Menjadi Ibu itu Tentang Keikhlasan

Pixabay

Ada banyak hal yang ingin aku lakukan. Ingin bermedsos ria dengan santai, ingin menghibur diri dengan nonton drama korea dengan tenang, ingin mandi tanpa harus ditanya-tanya oleh anak, ingin makan dengan tenang tanpa banyak iklan, Ingin baca buku tanpa drama yang menghiasinya, ingin menulis disaat ide dan mood bagus bermunculan, ingin belajar banyak hal karena aku ingin terus men-upgrade diriku dan ingin mengerjakan hal lain yang ku sukai tanpa harus direngekin anak dan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

Banyak hal yang ingin aku lakukan. Karena semua aktivitasku sebagai ibu dan istri dari subuh sampai malam tanpa jeda, membuatku berhak untuk mendapatkan ruang untuk diriku sendiri walau hanya sebentar.

Tapi, ketika ku ingin melakukan itu, rasanya tidak bisa seperti apa yang aku harapkan dan bayangkan. Karena ketika ku memberikan ruang untuk diriku sendiri. Tiba-tiba ada rengekan anak minta ditemani. Ada tangisan anak minta dimanja. Saat itu aku hanya bisa menatap anak dengan menarik nafas panjang.

Lagi-lagi aku mengalah, memupuskan semua rasa dan inginku. Menutup semua keinginanku dan apa yang sedang aku lakukan. Walaupun terkadang aku tak bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa "Aku lelah" dan terkadang pula karena tak ingin melampiaskannya pada anak membuatku menjauh dahulu sebentar darinya. Lalu menangis seorang diri di dalam kamar. Menarik nafas panjang lalu menenangkan diri


Baca juga: Balada Awal menjadi Ibu Rumah Tangga dan Proses Penerimaan di Dalamnya


Tapi dari sanalah aku sadari bahwa menjadi seorang ibu itu bukan hanya soal belajar tapi juga soal keikhlasan. Yup, keikhlasan.

Ikhlas ketika kita tak bisa makan dengan tenang.

Ikhlas ketika kita harus mandi dengan terburu-buru.

Ikhlas ketika kita harus kurang tidur dimalam hari dan terbangun-bangun dimalam harinya karena anak.

Ikhlas ketika kita hampir kehilangan seluruh diri kita.

Ikhlas ketika kita kehilangan dunia kita.

Ikhlas ketika kita mulai tak temukan diri kita yang dulu.

Ikhlas ketika kita kehilangan kebebasan kita bahkan ketika mandipun masih diikuti dan ditangisi anak.

Ikhlas wangi parfum kita dulu, kini tergantikan dengan wangi bawang dan bau keringet

Ikhlas ketika kecantikan kita memudar karena begitu sibuk mengurusi anak, suami dan rumah tapi lupa mengurusi diri sendiri.

Ikhlas ketika orang lain begitu bebas dan optimalnya mengejar kariernya. Tapi kita bekerja dengan setengah hati. Lalu, terburu-buru pulang karena ada anak yang sedang menunggu ibunya pulang. Dan terkadang harus ikhlas menanggalkan mimpi dan berada dibelakang layar hanya untuk anak di rumah

Yup, sejak jadi ibu itu aku baru belajar banyak tentang keikhlasan ini. Ikhlas dengan peran sendiri, ikhlas nerimo keadaan sendiri, ikhlas dengan kodrat sendiri dan keikhlasan itu proses belajar panjangku sebagai seorang ibu. Oleh sebab itu, maka tak aneh mengapa Allah langsung menjanjikan syurga untuknya


Baca juga: Ketika Engkau Merasa Lelah menjadi Seorang Ibu

Baca juga: Semua tentang Ibu di Sini


Bukan, ini bukan soal keluhan. Tapi salah satu proses belajar penerimaan, belajar berdamai dengan diri sendiri dan menggantikannya dengan rasa syukur yang sangat teramat karena telah diamanahi dengan gelar seorang ibu dan anak-anak yang telah menghiasi, hadir dan temani hidup kita. Semoga kehadiran mereka menambah semangat dan rasa syukur kita tak terbilang padanya hingga mengalahkan rasa lelah yang kita rasa. Amin. Walau nanti akan adakalanya lagi kita merasa lelah, tapi tidak apa-apa, yang penting jangan pernah lupa untuk kembali menguatkan diri.

12 comments

  1. Memang betul untuk mengurus anak itu butuh keikhlasan, karena kalo tidak ikhlas maka hati terasa berat. Nanti malah anak yang jadi sasaran, diomeli terus.

    Salut kepada para ibu yang ikhlas mengurus anak dan keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mas. Klo ga ikhlas itu, semua terasa makin berat hiks 😔

      Delete
    2. Kalo ikhlas mah jadi ringan dan hati rasanya nyaman ya mbak..😄😄😄

      Delete
  2. MasyaAllah mba, tulisan kamu bagus banget sih.
    Mengingatkan peran utama ku

    ReplyDelete
  3. Wahhh kasusnya sama persis sama kayak ak saat punya adek, rasanya gak bebas banget seperti dulu. Pas punya adek rasanya ga bisa kemana mana karena harus jagain ade, uang jajan jadi dikit karena jarang kemana mana. Tapi dengan punya adek bukan berarti ak menyesal, ak bersyukur aja banget si karena ada temen main dirumah. Bikin video bareng, bikin artikel, masak-masakan. dan lain sebagainya.. Apalagi kalau masih kecil pasti gemesin banget :D,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalagi jadi ibu mas, langsung ngehadepin beberapa anak ya

      Delete
  4. Menjadi ibu penuh waktu emang harus belajar ikhlas dan dipaksa ikhlas ya Mak. Kasian anak-anak kalau kita ga ikhlas. Dampaknya bisa sering jadi negatif ke anak

    ReplyDelete
  5. Begitu juga seorang suami. Mungkin bagi yg biasa dirumah pengem rasanya kluar Padahl pagi suka brangkat subuh pulang malam pengeem rasanya bencanda dgn anak dan istri tanda beban pekerjaan yg tak habis. Betul semua tentang iklas, iklah menjalani semua ini karena hidup sebagai apapun selalu ada tantangannya dan karna kelak akan mendapatkan hasil yg kuar biasa. Surga.

    ReplyDelete
  6. Menjadi seorang ibu itu luar biasa. Ketika pertama kali memiliki anak, ke-naluri-an seorang ibu muncul begitu saja. Semoga lelah ibu menjadi lillah, aamiin..

    Salam kenal Bunda Erysha :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃 dan komentar Ayah Bunda bisa muncul setelah lewat persetujuan saya dan saya mohon maaaf sekali, jika ada komen tak sempat terbalas oleh saya karena keterbatasan saya. Maaf. Terima kasih 🙏