Musuh Terbesar dalam Hidup itu Bernama Diri Sendiri

Musuh Terbesar dalam Hidup itu Bernama Diri Sendiri


Musuh Terbesar dalam Hidup itu Bernama Diri Sendiri. Hari ini aku berulang tahun yang 32. Awalnya aku merasa tak ada yang spesial di hari ini. Kecuali tentang seorang suami yang membuatkan cheese cake untuk istrinya dengan penuh cinta tapi selebih itu nothing.

ulang tahun
Cheese Cake buatan yang tercinta ^_^


Aku coba berdiam diri sejenak. Lalu muncul banyak pertanyaan yang merutuk diri

"Duh aku itu ya udah 32 tahun. Tapi kok  gini-gini aja. Orang lain udah pada hebat kualitas dirinya. Tapi kok aku stuck di sini aja. Udah umur segini tapi kok shalatnya masih belum pakai hati juga sih. Kok suka ga tahu malu sih ama Allah. Allah itu udah banyak ngasih kebaikannya, kenyamanan, kasih keluarga yang bahagia ke aku, suami yang baik dan anak yang perhatian dan sehat. Tapi kok aku membalas kebaikan Allah kok kayak gini gitu. Sholat aja masih nggak khusu, ngaji aja masih nggak fokus. Astagfirullah"

Ahhhh rasanya aku membenci diriku sendiri. Rasanya aku ingin memukuli diriku sendiri. Kok aku payah banget sih. Dan rasanya itu sungguh menyebalkan. Aku sering kalah dengan diriku sendiri. Rasanya aku tak akan bisa berhasil sebelum bisa mengalahkan diri sendiri.


"Kita ingin mengalahkan banyak orang dan ingin menjadi hebat seperti orang lain. Kita selalu menjadikan orang lain sebagai patokan kita. Tapi kita lupa, bahwa musuh terbesar kita itu bukanlah orang lain tapi diri sendiri"


Yup diri sendiri yang malas, diri sendiri yang selalu sibuk mencari pembenaran untuk membenarkan kesalahan akhirnya ga belajar-belajar, diri sendiri yang sudah merasa diri ini baik hingga tanpa disadari berhenti untuk belajar lebih baik, diri sendiri yang selalu memberikan banyak alasan mengapa gagal tapi tak memberikan alasan untuk berhasil.

Hahhh gimana mau maju-maju kayak gini. Orang lain udah hebatnya kayak apa (bukan hebat secara materi ya tapi hebat secara kualitas diri yang ku maksud) tapi ku masih gini-gini aja. Terus Ayah Erysha bilang gini

"Nggak usah banyak dipikirin, tapi dilakuin"

Bener yang Ayahnya Erysha bilang. Jadi yang pengen pertama aku perbaiki adalah memperbaiki shalatku. Aku pengen belajar shalat yang bener-bener khusu". Itu aja nggak lebih, kalau shalatnya udah bener yang lain pasti menyusul

Hahhhhh *tarik nafas dulu. Hari ini berkurang jatah umurku. Walau begitu, ternyata hari ini memang salah satu hari bahagiaku selain menjadi hari mencibir diri. Yang bikin bahagia karena dibikinin cheese cake pertama kalinya oleh Ayahnya Erysha dan rasanya itu enakkkkkkk banget. Soalnya bikinnya pake CINTA ❤ hihihi πŸ˜‚. ⁣


Baca juga: Cara Menjadi Pasangan yang Bahagia untuk Membesarkan Anak yang Bahagia

ulang tahun


Kalau kalian bertanya mengapa aku menjadi istri yang bahagia dan anakku tumbuh menjadi anak yang bahagia? Itu semua bukan karena aku yang hebat. Tapi karena aku punya seseorang yang hebat yang menghebatkan dan menguatkanku di sampingku yaitu dialah laki-laki2 yang ku cintai "Ayahnya Erysha" 😘⁣. Doain kami ya πŸ™

Teruntukmu para suami. Jika kalian ingin anak-anak kalian tumbuh menjadi anak yang bahagia. Maka orang pertama yang harus engkau bahagiakan adalah istrimu. Karena ibu yang bahagia akan membesarkan anak-anak yang bahagia ⁣


Baca juga: Jalani Hidup Apa Adanya Walau Media Sosial Menuntut Kita Sempurna


Terima kasih ya Allah untuk semua nikmatMu. KebaikanMu sungguh membuatku berkali-kali merasa malu. Semoga aku bisa belajar untuk terus mengurangi kesalahanku. Harapku di hari iniπŸ™. Kalau kalian apa yang nggak kalian sukai pada diri kalian sendiri dan ingin memperbaikinya? Kita bareng-bareng ya mengalahkan musuh terbesar kita yaitu diri sendiri. Tulisan ini ingin ku simpan sebagai salah satu momen bahagiaku sekaligus evaluasi diriku



No comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya πŸ˜ƒ dan komentar Ayah Bunda bisa muncul setelah lewat persetujuan saya dan saya mohon maaaf sekali, jika ada komen tak sempat terbalas oleh saya karena keterbatasan saya. Maaf. Terima kasih πŸ™