• Tuesday, February 5, 2019

    Tentang Kehilangan

    tentang kehilangan dan apa yang seharusnya kita lakukan
    Pixabay


    "Ibu-ibuuuuu tahu nggak tadi pagi ada orang yang meninggal kecelakaan di depan Hotel Borobudur tabrakan ama bis Trans Jakarta. Sepertinya dia mau ke tempat kerjanya"


    Itulah pesan singkat yang ku baca tadi pagi di WA grup komunitasnya para ibu-ibu. Lalu, berderet pesan tentang hal yang sama susul menyusul masuk di grup itu hingga malam hari. Aku tersontak kaget "kecelakaan, meninggal?" Hanya itu yang ada di hatiku. Sekelabat bayangan suami langsung muncul dalam ingatanku dan terburu-buru mengirimkan pesan dan bertanya padanya

    "Ayah sayang udah sampe kantor, belum?" Dia pun menjawab sudah

    Ada perasaan lega mendengar balasan itu dan ada perasaan takut mengancam akan kehilangannya. Lalu, menatap anak dan bertanya pada diri. Kehilangan itu pasti, hanya soal waktu. Lalu sudah siapkah jika sewaktu-waktu kehilangan suami atau anak atau semuanya langsung hilang sekaligus? Mungkin juga kita lebih dulu kehilangan diri sendiri" Hahhh hanya bisa menarik nafas panjang

          Apa kalian pernah juga bertanya seperti itu pada diri kalian? Sanggupkah kalian menjawabnya? Atau itu semua tak pernah terbayangkan oleh kalian? Atau tak berani membayangkannya. Namun, jika kita tidak mempersiapkan diri maka itu akan jauh lebih menyakitkan nantinya. Apakah aku sendiri siap? Sama seperti kalian. Belum

          Lalu, aku terhening dengan perasaan sedih "bagaimana nanti perasaan istri dan anak-anak lelaki yang meninggal tadi, jika tahu lelakinya pergi selamanya meninggalkannya dan anak-anaknya?" Ya Allah, sulit rasanya aku membayangkan rasa itu

    "Setiap orang mau tidak mau, cepat atau lambat pasti akan diuji dengan kehilangan. Tugas kita adalah mempersiapkan diri tapi tanpa melupakan nikmat dari manisnya sebuah kebersamaan"

    Tahukah kita Bunda, ketika suami dan ayah dari anak-anak kita itu pergi berangkat bekerja mencari nafkah untuk kita. Sesungguhnya setiap kepergian dan kepulangannya itu dia sedang berjuang dengan ganasnya jalanan yang dengan kejamnya bisa langsung menghabisinya seketika atau membuatnya cacat seumur hidupnya. Yup, dia sedang berjuang dengan nyawa taruhannya untuk kita dan anak-anak kita dalam setiap langkahnya di luar sana

          Jadi, ketika ia pergi dan pulang iringi ia dengan doa penuh cinta teruntuknya dan sambut kedatangannya dengan senyum terbaik yang kita punya selalu teruntuknya.

          Jangan sambut ia dengan wajah masam kita, dengan langsung menyerangnya dengan berbagai keluh kesah kita, atau langsung mendelegasikan tugas pengasuhan anak padanya. Jangannnn. Berikan ia waktu untuk sebentar saja, waktu untuk ia bisa duduk tenang menselonjorkan kakinya sebentar dari penat dan lelahnya di luar sana, berikan ia waktu dengan tenang untuk menarik nafas panjang setelah seabrek pekerjaan yang memusingkannya di tempat kerjanya. Berikan ia waktu sebentar saja untuk mandi dan makan dengan tenang.

          Berikan ia pemandangan manis dengan melihat kita dan anak-anaknya menyambutnya dengan penuh senyum hangat. Sungguh senyum manis kita dan keluarga tercintanya itu sanggup merontokkan rasa lelahnya seharian bekerja di luar sana dan disambut rasa suka cita. Hingga ia selalu memiliki semangat dan alasan baru untuk apa ia berlelah-lelah di luar sana di hari esoknya

          Setelah kita memberikannya waktu sebentar dan tenang. Barulah kita biarkan anak-anak itu bermain-main, bercerita dengan bahagianya dengan ayahnya, barulah kita bisa melontarkan sisa 20.000 kata untuk bercerita banyak padanya.

          Dan teruntukmu yang bernama suami. Sungguh menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu itu tidaklah mudah. Terkadang di saat kebutuhannya sendiri pun belum terpenuhi tapi masih harus nemikirkan kebutuhan anggota keluarga yang lain.


    quote parenting


    Baca juga: TERUNTUKMU YANG BERNAMA SUAMI, PULANGLAH!

    Tak jarang rasa lelah, bosan itu membuat matanya berkaca-kaca bukan karena mengeluh, tapi karena ia kelelahan hingga ia perlu berkali-kali menyemangati dirinya sendiri. Karena sungguh bekerja dari subuh hingga malam itu tak mudah dan tak jarang ia terpaksa terbangun di malam hari untuk mengurus anakmu yang masih balita atau yang sedang sakit karena terbangun dari tidurnya.


    tentang kehilangan
    Canva


          Ayah Bunda, jadilah pasangan, orang tua dan seseorang yang baik untuk orang lain terutama untuk orang-orang yang kita cintai. Sering-seringlah berkata cinta pada mereka. Karena kita tidak pernah tahu apa itu akan menjadi kata cinta terakhir kita atau bukan? Peluklah mereka, karena siapa tahu itu akan menjadi pelukan terakhir kita? Sebelum kehilangan itu datang dan menghentikan dunia kita seketika dan membuak sesak itu seakan membunuh kita dengan perlahan. Untuk itu, lakukan dan berikanlah yang terbaik untuk orang-orang terkasih kita dengan CINTA  💕


    Baca juga: SUDAHKAH KITA MEMBUAT ANAK MERASA DICINTAI OLEH KITA?

    "Kehilangan itu tidak akan pernah bertanya pada kita. Apakah kita siap ataukah tidak? Tapi dia selalu memberikan 2 pilihan pada kita. Kehilangan karena rasa ikhlas ataukah kehilangan karena rasa  terpaksa"


    25 comments:

    1. yupp mba yeni. saya juga sering berpikir demikian. terlebih suami saya cukup sering travelling dg perjalanan udara. Setiap kali dia terbang, pesan pendek berbunyi "landed" sungguh sangat melegakan.

      ReplyDelete
    2. betul ya, sering was2 apalagi kalau pulang telat belum ada kabar kalau pulang telat

      ReplyDelete
    3. Saya juga pernah kepikiran begitu, apalagi kalau sedang melayat. Sampai pernah jadi obrolan ke suami juga, gimana kalau salah satu dari kita pergi duluan. Intinya kematian itu pasti, jadi selagi masih ada ya dijaga dan disayang ^^

      ReplyDelete
    4. Pernah merasakan hal yg sama. Paling sebel kalau suami pergi tanpa pamit terus lamaaa gak pulang2. Padahal yang namanya kehilangan itu pasti ya. Tapi entah mengapa kok masih aja takut.

      ReplyDelete
    5. Kalau sudah ditinggalkan baru berasa rasanya kehilangan, sedih sangat pastinya. Sebisa mungkin lakukan yang terbaik tiap saat, kepada siapa saja, terutama orang-orang tercinta disekitar kita.

      ReplyDelete
    6. Setiap hari aku selalu memikirkannya moms, karena aku pernah kehilangan ayah jadi aku berusaha keras menyiapkan anak ku semandiri mungkin. Karena kita gak tau apakah kita bisa mendampingi nya hingga dewasa atau bahkan harus kembali sebelum ia besar.

      ReplyDelete
    7. Kehilang memang sangat menyakitkan, oleh sebab itu selagi masih ada waktu dan kesempatan, jangan sia-siakan saling berbagi kasih sayang

      ReplyDelete
    8. Saya kepikiran banget pas dulu LDM, suami harus ke tempat bekerja terbang puluhan jam. Kayaknya semalaman enggak tidur beneran..
      Belum lagi kalau dia belum ngabarin karena beda waktu dengan saya.
      Duh, kliyengan mikirnya.
      Terima kasih sudah menuliskan ini Bunda.
      Sekarang pas deketan, maksudnya mentang-mentang sama-sama di Jakarta kok keknya jadi biasa saja. waduh entar mesti disambut istimewa nih suami pas pulang kerja

      ReplyDelete
    9. rasa sayang itu selalu ada tapi kadang kita gengsi untuk menampakkannya.. padahal membuat orang tahu bahwa kita sangat sayang padanya itu penting banget yaa..

      ReplyDelete
    10. Sedih aku kalau bahas tentang kehilangan. Ibuku juga sering khawatir kalau aku pulang telat dan nggak bisa tidur. Selagi masih ada semua orang yang kita sayang memang sebaiknya kita harus saling menyayangi satu sama lain ya, Mom.

      ReplyDelete
    11. Noted banget "sering2 berkata cinta". Kadang emang aktivitas sehari2 bikin lupa ya bilang hal2 kyk gtu ke anak, ke pasangan. Thanks remindernya bun :D

      ReplyDelete
    12. yang namanya kehilangan pasti menyisakan pilu di hat, apalagi sewaktu-waktu jika kita kehilangan orang-orang yang disayangi huhu

      ReplyDelete
    13. Iya banget itu bunda erysha, berkata cinta kepada anak-anak bisa menumbuhkan rasa kedekatan dan ikatan kasih yang kuat

      ReplyDelete
    14. Ini juga yang selalu aku pikirkan. Sudah kah aku siap jika kehilagan pasangan kita. Makanya aku dan suami selalu tidak pernah berhenti ucapin I Love You, agar tidak ada penyesalan jika ada suatu hal yang terjadi nanti diantara kita

      ReplyDelete
    15. Kalau sama mama dan suami nggak pernah ngomong cinta, malu. Tapi kalau sama anak sering banget ngomong cinta sambil berpelukan. Senang melihat mereka yang kita cintai sehat dan bahagia. Kehilangan sangat berat pastinya, semoga bisa selalu bersama.

      ReplyDelete
    16. iya mba. bener banget ya. harus bgt menghargai waktu yang ada dgn orang tersayang

      ReplyDelete
    17. tudia mbak, akupun sering kepikiran, apa iya aku siap jika kehilangan pasangan? rasanya beluuuummmm....

      ReplyDelete
    18. Baca ini mataku jadi kabur mbaa :(( sering juga memikirkan soal kehilangan ini, makanya setiap punya momen kebersamaan kami nikmati dg maksimal, banyakin foto2 juga, meski cuma disimpan di folder, karena foto2 itu yg nanti jadi alat penyambung rindu. Aah aku mewek lagi :(

      ReplyDelete
    19. Sama mba, kalau mendengar kata-kata kecelakaan dan meninggal rasanya gimana gitu bercampur aduk. Soalnya aku punya pengalaman kecelakaan meninggal di tempat.

      ReplyDelete
    20. Kerjaan suamiku dulu itu sering banget mobile pake pesawat. Bahkan PP dalam sehari juga gak kehitung berapa kali. Rasanya dagdigdug banget tiap suami pamit. Alhamdulillah selalu dilindungi Allah SWT.

      ReplyDelete
    21. Saya biasanya kalau berangkat kerja berusaha banget biar nggak ada musibah terjadi soalnya ingat si kecil yang masih perlu banget orang tuanya. Pun kalau ayahnya dinas luar kota selalu berdoa semoga selamat sampai tujuan

      ReplyDelete
    22. suami saya bukan tipe cowok romantis
      ga pernah ngucapkan kata2 romantis
      jadi saya yang melakukannya
      meski kadang dia bilang lebay
      begitu juga ke anak..saya juga mengucapkan kata2 romantis
      seperti sayang dan cintaku setiap hari..apalagi saat hendak pamitan
      anak saya akhirnya terbiasa mengucapkan kata2 romantis ke saya dan ayahnya
      kata penuh sayang dan romantis itu membuat kami sangat dekat

      ReplyDelete
    23. Makasi remindernya mba. Bencana yg sering terjadi di negara kita juga bisa jadi salah satu reminder buat kita untuk terus meyakini bahwa kehilangan itu pasti tinggal menunggu waktu

      ReplyDelete
    24. Mungkin alm. Bapakku sudah merasakan bahwa ada anak yang sangat mencintainya hingga kini dan selamanya. Betapa rinduku padanya. Semoga kelak anakku juga merindukanku seperti aku merindukan bapakku

      ReplyDelete
    25. Saya rasa, kehilangan apalagi kehilangan orang2 yang kita sayang sangat menyakitkan hati. Saya merasakannya, Bunda. Ibu kandungku dan anakku yang kedua, meninggal dunia. Ini membuat saya trauma, trauma masuk Rumah Sakit. Tapi, Alloh Maha Adil, disaat saya merasa kehilangan anak saya yang kedua, ternyata adik saya melahirkan seorang anak laki-laki, sedikit terobati sakit hati saya atas kehilangan yang saya rasakan.

      Saya tidak menyangka akan kehilangan anak saya yang kedua akibat sakit.

      Saya percaya, Alloh sudah mengatur semuanya dengan baik dan juga sempurna. Kita harus berikhtiar, berdoa dan tawakal.

      Sekarang, saya tetap harus melanjutkan hidup saya. Tidak boleh sedih atas kehilangan yang saya derita. Masih ada anak saya yang pertama yang harus saya rawat dan di didik.

      Suamiku menjadi partner hidup yang sangat baik, suamiku, penyemangat hidupku. I Love You, Ayah.

      Semangat terus ya para Bunda.

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES