• Wednesday, April 26, 2017

    3 Hal Yang Perlu Diketahui Tentang Tunagrahita

    Fhoto: m.Liputan6.Com


    Tunagrahita adalah salah satu dari jenis anak berkebutuhan khusus yang sama-sama memerlukan pendidikan khusus untuk mengoptimalkan kemampuannya. Berikut ada 3 hal yang perlu diketahui tentang tunagrahita:

    1.      Pengertian Anak Tunagrahita
    Banyak istilah yang digunakan untuk menyebut anak yang memiliki kondisi kecerdasannya di bawah rata – rata atau di bawah anak normal. Dalam bahasa Indonesia pernah digunakan seperti lemah ingatan, lemah otak dan lemah pikiran. Istilah yang resmi digunakan di Indonesia saat ini adalah “tunagrahita” sebagaimana yang tercantum dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 72 tahun 1991 tentang “Pendidikan Luar Biasa”.

    Definisi anak tunagrahita yang dikemukakan, Amin (1995:11) bahwa:
    Anak tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya jelas berada dibawah rata-rata, mengalami keterbelakangan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan, kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak dan yang sulit serta yang berbelit-belit, kurang menyesuaikan diri dengan lingkungan. Keterbelakangan ini bukan sementara tetapi untuk selama-lamanya dan keterbelakangan mereka hampir pada segala-galanya lebih lebih dalam pelajaran seperti mengarang, menyimpulkan isi bacaan, dan berhitung. 

     Selanjutnya American Association on Mental Deficiency (AAMD) yang dikutip Grossman (1983) dalam (Hallahan & Kauffman, 1986:47) mengemukakan  bahwa: “Ketunagrahitaan mengacu kepada fungsi intelektual umum yang secara jelas (meyakinkan) berada di bawah rata-rata disertai kesulitan dalam perilaku adaptif dan terjadi pada periode perkembangan”(alih bahasa Amin, 1995:2).

    Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa untuk mengkategorikan sebagai penyandang tunagrahita, adalah seorang anak yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata secara jelas, kekurang mampuan dalam tingkah laku penyesuaian dan berlangsung pada periode perkembangan.

    Baca juga: Apa Itu Anak Tunagrahita Ringan?

    2.      Klasifikasi Anak Tunagrahita
    Para ahli mengklasifikasikan anak tunagrahita berbeda – beda tergantung pada keahliannya. Pengklasifikasikan anak tunagrahita ini perlu dilakukan untuk memudahkan guru menyusun program dan memberikan layanan pendidikan secara optimal.

    Klasifikasi anak tunagrahita sebagaimana dikemukakan Amin (1995:22-24) dengan mengacu pada PP No. 72 tahun 1991 sebagai berikut:

    a.       Anak tunagrahita ringan, mereka yang termasuk dalam kelompok ini meskipun kecerdasan dan adaptasi sosialnya terhambat, namun masih mempunyai kemampuan untuk berkembang dalam bidang akademik, penyesuaian sosial dan kemampuan bekerja.

    b.      Anak tunagrahita sedang, mereka yang termasuk kelompok tunagrahita sedang memiliki kemampuan intelektual umum dan adaptasi  perilaku di bawah tunagrahita ringan. Mereka dapat belajar keterampilan sekolah untuk tujuan-tujuan fungsional, mencapai suatu tingkat “tanggung jawab sosial”, dan mencapai penyesuaian sebagai pekerja dengan bantuan.

    c.       Anak tunagrahita berat dan sangat berat, anak yang tergolong dalam kelompok ini pada umumnya hampir tidak memiliki kemampuan untuk dilatih mengurus diri sendiri, melakukan sosialisasi dalam bekerja. Sepanjang hidupnya mereka akan selalu tergantung pada bantuan dan perawatan orang lain.

    Sedangkan berdasarkan ukuran tingkat inteligensi dikemukakan  (Hallahan and Kauffman, 1986:47) alih bahasa Somantri  (2006:108) dengan menggunakan skala Binet membagi ketunagrahitaan sebagai berikut:

    a.         Mild mental retardation (tunagrahita ringan)
          IQ-nya 70-55
    b.        Moderate mental retardation (tunagrahita sedang)
          IQ-nya 55-40
    c.         Severe mental retardation (tunagrahita berat)
          IQ-nya 40-25
    d.        Profound mental retardation (sangat berat)
          IQ-nya 25 ke bawah

    Dari pengklasifikasian tersebut dapat disimpulkan bahwa anak tunagrahita diklasifikasikan : tunagrahita ringan, tunagrahita sedang, tunagrahita berat dan tunagrahita sangat berat.

    Baca juga : Anak Berkebutuhan Khusus

    3.      Karakteristik Anak Tunagrahita
    Para pendidik harus mengetahui karakteristik anak tunagrahita agar mampu mengotimalkan layanan pendidikan yang baik. Di bawah ini akan diuraikan beberapa karakteristik anak tunagrahita, seperti yang dikemukakan oleh Page (Suhaeri H.N.; 1979:25) yang dikutip oleh Astati dan Mulyati (2010 : 15-17), sebagai berikut :
    a.         Kecerdasan, kapasitas belajarnya sangat terbatas terutama hal-hal yang abstrak. Mereka lebih banyak belajar dengan cara membeo (rote learning) bukan dengan pengertian. Dari hari ke hari dibuatnya kesalahan-kesalahan yang sama. Perkembangan mentalnya mencapai puncak pada usia yang masih muda.

    b.        Sosial, dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, memelihara dan memimpin diri. Waktu masih kanak-kanak mereka harus dibantu terus menerus; disuapi makanan, dipasangkan dan ditanggali pakaian dan sebagainya; disingkirkan dari bahaya, diawasi waktu bermain dengan anak lain, bahkan ditunjuki terus apa yang harus dikerjakan. 

     Mereka bermain dengan teman-teman yang lebih muda daripadanya, tidak dapat bersaing dengan teman sebaya. Setelah dewasa kepentingan ekonominya sagat tergantung pada bantuan orang lain. Tanpa bimbingan dan pengawasan mereka dapat terjerumus ke dalam tingkah laku yang terlarang terutama mencuri, merusak, dan pelanggaran seksual. Dilihat dari sosial age (SA) mereka juga sangat kecil SQ-nya. (SQ adalah singkatan dari “Social Quotient” seperti halnya IQ untuk kecerdasan).

    c.         Fungsi-fungsi Mental Lain,mereka mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian. Jangkauan perhatiannya sangat sempit dan cepat beralih sehingga kurang tangguh dalam menghadapi tugas. Pelupa dan mengalami kesukaran mengungkapkan kembali suatu ingatan. Kurang mampu membuat asosiasi-asosiasi dan sukar membuat kreasi-kreasi baru. Yang agak cerdas, biasanya menyalurkan hasrat-hasrat ke dalam lamunan-lamunan, sedang yang sangat berat lebih suka “mengistirahatkan otak”. Mereka menghindar dari berpikir.

    d.        Dorongan dan Emosi, perkembangan dan dorongan emosi anak tunagrahita berbeda-beda sesuai dengan tingkat ketunagrahitaan masing-masing. Anak yang berat dan sangat berat tingkat ketunagrahitaannnya, hampir-hampir tidak memperlihatkan dorongan untuk mempertahankan diri. Kalau mereka lapar atau haus, mereka tidak menunjukkan tanda-tandanya. 

    Demikian pula kalau mereka mendapat perangsang yang menyakitkan hampir-hampir tidak memiliki kemampuan menjauhkan dirinya dari perangsang tersebut. Kehidupan emosinya lemah. Jika telah mencapai umur belasan tahun dorongan biologisnya biasanya berkembang dengan baik kecuali hubungan heterokseksual tetapi kehidupan penghayatannya terbatas pada perasaan-perasaan; senang, takut, marah, benci dan kagum. Anak yang tidak terlalu berat ketunagrahitaannya mempunyai kehidupan emosi yang hampir sama dengan anak normal tetapi kurang kaya, kurang kuat dan kurang banyak mempunyai keragaman. Mereka jarang sekali menghayati perasaan bangga, tanggung jawab dan hak sosial.

    e.         Organisme, baik struktur maupun fungsi organisme pada umumnya kurang dari anak normal. Mereka baru dapat berjalan dan berbicara pada usia yang lebih tua dari anak normal. Sikap dan gerak lagaknya kurang indah. Diantaranya banyak yang mengalami cacat bicara. Mereka kurang mampu membedakan persamaan dan perbedaan. Pendengaran dan penglihatannya banyak yang kurang sempurna.
    Anak yang berat apalagi yang sangat berat ketunagrahitaannya kurang tentan dalam perasaan sakit, bau yang tidak enak, dan makanan yang tidak enak. Badannya relatif kecil seperti kurang segar. Tenaganya kurang, cepat letih, kurang mempunyai daya tahan.

    Berdasarkan uraian di atas karakteristik anak tunagrahita pada umumnya adalah anak yang memiliki kecerdasan yang terbatas, memiliki kesulitan dalam sosial karena belum mampu mengurus diri, kesulitan dalam berkonsentrasi, perkembangan emosinya, struktur maupun organismenya berbeda dengan anak sebayanya



    Dari penjelasan di atas diharapkan para guru dan orang tua dapat bekerja sama untuk membantu mengoptimalkan kemampuan tunagrahita. Begitu juga untuk masyarakat dapat menerima kehadiran anak tunagrahita dan membantu mereka dalam kehidupan sosial


    Daftar Pustaka
    Astati, & Mulyati, Lis. (2010). Pendidikan Anak Tunagrahita. Bandung: CV. Catur Karya Mandiri
    E.M. (2011). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: CV Amanah Offset
    Nani, Euis. (2011). Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus. Bandung: Amanah Ofsett
    Somantri, Sutjihati. (2009). Pendidikan Anak Luar Biasa. Bandung: Refika Aditama



    No comments:

    Post a Comment

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES