• Wednesday, July 4, 2018

    Toilet Training dengan Cara Menyenangkan

    toilet training dengan cara menyenangkan
    nakita.grid.id

    Hai-hai Bunda, ada yang lagi deg-degankah menghadapi fase toilet training anak yang sebentar lagi? Atau lagi bingung cara mengajarkan toilet training yang menyenangkan pada anak itu, seperti apa sih? 

    Bingungnya nggak usah lama-lama ya Bun, karena hari ini saya ingin membagikan materi kulwap parenting yang pernah saya ikuti beberapa bulan yang lalu. Walau pun Erysha sudah lewat di fase ini, tetapi materi tentang toilet training ini memang sengaja saya simpan di blog saya agar tetap bisa bermanfaat juga untuk banyak orang. Sebelum kita ke materinya, bagaimana kalau kita berkenalan dahulu dengan penulis materinya sekaligus narasumbernya. Langsung aja yuk, Bun!

    Biodata Narasumber

    Kang Canun, trainer

    Nama : Ikhsanun Kamil Pratama
    Nama Panggilan: Kang Canun
    Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 1 Mei 1990
    Status : Menikah
    Anak : 2

    Profesi
    - Konselor Pernikahan
    - Trainer
    - Penulis Buku

    Toilet Training dengan Cara Menyenangkan


    HAPPY TOILET TRAINING πŸ’œ

    Originally created by @canunkamil & @fufuelmart

    Toilet Training adalah salah satu fase yang perlu dilalui orangtua dengan anak balitanya. Sering kali jadi momen yang mengkhawatirkan bagi beberapa orang, mengingat prosesnya memang perlu ekstra ikhtiar juga managemen emosi orangtuanya. Menurut kami, ada tiga kunci utama dalam keberhasilan toilet training, yaitu...:

    KONSISTEN

    Proses toilet training perlu dilakukan secara perlahan namun berkesinambungan, jangan sampai terputus di tengah jalan. Keberhasilan toilet training itu sangat dipengaruhi oleh 2 faktor utama yaitu orangtua, dan anak itu sendiri. Oleh karena itu, perlu memastikan kesiapan masing-masingnya terlebih dulu.

    Persiapan Toilet Training


    1. Kesiapan Orangtua
    Siapkan mental sedari awal. Minimkan ekspektasi terhadap anak, karena proses mereka belajar memahami toilet training boleh jadi tidak semudah dan tidak secepat mereka belajar pengetahuan kognitif.

    Akan sangat lebih baik, bila kedua orangtua sama-sama membantu proses toilet training anaknya, ini akan lebih mempermudah proses toilet training anak. Jadi, koordinasi dengan pasangan. Apalagi anak laki-laki sebaiknya belajar toilet training dengan ayahnya, dan anak perempuan dengan ibunya.

    2. Kesiapan Anak
    Pastikan anak juga sudah siap untuk proses toilet training. Sebelum proses toilet training dimulai, baiknya orangtua sudah sounding dari awal. Beberapa hal penting tentang kesiapan anak diantaranya :

    a. Anak sudah pandai berkomunikasi. Minimal perkataannya sudah kita mengerti, dan dia sepakat untuk berproses toilet training bersama.

    "Kakak, alhamdulillah sudah semakin besar dan pandai bicara, gimana kalau kita belajar lepas popok dan pakai celana dalam yuk!"

    Mungkin tidak akan berhasil dalam sekali. Kalau hari ini tidak sepakat, coba di hari lain juga bisa dibantu metode buku yang tokohnya  disukai anak.

    b. Lakukan Briefing dan Roleplaying.
    => Briefing dimana orangtua memberitahu seperti apa proses toilet training yang akan dilakukan. Perlahan saja, mulai dengan agenda besok latihannya seperti apa. Misal mulai dari belajar untuk bilang saat ingin pipis atau pup. Orangtua perlu memberitahu seperti apa rasanya ingin pipis dan pup itu. Gunakan ekspresi yg sesuai dan all out, agar anak mudah memahami.

    => Roleplaying dimana anak dan orangtua berpura-pura me-reka adegan nanti proses toilet training besok akan seperti apa. Semakin orangtua menjelaskan dengan rinci, detil dan ekspresif, biasanya akan lebih mudah ditiru anak.

    "Besok kita mulai ya kak, saat kakak ingin pipis atau pup, Kakak bilang sama Bunda ya...! Pipis itu seperti ini lho, di bagian perut bawah ini serasa tergelitik gak bisa nahan ada yang mau keluar..."

    lalu kalau sudah berhasil bilang, lanjut ke tahap lainnya .

    "Kakak, besok kita mulai belajar buka celana dalam sendiri ya... coba Bunda ingin tahu gimana buka celana nya Kak... pakenya lagi gimana..."

    lanjut lagi ke tahap selanjutnya, belajar pakai toilet, belajar cebok dsb.

    TELATEN

    cara melatih toilet training pada anak
    BacaanBunda
    Menurut pengalaman kami, juga membaca literatur dari para ahli, proses toilet training yang tingkat keberhasilannya tinggi, adalah yang LANGSUNG lepas pampers sama sekali, bahkan tidak perlu pakai training pants. Dalam arti dari mulai sepakat sama anak akan proses toilet training, anak langsung pakai celana dalam dan lepas pampersnya.

    Rempong? Di awal pastinya, sepengalaman kami, butuh waktu 2 minggu saja untuk anak memahami hasrat ingin pipis dan pup itu seperti apa. Jadi selama 2 minggu pertama akan sering keburu pipis atau pup di celana dulu, meski sedikit.

    Di 2 minggu selanjutnya, anak sudah mampu bilang saat ada hasrat ingin pipis atau pup, juga mampu menahan pipis dan pup saat harus buka celana dulu. Perlahan kemudian diajari cebok, lap kemaluan, cuci tangan, juga adab di toilet lainnya.

    Beberapa hal yang penting orangtua ketahui dalam ketelatenan proses toilet training diantaranya :


    1. Stock Kesabaran Extra
    Proses toilet training di awal mungkin akan sangat menggemaskan dan tidak menyenangkan bagi orangtua. Tapi, demi keberhasilan proses toilet traning, orangtua baiknya tetap perlu menjaga aliran emosinya saat hal yang tidak diharapkan terjadi. Sabar, sabar, dan sabar.

    Baca juga: CARA MENGELOLA EMOSI DALAM PENGASUHAN ANAK

    Baca juga: BERSABARLAH MENGAJARKAN SABAR PADA ANAK

    Katakanlah anak mulai proses toilet training usia 2 tahun, itu artinya kita telah membuat dia selama ini tidak memahami hasrat ingin pipis dan pupnya selama 2 tahun. Anak kita sudah terlalu nyaman menggunakan pampersnya sebagai tempat buang hajat selama 2 tahun, 2 tahun lho, bukan waktu yang sebentar. Jadi dia juga perlu waktu untuk belajar keluar dari ZONA NYAMAN-nya.

    2. Apresiasi sekecil apapun kemajuan anak selama proses toilet training. 
    Kita perlu terus MEMUJI efektif. Puji perilakunya, bukan orangnya. Sampaikan juga dampak positif dari perilaku baiknya.

    Contoh:

    "Allhamdulillah kakak, terima kasih ya sudah mulai pipis di toilet. Berarti kakak sudah bisa jaga kebersihan diri sendiri lebih sehat. Allah sangat suka akan kebersihan."

    3. Rutin menginstall mindset memberdayakan tentang Toilet Training pada Anak (HYPNO-NLP).
    Ayah dan Bunda baiknya setiap malam sebelum tidur, menanamkan sugesti baik, dengan bincang santai bersama anak. Waktu sebelum tidur, adalah peralihan gelombang otak anak dari kondisi Alpha ke Tetha. Ini adalah waktu yang tepat, untuk langsung masuk pikiran bawah sadar anak kita.

    "Bunda yakin, insyaAllah besok kakak makin bisa bilang saat mau pipis atau pup... Terima kasih yah kakak, hari ini sudah berusaha belajar ke toilet..."

    Sampaikan pelan, sambil mengelus kepalanya. Kalau masih sayup terjaga, diajak ngobrol tentang apa perasaannya belajar Toilet Training hari ini. Apa yang menyenangkannya, apa yang masih sulit baginya.

    Rutin dengan telaten setiap malam kita evaluasi bersama dengan anak, mengenai proses toilet training yang sedang dijalani.

    4. Bantu Anak Memahami dengan rutin membacakan buku tentang Toilet Training.
    Selama proses toilet training anak kedua kami, Awim, setiap malam kami bacakan naskah buku "Belajar Adab Toilet", ternyata ini cukup berpengaruh menjaga motivasinya, untuk bisa lulus toilet training sama seperti tokohnya, yaitu Pangeran Kamil.

    Baca juga: CARAKU MENGENALKAN DAN MEMBUAT ANAK MENYUKAI BUKU

    Sudah bukan rahasia kalau anak balita sangat mudah menyerap apapun yang dipelajarinya, dan buku menjadi salah satu media paling berpengaruh dalam membantu pemahaman balita. Meski mereka belum bisa membaca, tapi dengan orangtua sering membacakannya, mereka perlahan akan memahaminya. Temukan buku tentang toilet training, yang akan membantu proses keberhasilan toilet training, juga bisa meningkatkan motivasi anak untuk segera lulus toilet training.

    KONSEKUEN

    1. Bertahan selama Proses
    Konsekuen bermakna tegas. Tegas tidak sama dengan keras. Tegas bermakna teguh dalam memegang prinsip, sedang keras itu tentang penyampaian kepada anak, misal dengan berteriak, melotot, nuntut, dan lainnya.

    Maka, melatih anak untuk toilet training, berarti memerlukan ketegasan yang disampaikan dengan penuh kelembutan. Tegas kepada diri sendiri untuk tidak menghentikan proses toilet training di tengah jalan, tidak mudah menyerah, dan senantiasa lembut untuk mengingatkan selalu balita kita.

    Namanya juga balita, apa iya, hanya dengan sekali dua kali ucap bisa langsung mahir dan bisa? Tentu tidak, kan? Maka, senantiasa mengingatkan dengan lembut aturan-aturan toilet training dan bersedia menjalani prosesnya.

    Untuk mencapai konsekuen, maka kita perlu memahami bahwa anak kita perlu waktu dan proses agar bisa mahir. Mari bedakan hal berikut ini:

    TIDAK TAHU menjadi TAHU, anak perlu belajar.

    TAHU belum tentu MAMPU.
    Agar tahu menjadi MAMPU, maka perlu LATIHAN.

    MAMPU, belum tentu mahir.
    Agar menjadi MAHIR, perlu pengulangan terus menerus.

    Perhatikan, bahwa proses toilet training sedemikian dibutuhkan bagi anak kita.

    Inilah mengapa kita perlu menghargai proses perubahan positif mereka meskipun hanya 1%.

    Inilah mengapa kita perlu menuntun anak-anak kita, bukan menuntut.

    Inilah mengapa kita perlu menikmati prosesnya, mendampingi anak-anak kita untuk berbenah, apalagi setiap anak memiliki proses yang berbeda-beda.

    2. Sambil berproses toilet training, kenalkan adab masuk keluar kamar mandi dalam Islam.
    Seringkali, karena kita fokusnya hanya pada keberhasilan toilet training saja, membuat luput untuk mengenalkan adab muslimnya seperti apa. Padahal, bila dikenalkan dari awal sambil berproses toilet training, justru lebih memudahkan anak memahami kemudian menjadikannya kebiasaan.

    Seperti langkah kaki kiri saat masuk kamar mandi, berdoa, cebok dengan tangan kiri, tidak berlama-lama di kamar mandi, tidak menghamburkan air, dan adab di kamar mandi lainnya.

    3. Gunakan sistem reward dengan bijak
    Anak usia 2 tahunan, sedang masanya mulai merasa bangga pada setiap pencapaian dirinya. Itulah kenapa anak usia 2 tahun, suka sekali "pamer" pada orangtua saat mereka bisa ini, saat mereka berhasil itu, meski hal kecil mungkin bagi kita. Masa seperti ini, justru perlu kita manfaatkan.

    Oleh karenanya selama proses toilet training, penggunaan sistem reward chart menggunakan sticker, biasanya membantu peningkatan capaian proses toilet anak. Saat anak berhasil, dia mendapat hadiah sticker, ada kebanggaan dalam dirinya. Kemudian timbul lagi keinginan untuk bisa memenuhi semua chart dengan sticker, sehingga dia semakin termotivasi untuk berproses toilet training.

    Kalau misal kita menetapkan reward dalam proses toilet training ini, konsekuen untuk penuhi janji yang sudah kita sepakati bersama anak. Dan jangan lupa pahamkan anak, bahwa reward berlaku selama proses toilet training. Saat dia sudah berhasil dan mampu, maka tanpa perlu reward pun, akan menjadi kebiasaan bagi mereka.

    Seringkali kita kesulitan dalam sebuah proses, hanya karena belum tahu caranya. Seringkali kita gagal terus dalam sebuah ikhtiar, hanya karena kurang sedikit kesabaran kita. Seringkali anak-anak kita, hanya perlu diri kita yang tenang, dalam membersamai setiap proses mereka. Selamat menjalani proses toilet training dengan menyenangkan. 😊

    Wassalam,

    🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾

    Makasih Kang Canun dan Teh Fufu untuk materinya πŸ™. Nah, itu dia Bunda toilet training dengan cara menyenangkan. Jadi, biar itu tetap menyenangkan untuk kita dan anak, intinya jangan terlalu banyak ekspektasi pada anak. Agar kita tak mudah marah dalam melatih anak toilet training ini dan anak pun senang dalam proses belajarnya karena tanpa tekanan dari kita.

    Boleh dicoba di rumah ya Bunda 😘. Ada yang punya cerita toilet training bersama anaknya? Share yuk!

    57 comments:

    1. yang utamanya sih ektra sabar mba Yen hehe semoga nanti si bungsu bisa toilet training lebih mulus dibanding si sulung yang ada drama dulu hehhe

      ReplyDelete
    2. Waaah....bisa buat ke cucu nih...
      Makasih pencerahannya

      ReplyDelete
    3. Dulu anak² asa gampang toilet training. Si Kakak 1.5 thn udh enggak ngompol. Adiknya lebih lama sih. Nah...giliran ke cucu...ternyata beda lagi. Ortunya msh berusaha niii...

      ReplyDelete
    4. Dulu sih anak-anak tidak kesulitan untuk toilet training. Kuncinya memang harus sabar. Namanya juga anak-anak.

      ReplyDelete
    5. Wah, jlebb banget bacanya. Soalnya anakku yg 3 tahunan belum bisa diajarkan toilet training. Hehe. Karena speech delay juga jadi berpengaruh

      ReplyDelete
    6. Benar sekaliii.. Ini benar2 butuh kesabaran.. Bismillah.. setelah membaca ini jd semangat lagi ngajarin si kecil Toilet Training..

      ReplyDelete
    7. Dulu anak saya semingguan Bun belajar lepas popok awalnya gitu keburu pipis terus, tapi terus aja lama-lama dia ngerti rasanya mau pipis dan bilang deh ke Bundanya. Terima kasih ya Bun artikelnya bagus.

      ReplyDelete
    8. Sabar dan telaten kunci utamanya yah Bunda Yeni. Nggak bisa langsung paksa gitu aja yah belajar toilet training buat anak-anak.

      ReplyDelete
    9. Si kecil udah 23 bulan. Beberapa kali udah ga saya pakein diaper. Udah bisa sih bilang mau pipis atau pup, tapi tuk pipisnya masih sering telat bilang. Bilang pipis, eh udah bocor duluan, hehe. Seru dan butuh kesabaran emang. Nice artikel, Bund :)

      ReplyDelete
    10. Benar Mba perlu yg namanya kesabaran Extra ditambah dengan telaten..
      walau kadang suka tetap tak pakein Pampers kalo pas males ku melanda ehehe

      ReplyDelete
    11. Kmrn anak ak umur brp y udh sukses.. Lupa.. Haha.. Yg jls dibawah 1,5 tahun. Ini yg penting banget hrs konsisten plus jgn manjain anak pake pospak. Dy ga ngerti arti basah kalo bgt. Pengalaman ak pke celana khusus toilet training pas latihan n dr kecil pke clodi dy jd ngerti basah n ga nyaman. :)

      ReplyDelete
    12. Aku lagi galau galaunya ngajarin toilet training nih kak. BUkan dari pihak aku atau anak tapi dari pihak mertua yang kurang support. Namanya anak anak kalo diajarin begitu pasti ada pipis kan di lantai nah mereka gak suka lantainya kotor. JAdi batal terus ngajarinnya.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Wah kasian. Bisa diajak ngobrol ga mertuanya ama suami? Khwatir fase anak kita jadi terlambat. Semoga berhasil ya bun 😘

        Delete
    13. Aku coba deh. Skr ini lg ngajarin si adek toilet training, krn aku ingin ngajakin dia traveling tahun depan. Agak susah kalo masih pake pampers krn bakal menuh2in koper :D. Tp memang si adek ini beda dr kakanya dulu, yg umur 2.5 thn udh lepas total. Adeknya 2.5 thn msh blm hahahaha.. Tp gpp, aku msh semangat ngajarinnya :D. Cuma kdg anaknya suka ngeyel sendiri, baru bilang pipis pas udh kluar :D

      ReplyDelete
    14. Yeaaay, I did it! Walaupun masih proses dan belum sepenuhnya berhasil. Tapi tulisan Kak Yeni ini lengkap banget plus tipsnya pula. Syuuuuka. Thank you Kakaaaaa, Barakallah

      ReplyDelete
    15. Dulu si sulung toilet trainingnya penuh drama. Sudah sabar ekstra dan beraneka cara tapi belum berhasil juga.
      Eh, ternyata caranya di luar dugaan. Waktu kami pindah tempat tinggal dan di rumah baru toilet lebih unyu-unyu. .Dia sejak itu juga terkondisi bisa ke toilet kalau untuk urusan BAK/BAB. Jadi tempat ternyata berpengaruh juga - di kasus anak saya

      ReplyDelete
    16. Alhamdulillah, saya sudah melaluinya. Pengalaman toilet training DuoNaj sangat berbeda. Yang cewek gampang, yang cowok subhanalloh luar biasa minta kesabaran ibunya. Wkwkwkw. Cerita toilet training Najib sudah saya tulis juga dalam postingan khusus, Toilet Training untuk Anak Laki-laki. Setiap anak emang nggak sama sih prosesnya. Tapi mirip dan bisa dipelajari dari artikel2 kayak gini.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Wah bunda Damar udah berpengalaman ya 😍

        Delete
    17. Dulu Aisha sukses, ini adiknya akhir tahun ini baru mulai toilet training. Entah nih bakalan kyk apa

      ReplyDelete
    18. Begitu lulus dari UPI Bandung, saya diterima mengajar dan ditempatkan di kelas Pre Kindergarten. Saat itu kami, guri lebih mengajarkan life skill, toilet training salah satunya. Agak kaget, karena background saya jurusan sastra, tidak tahu apapun tentang PAUD. Tapi pelan-pelan saya belajar dari melihat guru senior. Pujian pada anak dan sabar dua modal ini memang harus dipunyai orang tua (dan mungkin guru) untuk melatih toilet training dan life skill lainnya.

      ReplyDelete
    19. Melatih toilet training pada anak memang butuh kesabaran ya... Dan yang penting konsisten, telaten dan konsekuen.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Wah klo bunda nurul mah, anak2nya udah ngelewatin fase ini ya πŸ˜ƒ

        Delete
    20. alhamdulillah... kedua anak saya sukses toilet training tanpa drama. Memang benar apa yang ada di kulwap itu bun, saya sudah praktikkan dan berhasil, hehehe

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kerwn bunda, bisa tanpa drama ya πŸ‘πŸ˜ƒ

        Delete
    21. Setuju, perlu kesabaran dan ketelatenan ekstra saat proses toilet training ini. Untungnya anak-anak saya cukup bisa bekerja sama. Hanya butuh 2 minggu untuk mengajari mereka lepas popok 😁

      ReplyDelete
    22. Anakku tinggal bab nih yang blm bisa.nggak mempan pakai cara toilet training abangnya. Pas dia ngeden2 trus diajak ke kmr mandi, malah ga jadi bab.

      Perlu lebih sabar lagi memang.

      ReplyDelete
    23. Terima kasih ilmunya. Bisa jadi referensi saya saat si kecil sudah siap toilet training. Sekarang usianya 16 bulan, masih pakai popok ke mana-mana :)

      ReplyDelete
    24. Wah, makasih banyak sharingnya mbak. Anakku nih, masih kadang mau kadang nggak πŸ˜‚

      ReplyDelete
    25. Note dulu mbak, soalnya saya blm punya anak. Lumayan ini buat ilmu saat saya punya anak nanti

      ReplyDelete
    26. Sangat bermanfaat sekali bunda Ersya ulasan toilet training ini. Saya bisa lakukan buat Sagara nanti.

      ReplyDelete
    27. Alhamdulillah udah lewat masa2 itu. Iyes eetuju, kuncinya konsisten, telaten dan sabar.

      ReplyDelete
    28. Alhamdulillah anak saya Azzam tidak ribet saya perkenalkan dan ajarkan "toilet training" memang sangat dibutuhkan ketelatenan dalam mengajarkan bagaimana pup di toilet ke anak ya bunsay.

      ReplyDelete
    29. usia 2 tahunan itu usia efektif ya mbak
      dan haru sabar,,, banget...

      ReplyDelete
    30. aku sempet khawatir soal toilet training ini moms, dan alhamdulilah sejak 6 bulan sudah mulai lepas diapers. Gampang-gampang susah dan harus ekstra sabar ya Moms.

      ReplyDelete
    31. Buat aku, ini adalah salah satu fase terberat yang harus aku lewati karena butuh kesabaran dan ketelatenan. Sabar ketika belim sampai toilet, pee atau pupnya tetlanjur keluar duluan dan konsisten mengajak anak ke toilet setiap sebelum tidur dan ketia ia terbangun di malam hari.

      ReplyDelete
    32. Sabar jadi kunci utama, ya. Gak bisa instan prosesnya :)

      ReplyDelete
    33. Dulu ketika anak2ku masih 3 tahunan sih udha aku ajarain toilet training nini. Agak sulit tapi kalau kita sabar, in sya allah bisa hehehe. Butuh support papanya juga tentunya ya mbak :) Bantu2in gituh :D

      ReplyDelete
    34. JAdi ingat toilet training si kakak dulu, Alhamdulillah dia lepas popok di usia 21 bulan, tapi ya gitu, emaknya harus istigfar mulu biar stok sabarnya kagak abis hahaha

      ReplyDelete
    35. Alhamdulillah, anak kedua saya juga sudah mulai gak ngompol dan pup sembarangan, karena sudah mulai berani bilang, meskipun dengan bahasa seadanya yang cuma kami orang tuanya yang paham, hahaha... Ternyata di toilet duduk, ada tambahan untuk anak balita ya, jadi pupnya lebih mudah dan nyaman.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya mas ada tambahan lagi klo u/ closet duduk. Soalnya kalau closet duduk, lubangnya besar jadi sulit u/ Anak

        Delete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya πŸ˜ƒ

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES