Cara Membangun Keluarga Sakinah di Era Milenial

Cara Membangun Keluarga Sakinah di Era Milenial
Kajian parenting tentang membangun keluarga sakinah

Udah seminggu ini aku ngerasa lelahhhhh banget sama peranku sebagai istri dan ibu. Pertanda aku lagi ngerasa gersang ini hati dan jiwa. Jadi butuh vitamin jiwa buat ngecas ini hati biar semangat lagi membersamai mereka yang tercinta 😍. Dan salah satu cara aku ngecas hati dan upgrade diri aku adalah dengan suka dateng ke seminar-seminar atau kajian parenting gitu.

Nah, allhamdulillahnya ya Allah ada kajian parenting tentang "Cara Membangun Keluarga Sakinah di Era Milenial" Dan ilmunya itu ya, bergiziiiii banget. Kita belajar tentang bagaimana cara membangun syurga kecil di rumah, bagaimana cara membangun komunikasi positif dengan pasangan dan bahkan tentang seks juga ada lho. Dan ilmunya itu langsung dari ahlinya lho yaitu Ibu Kisma Fawzea S.Psi. Beliau adalah seorang Sarjana Psikologi dan sekaligus Konselor Pernikahan.

Membangun keluarga
Ibu Kisma Fawzea S.Psi

Cara Membangun Keluarga Sakinah di Era Milenial


Waktu aku lagi ngerasa lelah dengan peranku. Jadi semangat pas denger kata-kata Ibu Kisma di awal pembukaannya bahwa

"Kita tidak boleh mengecilkan peran kita sebagai ibu. Karena yang kita didik adalah para calon ayah dan ibu masa depan"

Sejenak rasanya aku haru. Bahwa generasi selanjutnya itu ada di tangan kita dan itu dimulai dari keluarga dan rumah kita. Oleh sebab itu, betapa pentingnya kita dan penghuni rumah lainnya bisa membangun syurga itu dari rumah. Terasa diingetin lagi ama visi misi dari peran kita ini

Nah, ngomong-ngomong, siapa yang pengen tetap bersama dengan orang-orang yang kita cintai di syurgaNya Allah nanti? Lalu, sudahkah kita membuat syurga kecil itu di rumah kita? Karena bagaimana kita akan tetap berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai di syurga kalau nggak kita mulai dari syurga kecil itu di rumah kita? Iya kan? Dan tahukah kita, membangun keluarga itu, dimulai dengan cara kita membangun hubungan kita dengan pasangan kita.

Kita pernah nanya nggak ke diri kita, sebenarnya pernikahan kita ini udah sakinah belum sih? Nah, Jika kita ingin melihat pernikahan kita itu udah sakinah atau belum, ini dia ciri-ciri pernikahan yang tidak sakinah itu

Ciri-ciri Pernikahan yang Tidak Sakinah


1. Sering bertengkar untuk sesuatu yang nggak penting.
Contoh: berantem cuma gara-gara lupa taro anduk sehabis mandi. Adu mulut ama pasangan cuma karena rumah berantakan sama anak-anak dan contoh berantem-berantem lainnya hanya karena hal sepele. Bertahun-tahun nikah, kalian masih kayak gini nggak, berantem berdua karena hal receh?

2. Malas pulang ke rumah
Sehabis pulang kerja atau habis dari luar tapi ngerasa males banget pulang ke rumah.

3. Tidak nyaman berada dalam satu ruangan
Biasanya kalau seorang istri atau suami tidak nyaman satu sama lainnya, membuat mereka tidak nyaman berdekatan dalam satu ruangan sekalipun

Nah, ini juga berlaku untuk penghuni rumah yang lain. Jika bikin penghuninya malas pulang, malas berdekatan satu sama lainnya dan di rumah sering terjadi pertengkaran yang membuat penghuninya merasa tidak nyaman dan tidak bahagia berada di rumah, itu pertanda rumah itu belum menjadi syurga untuk penghuninya.

Ya Allah, semoga kita bisa jadi rumah dan tempat pulang untuk orang-orang tercinta kita ya. Yuk, kita cek diri kita dan keluarga kita 😭. Lalu, bagaimana kita bisa membuat syurga kecil itu ada di rumah kita?

Cara Membuat Syurga Kecil di Rumah

cara berkomunikasi dengan pasangan

1. Caranya dimulai dengan kita memperbaiki komunikasi kita. Terutama dimulai dengan komunikasi kita dengan pasangan kita.

Cara Membangun Komunikasi Positif dengan Pasangan


Komunikasi itu yang terpnting bukan soal bicara tapi tentang mendengarkan. Karena mendengarkan saja sudah berbicara. Nggak percaya? Masih inget nggak ketika awal-awal hubungan kita dengan pasangan kita? kita saling tatap mesra berdua tanpa banyak bicara kala itu, tapi lewat tatapan saja bisa mengisyaratkan banyak rasa dan kata yang kita rasakan kan? Rasa sayang, rasa cinta, dan rasa aku rindu padamu *eaaaaa 😍. Siapa yang masih kayak gini ama pasanganyaaaa? 😍

Waktu ibu Kisma nanya gini ya, aku langsung angkat-angkat tangan dong dan kayaknya itu cuma aku doang yang akan tangan sambil senyum-senyum sendiri, malu hihihi 😂. Soalnya aku ama ayahnya Erysha selain tatapan, suka saling lempar lope ditangan sambil bilang "sarangeeeeee" Wkwkwkw 😂. Jangan hueeeek ya kalian 🤣. Tuuu kan cuma gitu doang. Tapi tanpa banyak kata, kami tahu bahwa kami itu saling mencintai 😍 *eaaaa langsung pada gumoh 🤣

Nah, tapi sayangnya, ketika kita berkomunikasi dengan pasangan kita, kita lebih banyak berbicaranya daripada mendengarkannya. Akhirnya,  dari banyak bicara ini, kita jadi lebih banyak meminta dan menutut pada pasangan kita daripada belajar memahaminya, belajar membaca situasi dan kondisinya.

Misalkan ketika suami pulang telat ke rumah tanpa memberi kabar. Kita langsung menyemprot dan memarahinya.

"Kamu kenapa pulang telat? Kamu nggak lihat jam berapa sekarang? Emang nggak bisa kasih kabar aku? Besok diulangi lagi aja ya kayak gitu"

Bukannya ketika suami pulang seharusnya kita sambut dia dengan senyum manis kita, dan memeluknya. Bersyukur dia pulang dengan selamat. Tapi malah langsung mengomelinya, mencecarnya, menginterogasi, menyalahkan tanpa memberinya waktu untuk bernafas lega sesampai di rumah. Coba belajarlah dalam pemilihan kata dan belajar membaca sikon pasangan kita. Misalkan

"Sayang capek ya baru pulang. Aku panasin air mandinya ya. Apa tadi ada masalah di kantor bikin kamu pulang telat? Nanti tolong kabari aku ya. Soalnya aku tadi nungguin. Aku khawatir lho. Sambil dipijit suaminya

Coba enak mana di dengernya dan penyambutannya, yang pertama atau yang ke dua? Pasti yang ke dua dong. Karena siapa tahu suaminya nggak kasih kabar karena batrenya habis. Ibu Kisma juga bercerita, beliau banyak ngedapetin klien yang talak istrinya hanya gara-gara hal sepele.


Baca juga: Pentingnya Melihat Dua Sisi di dalam Pernikahan 


Contoh

Seorang suami pulang kerja, marah-marah ama istrinya karena ngeliat rumah berantakan. Dan si istri yang ternyata nggak sempet beres-beres rumah karena kecapean ngurusin anaknya yang sakit terus digituin ama suaminya bukannya bareng-bareng ngurus anak, malah datang-datang marahin dia. Langsung dong si istri ini balik marah dan terjadilah adu mulut dengan berakhir jatuh talak pada si istri oleh suami.

Menyedihkan bukan? Hanya karena hal sepele rumah berantakan bisa terjadi talak. Dimana letak salahnya itu? Itu karena kita dan kebanyakan orang tadi lebih suka menuntut daripada mendengarkan dan membaca sikon pasangan kita. Di sinilah salah satu contoh yang namanya komunikasi tidak sehat dalam keluarga.

Kenapa kita tidak mau sedikit bersabar menahan mulut kita untuk tidak banyak bicara untuk menghindari energi yang akan lebih banyak lagi terkuras karena bertengkar untuk hal sepele? Iya kan? Jangan ungkapkan sesuatu itu dengan marah-marah. Tapi ungkapkanlah apa yang kita rasakan, kesedihan kita, apa yang membuat kita khawatir dan lihat sikonnya. Agar apa yang kita utarakan itu sampai ke hati pasangan kita. Kalau marah-marah tak akan ada yang sampai, yang ada malah berantem.

Baca juga: Mengapa Pernikahan itu Soal Komitmen bukan Soal Kenyamanan?
Baca juga: Semua tentang pernikahan ada di sini 

Nah, gimana kalau pasangan kita misalnya taro sepatu nggak pada tempatnya. Nggak usah diomeli, karena suami kita itu nggak butuh ibu ke tiga baginya (ibunya, ibu kita lalu kita) yang menceramahinya dan memarahinya. Letakkan peran kita sebagai istri dan kekasihnya. Bukan sebagai ibunya. Lalu bagaimana pemilihan kata yang tepat? Coba bahasa mengingatkannya dikemas misalnya

"Sayang, kamu bakal lebih cakep lho kalau kamu taro sepatu ke tempatnya" Sambil berikan ia senyum.

Kalau ada suami yang kerjaanya main hp mulu gimana? Coba buat dia tertarik dengan kita misalnya dengan sentuhan. Jangan diomeli. Ambil hatinya, buat dia nyaman dengan kita. Jangan dicecar. Jika menyampaikan sesuatu pada suami jangan menyerangnya karena itu akan membuatnya pergi, atau diam

Kita harus membangun komunikasi yang sehat untuk membangun hubunganan yang sehat pula. Kalau nggak berhasil, coba lagi pakai bahasa positif yang lain. Ini berlaku juga cara kita kepada anak-anak kita.  Karena yang namanya pernikahan dan keluarga adalah tempat kita belajar dan tumbuh bersama. Jadi belajar...belajar...dan terus belajar

Pastikan orang-orang yang kita cintai mendengarkan kata-kata positif saja dari kita dan salah satu cara kita untuk menguatkan kita dengan peran kita adalah dengan banyak-banyak mengingat kematian.

"Ingin diingat sebagai pasangan dan ibu / ayah seperti apakah kita oleh orang-orang yang kita cintai setelah kita mati nanti? Jika ingin diingat sebagai istri dan ibu yang penuh cinta, maka mainkanlah peran kita dengan penuh cinta pula untuk mereka"

membangun keluarga


MasyAllah banyak banget kan ilmunya 😍. Temen-temen, karena ilmunya banyak banget. Jadi aku bagiin setengahnya dulu, ya. Biar nggak kepanjangan. InsyAllah nanti aku tulis kelanjutannya ya tentang :
- 5 momen haram kita mengeluh atau complain pada pasangan ini saat apa aja. Ini masih tentang cara berkomunikasi ya
- tentang betapa pentingnya memiliki panggilan kesayangan
- tentang rasa syukur di dalam pernikahan
- tentang bagaimana caranya agar seks itu bukan hanya soal fisik tapi juga untuk membangun rasa.


membangun keluarga islami
Ibu-ibu panitia kajian muslimah membangun keluarga sakinah di era milenial


Oh ya karena pesertanya emak-emak semua, jadi contohnya banyak buat emak-emak. Tapi ilmunya sama kok buat suami istri 🙂. Kalau gitu sampai ketemu di tulisan selanjutnya ya. Tulisan selanjutnya ada di sini ya. Semoga membuat kita lebih semangat lagi memainkan peran kita dengan cinta untuk yang tercinta 😍. Semoga bermanfaat temen-temen 😍

8 comments

  1. Yaa poin2 diatas mungkin bisa dijadikan pedoman untuk yang serius atau ingin punya rumah tangga yang baik hingga akhir hayat nanti.

    Dan intinya juga kita wajib bersyukur atas apa yang telah kita raih dan capai dalam mengurus keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya dong kalau berumah tangga memang harus serius ya hihihi. Semoga kita bisa mengaplikasikannya ya 😍

      Delete
  2. Pernikahan adalah jalan yang panjang dan penuh liku. Pelajarannya gak ada abisnya dan gak bisa dicari persamaannya dengan keluarga lain. So denga mengikuti acara parenting seperti ini sangat bermanfaat ut kita pasutri mereview lagi perjalanan pernikahan kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener bang. Pernikahan adalah proses belajar kita memahami pasangan sampai menutup mata ya 🙂

      Delete
  3. Nggak sabar deh nunggu kelanjutannya.

    ReplyDelete
  4. Masha Allah bagus sekali kgiatan nya mba.. smga slalu istiqomah. aamiin

    ReplyDelete
  5. Setuju!
    Komunikasi dengan pasangan adalah koentji!
    Yup, materi sarat gizi!

    Baidewei, subway,
    Aku juga ada tulisan yang punya tema sama, "Kiat Hubungan Harmonis Romantis"
    Monggo, mampir mba
    Hihihi... modus ini :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃 dan komentar Ayah Bunda bisa muncul setelah lewat persetujuan saya dan saya mohon maaaf sekali, jika ada komen tak sempat terbalas oleh saya karena keterbatasan saya. Maaf. Terima kasih 🙏