• Sunday, May 20, 2018

    Bersabarlah Mengajarkan Sabar pada Anak

    bersabarlah mengajarkan sabar pada anak
    Pixabay


    Dear Ayah Bunda!
    Apa kabar puasanya beberapa hari ini? Tetap semangat kan? Nah, hari ini saya lagi-lagi akan memberikan materi seminar parenting online yang saya ikuti. Seminar ini diadakan oleh Sygma Daya Insani, (gentara). Sayang kan kalau materinya buat saya sendiri atau terlupakan begitu saja. Jadi, hari ini saya bagikan kepada Ayah Bunda semua untuk kita sama-sama belajar tentang "Cara Mengajarkan Sabar pada Anak"

    Baca juga: BUNDA INGIN MENGAJARKAN MEMBACA PADA ANAK? BISA COBA DENGAN METODE MONTESSORI INI

    Bersabarlah Mengajarkan Sabar pada Anak 


    Sebelumnya buat Ayah Bunda yang belum kenal narasumbernya. Boleh lihat profilnya dulu, ya πŸ˜‰

    pembicara parenting
    Miarti Yoga

    Nama : Miarti Yoga
    Tempat tanggal lahir : Ciamis, 22 Maret 1981
    Status : Menikah dengan Yoga Suhara, ST
    FB/Instagram/Twitter/Line : Miarti Yoga

    Aktivitas:
    ✅ Direktur Sekolah Ramah Anak Zaidan Educare
    ✅ Penulis lepas di berbagai media cetak nasional
    ✅ Penulis buku-buku parenting (Unbreakable Woman, Best Father Ever, Adversity Quotient, dll )
    ✅ Relawan Literasi Jawa Barat
    ✅ Kontributor Ahli rubrik parenting di Majalah Intima'
    ✅ Nara sumber seminar parenting di berbagai lembaga
    ✅ Nara sumber workshop dan pelatihan pendidikan guru TK/PAUD
    ✅ Pengasuh Bincang Pengasuhan Online di komunitas Keluarga Ramah Anak
    ✅ Manager Seba Music Entertainment

    Motto : *Semangat, Berkarya, Bermanfaat*

    Gimana? Subhanallah ya narasumber kita yang satu ini πŸ˜‰. Yuk, kita simak langsung materi dari beliau ya

    🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

    *SABAR MENGAJARKAN SABAR PADA BUAH HATI*

    *By : Miarti Yoga*
    *_Early Childhood Consultant_*

    Ayah Bunda yang dirahmati Allah.
    Selamat membersamai keluarga, selamat bergembira dalam kebersamaan. Selamat menikmati rangkaian sabar dan selamat menikmati indahnya.

    SABAR. Satu kata sangat familiar, sangat mengalir diucapkan, sangat sering diungkapkan, dan sangat biasa dijadikan sebagai pesan seperti “Mohon bersabar yaaa!”, “Orang sabar pasti disayang Allah”, “Sabar aja dulu!”, dan lain-lain.

    Di balik familiar kata SABAR, ada keunikan khusus dibandingkan dengan karakter-karakter lainnya. Unik apanya? Unik karena sangat refleks diucapkan namun tak sederhana untuk dilakukan.

    Baik Ayah Bunda yang dirahmati Allah. Ngomong-ngomong tentang bagaimana kita mengajarkan sabar pada buah hati.

    Seringkali, kita sebagai orangtua secara spontan mengatakan bahwa anak kita belum bisa sabar atau anak kita tidak sabaran. Setiap keinginannya harus diikuti pada saat itu juga, setiap rengekannya harus diberikan “feedback” pada saat itu juga. Nah, tentang persepsi. Selama ini kita sudah salah persepsi tentang siapa anak kita. Dan inilah alasannya kenapa anak-anak relatif “tidak sabaran” (tentu saja saat kita lihat secara kasat mata). Berikut alasan-alasannya yang wajib kita ketahui.

    Penyebab Anak Tidak Sabar


    1⃣. Karena anak masih belum mampu menjabarkan secara utuh tentang perasaan dirinya. Sehingga wajar jika mereka merengek, memaksa, dan sejenisnya. Dalam hal ini, anak masih terbatas cara atau teknik komunikasi, bahkan masih terbatas berkata-kata (mempersuasi).  Contoh yang sangat mudah kita temukan adalah bagaimana seorang bayi yang tak nyaman karena buang air kecil atau karena tak ada teman, maka secara refleks dia akan menangis, bahkan bisa menangis hebat saat hajatnya/kenyamanannya belum terpenuhi.

    2⃣. Karena anak belum tahu atau belum sadar konsep. Konsep lama dan sebentar, konsep mudah dan sulit, dan lain-lain. Sehingga sangat wajar ketika anak usia 3 tahun meminta dibuatkan jus. Dalam benaknya, ketika dia meminta jus, maka jusnya sudah ada dan tinggal munum. Dia belum sadar kalau ibunya harus menyiapkan sekian variable sehingga satu gelas jus itu terhidang dan siap santap. Oleh karenanya, disebabkan konsep pemikirannya masih belum matang, maka mereka akan kesulitan untuk menunggu, untuk sabar, dan lain-lain.

    3⃣. Tipis perbedaannya dengan alasan kedua, yakni karena anak berada pada masa egosentris. Mereka berpikir dan berpersepsi atas egonya sendiri. Mereka tak memikirkan bagaimana orang lain. Mereka berpersepsi sekehendak mereka. Maka, wajar jika mereka belum mampu menyesuaikan terhadap apa yang kita haruskan atau terhadap apa yang kita amanahkan.

    Contohnya adalah ketika seorang anak kelas 1 SD yang nangis-nangis minta dibelikan benda tertentu (padahal harganya mahal), sementara keuangan orangtuanya tengah berada dalam keadaan terbatas. Dia belum paham betul bahwa orangtuanya tak selamanya memegang uang atau ia belum paham bahwa tak mudah untuk membeli benda tersebut.

    Nah, ketika kita tahu alasannya, maka seharusnya kita bisa lebih paham tentang siapa mereka. Sehingga tak ada lagi vonis-vonis negatif yang mengalir spontan dari mulut kita. InsyaAllah.

    Ayah Bunda. Sabar itu bagian dari karakter, yang jika sudah dipolakan pada seorang manusia –apalagi sedari kecil-, maka melekatlah padanya sikap sabar. Nah, tentunya, sikap sabar ini tak cukup kita sampaikan dalam bentuk amanah atau pesan saja. Melainkan harus terupayakan dalam hal-hal yang sangat teknis atau dalam hal-hal yang sangat opersional. Apa maksudnya? Maksudnya adalah, kesabaran itu perlu dilatih dalam detail keseharian anak-anak. Contohnya? Yuk kita simak uraian berikut.

    Cara Melatih Anak untuk Sabar


    cara melatih anak sabar
    Pixabay

    1. Latihan Menunggu
    Ini hal kecil yang efeknya sangat positif. Biarkan anak kita belajar menunggu. Menunggu giliran, menunggu antrean, menunggu ditunaikannya janji, menunggu jadwal, dan lain-lain. Latihan seperti ini, akan melatih refleks  anak untuk melunakkan hal-hal yang mendesak dalam dirinya serta untuk melatih logika bersosial.

    2. Menuntaskan Pekerjaan
    Ini juga adalah hal yang tak boleh diremehkan. Biasakan anak kita melakukan sesuatu sampai selesai. Makan sampai habis, memasang puzzle sampai rapi, mandi sampai bersih, dan lain-lain. JIka mereka mengalami kesulitan, maka tugas kita adalah membantunya. Karena bukan tak mungkin, anak akan gelisah dan kesal saat mereka kesulitan mengerjakan sesuatu. Ini jangan dibiarkan.

    Dampingi dan ulurkan bantuan sehingga pekerjaannya tuntas. Dan jangan lupa, ketika kita meminta mereka melakukan sesuatu, takarlah bebannya dengan kemampuan mereka. Supaya apa? Supaya mereka wajar menghadapinya. Misalnya, memberikan sepiring nasi harus sesuai dengan takaran kebutuhan rasa lapar. Jika tidak, tentu akan sangat memberatkan dan tak bisa dipaksa. Anak sudah kenyang, tak mungkin dipaksa untuk menghabiskan makanan.

    3. Intruksi Terstruktur
    Hal ini butuh perhatian dan latihan khusus bagi kita sebagai orangtua. Kenapa? Karena seringkali kita lupa saat kita memberi tugas atau meminta bantuan pada anak-anak. Seringkali, 2 atau 3 bahkan 4 interuksi secara bersamaan mengalir dari mulut kita. Belum juga anak selesai menyimpan piring kotor, sudah disusul dengan interuksi membuang sampah. Disusul kemudian untuk mengambil handphone, dan sebagainya

    4. Latihan Berproses
    Mari hindarkan anak-anak kita dari kebiasaan serba instan. Biarkan mereka tumbuh dan berkembang sambil menikmati proses. Banyak hal bisa kita kondisikan seperti mengajaknya menabung untuk membeli atau untuk rencana tertentu. Mengajak mereka “cooking class” juga melatih mereka menyadari konsep.

    Konsep bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Termasuk ketika anak sudah memungkinkan mencuci piring bekas dirinya makan, maka lakukanlah. Pun ketika anak punya keinginan seperti ingin sepeda, ingin jam tangan baru, ingin sepatu roda, sekalipun kondisi finansial sangat memungkinkan, namun alangkah bijaknya ketika kita mengajaknya untuk berjuang terlebih dahulu. Ajak mereka mengumpulkan rupiah demi rupiah, meski pada akhirnya kita yang meng-cover biaya untuk membeli benda tersebut.

    Dari sekian tips tentang bagaimana agar anak kita terlatih untuk sabar, maka yang jangan dilupakan adalah bagaiamana kita mampu mengemas dan menyelamatkan profil kita sendiri. Kenapa? Karena hanya gara-gara kapasitas sabar kita sangat terbatas, maka kita gagal mengajarkan anak-anak kita tentang sabar. Hanya gara-gara kita tak mampu mengendalikan kesal, maka lagi-lagi anak yang terkorban dan memiliki konsep diri yang mengabur, dimana dirinya diharuskan untuk sabar, sementara ayah ibunya hampir tak bisa sabar. Oleh karenanya, yuk siapkan terlebih dahulu diri kitanya dengan berbagai upaya.

    Baca juga: WAHAI IBU BERSABARLAH

    Cara Melatih Diri untuk Menjadi Orangtua yang Sabar


    🌹 Satu 🌹
    Pastikan kebutuhan dasar terpenuhi (makan, minum, tidur, istirahat, hajat suami isteri, dan lain-lain).

    🌹 Dua 🌹
    Terbiasa menenangkan diri saat menghadapi masalah atau saat menghadapi hal-hal yang membuat kita kesal. Paling tidak, pandai mengatur nafas, pandai mengatur kata-kata, pandai beristighfar tentu saja.

    🌹 Tiga 🌹
    Latihan meluaskan persepsi. Untuk apa? Untuk melatih perasaan supaya kita tetap berpikir positif. Sehingga kita terjauh dari prasangka, terjauh dari sikap justifikasi, terjauh dari perasaan-perasaan buruk tentang orang lain.

    🌹 Empat 🌹
    Penuhi hak berhibur. Hidup itu banyak keharusan, banyak variable. Namun akan menjadi penat saat kita tak merasa bahagia.

    Baca juga: BELAJAR BAHAGIA DARI ANAK

    Oleh karenanya, setiap kita butuh hiburan. Sesederhana apapun bentuknya. Kita butuh itu. Dan ini sangat manusiawi. Sangat fitrah. Bahkan sekadar minun teh hangat sambil nonton televisi, lakukanlah jika hal demikian mampu mengurai beban.

    🌹 Lima 🌹
    Meng-Allah-lah untuk mengikis kebiasaan mengeluh. Kita punya Allah. Kita punya Al-Qur’an untuk kita memperkaya batin. Maka biarlah setiap dzikir dan amalan-amalan harian kita menjadi terapi batin. Biarlah rangkaian ibadah tersebut menjadi inputan berharga yang membuat aliran darah kita lebih kondusif. Jangan pernah pisahkan antara ibadah dengan ketenangan jiwa. Karena dalam kekhusyukan ibadah kita, dalam tukmaninahnya sholat kita, mengalirkan efek yang luar biasa.

    Yuk, bismillah. Meski tak mudah, namun Allah tentu akan hadiahkan ragam keberkahan atas ikhtiar-ikhtiar kita. Dan karena kita manusia maka

    “do the best dan give the best”.

    Lakukan yang terbaik. Berikan yang terbaik. InsyaAllah upaya kita tak kan ke mana. InsyaAllah anak kita akan sesuai harapan. Adapaun riak-riak ujian yang muncul, anggaplah itu ladang belajar. Bukan sebagai ketidakberhasilan kita dalam menghadapi buah hati.

    Terakhir, yuk berhenti berstament bahwa sabar itu ada batasnya. Yakinlah bahwa semua proses ujian itu akan terlampaui satu demi satu. Yuk berkaca pada teladan kita Rasulullah Saw. Bagaimana beliau diludahi oleh seorang perempuan tua saat beliau lewat ke depan rumahnya. Lalu di hari kemudian, Rasulullah ikhlash menjenguknya saat wanita tua itu dikabarkan sakit. Bila mengukur strata, sangat memungkinkan bagi Rasulullah membalas atau menghardik si wanita tua itu. Namun beliau tak lakukan itu.

    Demikian yang dapat saya bagikan pada edisi kali ini. Mohon maaf atas segala kekurangan. Semoga bermanfaat. _Allohu’alam bishshowab_.

    😘 *Salam Pengasuhan* 😘

    πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’ž

    MasyAllah ilmunya ya Ayah Bunda luar biasa sekali. Jadi, ingat ya Ayah Bunda sebelum kita mengajarkan sabar pada anak, kitanya pun jangan lupa untuk mendidik diri menjadi orangtua yang sabar pula *nunjuk ama diri sendiri. Nah, ternyata sudah selesai ya Ayah Bunda materi cara mengajarkan sabar ini pada anak. Kalau Ayah Bunda sendiri biasanya jadi kurang sabar ketika dalam keadaan apa? Kalau saya biasanya suka kurang sabar ketika dalam keadaan lelah dan lapar. Itu bawaannya ingin istigfar terus πŸ˜‚


    17 comments:

    1. Artikelnya menarik dan isnpirastif mbak, terima kasih sudah mau berbagi. PR besar memang mengajarkan anak untuk bersabar sementara kita sendiri juga dituntut untuk sabar menghadapi tingkah polah mereka

      ReplyDelete
    2. cocok nih buat anak saya yg sekarang manjanya meningkat,, ga boleh telat dihampiri,, nangis dluan

      ReplyDelete
    3. Artikelnya menarik dan isnpirastif izin share ya bund

      ReplyDelete
    4. MasyaAllah isi materinya luar biasa mba. Untuk sekarang saya melatih kesabaran menghadapi ponakan dulu wkwkw, semoga nanti kedepannya bisa menjadi orang tua yang penyabar :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. Aaaminnn untuk Mba yang suatu hari nanti jadi bunda juga 😘

        Delete
    5. artikel yang sangat bermanfaat Bun. bisa buatku belajar dan latihan kalau jadi Ibu nanti :)

      pas banget artikelnya di bulan puasa ini ya.
      biar orang tua bisa mengajarkan anak untuk sabar dalam berpuasa juga :)

      keep sharing ya Mbak Yen.

      ReplyDelete
    6. harus itu mbak bersabar dalam menghadapi anak, apalagi sedang mengajarkan kesabaran pada anak tersebut, tentu juga harus dengan sabar, Good share deh !!!

      ReplyDelete
    7. Parenting is Patient. Hihi. Betul, setinggi apapun ilmu parenting ttp ga bakal bs diaplikasikan dg benar kalau stok sabar menipis. Thanks tipsnya ya. :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Tau aja ikh Bun. Klo lgi kurang sabar itu teori parenting kita memudar secara perlahan ya hahha

        Delete
    8. ijin share ya bunda. saya cantumkan sumbernya kok. makasih bunda :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sama2 bunda. Dengan senang hati cantumkan sumbernya yaitu Miarti Yoga ya, bukan web saya. Trima ksh

        Delete
    9. Makasih bun tipsnya bermanfaat skali😍 saya belum pernah ninggalin anak lama, jadi belum bs praktek hehe...

      Mak Belalang

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya πŸ˜ƒ

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES