyata aku salah. Aku bukan rengking 3 tapi rengking 4. Waktu itu aku kecewaaaa sekali karena tidak berhasil membuat ayah bangga padaku hihihi 😂

         Kini aku telah dewasa, kalau ditanya hadiah apa yang ingin aku berikan pada ayah diusiaku saat ini adalah doa. Iya aku hanya bisa memberikan doa setulus hati untuk ayah di sana. Semoga Allah menyayanginya

         Teruntukmu yang hidup dengan membenci ayahmu atau teruntukmu yang hidup denga rasa cinta yang hambar pada sosoknya. Maafkanlah ia. Karena suatu hari nanti engkau akan menangis dan mungkin akan menyesalinya karena telah menyia-nyiakannya dan tidak menghabiskan banyak waktu bersamanya. Hingga ia pun pergi begitu saja tanpa pamit dari hidupmu dengan perasaan hancur tak dicintai. Sungguh itu perasaan yang begitu menyakitkan

        Engkau tahu ketika engkau menyesalinya setelah ia pergi. Itu akan menjadi hal yang tak mudah sepanjang hidupmu dan apa engkaupun tahu, hal paling sulit dalam hidup ini bukanlah memaafkan orang lain, tetapi memaafkan diri sendiri

         Teruntukmu yang masih memiliki dia di sampingmu. Teleponlah dia, pulanglah, peluklah dia, katakan betapa engkau mencintai dan menyayanginya. Minta maaflah padanya. Karena engkau tak akan pernah tahu kapan waktumu akan benar-benar habis bersamanya dan melihatnya. Pulanglah


    30 comments:

    1. Memang kita akan kehilangan ketika menyadari org yg kita cintai meninggalkan kita.

      ReplyDelete
    2. Masya Allah, saya pun punya kenangan tentang ayah yakni beliau yg setia menemaniku saat diopname di rumah sakit. Beliau juga yg mengambil raportku, dan saat itu aku mengira dapat rangking 3 di kelas tapi ternyata justru rangking 1. Alhamdulilah, senang dan bangga rasanya melihat ayah mendapat pujian dari ibu wali kelasku. Duh, tiba2 kangen ayah Rahimahullah.

      ReplyDelete
    3. Ayahku udah engga ada, 21 thn yl. Tapi kenangan tentang beliau masih ada. Darinya aku belajar ttg kejujuran. Begitu pensiun, semua fasilitas dikembalikan ke negara. Engga kayak anak² skrng...hehe...engga mau keluar dr rumah dinas (ayahnya)...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bener bun. Itu kan bukan haknya ya tinggal yang bukan tempatnya

        Delete
    4. Aku juga enggak deket benget dengan Bapakku Bun..
      Karena Beliau bekerja dari pagi sampai petang kadang malam. Beliau guru negeri yang nyambi ngajar juga di sekolah swasta lainnya untuk menafkahi keluarga.
      Alhamdulillah Beliau kini masih sehat.
      Hiks..jadi terharu baca artikel ini. Terima kasih sudah diingatkan tentang sosok Ayah ya

      ReplyDelete
    5. Aku hanya 6 tahun ditungguin ayah. Itu pun nggak setiap hari karena LDRan. Tapi ya sudahlah, yakin saja ketetapan Allah lebih dari segalanya. Toh, aku tetap cinta sama almarhum Ayah. Semoga anak-anak kita mendapatkan hak-nya sebagai anak dari ayahnya ya, Mbak. Ya dicukupi secara lahiriah juga kebutuhan kasih sayangnya.

      ReplyDelete
    6. Kita orang timur kadang suka kurang ekspresif ya mba. Makanya sering gak bisa menyampaikan perasaan dengan terbuka. Termasuk antara ortu dan anak. Aku juga masih belajar menjalin komunikasi yang hangat dengan anak-anakku

      ReplyDelete
    7. Seperti apapun ayahku, nggak ada yang bisa menolak takdir bahwa beliau ayahku. Aku nggak bisa memilih punya ayah yang seperti apa, tapi aku punya pilihan untuk selalu menyayanginya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener banget bun. Kita slalu punya alasan u/ mencintainya ya 😃

        Delete
    8. Sedih bacanya mba.... Saya lebih beruntung ya selalu diperhatikan Ayah. Smpi saat ini msh tergiang nasehat alm saat melepas putrinya untuk studi do luar kota. Ayah bagi saya sosok yg hebat. Baca tulisan Bunda Erysha jadi ingat alm Ayah....mksh ya mba...

      ReplyDelete
    9. Beda sama ayahku Mbak, dia yg bisa mengajariku berpikir positif, tak gampang menyerah, jg semangat menghadapi hidup. Krn emang sejak kecil dia jg hidup dg kondisi yg serba terbatas, sampai punya anak aq pun demikian. Makanya karakternya bs terbentuk seperti itu & kemudian diwariskan kpd anak2nya.

      ReplyDelete
    10. Saya terharu banget baca ini. Jadi teringat alm. Bapak :'(
      Sebaiknya, saya sangat dekat dg beliau. He's really my first love. Alhamdulillah, Allah beri ganti dg suami yang mirip dg beliau.
      Semoga suami kita bisa lebih baik dari ortu kita ya, Bun. Sehingga anak2 perempuan kita mendapatkan cinta sepenuhnya, sebagai hak atas fitrah seksuitasnya dan menjadi kenangan indah sepanjang hidupnya. Aamiin.

      ReplyDelete
    11. sama ayahku agk bisa mengekspresiakna arsa cintanya pad aanak2 , aku jd suak kesal tp justru saat beliau mau meninggal saat sakit aku merasakan kalau beliau sangat menyayangiku, aku menyesal sudah salah sangka sama beliau

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bum dulu sewaktu kita masih anak-anak. Kita sulit memahami soal rasa itu

        Delete
    12. "Masa depan anak-anak kita kelak, tidak ditentukan ketika kita baru menjadi orangtua. Tetapi dimulai dari ketika kita memilih siapa pasangan kita"

      Saya suka kalimat di ats. Maka pandai-pandaila memilih pasangan, kalau sudah terlanjur maka ajaklah untuk belajar bersama.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bun harus hati2 dan nggak asal pilih hanya karena cinta aja

        Delete
    13. Beberapa orang pernah bilang, ayah adalah cinta pertama putrinya. Semoga semakin banyak ayah yang bisa menjadi figur idola bagi putrinya.

      ReplyDelete
    14. Saya lebih dekat dg ayah. Pemikiranku banyak dipengaruhi dr ayah. Love u Abah.

      ReplyDelete
    15. Jadi kangen bapak, bapak saya yang super galak, yang suka bentak saya, yang suka pukul betis saya, yang suka ancam ga boleh sekolah kalau ga dapat juara 1, hiks.

      Dibalik kegalakannya, beliau adalah bapak yang hangat terhadap anak perempuannya.
      Yang masih mau gendong saya meski saya udah gede, huhuhu kangeennn

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES