• Sunday, September 10, 2017

    Mengapa Pentingnya Mempersiapkan Anak Untuk Menjadi Seorang Suami dan Istri yang Baik Dikemudian Hari Perlu Dikenalkan Sedini Mungkin?


    Hari ini saya kembali tertegun dan menarik nafas panjang sekali. Rasanya saya lelah mendengarkan semua cerita-cerita yang membuat saya begitu miris belakangan ini. Tentang perselingkuhanlah, tentang poligami diam-diamlah, tentang suami yang melakukan KDRT lah, tentang perceraianlah. Hahhhh masih banyak cerita lain yang menyesakkan dada saya

          Dari sisi perempuan,  semua cerita itu menyadarkan saya bahwa betapa menjadi seorang perempuan itu harus kuat, harus tangguh. Nggak boleh lemah, nggak boleh cengeng. Karena hidup tak selalu seindah pelangi.

            Lalu mengapa semua cerita diatas bisa terjadi? Karena ternyata semua berawal dari pola asuh yang salah dan ada luka di masa lalu yang belum terselesaikan hingga terus terulang dalam setiap generasi. Jadilah itu seperti lingkaran setan yang tak pernah putus-putus.

            Banyak para suami yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya karena ia kurang mendapatkan bentuk teladan dan tanggung jawab itu dari sosok ayahnya. Banyak para suami yang inginnya dilayani saja oleh istrinya tanpa mau terjun membantu pekerjaan rumah tangga, itu semua terbentuk dari dibesarkannya anak laki-laki dengan cara memanjakannya dan mendoktrinnya bahwa tugas laki-laki hanya sekedar mencari nafkah di luar. Maka terlahirlah laki2 dewasa yang segala ingin dilayani


            Banyak pula orang tua yang mendidik anak-anaknya dengan kekerasan, baik itu kekerasan fisik maupun verbal. Itu semua terjadi dari terbentuknya orang tua dengan pola asuh yang keras dan luka batin karena kekerasan verbal atau fisik yang dilakukan orang tuanya padanya, sehingga ia tanpa sadar melakukan hal yang sama pada anaknya dan akan berlanjut begitu seterusnya dalam setiap keturunannya. Kecuali ada yang mau memutuskan lingkaran setan tersebut.

            Ada pula orang tua yang membesarkan anak dengan cara memanjakan anak-anaknya. Sehingga ketika menjadi seorang suami dan istri nantinya, ia begitu lemah, cengeng dan tidak tangguh dalam menjalankan perannya lalu terjadilah banyak perceraian dimana-mana.

            Banyak pula para perempuan yang begitu sibuk dengan kariernya di luar sana tetapi, melalaikan prioritas utamanya sebagai istri sekaligus ibu sebagai pendidik di rumah *maaf ini hanya untuk perempuan yang memprioritaskan kariernya dibandingkan keluarganya ya. Bukan menyamaratakan semua wanita karier begitu dan juga peran wanita sangat dibutuhkan di masyarakat

          Ada juga seorang suami yang suka melakukan kekerasan fisik pada istrinya. Itu semua karena bisa jadi ia dibesarkan dengan pukulan pula dan pelajaran pengendalian emosinya sewaktu kecil yang belum tuntas. Hingga, jadilah ia seorang suami yang suka main pukul dan berego tinggi.

            Bayak sekali sebenarnya kejadian-kejadian seperti itu di masyarakat kita yang semua itu bermula dari pola asuh yang salah. Menyadarkan saya bahwa PR kita sebagai orang tua dan bagian dari masyarakat itu begitu banyak.

            Mengapa itu semua bisa terjadi? Itu karena kebanyakan orang tua tidak pernah menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi seorang suami dan istri yang baik dikemudian hari. Hingga terlahirlah generasi-generasi dari keluarga yang broken home, generasi ingin dilayani,  negeri tanpa ayah, para perempuan yang mengatas namakan emansipasi perempuan tetapi melupakan kodratnya sebagai pendidik anak-anaknya di rumah dll.

            Kita begitu sibuk mendidik anak-anak kita hanya untuk menjadi seorang yang pintar secara akademik saja tetapi lupa mencerdaskan emosinya. Kita membesarkan anak perempuan dan menyekolahkan anak dengan niat agar anak memiliki karier yang bagus saja nantinya, tetapi lupa mendidiknya bagaimana menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik untuk anak-anaknya di rumah. Kita begitu takut anak kita tidak diterima di universitas terkenal tetapi, tidak takut anak kita tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah sebagai seorang perempuan.


            Kita sekolah SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah 4 tahun. Jika ditotalkan, kita menempuh pendidikan selama 16 tahun. Selama itu, kita cenderung di didik secara akademik dan menjadi orang sukses dalam dunia kerja. Kita tak pernah mendapatkan pendidikan dan sekolah khusus bagaimana menjadi seorang suami dan ayah yang baik untuk keluarga kita, begitu pun sebaliknya. Lalu lihatlah banyak para suami dan para istri tak mampu menjalani peran mereka dengan sebaik-baiknya dan berdampak pada semua keturunanannya.

            Bukankah kecerdasan emosi dan peran kita sebagai seorang suami istri itu lebih penting dalam kita menjalani universitas kehidupan ini dibandingkan hanya sekedar angka-angka? Lalu mengapa kita masih lupa untuk menyiapkan anak-anak kita menjadi seorang suami dan istri yang baik untuk keluarganya kelak? Berapa generasi lagi kah harus kita korbankan dari pola asuh kita yang salah selama ini? Masih kah kita memandang bahwa pendidikan akademik itu segalanya, hingga kita lupa mencerdaskan pula emosinya dan membuat anak-anak kita gagal dalam menjalani perannya yang sesungguhnya nantinya?

    Baca juga: Macam-Macam Pola Asuh

            Jangan, jangan diteruskan pola asuh yang salah itu. Ayo kita perbaiki dari sekarang, dimulai dari diri kita sendiri. Ayo kita belajar, ayo kita siapkan anak-anak kita dari sedini mungkin untuk peran besarnya nanti. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi! Jangan biarkan semakin banyak lagi terlahir para orang dewasa tetapi berjiwa kekanak-kanakkan dalam menjalani sebuah pernikahannya. Karena pernikahan itu bukan hanya tentang dua orang, saya dan kamu. Tetapi, tentang bagaimana membangun sebuah peradaban dari lahirnya generasi yang berkualitas
         

    33 comments:

    1. Kenyataannya orang tua sering lengah untuk mengajarkan skill sosial emosi, simpati dan empatinya ya bun..padahal waktu TK penilaian kan bukan cuma dari segi kognitif saja. Seiring berjalan waktu orang tua sering lengah dan mengutamakan kognitif saja sebagai bekal hidup. Sehingga lahir generasi yg sedemikian. Semoga kita dihindarkan dari pola asuh begitu ya bun..:)

      ReplyDelete
      Replies
      1. Aaminnn bunda. Padahal pendidikab utama itu tanggungjawabnya ada di orang tua

        Delete
    2. wah ada info menarik sekali untuk masa depan anak, makasih ya kak,..

      ReplyDelete
    3. Sayangnya masih banyak yang beranggapan kalau nilai pelajaran adalah tolok ukur utama keberhasilan anak ya mbak

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bener Bun, jadi banyak yang pintar secara akademik tpi tdak cerdas secara emosional

        Delete
    4. waahh, thank infonya .. jujur saya belum terpikir akan hal itu. memang saat ini masih berharap sebatas anak-anak bisa berprestasi, cerdas secara intelektual, emosional dan spritual. masih sebatas nanti anak-anak harus tangguuh dan lainnya.. thank sharingnya jadi membuka cakrawala berpikir kembali

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sama2 bunda, karena memang disarankan juga oleh ahli parenting yaitu Ibu Elly Risman bahwa mempersiapkan anak dengan perannya menjadi suami dan istri yang baik dikemudian hari, harus masuk k salah satu visi dan misi orang tua. Semangat kita bunda 😃

        Delete
    5. Bagi saya yang belum menukah, mendengar hal2 begini jadi takut mba..

      ReplyDelete
      Replies
      1. Nggak usah takut mba, minta saja yang terbaik padaNya.kalau nanti mba menemukan calon, coba lihat keluarganya juga. Krna pola asuh dari keluarga salah 1 yg membentuk karakter seseorang 😃

        Delete
    6. Betul mbak, banyak orang tua yang belum sadar bahwa bagaimana kehidupan anaknya kelak berawal dari pola asuhnya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bunda semoga kita bisa mendidik anak2 kita dengan pola asuh yang baik ya Bun

        Delete
    7. aaaah aku uda takut aja baca ini, anakku masih br setahun tp ngebayangin kl dia uda nikah aja berasa syedih hohoho... emak melow :( banyak PR nih dalam mengasuh anak brarti biar ga salah pola asuh...

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener banget. Banyak PR kita. Semangattt

        Delete
    8. Orangtua zaman dulu selalu beranggapan, anak yang sukses dan pintar dilihat dari angka-angka di sekolahnya. Padahal mendidik soft skll anak, enggak kalah pentingnya ya... mendidik moral anak harusnya lebih diperhatikan.

      ReplyDelete
    9. Terima kasih sudah diingatkan melalui ulasan ini, Mbak. Seringkali terlupa jika pendidikan karakter hendaknya ditanamkan sedini mungkin dan menjadi ilmu kehidupan yang wajib diberikan orang tua pada anak-anaknya. Semoga makin banyak orang tua yang ingat akan hal ini:)

      ReplyDelete
    10. Iih setuju banget mbak. Kecerdasan emosional itu memang lebih penting. Tidak perlu waktu lama untuk mengajarkan anak berhitung, berbeda dengan kejujuran, sportifitas, saling menghargai, dan semacamnya yang butuh pembiasaan dan waktu yg tidak sebentar.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya bun perlu dimulai dari anak usia dini ya. Kalau sudah besar sudah susah mendidiknya

        Delete
    11. makasih sdh diingatkan kembali. pertanggungjawaban sbg ortu di hadapan Allah sangat berat, harus sering diingatkan terus... ☺️

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya Bunda, kita saling mengingatkan ya 😃

        Delete
    12. Iya bun serem baca berita2 sekarang. Jadi mengambil kesimpulan, penting diberi afirmasi positif dari dini kayaknya Bun. Misalnya pas ayahnya/ibunya melakukan suatu hal positif sesuai peran, dijadikan contoh bagaimana seharusnya bila nanti ia menjadi ayah/ibu juga.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener banget bunda. Kita sebagai orang tua perlu memberi contoh pada anak kita, bagaimana memperlakukan pasangan dan keluarga kita.

        Delete
    13. Terima kasih infonya ... pelajaran banget

      ReplyDelete
    14. Anak belajar dari orangtua jika orangtua kasar maka kelak anak juga akan menjadi orangtua yang kasar juga meski mereka tak ingin begitu... Perlu upaya keras untuk mengubahnya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bunda. Luka batin karena trauma semasa kecil itu sulit mengubahnya tetapi bukan berarti tidak bisa. Tetapi perlu kemauan yang kuat dan rasa berdamai dengan diro sendiri

        Delete
      2. Bener bunda. Luka batin perlu kemauan yang kuat untuk mengubahnya dan berdamai dengan diri sendiri

        Delete
    15. wah dulu ak malah kebanyakan maen ketimbang dirumah ckckck :(

      ReplyDelete
      Replies
      1. Wah gapapa yang penting sekarang udah tau ilmunya ya 😃

        Delete
    16. Seringkali yang dikejar hanya prestasi akademik dan angka-angka, namun gagap ketika dihadapkan dengan keimanan, adab dan akhlak. Hiks. #selfreminder.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sama bun ini utk mengingatkan diri saya sndiri juga 😃

        Delete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES