• Monday, September 3, 2018

    3 Cerita Sederhana yang Menginspirasi



    Hai Ayah Bunda, saya sama seperti manusia-manusia yang lain. Saya sama seperti ibu yang lain, yang mudah stres dan merasa tidak bahagia. Namun, terkadang pada saat itu terjadi, saya kembali  merenung diri mengambil hikmah yang berserakan dalam cerita sehari-hari, cerita yang sederhana namun mampu menginspirasi diri saya sendiri atau terkadang hanya ingin berbagi ilmu

    Dan semoga lewat tulisan ini, mampu menginspirasi orang lain, menyemangati, saling menguatkan dan membuat diri kita sendiri bahagia. Karena lagi-lagi saya akan menuliskannya bahwa

    "Bahagia itu bukan soal rasa tetapi, bagaimana cara kita merasa"

    Jadi, kebahagian itu dikembalikan lagi pada diri kita sendiri. Bahwa, diri kita sendirilah yang bisa membuat kebahagian itu untuk diri kita. Tulisan ini tertulis di status facebook saya. Lalu, saya kumpulkan di sini, agar bisa bermanfaat pula untuk orang lain

    Cerita 1: Sudahkah Kita Meminta Izin Pada Anak Kita?



    Ayah Bunda, pernahkah kita bertanya pada anak kita atau meminta izin pada mereka, bolehkah kita mengambil foto atau gambar dirinya lalu mengunggahnya di media sosial kita? Jawabannya "TIDAK"

    Yup, kita lupa bertanya seperti itu pada mereka karena terkadang, banyak dari diri kita yang tanpa kita sadari suka memperlakukan anak semau kita dan melupakan haknya. Kita lupa bahwa setiap manusia memiliki hak akan dirinya sendiri

    Atau pernahkah kita bertanya pada mereka, bolehkah kita meminjam barang miliknya? Atau meminta izin terlebih dahulu pada mereka? Jawabannya lagi-lagi "Tidak". Yup, karena terkadang kita suka merasa mentang-mentang barang itu pemberian dari kita. Jadi kita suka seenaknya pada anak. Padahal kita lupa bahwa anak memiliki hak dan keinginannya sendiri.

    Kita selalu menganggap itu hal kecil dan tampak sepele. Tetapi, kita lupa bagaimana kita akan mengajarkan anak akan haknya dan hak orang lain, jika diri kita sendiri pun suka luput menghargai hak anak kita sendiri.

    Jika kita senantiasa menghargai hak anak kita, maka kelak ia akan tumbuh menjadi pribady yang tahu bagaimana menghargai hak orang lain seperti hak pada pasangannya, hak pada keturunannya, hak pada bawahannya dan hak-hak yang lainnya.

    Dan jika kita sendiri sebagai orangtua suka mengabaikan hak anak kita, maka jangan salahkan jika ia tumbuh menjadi manusia yang suka mengabaikan hak-hak orang lain. Karena ia tidak tahu mana yang benar-benar haknya mana yang bukan. Mana yang benar-benar miliknya mana yang bukan.

    So, jangan lupa kita menghargai hak-hak anak kita, dimulai dari sesuatu yang tampak kecil


    Cerita 2: Berhenti Sejenak untuk Mencari Makna



    Tahukah kita Bunda, di balik kerempongan kita sebagai ibu dari shubuh, memasak, mencuci piring, menyiapkan bekal suami dan anak-anak, menyiapkan sarapan dll hingga malam hari. Memang tidak bisa kita pungkiri, betapa lelahnya diri kita. Tetapi, ketika lelah itu menyergap kita, sepertinya kita harus berhenti sejenak dan kembali mencari makna. Makna agar cinta kembali hadir di hati kita dari rasa syukur.

    Yup, rasa syukur. Rasa syukur ketika membuka mata ini kita masih bisa melihat mereka, suami dan anak-anak kita. Rasa syukur karena kita masih memiliki waktu dan kesempatan dalam membersamai mereka hingga hari ini dan detik ini.

    Rasa syukur karena mereka masih bebas bergerak ke sana kemari dalam tubuh yang sehat. Rasa syukur ketika pagi hari,  kita masih bisa menikmati momen-momen berharga dalam hidup kita. Momen ketika mereka masih memanggil kita dengan sebutan "Bunda" dengan senyum manis mereka.

    Momen ketika kita masih melihat lelaki kita memeluk anak-anaknya dengan hangat di pagi hari, bercerita dan tertawa bersama. Rasa syukur ketika kita masih bisa menciup tangan lelakinya kita, ketika hendak pergi bekerja demi kita dan anak-anak. Momen ketika ia mencium lembut kening kita dan anak-anak. Dan kita masih memiliki kesempatan untuk mengantarkannya ke depan pintu, lalu melihatnya pergi hingga punggungnya menghilang dengan perlahan.

    Rasa syukur ketika anak-anak berlari untuk memeluk kita. Rasa syukur ketika kita masih ada untuk mengucapkan, ohh betapa kita mencintai mereka. Dan momen-momen lain yang sesungguhnya betapa itu begitu amat berharga.

    Percayalah Bunda, suatu hari nanti ketika anak-anak itu pergi, kitalah yang akan selalu merindukan momen-momen kecil seperti ini. Dan percayalah lagi Bunda, momen-momen seperti itu pasti sangat berharga ketika kematian datang merenggut semuanya dengan tiba-tiba dari kita.

    Untuk itu, jangan biarkan semua momen tersebut terlihat menjadi biasa dan hanya sebuah rutinitas yang berlalu begitu saja tanpa makna. Dan jangan biarkan pula, rasa lelah itu merenggut momen berharga kita dan rasa syukur kita yang membuat kita lupa untuk merasa bahagia.
    Jangan lupa bahagia kita, Bundaa

    Tangerang Selatan, 27 Juli 2018


    Cerita 3: Inner Child yang Bermasalah



    Ibu-ibu, pernah nggak sih ngerasain dan nanya ama diri sendiri "Aku tuh knapa, sih?" Atau pernah nggak sih ngerasa aneh ama diri kita sendiri "Aku tuh suka ngikutin seminar dan baca-baca buku parenting ini itu, tapi kok aku masih kurang sabar dan masih suka bentak-bentak dan bahkan mukul anak, ya? Kok ilmu parentingnya nggak mempan sih ke aku?" Pernah nggak nanya gitu ke diri sendiri?

    Coba kita tengok ke dalam diri kita. Jangan-jangan ada luka lama (inner child) yang belum tersembuhkan oleh kita akibat pengasuhan di jaman waktu kita kecil dahulu. Jangan-jangan kita suka bentak-bentak anak dan mukul anak, karena dulu sewaktu kecil kita diperlakukan seperti itu dan kita besar dengan cara begitu, sampai tanpa kita sadari itu menjadi luka di masa lalu kita, dan melakukan hal yang sama pula pada anak-anak kita. Karena itu terjadi di bawah alam sadar kita

    Hampir kebanyakan orang memiliki inner child yang bermasalah dalam hidupnya. Namun, ada yang menyadarinya ada yang tidak. Sehinga luka yang tidak tersadari ini terus berulang dan terjadi di setiap keturunan. Dan jadilah itu semua menjadi lingkaran setan yang tak selesai-selesai.

    Jadi, Bu ibu kalau kita ngerasa ada yang salah dengan diri kita karena inner child ini dan kita belum mampu memaafkan, belum mampu berdamai dengan diri sendiri sehingga mengganggu pola asuh kita pada anak dan pada pasangan. Sebaiknya segera minta pertolongan pada ahlinya untuk membantu menyembuhkan luka atau inner child ini.

    Jangan merasa kita baik-baik saja tetapi sebenarnya tidak. Sebelum semuanya terlambat dan akan berulang pada keturunan kita selanjutnya.

    ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️

    Bagaimana Ayah Bunda, ceritanya? Cerita yang sederhana bukan? Namun terkadang suka luput dari pandangan kita, dari perhatian kita. Padahal sesungguhnya pesannya begitu dekat dengan kita




    36 comments:

    1. Dalem banget buuunn :D

      Btw anak saya yang sulung 7 tahun, sudah cerewet banget.
      Mau posting foto, harus acc dulu ke dia, kalau menurutnya jelek ga boleh diposting hahaha.

      Kalau saya ambil snacknya tanpa izin dia negur, "mi, izin dulu pliiissss" hahaha

      Demikian juga kalau saya abis marah-marah, dia cepet-cepet datang minta maaf, abis itu nagih maaf juga ke saya :D

      Dan btw juga, thats right!
      Kita gak akan pernah merasakan kehilangan, sampai kita mengalaminya :)

      ReplyDelete
    2. cerita yang menginspirasi. Kadang kita harus berhenti sejenak untuk semua kerempongan ala emak-emak demi "memanjakan" diri sendiri.

      ReplyDelete
    3. Nikmati momen bersama anak karena suatu saat mereka pergi tuk mengarungi hidup baru bersama pasangannya.kita akan merindukan momen-momen indah bersamanya.

      ReplyDelete
    4. ANakku sejak aku ngeblog malah minta difoto melulu Bun..kwkwkw. Nawarin dia motoin atau minta difoto. Ya, tapi karena mereka sudah besar ya, tapi tetap saya ngasih tahu sebelumnya..
      Terima kasih sudah diingatkan
      Untuk inner child, bener banget ini...banyak orang terdekat, karena masa kecilnya bermasalah, akhirnya parenting style nya pun jadi sama...

      ReplyDelete
    5. Alhamdulillah, untungnya anakku suka dipot, dan emang akunya yang salah, karena gak pernah minta izin dl, wkwkwkw. Tapi ya syukur deh gayung bersambut. Untuk parenting style, saya akui saya sering bentrok sama suami, karena saya dibesarkan dlm keluarga yang dominan perempuan (papa meninggal sejak sy suami 6 tahun), sedangkan suami berasal dr keluarga apa kata bapak.

      ReplyDelete
    6. Setuju banget mba, karena anak pun harus dihargai. Saya kalo lagi sama ponakan juga gitu hehe. Nanya dulu karena takutnya dia enggak suka.

      ReplyDelete
    7. Tulisannya dalem banget bun. Termasuk ttg inner child. Terimakasih atas sharingnya

      ReplyDelete
    8. Hmm.. ini inspiratif sekali. InsyaAllah akan diterapkan kalo nanti saya punya anak. :)

      ReplyDelete
    9. Alhamdulilah, aku selalu minta izin dengan anak-anak. Baik untuk majang foto mereka atau minjam uang tabungan mereka hihi..Kan, dibalikinnya dobel, Mak

      ReplyDelete
    10. Nice share. Semuanya memang bermula dari diri kita sendiri ya mba, bahkan hal yang keliatannya sepele, kayak minta izin kepada anak. Good job...

      ReplyDelete
    11. Keren, Teh. Memang menginspirasi, dibaca sebelum maghrib, sekalian nunggu adzan..he
      Betul sih, Teh. Terkadang dari yang sederhana kita suka mengabaikan gitu.
      Termakasih sharingnya, Teh..

      ReplyDelete
    12. Wah ... Ini nonjok saya banget. Sering pesan anak-anak untuk nggak menyentuh barang-barang yang bukan milik mereka, tapi mengunggah foto-foto mereka ke medsos.

      ReplyDelete
    13. Terima kasih diingatkan mbak. Alhamdulillah untuk poin satu saya selalu ingat untuk ijin terlebih dahulu karena memberikan teladan juga.

      ReplyDelete
    14. Setuju..kita nikmati saja tumbuh kembang anak-anak. Karena mereka akan cepat besar dan kita pun merindukan masa kecil mereka.

      ReplyDelete
    15. Mengasuh anak itu ibarat kita sekolah tanpa henti. Belajar dan evaluasi diri terus. Semangat, Bunda!

      ReplyDelete
    16. Memang perlu diskusikan terlebih dahulu dengan keluarga, apapun itu...

      ReplyDelete
    17. Bahagia bukan soal rasa tp bagaimana kita merasakan...wewww dalam ya maknanya. Thanks sharingnya yang mantap...

      ReplyDelete
    18. Upz ... saya mah suka main comot aja ambil gambar atau rekaman video anak-anak.

      ReplyDelete
    19. Karena cinta itu butuh pengorbanan dan kesabaran. Sangat menginspirasi teh 3 cerita itu. Aku merasakan semua. Mungkin juga semua bunda ya

      ReplyDelete
    20. kayakanya para orang tua gk pernah izin memotret anaknya..kayak bebas2 aja :)

      ReplyDelete
    21. anak saya malah hobi difoto
      tapi saya melindungi identitas anak dengan tidak menyebutkan tempat sekolah
      tidak pernah check in di sekolah
      tidak menyebutkan alamat rumah
      jika sedang berada di suatu tempat biasanya saya memposting foto setelah sampe di rumah

      ReplyDelete
    22. Iya, Mbak. Cerita yang sederhana, tetapi dalam. Harusnya banyak merenung juga, ya. Untuk introspeksi diri :)

      ReplyDelete
    23. Noted, terima kasih bunda sharingnya. Saya mrmang tidak pernah menanyakan ke anak klo masukin foto mereka ke sosmed,tapi biasanya saya tunjukan ke anak2 foto dan video mereka setalah diupload dan mereka senyum2 :D

      ReplyDelete
    24. Mbak ceritanya dalem banget, hal-hal yang tanpa terasa sering dilakuin dengan sengaja. Makasih tulisannya mbak, walaupun saya belum punya anak tapi jadi pengingat juga untuk saya agar memperbaiki diri lagi.

      ReplyDelete
    25. Setiap BW kesini daku tambah wawasan tentang cara mendidik anak, ini jadi bekalku nanti di masa depan setelah berumah tangga

      ReplyDelete
    26. Wahh, untung aku jarang sembarangan mengunggah poto anak hehehe sebab si bocah memang ogah narsis di akun emaknya. Tengkiyu mbaaak atas sharing nyaw... Salam kenal dari Jogja

      ReplyDelete
    27. Poin nomor 3 nih Bun yang masih aku rasakan. Kadang kalau melihat anak-anak tertidur pulas rasa bersalah itu ada. Anak itu pemaaf banget, dia bisa kembali mendekap dan mencium ibunya padahal habis dimarahin atau dibentak. Memang benar, hati anak-anak itu suci dan bersih.

      ReplyDelete
    28. Berhenti sejenak untuk mencari makna, itu yang jarang aku lakukan mba. Terima kasih ya mba untuk mengingatkan:)

      ReplyDelete
    29. Biasanya kalau mengunggah foto anak aku bilang ke dia dulu :D
      Kyk kemarin bikin video kubilang mau ditaruh video. Nah kebetulan anaknya jg banci tampil. Meski demikian kubatasin banget mengunggah foto anak atau memperkenalkan nama aslinya :D

      TFS

      ReplyDelete
    30. Terima kasih bunda sharingnyaaa.. menginspirasi

      ReplyDelete
    31. renungan yg sangat bermanfaat Mbak.. semua poin dari artikel ini akan aku jadikan catatan sebagai bekal menjadi orang tua yg baik untuk anak.. Aamiin..

      ReplyDelete
    32. Inner child ini yang agak susah ya mba karena kita ga punya power untuk mengubah masa lalu. Syukurnya kita sekarang ada di era digital dan kemudahan untuk mengakses informasi. So kita bisa belajar banyak hal dan melakukan pencegahsn agar anak kita tidak merasakan luka lama seperti yg pernah kita rasakan

      ReplyDelete
    33. Terima kasih ceritanya mbak..terkadang poin no 1 meminta ijin ke anak itu suka lupa dilakukan..

      ReplyDelete
    34. Cerita mbak Yeni selalu menginspirasi, cocok buat bacaan ibu2 muda maupun yg pengen belajar tentang parenting. Poin 1 kadang kita abai karena merasa orangtua ya

      ReplyDelete
    35. Thanks for sharing mba Yen.. Sangat menginspirasi.. seperti sbg ibu kita harus banyak2 mengobservasi setiap moment ya mba.. selalu merasa bersalah.. hiks

      ReplyDelete
    36. Inner child ini yang biasanya ga disadari kalau aku sudah sadar namun susah buat sabar hahhaa..

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES