• Monday, April 1, 2019

    Pengasuhan Anak yang Menyebabkan Trauma

    pengasuhan anak yang menyebabkan trauma
    Pixabay

          Ayah Bunda, tahukah kita, bahwa pengasuhan anak memiliki peranan penting dalam pembentukan karakter anak di masa mendatangnya. Jika anak dibesarkan di dalam pengasuhan yang kurang baik maka itu akan mempengaruhi beberapa aspek tumbuh kembangnya seperti aspek emosi, aspek sosial, dan lain-lain tergantung kebutuhan apa yang tidak terpenuhi di masa kecilnya. Terutama jika pengasuhan anak itu yang meninggalkan trauma di hatinya

          Beberapa hari ini, kita telah digemparkan dengan sebuah video yang sedang viral tentang seorang ibu yang dengan kasar mendorong anaknya dari mobil. Jujur, melihat video itu membuat aku kaget dan mengelus dada juga membaca ratusan mungkin ribuan orang membully ibu itu.

          Walau aku tidak menyukai dan tidak  membenarkan apa yang ibu itu lakukan, tapi aku berusaha memandang dari berbagai sisi. Baik itu dari sisi si ibu, sisi anak yang kemungkinan besar akan mengalami trauma diperlakukan seperti itu di tempat umum apalagi itu video viral ya dan dari sisi kita yang hanya melihat sebagai penonton.

          Aku mengangkat kasus ini di dalam tulisanku bukan bermaksud untuk berghibah ya Ayah Bunda, tapi untuk mengajak kita mengambil pelajarannya dan untuk lebih peduli pada orang lain.

          Begini Ayah Bunda, memang benar apa yang dilakukan oleh ibu tersebut tidak baik, tapi tidak dibenarkan juga membully ibu itu. Jika ibu itu membully anaknya karena berlaku kasar, lalu kita dan ribuan orang membullynya juga dengan kata-kata dan jempol kita. Lalu apa bedanya kita dengan ibu itu? Bukankah itu sama aja? Sama-sama membully? Lalu, dimanakah kita melihat sisi baik dan nilai edukasinya di sana?

          Ayah Bunda dan Dedek-dedek gemes yang lain, menjadi seorang ibu itu tidaklah mudah. Berat. Terutama soal mengendalikan emosi. Ayah Bunda bisa mampir juga ya ke materi seminar parenting yang aku ikuti tentang bagaimana cara mengendalikan emosi pada anak. 

    cara mengendalikan emosi ibu pada anak


          Nah, selain beratnya soal pengendalian emosi ini, keadaan atau support system yang kurang mendukung membuat banyaknya orang tua terutama seorang ibu rentan mengalami ketidakwarasan alias emosional. Belum lagi tuntutan kita pada diri sendiri dan tuntutan orang lain terhadap peran ibu ini sering dituntut harus sempurna.

    Jadi, ketika sesuatu tidak berjalan dengan seperti standar pada umumnya, mudah sekali kita nyinyir pada orang lain

    "Kok anaknya kurus sih? Nggak di kasih makan ya?" Padahal ibunya sendiri sedang berjuang memberikan makanan bernutrisi pada anaknya
    "Kok anaknya sakit-sakitan sih? Makanya kalau punya anak usianya jangan deketan dong. Jadi aja ada anak nggak ke urus". Padahal bisa jadi bukan keinginan ibu itu pula punya anak usianya deketan. Lagian punya anak usianya deketan atau nggak, itu hak orang dong. Ngapain ngurusin urusan orang lain
    "Kok anaknya nggak ASI sih? Malah pakai sufor". Siapa tahu karena ibunya kurang ilmunya. Tugas kitalah yang pelan-pelan masuk mengedukasi bukannya dinyinyirin

    Kita nggak pernah tahu kan alasan sebenarnya orang itu begitu. Tapi kita itu ya, cepet bangetttt nyablaknya, cepet banget nyinyirnya. Nggak lihat sikon dan selalu berasumsi semua dengan standar kita. Selalu merasa lebih baik dari orang lain padahal kita juga nggak tahu kan bagaimana keadaan orang lain itu sebenarnya.


    ibu lebih rentan terkena depresi


          Tugas kita sesama ibu dan sesama manusia itu harusnya saling menguatkan, saling merangkul, saling support. Jika ada seorang ibu kehilangan kewarasannya, ya ditolong ibu dan anaknya, ditenangkan dan pelan-pelan diedukasi. Bukannya direkam terus upload di medsos terus dibully berjamaah. Apa hebatnya kita semua begitu?

    Itu tu bukan sesuatu yang layak dipertontonkan hanya untuk memperlihat

    "Ini contoh nggak baik lho, jangan kayak gini ya!".

    Hellooooo nggak usah diunggah kali ke medsos cuma mau memperlihatkan kalau itu tu adegan nggak baik. Tanpa harus melihat video itu juga, kita semua juga tahu kalau mendorong anak itu nggak baik. Jadi nggak perlulah sampai harus mengunggah ke medsos dan viral begitu.

    Itu hanya semakin mempermalukan dan menyakiti perasaan si anak. Apalagi dunia digital itu akan merekam kejadian itu seumur hidupnya. Bukti bahwa ibunya pernah menjadi monster pada dirinya dan itu akan menjadi luka di dalam dirinya

          Yuk ah stop memviralkan konten-konten negatif begitu. Udah tahu masyarakat kita itu panasan, nggak usah bikin kita tambah sakit ngasih-ngasih konten negatif begitu. Kasian lah mereka. Kita itu sudah lelah dengan konten-konten negatif begitu. Gemes akuuuuuu

          Coba sekarang kita berpikir dari sisi ibu. Siapa tahu ibu itu memiliki masalah yang tidak kita ketahui, masalah dengan suaminya, atau dengan orang lain lalu ditambah anaknya ngeyel dan susah dikasih tahu atau nggak punya support system yang mendukung keadaannya hingga memicu ketidakwarasannya. Peran ibu itu rentan depresi lho.

          Dengan semua yang dia rasakan belum tentu juga kita sanggup memikul kesadaran kita. Kita nggak pernah tahu kan? Karena kita tidak pernah ada di posisi itu. Atau jangan-jangan ibu itu punya innerchild yang bermasalah atau trauma pada pengasuhannya dulu yang menyebabkan ia berlaku sama pada pengasuhan anaknya di keluarganya dan orang kayak gitu harus di tolong, bukan dibully. Caranya gimana? Ya orang-orang terdekatnya atau tetangganya mendekatinya. Kita itu harus saling peduli

    Hampir setiap ibu itu pernah menjadi monster pada anaknya. Baik itu memukul anak, atau membentak-bentak anak, melabelinya dengan kata-kata negatif atau berlaku kasar pada anak. Bedanya ada yang terekam oleh orang lain ada yang tidak. Mungkin kita termasuk orang yang tidak terekam aja. Lalu, kalau kita sendiri pernah berlaku kasar pada anak seperti yang aku sebutin contoh di atas, mau itu tingkat kasarnya biasa atau kasar banget, tetap saja itu sama-sama kasar. lalu apa hak kita menghakimi orang lain?

          Tapi ingat satu hal Ayah Bunda, mungkin ketika kita berlaku kasar pada anak memang tidak ada orang lain yang merekamnya, tapi jangan pernah kita lupa bahwa apa yang kita lakukan pada anak itu, direkam baik-baik olehnya dan luka itu akan ia bawa sepanjang hidupnya. Untuk itu berhati-hatilah.


    anak yang mengalami trauma akibat cara pengasuhan yang salah
    Pixabay


          Sayangi anak kita, perlakukan ia dengan baik sebagaimana kita ingin diperlakukan juga. Masa kecilnya, masa tumbuh kembangnya hingga remaja itu hanya sekali. Jadi jangan sampai kita melakukan pengasuhan yang meninggalkan banyak luka dan trauma di hati kecilnya

    Baca juga: MENIKMATI MASA KECIL ANAK YANG TAK AKAN PERNAH TERULANG KEMBALI

          Ingat Ayah Bunda, jika sebuah papan dipenuhi banyak paku dan sekalipun paku-paku itu sudah kita lepaskan. Tetap akan selalu ada bekas di sana dan bekas itulah yang tak akan pernah bisa kita hapus dan hilangkan bagaimanapun caranya.

    Baca juga: BEBERAPA HAL YANG DAPAT MELUKAI HARGA DIRI ANAK

    Jadi Ayah Bunda, karakter anak-anak kita di masa depannya tergantung dari bagaimana cara kita membesarkannya dan mengasuhnya dari usia yang sangat dini. Boleh baca juga tulisan Teh Nurul ya tentang pola asuh yang salah di sini

    18 comments:

    1. kalau boleh tahu, apakah kebanyakan ibu - ibu bakalan sensi'yach, kalau anaknya dibilang Kurus ?

      tapi kalau ada ibu2 yang bilang suaminya, " ganteng " gimana juga mbak perasaannya ?

      numpang tanya yach Mbak, buat pengetahuan, hihihii

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hihihi pertanyaannya lucu kang. Jadi bikin aku senyum2 sendiri hahaha. Kalau aku pribady ada yg bilang suami aku ganteng. Seneng hahahha. Tapi langsung berdoa di hati semoga dia ga digangguin ama cw2 diluar sana karena kegantengannya wkwkwk 😂😂😂

        Delete
      2. Mau ikutan jawab pertanyaan kang nata boleh ya.

        Temenku badannya gemuk banget.
        punya anak kecil, kurus tapi cantik, putih. Karena katanya lahir prematur dan perjuangan membesarkan anak yg lahir BB kecil.

        Sewaktu dikoment sesama ibu2 d sekolah kalo anaknya itu "kurus, ga dikasih makan, emaknya kebanyakan jajan".temenku bapernya banget. Sampe bikin status d FB tentang dia yg di nyinyirin.

        Jadi... Mengatai anak orang kurus, itu termasuk body shaming ya...

        Delete
    2. Kemarin ibu-ibu di sekolah anakku juga sempet bahas ini. Sebagian mereka yang menyayangkan bahkan sampai gak bisa terima. Apalagi dgn outfit syarinya.

      Kalau aku sama kaya dirimu mba, berusaha tdk menjudge ibu tsb, krn kita tak pernah apa yg sedang ia alami. Dan soal outfitnya, itu sama sekali bukan salah hijabnya atau outfitnya, karena tdk ada hub antara hijab dan akhlak.

      Bisa jadi ilmu yg dia terima justru mengenai hijab terlebih dahulu, dan kemudian dgn kejadian ini lalu dia jadi insyaf dan memperbaiki akhlaknya, itu kan lebih baik.

      Maaf ya Bun jadi curhat juga.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bun suka sedih kalai uda ngehubungi hijab ama akhlak gtu ya. Padahal itu sesuatu yg berbeda

        Delete
    3. Wah aku baru tau ada video viral kayak gitu. Kudet nih diriku huhuu.

      Sepakat, mba. Memang menjadi ibu yang baik itu berat. Akan menjadi lebih ringan jika sesama ibu itu saling support, tidak nyinyir, apalagi nyebarin konten negatif gitu

      ReplyDelete
    4. Saya tak tahu soal video itu, tak pernah tertarik pada sesuatu yang viral. Kejadian semacam itu mestinya jangan direkam dan diviralkan, anak akan dobel korbannya. Di masa mendatang akan sangat terganggu kalau tahu kdejadian tersebut diviralkan. Saya belajar dari pengalaman sendiri, bahwa punya seorang ibu yang monster seumur gidupnya sangat berat. Luka itu menjadi mega dukkha yang tak bisa disembuhkan dengan mudah. Membekas teramat dalam. Nantinya apa yang diingat anak itu hanya hal buruk tentang ibunya saja.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bener bun. Perlakuan ibu itu pada anaknya aja udah bikin luka apalagi itu sampai diabadikan ama dunia digital. Mkin sedih T_T

        Delete
    5. Semoga yang memviralkan video itu baca tulisan bunda Yeni ini. Semoga terbuka hatinya. Sayangnya masih banyak orang yg lebih suka membully daripada meyelamatkan orang yg dalam bahaya. Huhu... Sedih banget. Gimana kalau itu terjadi pada dirinya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bun sedih ya. Kita lbh senang untuk membulky dripda u\ saling peduli T_T

        Delete
    6. Setuju, Bunda Yeni. Memviralkan sesuatu yang buruk dan nggak pantas dicontoh itu sama aja kita jadi pelaku kejahatan ya. SElain itu, membully juga nggak menyelesaikan masalah. yang ada kita makin menyebarkan virus kebencian pada dunia ini. Lebih baik doakan saja pelaku dan korbannya. Stop berita buruk dan jangan sebarkan dengan maksud apapun. Sekian dan terima kasih hahaha... orasinya jadi panjang

      ReplyDelete
    7. Betul banget, terkadang kita nggak sadar ikutan membully sesuatu yang sebenarnya memang sudah nggak pantas buat diviralkan. Tugas kita semua agar mampu saling menjaga kewarasan antar emak di lingkungan sekitar agar anak-anak dan emaknya terus bahagia.

      ReplyDelete
    8. Wow Ku tak tau bun video itu semoga kita selalu dilindungi alloh ya bun agar sabar dan ikhlas ngasuh buah hati aamiin

      ReplyDelete
    9. Pertama tahu berita ini dari salah satu status di fb mengenai 'stop bla bla bla...'karena kepo aku langsung cari tahu videonya di akun gosip di IG.
      Pertama kali nonton aku langsung...ga bisa diungkapkan dengan kata2. Sedih iya, gemes iya, kasihan iya, kesel iya. Campur aduk ya...
      Baca komenannya masyaallah julid luar biasa.
      Dan kita yang masih waras jangan ikut2an orang yang kurang waras itu dengan ikutan membully.

      ReplyDelete
    10. duh ya ibu itu hrs bisa ngntrokl emosinya ya, begitu ayah. agar tak membuat trauma bagi anak2

      ReplyDelete
    11. Saya juga sempat sedikit risih lihat berita viral tersebut bun.
      Risih bin aneh bin bikin iri
      Mengapa gitu banyak ibu2 yang terlalu gak ada kerjaan sampai sibuk membully orang

      Saya aja bahkan rela waktu tidur amat sangat kurang rasanya waktu masih ga cukup, manalah mampu saya urus kehidupan orang lain juga.

      Beneran saya iri banget ama ibu2 yang suka membully karena hidupnya terlalu santai itu wkwkwkwk

      Dan buat yang ngerekam itu, entahlah, di satu sisi saya kesal, dia juga kurang kerjaan ngerekam urusan orang lain.

      Di sisi lain juga semacam berterima kasih, karena viralnya berita itu, saya jadi intropeksi diri banget, ya Allah banyak banget kesalahan saya pada anak huhuhu

      ReplyDelete
    12. udah tau contoh yang gak baik tapi malah di unggah ke internet,, hadeh...

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃 dan komentar Ayah Bunda bisa muncul setelah lewat persetujuan saya dan saya mohon maaaf sekali, jika ada komen tak sempat terbalas oleh saya karena keterbatasan saya. Maaf. Terima kasih 🙏

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES