• Sunday, January 13, 2019

    Teruntukmu yang Bernama Suami, Pulanglah!

    teruntukmu yang bernama suami, pulanglah!
    Pixabay

           Lagi-lagi membuatku kembali menarik nafas panjang. Seorang ibu duduk di sebelahku lalu bercerita betapa putus asanya ia menghadapi anak-anaknya, pekerjaan rumah dan rasa tidak berguna di hatinya.

           Yah, dia hanya seorang ibu rumah tangga yang mengurus semuanya sendirian. Sama seperti ibu-ibu yang lain. Namun, ada rona ketidakbahagiaan di dalam dirinya, ada getar di dalam suaranya, ada isak yang berusaha ia coba untuk tahan dan ada butiran air mata yang menggenang jelas di matanya. Ia pun berusaha untuk menghapus genangan itu agar tak tumpah ruah di pipinya

           Sedangkan aku hanya bisa menatapnya, mendengarkannya, dan menguatkannya dengan kata-kata sederhanaku. Aku tahu dia butuh seseorang dan aku tahu ibu ini hanya salah satu dari ibu-ibu lain yang tidak menikmati perannya sebagai ibu sekaligus seorang istri

          Mereka perlu ditolong, mereka perlu dirangkul, mereka perlu didengarkan. Karena sungguh menjadi ibu itu tidaklah mudah. Jadi, aku paham sekali dengan apa yang ia rasakan. Karena aku juga seorang ibu dan juga seorang istri

           Aku melihat, betapa banyak seorang ibu mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan ketidakbahagian. Karena mereka sendiri pun dalam keadaan tidak bahagia

          Akhirnya, anak-anak dibesarkan dengan kata-kata negatif ibunya, kata-kata yang menyakitkan, teriakan, kemarahan dan air mata. Lalu, ibu itu merasa menjadi seseorang yang tidak berguna.


    anak-anak yang dibesarkan dengan tidak bahagia
    Pixabay


          Hidupnya hanya berkubang pada kotoran, rumah dan anak, mengerjakan itu-itu saja setiap harinya, tak ada yang melihat dan menghargai itu.

    Sedangkan di luar sana, betapa banyak ibu-ibu cantik nan wangi pergi bekerja, ada yang melihat mereka, ada yang menghargai pekerjaan mereka, dan mereka pun mendapatkan langsung dari apa yang mereka kerjakan

           Sedangkan ibu rumah tangga yang masih berproses dengan peran mereka, mereka merasa bagaikan kain lap, kotor, terinjak-injak dan tak berarti apa-apa. Ia merasa sendirian dan lelah dengan semuanya dan berkata "kapan ini berakhir?"

    Baca juga: JANGAN KATAKAN 9 HAL INI PADA IBU RUMAH TANGGA

           Tak ada yang menguatkan mereka. Yang ada dengan segala kelelahan fisik dan hati mereka, mereka masih dituntut menjadi seorang ibu yang sempurna oleh tanggapan orang, mertua, orang tua sendiri dan tak kadang dituntut begitu sempurna oleh suami sendiri.

    "Rumah kok berantakan, kamu ngapaiin aja di rumah?"

    "Ini anak kok kurus, nggak dikasih makan, ya?"

    Dan masih banyak komentar-komentar nyinyir yang lain.

    Ingin sekali ku berkata teruntukmu yang bernama suami sekaligus seorang ayah.

           Pulanglah, lihatlah istrimu, lihatlah ibu dari anak-anakmu itu. Sudahkah engkau selalu mendengarkannya selama ini? Jangan marah jika ia selalu bercerita tentang lelahnya dan tentang anak-anakmu. Dia tidak bermaksud untuk mengeluh. Dia hanya ingin bercerita.


    cara membuat istri yang bahagia
    Pixabay

           Siapa lagi dan kemana lagi tempatnya untuk bercerita, jika yang dia lihat di rumah hanya tembok, tembok dan tembok. Tak tahukah engkau ia meninggalkan kariernya, mimpinya, dan kesenangannya lalu memilih dirumah untuk fokus mendidik dan membesarkan anak-anakmu.

           Lalu, jika engkau tak mendengarkannya, kepada siapa lagi ia akan bercerita setelah Tuhannya, kemana lagi ia labuhkan hati dan kelelahannya mengurusmu, rumahmu dan anak-anakmu jika bukan selain pada dirimu?

          Apa engkau tahu, baju bersih yang engkau gunakan itu, dia yang mencucinya, dia yang menyetrikannya. Sedangkan engkau hanya tahu menggunakannya, kan?

           Makanan yang engkau makan itu, dia yang mengolahnya, dia yang memasaknya. Memasak itu terlihat sederhana bukan?

           Tapi sungguh di dalamnya ada proses yang rumit dalam pembuatannya. Ada bahan-bahan makanan yang harus dipilih dulu satu-satu, dipotong, dibersihkan, direndam dan di masak.

           Setelah itu ia harus masak sambil ditemani tangisan dan teriakan anak-anakmu, dan terkadang ia memasak sambil menggendong anakmu, lalu berlarian dengan waktu untuk mempersiapkan ini itu untukmu dan anak-anakmu


    Pixabay


           Apa engkau tahu rumah yang rapih, yang engkau lihat sepulangmu dari bekerja. Sebelumnya tidak serapih itu. Ada kapal pecah di dalamnya, ada serakkan mainan dimana-mana, dan ada tangisan anak-anakmu di dalamnya

           Atau engkau tahu, ketika engkau pulang bekerja tapi rumahmu masih berantakan. Itu juga bukan karena istrimu tidak membereskannya. Ia sudah membereskannya dan bahkan sudah menyapunya berkali-kali.

           Tapi rumah itu selalu kembali seperti kapal pecah. Bukankah engkau tahu bahwa anak yang aktif dan bereksplore salah satu ciri anak yang cerdas dan kreatif.

           Lalu, engkau masih menuntut kesempurnaan itu dari istrimu yang lelah dari pagi buta mempersiapkan semuanya tanpa jeda dengan sebuah standar kerapihanmu

    Teruntukmu yang bernama suami, pulanglah!


    cara menjadi suami yang baik
    Pixabay

           Lihatlah tangan istrimu itu. Dulu tangan itu tak sekasar itu. Lembut, wangi dan halus. Tapi kini tangan itu telah berubah menjadi kasar, dan bau. Bau bekas ompol anakmu, bau bawang, sisa bau hanyirnya ikan atau bau yang lain

    Lihatlah wajah itu. Dulu wajah itu masih ayu dan cantik kan, sebelum engkau menikahinya? Tapi kini lihatlah wajah itu berubah menjadi wajah yang lelah, kusam, tua dari umurnya yang sebenarnya dan terkadang tampak tak terurus.

           Bagaimana ia sempat mengurus diri jika jiwa raganya, waktunya, tenaganya telah ia habiskan mengurusmu, anak-anakmu, dan rumah dari pagi buta hingga larut malam?

    Lalu, masih teganya engkau menuntutnya untuk tampil cantik dan wangi di depanmu atau melirik wanita lain di kantormu atau di tempat lain?

           Jika engkau ingin melihat istrimu cantik dan wangi ketika menyambutmu pulang. Itu mudah, cukup beri mereka asisten rumah tangga, agar mereka masih memiliki waktu untuk diri mereka sendiri dan bisa fokus kepadamu dan anak-anakmu.

    cara membuat istri cantik
    Pixabay


           Jangan lupa beri mereka uang untuk perawatan ke salon agar mereka selalu terlihat cantik di matamu dan bahagiakan mereka. Karena

    "Sesungguhnya, kecantikan seorang istri itu tergantung seberapa besar engkau memberi uang untuk merawat diri mereka, dan tergantung sejauh mana hati mereka engkau bahagiakan" 

    Jika engkau belum sanggup untuk memberikan itu semua padanya. Berhenti kalau begitu menuntutnya untuk cantik secara fisik.

    Teruntukmu yang bernama suami.

    Pulanglah dan lihatlah mata panda di wajah istrimu itu. Engkau tahu dari mana kantung matanya bisa menggelap? Itu adalah mata-mata kurang tidur karena mengurus bayimu yang selalu terbangun di malam harinya, lalu esok shubuhnya dia harus bangun masak dan mempersiapkan kebutuhanmu dan anakmu yang lain.

           Begitu setiap hari ia bekerja di rumah tanpa penghargaan dari siapapun bahkan tanpa penghargaan dari dirimu. Terbiasa dilayani hingga engkau lupa untuk berterima kasih atas setiap usahanya yang berusaha memberikan yang terbaik untukmu dan anak-anakmu.

    Baca juga: SAAT BERHARGA UNTUK ANAK KITA

           Ia kesampingkan mimpinya, ia kesampingkan kariernya di luar sana, ia berkubang dengan semua kotoran dan kelelahan itu tanpa jeda juga tanpa sebuah apresiasi

           Lalu, dimanakah ia punya alasan untuk bahagia? Jika engkau hanya  tahunya mencari uang? Bagaimana tidak ia merasa tidak berguna jika usahanya tak ada yang menghargai, tak ada yang menguatkan dan membantu dirinya dari dalam dan luar

           Lalu, bagaimana seorang ibu itu akan memberikan kebahagiaan, jika kebahagiaan itu sendiri tidak ia miliki?

    Baca juga: BELAJAR BAHAGIA DARI ANAK

    Teruntukmu yang bernama suami, pulanglah!

           Peluk ia, ucapkanlah terima kasih slalu padanya. Kecup keningnya, bekerja sama lah dalam mengurus dan membesarkan anak-anakmu. Karena sungguh peranmu tidak sedangkal itu yang hanya berupa seputar uang, uang dan uang. Sungguh tidak

           Apa engkau tahu, pelukanmu yang sederhana itu mampu menguatkannya jiwanya untuk menghadapi hari esok, ucapan terima kasihmu padanya mampu meluruhkan rasa berlelah-lelahnya atasmu, anak-anakmu dan rumahmu selama ini.

           Buatlah ia merasa berarti dalam hidupmu dan anak-anakmu. Sekalipun ia tak terlihat lagi oleh dunia, tetapi paling tidak buatlah ia menjadi dunianya kalian di rumah yang bernama syurga

           Lalu, jika engkau bertanya padaku, siapa yang pertama kali harus engkau bahagiakan, istrimu atau anakmu? Aku akan jawab bahagiakanlah istrimu terlebih dahulu. Karena

    "Anak yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia"

    membuat istri bahagia
    Pixabay

          Seorang ibu layaknya sebuah matahari di dalam sebuah dunia. Jika sinarnya redup maka akan meredupkan semua seiisi dunia begitu pun sebaliknya.

          Jadi bahagiakanlah dia, istrimu dan ibu dari anak-anakmu. Ubahlah rasa tidak berguna itu di hatinya menjadi seseorang yang paling berarti di dunia. Hingga ia bisa berkata pada dirinya dan dunia bahwa ia tak kalah berartinya dengan yang lain dan   bangga dengan perannya saat ini

    Teruntukmu yang bernama suami, pulanglah

    36 comments:

    1. Aku baca ini mewek eh mba. Terharu sekali.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bun, saya yang menuliskannya bun juga berkaca-kaca. Ikut sedih juga soalnya

        Delete
    2. "Anak yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia" saya sangat setuju dengan kalimat ini mom.

      Karena ibu adalah segalanya bagi anak, jika ibu bahagia maka otomatis orang2 disekelilingnya pun ikut bahagia.

      ReplyDelete
    3. Waah mba, aku bacanya aja udah berkaca-kaca

      Karena memang benar tugas seorang ibu yang stay di rumah tidaklah mudah, dia menahan ego nya untuk keluarganya

      ReplyDelete
    4. Huhuhu aku mbrebes mili bacanya mbak akias berkaca2 terharu. Merasakan hal yg sama soalnya.

      ReplyDelete
    5. Saya tersentuh mba bacanya, memang tidak mudah ya menjadi Ibu. Saya pun merasakan waktu 24 jam tidak pernah cukup, tidur 8 jam sehari itu mewah, namun saya tetap menjalaninya :) untunglah suami mau membantu.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Allhamdulillah ya bun. Dikasih suami yang pengertian itu, sesuatu harus kita syukuri ya

        Delete
    6. waah luar biasa sekali pengorbanan seorang istri.. semoga sang suami dapat selalu mengerti.. ku baca ini menyadarkan ku bahwa menjadi seorang suami itu tidak mudah..

      ReplyDelete
    7. sediih aku baca ini. sedih ngebayangin ibu2 rumah tangga yg harus ngalamin ini, kerja ga ada habis di rumah, tp ga dihargain samasekali oleh suami :( . apa segitu egoisnya pak suami itu sampe ga melihat secapek dan semuram apa istrinya :(

      lgs bersyukur banget dengan suamiku yg pengertian dan melarang aku kerja di rumah, krn dia ngerti aku ga terbiasa dgn itu. semoga para ibu yg tidak bernasib terlalu baik, suami2 nya sadar dan bisa melihat secapek apa istrinya di rumah mngurus semua tanap bantuan siapa2:(

      ReplyDelete
    8. Hiks.. Saya terharu mba baca tulisan ini.. Ada beberapa hal yang sama saya rasakan. Seringkali bahagia itu harus saya ciptakan sendiri.. Ahhh sudahlah, I enjoy my life, itu ajahhh..

      ReplyDelete
    9. Ini kayak temanku Mbak. Selalu curhat begini. Soalnya dia LDM sama suami jga. Urus anak 2 sendirian. Belum lagi harus kerja buat nambah2 uang belanja. Soalnya jatah dr suami gak seberapa besar

      ReplyDelete
    10. Sedih bacanya mba, makasih udah buat tulisan ini. Mewakili apa yang dirasakan semua ibu, apalagi kalau LDM dan tanpa art. Berat jika dijalani tanpa ilmu, semoga para suami di luar sana bisa mengerti apa yang dirasakan istrinya.

      ReplyDelete
    11. sedih ya, suami hrs memberikan ruang untuk istrinya bahagia, apalagi perempaun emsoi hatinya up dan down apalagi kl PMS

      ReplyDelete
    12. Hiks betul banget ini mbaaa, kok pas bgt ya aku bbru baca cerita seorang ibu yg menghabiskan bertahun2 waktunya di rumah mengurus 8 anaknya tp akhirnya ia bisa melanjutkan karir dan pendidikan tingginya 👏

      ReplyDelete
    13. drama-drama kayak gini tuh betul-betul kejadian di dunia nyata ya bak. Bersyukur banget kita masih dokasih kesempatan untuk nyalon atau kegiatan di luar.

      Dirimu juga kalo nulis dari hati ngena banget, syukaa

      ReplyDelete
    14. Anak yang bahagia dimulai dari ibu yang bahagia...setujuuu!
      Prihatin dengan istri yang diperlakukan seperti ini oleh suaminya , hiks!
      Semoga sesama ibu kita bisa saling menguatkan dan meyakinkan bahwa semua akan indah pada waktunya. Saat anak tumbuh besar dan kita selama ini menjadi saksinya, sungguh merupakan karunia yang tak terhingga

      ReplyDelete
    15. Prihatin kalau ada suami yg kayak gtu mbak. Saya bersyukur suami tipe yg mau bantu2 kerjaan rumah tangga dan bantuin jaga anak. Ibu2 kyk gtu kyknya butuh support ya mbak, soalnya pernah tau ada ibu2 kyk gtu mengalami depresi. Moga kita dijauhkan dr hal2 kyk gtu.

      ReplyDelete
    16. Ini seperti mata rantai yg gak akan putus ya mba, anak2 yang dibesarkan di dalam keluarga seperti ini nanti juga akan berlaku sama ke keluarganya. Anak laki2 akan tumbuh jadi ayah yg nggak peka dan dingin, anak perempuan akan tumbuh jadi perempuan yang manut aja dapat perlakuan seperti ini dari suaminya, terus aja begitu. Sedih yaa :(

      ReplyDelete
    17. Suka dengan gaya tulisannya, Mba. Semoga banyak suami yg baca ya. ^_^

      ReplyDelete
    18. Semoga tipe suami seperti yang diceritakan di atas semakin berkurang yaa...betapa sakit hatinya seorang istri bila mendapat perlakuan yang tidak simpatik macam itu

      ReplyDelete
    19. Wah terharu sekali bacanya aku mbak. Rasanya setiap suami harus segera 'pulang' dan turut membantu sang istri. Beruntung aku punya suami yang kooperatif dan bisa diajak kerja sama dalam berumah tangga. Karena gak sedikit, terutama di sekitarku yang memiliki suami cuek dan hanya fokus pada menafkahi. Padahal, berumah tangga kan berdua, ya?

      ReplyDelete
    20. msya allah mom yeni, ini jeritan hati setiap ibu rumah tangga seperti aku. sungguh terkadang yang komen adalah orang terdekat bahkan mertua yang bilang kenapa cucunya kurus dan terkadng kalo aku cerita sedikit tentag kelelahan ada komennya begitulah menjadi seorang ibu.

      ReplyDelete
    21. bener banget bun, tapi kadang suamijuga punya banyak alasan untuk menolak disalahkan. Misalnya alibi seperti lelah dengan segudang pekerjaan dan mencari nafkah. jadi memang rumah tangga itu butuh kesiapan jasmani dan rohani. Doa adalah kekuatan diatas segalanya. Setelah berusaha, berdoa berdoa berdoa, berdoa dijauhkan dari rasa sedih, mengrutu, ngedumel, nyalahin orang lain dsb. karena hati dan jiwa yang ikhlas akan selalu bahagia betapa pun peliknua kehidupan.

      ReplyDelete
    22. Mba... Hiks. Sedih, kesel, marah akutu sama suami2 yang kaga tau diri wlpn bukan aku yang ngerasain. Semoga ini jadi pelajaran buat para ibu yang punya anak cowo buat ngajarin anak lelakinya agar bertanggung jawab dan menghargai istrinya nanti.

      ReplyDelete
    23. Huwaaa pengen ikutan nangis, sy jg kesel liat para suami yg model begitu, alhamdulillah sih pak misua support sy, setidaknya bantu ngurusin anak bayik biar emaknya bs nonton drakor wkwkwk

      ReplyDelete
    24. Mungkin perlunya mengajak suami untuk duduk berdua lalu saling mengevaluasi diri masing-masing. Untuk ibu-ibu diluar sana, you are strong than you know.

      ReplyDelete
    25. wanita yang berperan menjadi istri sekaligus ibu itu memang luar biasa. Sudah seharusnya ia mendapat tempat terbaik di hati suaminya.

      ReplyDelete
    26. Menggambarkan isi hati IRT nih Bun. Tak jarang juga suami menolak untuk disalahkan sebab sudah seharian mencari nafkah di kantor sehingga tak mau tau urusan rumah.
      Sebetulnya nilai yang harus ditanamkan, mengurus anak dan pekerjaan rumah adalah tanggung jawab suami istri.
      Jika suami tak paham, sebagai istri memang lebih baik dibicarakan baik-baik, jangan dipendam sendiri.

      ReplyDelete
    27. Indah sekalki bahasanya, membuai dengan nuansa sastra. Ada banyak suami demikian di luar sana, dan saya merasa menjadi istri macam itu meski tak berkubang dalam kesedihan serta air mata. hanya merasa lelah dan butuh dikuatkan oleh suami.
      Yah, saya juga tak secantik dulu, waktu telah memamah semua. Dan kedua tangan yang gemetar pada saat tertentu karena kelelahan seringdipakai kera mengangkat berember-ember air dari mata air bawah. Tulisan tangan pun tak sebagus dulu.
      Namun saya bersyukur suami tak menuntut istri cantik karena keadaan kami belum memungkinkan, tak punya uang untuk mendandani istri. Ia tetap mau berbagi peran meski terkadang ledakan amarah dan ketidakpuasan keluar. Hanya karena kelelahan dan rasa jemu pada rutinitas yang itu-itu saja. Saya hanya bisa bersabar. Pun suami berusaha sabar pada segala yang ada pada saya.

      ReplyDelete
    28. Terharu aku baca postingan ini. Dan seketika teringat almarhum bapakku yang nggak pernah mau bantu ibu ngurus rumah dan anak-anaknya. Padahal emak dan bapakku punya anak lima. Bapak dulu kerjanya kalau pulang 6 bulan sekali. Jadi selama itu emakku pun harus cari uang sendiri. Salut aku dengan para ibu-ibu yang tetap masih bisa bekerja dan berkarya sambil mengurus rumah, anak, dan keluarga.

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES