• Monday, September 9, 2019

    Mengapa Pernikahan itu Soal Komitmen Bukan Soal Kenyamanan?

    mengapa pernikahan itu soal komitmen bukan soal kenyamanan?
    Pixabay

         Kalian tahu mengapa pernikahan itu soal KOMITMEN bukan soal kenyamanan? Karena ketika kita menikah dan meletakkan kenyamanan di atas komitmen itu, maka betapa banyak orang lebih mudah bercerai ketika ia tak lagi merasakan kenyamanan pada pasangannya. Hingga kita lupa bahwa pernikahan tak selalu tentang kebahagiaan, tak selalu tentang tawa dan canda.

    Tapi ada kalanya kita diuji dengan pasangan kita, ada kalanya rumah kita diterjang badai dan adakalanya kita harus tersenyum penuh penguatan. Tapi bukankah pernikahan itu memang penuh suka duka. Lalu, jangan biarkan ketika kita menghadapi duka itu membuat kita langsung menyerah mundur dan lalu pergi. Mengapa? Karena pernikahan itu bukan soal kenyamanan tapi soal KOMITMEN dan JANJI padaNya

          Pernikahan itu berat dan akan semakin berat jika kita tidak membekali diri dengan banyak ilmu. Semakin berat jika kita tidak mau belajar bagaimana menjadi seseorang yang baik untuk pasangan kita dan anak-anak kita,  tapi terkadang juga pernikahan itu indah. Tapi tetap saja sesuatu yang indah dan hebat itu perlu ada usaha di dalamnya kan?

    Jadi, kalau kita melihat pernikahan seseorang begitu bahagia, pasti dibalik kebahagiaan mereka itu ada proses belajar yang dilakukan oleh kedua belah pihak. Nggak mungkin tiba-tiba pernikahan itu bahagia. Contohnya seperti orang sukses. Orang sukses itu nggak mungkin kan tiba-tiba sukses, pasti dibalik itu semua mereka pernah berkali-kali jatuh tapi mereka mau bangkit. Kita saja melihatnya langsung enak padahal di dalamnya ada nangis darahnya


    janji pernikahan
    Pixabay


          Begitu juga di dalam pernikahan. Ada orang yang diuji oleh pasangannya sendiri, ada orang yang diuji dengan keturunannya, ada orang yang diuji dengan mertua, ada yang diuji dengan perekonomian dan ada juga orang diuji karena tergoda oleh perempuan / laki-laki lain.

    Kalau kalian sedang diuji yang mana? Atau kalau seandainya disuruh milih, ingin diuji dengan apa? 😂. Apapun bentuk ujiannya sama nggak enaknya ya. Hiks. Tapi ya memang begitulah hidup penuh ujian. Tapi, dipikir-pikir kita memang harus bersyukur masih hidup. Masih punya kesempatan untuk memperbaiki diri. Coba kalau udah mati, astagfirulloh kehidupan setelah mati itu lebih berat dari ini.

    Ditanyakan semua hal yang sudah kita lakukan, dihisap semuanya dan kita nggak punya kesempatan lagi untuk memperbaiki diri. Iya kan? . Kecuali kalau kita percaya diri kalau kita ini orang shaleh dan yakin matinya langsung masuk syurga. Pengennya ya hiks.


    pernikahan itu soal komitmen
    Pixabay


          Kembali soal pernikahan ya. Pernikahan itu ibadah terlama kita dan sampai menggenapkan setengah agama. Saking luar biasanya ya pernikahan itu membuatku punya prinsip bahwa aku harus bahagia dengan pernikahanku. Kita nggak mau kan menua dan menghabiskan sisa hidup kita dengan ketidak bahagiaan. Begitu juga denganku.

    Bahkan seandainya kita diuji dengan pasangan kita sendiri dan harus hidup dengan orang yang tidak membuat kita bahagia, tetap saja kita harus milih kita harus bahagia. Bukan untuk pasangan kita tapi untuk anak dan diri kita sendiri. Karena terkadang jika kita meletakkan kebahagiaan kita selalu pada makhluk yang sifatnya sementara itu hanya membuat kita lelah karena berharap selain padaNya.

    Baca juga: REVIEW BUKU PARENTING "THE DANISH WAY OF PARENTING". TENTANG MENJADI ORANG TUA DAN ANAK YANG BAHAGIA

          Cieeeeee asyik banget ya kamu ngomongnya, Yen. Hahaha aku pun tertawa dengan tulisanku ini. Tapi memang sudah seharusnya begitu bukan? Tulisanku ini untuk menampar diriku sebenarnya. Ya paling tidak, kita harus ingat dengan pemahaman ini. Walau untuk prakteknya membuat kita tertatih-tatih kan.

    Hahhhhhhhhh ayo sama-sama kita tarik nafas. Pernikahanku allhamdulillah bahagia, walau bahagia bukan berarti tanpa ujian. Aku nggak tahu mending mana, diuji dari dalam atau diuji dari luar. Kalau menurut kalian mending mana? Hahaha 😂. Yah, paling aku pahami bagaimana kita bisa saling menguatkan dari dalam. Jadi, kalau dari dalamnya sudah kuat tidak akan mudah jatuh karena mendapatkan ujian yang datangnya dari luar

    Tetapi memang harus kuat karena ujian dari luar itu bisa jadi malah perlahan-lahan meregangkan hubungan yang terbentuk dari dalam dan akhirnya bisa membuat salah satunya kelelahan bahkan keduanya. Lalu, memutuskan pergi gara-gara serangan dari luar itu. Hmmm Naudzubillah ya. Yuk kita saling mendoakan ya

    "Ketika kita mendoakan kebaikan untuk orang lain maka malaikatpun mendoakan kebaikan pula untuk kita"


    Cara Jika Menghadapi Permasalahan Rumah Tangga


    cara menghadapi permasalahan rumah tangga
    Pixabay


    Tulisan ini lagi-lagi aku tulis untuk diriku sendiri.

    1. Semakin dekat dengan Allah

    Kalau kita nggak dekat dan nggak minta tolong pada Sang Maha Kuat, lalu kita mau minta tolong pada siapa lagi? Karena ketika kita berharap pada makhluk, kita pasti kecewa ketika makhluk itu meninggalkan kita. Sedangkan Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Yang ada kita kali yang sering meninggalkanNya huhuhu 😭


    2. Curhat pada ahlinya

    Jika rasanya beban itu terasa berat, jangan ragu untuk terbuka pada orang lain. Tapi tentu saja kita nggak bisa cerita pada sembarang orang. Karena bagaimanapun juga yang namanya masalah keluarga itu agak sensitif dan privacy ya.

    Jadi, kalau kita curhat ke orang yang salah, bisa jadi orang tersebut menyebarkan rahasia kita pada orang lain, memberikan saran yang tidak baik. Bukannya membuat rumah tangga kita semakin harmonis tapi bisa jadi berakhir dengan semakin runyam. Karena semakin membuat kita tidak memandang permasalahan dengan objektif.

    Jadi saran aku dan berdasarkan pengalaman aku, kalau kita mau curhat selain kepada Allah yaitu kepada ahlinya. Kenapa ke ahlinya? Karena seseorang yang ahli akan memberikan saran atau jalan keluarnya sesuai dengan keilmuannya.

          Nah, jika kita tidak memiliki atau bertemu dengan orang ahlinya, paling tidak kita bisa curhat pada orang yang selalu berpikir positif. Sekalipun seseorang yang berpikir positif ini tidak selalu bisa memberikan saran sesuai ilmu, tetapi paling tidak orang yang positif akan memberikan masukan yang positif juga pada orang lain.

    Seandainya tidak memberi saran, paling tidak dia bisa menjadi pendengar yang baik untuk kita dan kalau seseorang yang mendengarkan itu tidak ada, biasanya aku suka curhat di buku diari. Karena menulis itu salah satu sarana melepaskan beban dengan mengeluarkan semua emosi negatif di sana. Tapi aku saranin sebaiknya kita punya seseorang yang bisa kita percaya


    3. Bertemanlah dengan orang-orang yang positif

    pentingnya berteman dengan orang-orang positif
    Pixabay

    Berteman dengan orang-orang yang positif akan menularkan semangat, motivasi dan aura yang positif pula pada kita dan ini membuat kita jadi lebih menikmati hidup kita termasuk menguatkan kita di dalam pernikahan kita


    4. Mengingat kebaikan suami

    Ketika perasaan kita sudah tenang. Ingat-ingatlah kebaikan suami. Biasanya itu salah satu caraku jadi mudah memaafkan suami. Toh kebaikannya lebih banyak daripada mengecewakannya. Mengingat kebaikan suami salah satu caraku sekalipun ada rasa sedih atau marah padanya tetapi tetap di dalamnya selalu ada cinta. Makanya kalau kami sudah baikan, perasaan kami berdua semakin besar satu sama lainnya *eaaaaaa 😍. Jangan pada huekkkk ya 😂


    Tapi bagaimana kalau suaminya bukan suami yang baik dan lebih banyak mengecewakannya daripada kebaikannya?

    Ya sudah apa yang bisa kita lakukan jika bukan menerima keadaan dan berdamai dengan diri sendiri agar pernikahan tetap selamat. Ini ngomong gampang ya tapi untuk prakteknya membuat hati pasti terasa teriris-iris. Tapi tentu saja setiap orang punya keadaan pernikahan yang beda-beda. Ada yang terpaksa akhirnya terpisah ketika yang dilanggar pasangan adalah prinsip hidup dan lain-lain kita nggak boleh juga menghakimi orang lain apalagi sok tahu dengan kehidupan orang lain

    Hanya saja tentu kita harus berjuang mempertahankan pernikahan kita terlebih dahulu. Karena seperti yang disebutkan di atas pernikahan itu soal komitmen bukan soal kenyamanan. Sekalipun pasangan kita bukan pasangan yang baik dan bukan pula orang tua yang baik untuk anak-anak kita. Ya sudahlah, lepaskan rasa berharap itu padanya. Karena berharap pada makhluk itu melelahkan ya.

    Paling tidak kita berusaha dulu dan mendoakannya. Dia baik atau tidak, itu tanggung jawab dia ama Allah bukan urusan kita. Yang pentingnya kitanya yang mainkan peran kita dengan sebaik-baiknya. Bukan demi siapapun tapi karena menjadi seseorang yang baik apapun peran kita, itu adalah tanggung jawab diri kita padaNya


    5. Cari waktu yang pas untuk bicara

    waktu yang pas bicara dengan pasangan
    Pixabay

    Segala sesuatu itu kan perlu dibicarakan, perlu dikomunikasikan biar selesai dan biar nggak ada yang mengganjal. Jangan sampai menjadi bom waktu suatu hari nanti. Tapi tetap saja cara menyampaikannya harus baik. Tidak boleh untuk saling menyalahkan tetapi sama-sama cari jalan keluarnya.

    Jadi bukan mencari siapa yang salah dan siapa yang benar ya. Bahasanya juga dikemas dan hati-hati sekali bagaimana caranya agar apa yang kita sampaikan dapat ia terima tanpa harus menyinggung pasangan kita. Kalau caranya tidak baik dan menyinggung misalkan dengan marah-marah, bagaimana pesan kita itu bisa sampai padanya. Karena yang kita inginkan itu ia memahami kita kan. Berarti bicaranya dari hati ke hati dan dengarkan juga apa yang ia sampaikan agar kita juga memahami apa yang ia butuhkan

    Setelah caranya diperhatikan, perhatikan juga waktu yang baik tepat untuk menyampaikannya. Jangan bicara ketika suami dalam keadaan lelah atau banyak pikiran. Karena jika kita bicara saat itu juga, itu hanya akan menambah pertengkaran. Bener banget ya pernikahan itu adalah seni.


    6. Evaluasi diri

    Sebelum kita menyalahkan pasangan kita, kitanya harus evaluasi diri juga. Apakah itu hanya perasaan kita saja ataukah sesuatu itu emang salah.


    7. Bekali diri dengan bangak ilmu

    Perbanyak membuku tentang pernikahan, jangan ragu untuk ikuti seminar pernikahan dan sharing dengan mereka yang berpengalaman. Karena jika kita tidak membekali diri dengan ilmu, mau dengan apa kita menjalani dan membersamai pernikahan kita dengan indah? Karena sekali lagi sesuatu yang hebat itu tidak tercipta dengan sesuatu yang instan. Ada banyak proses belajar di balik tirainya

          Lengkapnya baca dua tulisanku yang ini ya 😊 (Cara Menjadi Pasangan yang Bahagia untuk Membesarkan Anak yang Bahagia dan Cara Menjadi Istri yang Baik untuk Suami atau sebaliknya ). Tulisan ini untuk mengingatkan diriku sendiri. Smga Allah menguatkan kita dan berpegangan tangan dengan pasangan kita untuk melawan masalah itu. Karena musuh kita sesungguhnya itu bukanlah pasangan kita tetapi masalah itu.  🙏. Karena pernikahan itu bukan soal kenyamanan tapi soal komitmen


    29 comments:

    1. Artikelnya kualitas banget, keren deh pokoknya

      ReplyDelete
    2. Kalau saya paling penting itu komunikasi sih, jadi apapun masalahnya yang mengganjal di hati lebih baik diomongin sama-sama daripada cuma menggerutu ga jelas 😅. Sama satu lagi, big no no no curhat ke lawan jenis saat ada masalah.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bun hubungan apapun letaknya ada di komunikasi apalagi hubungan pernikahan ya

        Delete
    3. Aku belum nikah sih, tapi gapapa kan baca ini ini hehe. Buat dijadikan pelajaran pas nikah nanti hehe

      ReplyDelete
      Replies
      1. Wah boleh banget mba Cantik. Malah harus belajar ilmunya dari sekarang biar nanti nggak gagap banget ketika dihadapi permasalah rumah tangga kelaknya 😊

        Delete
    4. Iya bunda, aku habis baca buku daaan menemukan secercah bahasa yang nancep buat pernikahan, gini : " true love never running smooth",,,waaah ku kira ini bener bingitz, ujian pasti ada, entah dari dalam atau luar kalau bunda Yeni bilang

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bun karena kita masih hidup ya. Tapi setelah mati itu malah kita kehilangan kesempatan u/ memperbaiki diri 🙈

        Delete
    5. betul, kadang kita suka mengagumi orang lain yang bahagia , itu tampaknya padahal untuk spt itu butuh usaha keras

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bun karena nggak ada sesuatu yang hebat tercipta dengan instan ya bgtu jg dg pernikahan yang bahagia

        Delete
    6. Halo, mba.. salam kenal. Saya baru nikah 2 tahun, masih adaptasi banget dan kadang suka sebeeel banget. Haha. Oya, setuju banget dengan memperbekali diri dengan ikut seminar, talkshow, dll. Malah saya mah pengen dateng ke psikolog pasangan karena pengen dapet ilmu juga. :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya mba. Harus terus belajar sampai sisa usia kita bersama pasangan kita

        Delete
    7. Suka banget bacanya, informatif sekali. Bekal untuk hari esok kalo udah punya suamii hehe

      ReplyDelete
    8. Setuju mba dengan cara menyampaikan yang baik, beda intonasi aja klo suami mau bilang apa bisa beda hasilnya 😆

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bener banget bun. Smua harus dikemas ya biar sama2 enak 😊

        Delete
    9. Menghadapi masalah apa pun, usahakan komunikasi yaaa Yeni, noted

      ReplyDelete
    10. kalo nyaman, kursi pijet pun nyaman ya bun :'D komitmen mudah diucapkan namun sulit dilakukan. tapi aku percaya kalo melakukan komitmen bersama dan berdua, pasti akan lebih mudah :)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener banget bun. Smga Allah menjadikan pernikahan kita pernikahan yg barokah sampai ke syurgaNya ya 🙏

        Delete
    11. Saya sangat setuju.
      Kalau kata guru, pernikahan adalah demi mencari ridho dan pahala dari sang ilahi.Ya kadang didalam rumah tangga diuji dengan berbagaimasalah, entah itu dari pasangan atau dari kekurang harta, anak, mertua dan sebagainya. Sesuai yang diuriakan diatas.
      Kita kan tidak tahu dari jalur mana masuk surga. Bisa jadi dari jalur sabar menghadapi pasangan.

      ReplyDelete
    12. Selama 10 tahun menikah, curhat sama Allah is the best bun, kalau lagi beneran sumpek, saya memilih menulis, menulis dan menulis.
      Pak suami bukan tipe orang yang mudah berkomunikasi, bahkan kalaupun bisa berkomunikasi, dia bukan orang yang tahan tekanan, saat ada tekanan, bubar jalan apa yang kita komunikasikan.

      Hiks sedih.

      Sabar dan curhat pada Allah yang bikin saya bisa bertahan demi anak-anak
      *curcooollll hahahahaha

      ReplyDelete
      Replies
      1. Yang terbaik untukmu Bun. Semoga Allah menguatkanmu 😘😘

        Delete
    13. Setuju banget Bun. Pernikahan itu tentang komitmen bukan tentang kenyamanan. Bukan hanya komitmen dengan pasangan, melainkan juga komitmen dengan Tuhan. Jadi teringat suatu quote yang pernah kubaca: "Yang mempererat hubungan suami-istri bukan cinta, melainkan agama". Semoga kita kita senantiasa semakin menjadi hamba yang taat dan semoga pasangan kita pun begitu, supaya tetap bisa memiliki hubungan pernikahan yang kokoh sampai akhir hayat.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener Bun, cinta itu kapan saja bisa hilang. Hanya Agamalah yang bisa mempersatukannya

        Delete
    14. umur 30 tahun masih takut untuk berkomitmen, salah ngga ya umur 30 belum meninkah?

      ReplyDelete
    15. Wah baca artikel mbak tentang pernikahan bikin saya berpikir dalam soal pernikahan. Sejauh ini sudah sering sih ikut seminar-seminar bertema pernikahan, sekalipun saya belum menikah. Dan dari seminar itu memang sering diomongin soal komitmen. Tapi enggak pernah terbayang gimana penerapan komitmen itu sampai mengkaitkannya dengan kenyamanan, plus Mbak ngasih contoh konkretnya.

      Thank you banget, ini jadi memperkaya saya. Semoga saya bisa siap mental saat menghadapinya kelak dalam pernikahan.

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃 dan komentar Ayah Bunda bisa muncul setelah lewat persetujuan saya dan saya mohon maaaf sekali, jika ada komen tak sempat terbalas oleh saya karena keterbatasan saya. Maaf. Terima kasih 🙏

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES