Sudahkah Ayah Bunda Mengajarkan Konsep Maaf Memaafkan Pada Anak? Begini Caranya!

sudahkah ayah bunda mengajarkan konsep maaf memaafkan pada anak? begini caranya!

Hai..hai Ayah Bunda! Hari ini saya kembali menulis isi materi seminar parenting yang saya ikuti seminggu yang lalu. Dimana, seminar ini diadakan oleh Sygma Daya Insani, pelopor buku edukasi dan berkualitas untuk anak-anak.

Seminar kali ini bertema tentang "Cara Mengajarkan Anak Konsep Maaf Memaafkan Seperti Rasulullah". Ayah Bunda, sebagai orang tua tentu kita ingin kan, ya, punya anak yang berani mengakui kesalahannya, berani untuk meminta maaf dan mau pula untuk memaafkan orang lain yang telah menyakitinya.

Namun, untuk membentuk pribadi dan membangun karakter anak yang seperti itu, tentu tidak instan, ya, Ayah Bunda. Ada beberapa cara yang perlu kita pelajari dan kuasai agar anak paham apa itu konsep maaf memaafkan. Untuk itu, kita simak langsung aja, ya, Ayah Bunda caranya dari narasumber kita ini.

Berikut profil narasumber kita


Nama : Miarti Yoga
Tempat tanggal lahir : Ciamis, 22 Maret 1981
Status : Menikah dengan Yoga Suhara, ST
Anak : Khairy Aqila Shidqi dan Fariza Tresna Hazimah
Alamat :
Telepon :
FB/Instagram/Twitter/Line : Miarti Yoga

Aktivitas:
✅ Direktur Sekolah Ramah Anak Zaidan Educare
✅ Penulis lepas di berbagai media cetak nasional
✅ Penulis buku-buku parenting (Unbreakable Woman, Best Father Ever, Adversity Quotient)
✅ Relawan Literasi Jawa Barat
✅ Kontributor Ahli rubrik parenting di Majalah Intima'
✅ Nara sumber seminar parenting di berbagai lembaga
✅ Nara sumber workshop dan pelatihan pendidikan guru TK/PAUD
✅ Pengasuh Bincang Pengasuhan Online di komunitas Keluarga Ramah Anak
✅ Manager Seba Music Entertainment

Motto : *Semangat, Berkarya, Bermanfaat*

Saya benar-benar bersyukur dapat ilmu langsung dari ahlinya dan orang hebat seperti Ibu Miarti Yoga ini. Pasti, para Ayah Bunda juga setuju kan, ya, dengan saya. Nah kalau begitu, yuk kita simak penjelasan dari beliau, ya.

STOK ENERGI MEMAAFKAN


By : Miarti Yoga
(Early Chilhood Consultant)

Mengapa Konsep Maaf Memaafkan Itu Penting?


cara meminta maaf

Ayah Bunda yang dirahmati Allah. Tak sedikit kasus terkait kepribadian seseorang, dimana dirinya tak mampu menerima kenyataan, tak mampu melupakan kesakithatian, dan tak mampu berdamai dengan hari ini. Dari sekian konteks yang ada, jika kita ambil pangkal persoalannya, semua itu bersumber dari ketaktersediaan energi memaafkan. Adapun beberapa contohnya;

1. Seorang ibu memilih mengurung diri di rumah, menjauhkan diri dari keramaian, enggan berkumpul, enggan patut diri. Adapun alasannya adalah karena beliau belum bisa memaafkan kepergian sang putra yang wafat beberapa tahun berjalan. Wajahnya pun berubah kusut dan sulit sekali untuk bisa tersenyum.

2. Seorang perempuan membiarkan dirinya tetap melajang hingga usianya hampir memasuki angka 40. Apa sebab? Karena baginya, profil laki-laki itu menyebalkan. Ini merupakan sebuah vonis atas kebencian kepada ayahnya sendiri yang kemudian digeneralisir terhadap setiap laki-laki yang ada di sekitarnya. Sehingga ketiadaan energi memaafkan terhadap sang ayah, membuat dirinya tak mampu memaafkan terhadap semua laki-laki. Maka melajang dalam usia yang hampir menua pun tak jadi soal. Yang penting dirinya bisa memenuhi ego diri dan mampu berlepas dari kebencian.

3. Seorang anak tiba-tiba menolak untuk didekati dan digendong ibunya sendiri. Apa pasal? Saat pagi sebelum sang ibu berangkat, tak seperti biasanya dirinya dititipkan kepada salah satu sanak saudara yang tanpa sengaja tengah berkunjung barang beberapa hari. Karena merasa kaget, tak biasa, dan merasa dibuang begitu saja, sang anak yang masih berusia 20 bulan itu mendadak luar biasa. Meski dalam usia yang relatif masih dini, namun kesakithatian dan rasa tak berkenan, terekspresikan seketika. Hanya mungkin, khusus untuk konteks ini, tidak mewakili bentuk ketidakmampuan memaafkan. Karena berlangsung spontan dan tak berkepanjangan. Contoh ini semata-mata menegaskan bahwa seorang anak kecil pun akan merasakan sebuah kondisi dimana dirinya merasa sakit hati yang dalam.

Ayah Bunda yang dirahmati Allah. Satu hal yang perlu kita ingat, bersama terkait sulitnya memaafkan adalah bahwa kita butuh belajar mengolah rasa. Atau, mengolah emosi. Dan satu hal utuh yang tak bisa kita pisahkan adalah dua frasa berikut.
1. Motion create emotion
2. Emotion create motion

Kedua frasa tersebut saling bertaut dan tak bisa dipisahkan. Artinya, kita perlu mengolah bahasa tubuh untuk menginstal kondisi emosi kita agar berada pada gelombang terbaik. Sebaliknya, perasaan-perasaan yang dibuat damai, perasaan yang diciptakan menyenangkan, dan perasaan-perasaan positif lainya, secara tidak langsung membangkitkan atau akan membentuk ragam bahasa tubuh yang positif, yang “trustwothed” (dapat dipercaya), dan tetu saja enak dipandang serta menggairahkan.

Manfaat Jika Kita Mampu Maaf Memaafkan 


cara mengajarkan tentang memaafkan pada anak

Lalu apa hubungan antara pengolahan rasa serta pengolahan bahasa tubuh terhadap terbangunnya energi memaafkan. Hubungannya adalah bahwa upaya pengolahan rasa dan pengolahan bahasa tubuh akan terhimpun menjadi stok energi memaafkan. Lalu apakah bentuk konkretnya? Berikut kita perhatikan satu per satu.

1. Kebiasaan tersenyum
2. Kebiasaan memenangkan diri dengan menarik nafas manakala menghadapi persoalan
3. Kebiasaan menahan marah
4. Kebiasaan berterimakasih kepada sesama manusia
5. Kebiasaan bersyukur dengan segala kondisi
6. Kebiasaan sholat dan dzikir bagi muslim
7. Kebiasaan berbaik sangka dan pantang men-judge orang-orang sekitar
8. Kebiasaan menakar ucapan yang hendak diucapkan
9. Kebiasaan berempati atau merasakan apa yang tengah dirasakan/dialami oleh orang lain
10. Kebiasaan meluaskan persespsi alias meluaskan berbagai kemungkinan

Nah, dengan demikian bisa kita tarik satu simpulan bahwa memproses generasi untuk menjadi jiwa yang pemaaf atau untuk menjadi pribadi yang lebar hati, lagi-lagi tak bisa instan. Butuh upaya panjang.

Pentingnya Mengajarkan Konsep Maaf Memaafkan Pada Anak

konsep maaf memaafkan

Ayah Bunda yang dirahmati Allah. Satu hal negatif yang cukup mengkarakter pada diri manusia adalah beratnya meminta maaf dan sulitnya memaafkan. Dan tidak jarang prosesi bermaaf-maafan yang dilakukan hanya sebatas ekspresi, tanpa disertai keikhlasan hati. Bahkan walau dalam suasana lebaran sekalipun dimana orang-orang saling berjabat tangan dan saling meleburkan kekhilafan.

Sebagai orangtua bijak, tentu kita tidak ingin bila perilaku tidak baik seperti itu melekat kuat pada diri anak kita. Alasannya, bila sejak kecil anak kita sudah sering menunjukkan keengganannya untuk meminta maaf, maka hal itu bisa menjadi benih-benih arogansi dan superioritas yang akan tumbuh hingga ia dewasa. Begitu pula dengan keengganannya untuk memaafkan. Bila kita biarkan dan tidak diingatkan sama sekali, maka bukan tidak mungkin jika di kemudian hari buah hati kita tumbuh menjadi pribadi yang pendendam dan senang mengungkit-ungkit masa lalu.

Ayah Bunda yang dirahmati Allah. Usia dini adalah masa pembentukan, dimana ia mencerna lingkungan dan sekitarnya, mengadaptasi berbagai contoh perilaku, belajar dari berbagai pembiasaan, menyimak berbagai fenomena serta belajar memaknai berbagai hal yang salah dan yang benar dari berbagai konteks. Dan secara bertahap, mereka memiliki preferensi sosial (social preference) seperti kecenderungan memilih teman.

Selain memiliki preferensi sosial, mereka juga mulai mengembangkan  kompetensi sosial (social competence) dengan cara turut serta dalam kelompok sosial. Dan untuk memasuki kehidupan bersosial, setiap anak  harus memiliki bekal tentang bagaimana caranya bersosial yang baik. Salah satu upayanya adalah dengan memiliki kesadaran untuk saling memaafkan.


Terkait pentingnya memahamkan buah hati tentang konsep maaf memaafkan, Rasulullah Saw mengingatkan kita dalam salah satu sabdanya.
 “Orang yang pernah menzhalimi saudaranya dalam hal apapun, maka hari ini ia wajib meminta perbuatannya tersebut dihalalkan oleh saudaranya, sebelum datang hari dimana tidak ada ada dinar dan dirham. Karena jika orang tersebut memiliki amal shalih, amalnya tersebut akan dikurangi untuk melunasi kezhalimannya. Namun jika ia tidak memiliki amal shalih, maka ditambahkan kepadanya dosa-dosa dari orang yang ia zhalimi” (HR. Bukhari no.2449)

Hadits tersebut mengingatkan kita, untuk senantiasa berhati-hati dalam berinteraksi dengan orang lain serta menyegerakan diri untuk meminta maaf. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk berhenti mengajarkan maaf memafkan pada anak-anak. Karena bisa jadi, pembiasaan meminta maaf dan memaafkan merupakan jembatan menuju kesholehan pribadi maupun sosial.

Cara Mengajarkan Anak Untuk Meminta Maaf


cara mengajarkan anak tentang memaafkan 1

Berikut beberapa cara sederhana agar anak kita terbiasa meminta maaf.

Sampaikan dengan jelas (tanpa menekan dan menyakiti) pada mereka bahwa apa yang diperbuatnya itu tidak benar. Contoh: memukul atau mengganggu adik bayinya yang sedang tidur, merebut mainan dari tagan orang lain, mengejek, marah, dan lain-lain.
Mintai tanggungjawabnya untuk bersegera meminta maaf secara verbal
Berikan reward yang membangun ketika ia mau meminta maaf.
Bentuk reward yang diberikan bisa dalam bentuk apa saja, walau sesederhana apapun. Contoh; mengacungkan jempol, menjabat tangannya, mengucapkan selamat, meraih dan memeluk tubuhnya, dan lain-lain.

Cara Mengajarkan Anak Untuk Memaafkan Orang Lain

mengajarkan anak untuk meminta maaf

Selanjutnya, ketika anak kita merasa terzhalimi, maka kita tidak bisa membiarkan dia berlarut-larut dalam sudut pandang yang negatif tentang orang yang menzhaliminya.

Jelaskan dengan bijak dan dengan bahasa yang bisa dimengerti anak bahwa kesalahan yang dilakukan orang lain kepadanya bisa jadi karena unsur ketidaksengajaan.
Sampaikan bahwa kita perlu menghargai orang yang telah berusaha meminta maaf, sehingga anak kita sampai pada tahap “iba” terhadap orang yang meminta maaf kepadanya.
Sampaikan pula bahwa Allah dan Rasul juga sangat pemaaf.
Lebih jauh lagi, bila kita ingin terhindar dari kesan menghakimi, kita bisa membujuk anak kita dengan kisah-kisah hikmah yang ringan dan bermakna.

Selain meminta anak untuk bersedia meminta maaf dan memaafkan, sebagai orangtua, kita juga jangan merasa sungkan untuk terbiasa meminta maaf kepada anak. Sampaikan dan ekspresikan bahwa kita sudah melakukan kesalahan. Contoh; “Maaf ya sayang, Mama lupa membelikan mainan yang sudah Mama janjikan”. Contoh lain misalnya; “Maaf ya, Nak. Harusnya, tadi Mama pamit dulu.” Hal ini insyaAllah akan semakin membantu anak kita untuk memahami pentingnya maaf memaafkan.

Memang tidak mudah mengajarkan anak hingga ia sadar bahwa meminta maaf itu harus disegerakan dan memaafkan itu termasuk kewajiban. Namun, satu hal yang perlu jadi catatan bagi kita semua adalah bahwa, mengajarkan buah hati terkait maaf memaafkan, sedapat mungkin harus sampai pada tahap moralitas pasca konvensional –sebuah teori perkembangan moral yang dikembangkan oleh Kohlberg-, dimana dengan sendirinya anak akan menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya dan bertanggungjawab untuk meminta maaf tanpa harus diminta atau diarahkan. Allohu ‘alam bish showaab.

😍Salam Pengasuhan😍

Subhanallah, ya Bunda. Ibu Miarti ini sangat jelas sekali memberikan ilmunya pada kita. Dari penjelasan beliau, menyadarkan kita bahwa betapa pentingnya mengajarkan konsep maaf memaafkan sedini mungkin pada anak kita. Seperti yang beliau sampaikan bahwa dalam menanamkan konsep maaf memaafkan pada anak, selain dari beberapa cara di atas bisa juga dengan cara mendongeng, lho, Ayah Bunda. Tentunya, lebih menyenangkan bagi anak untuk menangkap pesan moral yang ingin kita sampaikan.

Allhamdulillah,  Sygma Daya Insani ini memiliki paket buku "Balita Berakhlak mulia" seperti Rasulullah. Cocok untuk kebutuhan kita sebagai orangtua dalam mendongeng dan bercerita pada anak dengan tidak melupakan nilai-nilai islami di dalamnya.

Apa sih Istimewa buku *Balita Berakhlak Mulia* ini ?

balita berakhlak mulia

katalog harga buku sygma daya insani

Di dalam paket ini, ada 17 buku boardbook
yang isinya mengenalkan adab kepada anak anak
Para ulama mengatakan, belajar adab sebelum ilmu
Kita kenali dulu akhlak Rasulullah SAW di 7 tahun pertama
sebelum mengenalkan pembebanan (taklif) mulai tujuh tahun kedua

Naskahnya,  disusun berima,
sehingga anak-anak kita
terbiasa dengan gaya bahasa  indah dan halus..
bukankah Rasulullah tercinta
bahasanya selalu santun dan indah ?

Agar anak tertarik membaca
buku ini didesain secara elok
dengan ilustrasi kaya warna
Yang membuat anak-anak suka

Selain itu, untuk optimalisasi pemanfaatan, masih ada kelengkapan tambahan berupa
✅ 1 buku Parent guide dan Mutiara kisah
✅ kartu akhlak
✅ poster akhlak
✅ boneka Ayu dan Gagah

Baca Juga: Ayah Bunda Ingin Menyampaikan Pesan Moral dengan Cara yang Menyenangkan Pada Anak? Ikuti Saja 12 Tips Cara Mendongeng Ini

sangat lengkap dan istimewa bukan? Buat, Ayah Bunda yang tertarik dengan paket buku ini, boleh menghubungi saya, ya di sini atau PM Facebook di sini. Ahhh ini penulisnya bermaksud ingin jualan ya? Bukannnnn, saya ga bermaksud jualan, ya, Ayah Bunda. Saya hanya ingin membantu para orangtua dalam mengenalkan buku-buku yang baik, berkualitas dan bergizi untuk anak-anak kita. Karena buku yang tidak baik itu, banyak T_T

Bagaimana Ayah Bunda, sudahkah Ayah Bunda mengajarkan konsep maaf memaafkan pada anak-anaknya di rumah? Kalau belum, yuk kita sama-sama belajar, ya. Selamat mencoba, Ayah Bunda. Tunggu materi seminar parenting berikutnya, ya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

22 komentar

komentar
22 Oktober 2017 21.24 delete

Mulai usia berapa ya kira-kira konsep ini bisa diterapkan ke anak Mbak? Anak saya usia 9 bulan....

Reply
avatar
23 Oktober 2017 05.29 delete

Seminar yang menarik dilengkapi buku penunjang pula.
Memang konsep memaafkan jika tidak diajarkan sejak dini, membuat anak besarnya nanti enggan meminta dan memberi maaf pada sesama
Terima kasih ulasannya Bunda:)

Reply
avatar
23 Oktober 2017 15.26 delete

Terima kasih sudah berbagi ilmunya mba, ini yang saya butuhkan

Reply
avatar
23 Oktober 2017 17.52 delete

Iya ya mbak, biasanya kita memulai dgn anak harus belajar minta maaf tp memaafkan ini jg sangat penting

Reply
avatar
23 Oktober 2017 19.02 delete

Mengenalkan konsep maaf memaafkan pada anak sudah bisa dikenalkan dari sedini mungkin, Bunda. Dimulai dari kita sebagai orang tua memberi contoh berkata maaf pada anak. Misalnya ktika kita nggak sengaja berbicara ketus pada anak atau tidak sengaja membentak anak dll. Jangan gengsi utk meminta maaf pada anak, nanti anak pun akan meniru dari ortunya. Ktika anak sdah branjak besar, sudah bisa diajak ngobrol. Kita sudah bisa memberikan pngertian pada anak utk mminta maaf atau pun beljar memaafkan. Tentunya dengan bahasa yang sederhana yg mudah dimengerti anak πŸ˜ƒ.

Reply
avatar
23 Oktober 2017 19.03 delete

Mengenalkan konsep maaf memaafkan pada anak sudah bisa dikenalkan dari sedini mungkin, Bunda. Dimulai dari kita sebagai orang tua memberi contoh berkata maaf pada anak. Misalnya ktika kita nggak sengaja berbicara ketus pada anak atau tidak sengaja membentak anak dll. Jangan gengsi utk meminta maaf pada anak, nanti anak pun akan meniru dari ortunya. Ktika anak sdah branjak besar, sudah bisa diajak ngobrol. Kita sudah bisa memberikan pngertian pada anak utk mminta maaf atau pun beljar memaafkan. Tentunya dengan bahasa yang sederhana yg mudah dimengerti anak πŸ˜ƒ.

Reply
avatar
23 Oktober 2017 19.04 delete

Iya bener bun. Mengajarkan anak memaafkan juga salah satu cara kita mengajarkan anak utk brpikir positif pada orang lain. Slain itu memaafkan bisa menyehatkan mental anak πŸ˜ƒ

Reply
avatar
24 Oktober 2017 03.49 delete

Terima kasih sdh berbagi. Melihat banyaknya tawuran dan bullying, sptnya perlu menanamkan konsep ini kpd anak sejak kecil...

Reply
avatar
24 Oktober 2017 14.35 delete

Saya selalu merasa tertampar ketika membaca ulasan tentang parenting, terima kasih bunda, ilmunya keren ��

Reply
avatar
24 Oktober 2017 16.52 delete

Mbaaak, terimakasih sudah mau berbagi ini, :)

Reply
avatar
25 Oktober 2017 01.26 delete

Anak-anak itu unik. Saya mendengar kata maaf dan tolong dari anak-anak itu adem :)

Reply
avatar
25 Oktober 2017 08.13 delete

hmm, anak 0 anak saya rtiap hari berantam melulu, si kakak suka sekali usiln adiknya .. thank sheringnya bunda

Reply
avatar
25 Oktober 2017 22.10 delete

maaf memaafkan memang harus diajarkan pada anak ya mba..

Reply
avatar
26 Oktober 2017 08.32 delete

Iya bun perlu diajarkan sedini mungkin ya

Reply
avatar
26 Oktober 2017 08.33 delete

Sama2 bunda. Senang jija bermanfaat πŸ˜ƒ

Reply
avatar
26 Oktober 2017 08.34 delete

Wah seneng ya. Coba aja anak2 jaman sekarang bnyak yg pada baik hati kyak gini ya πŸ˜ƒ

Reply
avatar
26 Oktober 2017 08.34 delete

Hahaha iya ya, bun. Dasar anak2. Sama2 bunda πŸ˜ƒ

Reply
avatar
26 Oktober 2017 08.35 delete

Iya bener bun. Hrus dr kecil ini ngjarinnya πŸ˜ƒ

Reply
avatar
26 Oktober 2017 22.37 delete

Memang kalau dinding udah pernah dipaku, meski pakunya udah dilepas masih ada bekasnya ya mbak.
Rangkuman acaranya bagus banget TFS
Ini saya jg sdng ngajarin anak2 ttg maaf memaafkan, soalnya tiap hari berantem rebutan mainan. TFS ya rekomendasi bukunya jg :D

Reply
avatar
27 Oktober 2017 09.18 delete

Sama2 bunda. Senang jika bisa bermanfaat πŸ™

Reply
avatar

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya πŸ˜ƒ