• Tuesday, May 7, 2019

    Mengajarkan Toilet Training dengan Happy pada Anak

    mengajarkan toilet training dengan happy pada anak
    mamapapa.id

          Hai-hai Ayah Bunda. Sebenarnya aku pernah menuliskan tentang toilet training itu di sini "Toilet Training". Hanya saja kurang lengkap karena aku dapetin materi itu waktu kulwap parenting. Sekarang aku tulis ulang berdasarkan ilmunya dan pengalaman pribadi aku sendiri agar lebih lengkap ya dan memudahkan Ayah Bunda.


    Usia berapa kita mengajarkan toilet training pada anak?


          Ayah Bunda, jika kita berbicara tentang toilet training tentu kita harus tahu dulu ya sebaiknya dari usia berapa sih kita perlu mengenalkan toilet training ini pada anak? Nah, dari beberapa tulisan yang aku baca dan mengambil pendapat Bu Fitrie, Psikolog. Kita sudah bisa mengajarkan toilet training itu dari usia anak 1,5 tahun dan mengajarkan anak untuk mandi sendiri dari usia 3 tahun.

    Ini dikembalikan lagi dengan sikon kita dan anak ya Ayah Bunda. Walaupun memang semakin cepat dan sesuai usianya kita mengajarkannya akan lebih baik.

          Kenapa toilet training perlu dimulai dari usia 1,5 tahun nggak sebelum itu? Karena pada usia 1,5 tahun pada umumnya secara fisik anak sudah mulai bisa mengendalikan keinginanya untuk BAK dan BABnya. Tapi kalau dibawah itu belum mampu.


    Hal apa yang perlu kita persiapkan untuk toilet training ini?


    usia anak mulai diajarkan toilet training dan hal-hal yang perlu dipersiapkan dalam toilet training
    Pixabay

    1. Mental orang tua
          Kita harus siapin mental kita terlebih dahulu apalagi melihat anak di awal-awal proses belajar toilet trainingnya anak akan buang air kecil dan besar dimana saja

    Mental orang tua yang belum siap khawatirnya akan lebih rentan membuat anak mengalami trauma dan kurang menyukai proses belajarnya karena kita mengajarkan anak dalam keadaan emosi. Jangan lupa me time kita lebih dibanyakkin ya Bunda pas ini hahaha 😂

    2. Tenaga
          Pasti lelah ya tiap beberapa jam sekali kita ngepel dan bersihkan pipis atau pup anak di lantai. Jadi, jangan lupa siapkan makanan yang banyak buat kita. Jangan biarkan kita udah kelelahan terus kelaparan juga. Soalnya jadi bikin kita tambah emosian nanti ngajarin anaknya 😂

    3. Alat peraga
          Alat peraga ini untuk mengenalkan proses toilet training itu pada anak. Bisa dikenalkan lewat bercerita dengan buku, bermain peran dengan boneka atau membuat permainan stimulasi yang lainnya yang berkaitan dengan pengenalan toilet training ini. Mengenalkan anak dengan alat peraga membuat anak lebih mudah memahami belajar toilet training itu sendiri dengan cara menyenangkan

    4. Alat bantu toilet trainingnya
     - Dudukan closet untuk closet duduk

          Nah, kalau Ayah Bunda di rumah closetnya closet duduk, jadi perlu di bantu ya dengan dudukan closetnya untuk anak. Kayak gini ya gambarnya.


    dudukkan closet untuk anak yang belajar toilet training
    Gbr: Womentalk


    Aku beli dudukan closet ini di online shop. Kalau nggak salah harganya sekitar Rp. 60 - 75 ribu. Lupa aku berapa pastinya. Tapi Ayah Bunda jangan khawatir karena terpakai lama kok untuk anak kita

    Kenapa perlu dibantu? Soalnya kan lubang closet itu besar ya, jadi kalau nggak pakai dudukkan closet nanti pantat anak bisa masuk ke dalam closet.

          Tapi kalau Ayah Bunda di rumah closetnya closet jongkok. Nggak usah pakai alat lagi. Paling posisi anak di closetnya ketika buang air kecil dan besarnya bisa maju ke depan atau posisi menyamping. Soalnya kalau pas di tengah, bikin anak nggak nyaman karena closetnya terlalu lebar buat anak kecil

    - Sprei waterproof (nggak wajib)

          Selain mempersiapkan dudukkan closet untuk Erysha, aku juga membeli sprei waterproof jadi anti air gitu. Jadi, kalau anak pipis, kita nggak usah khawatir lagi pipisnya mengenai kasur. Waktu itu aku beli sprei waterproofnya harganya sekitar Rp. 120 untuk ukuran kasur no 2.


    sprei anti air (waterproof) untuk membantu toilet training anak
    Gbr: Shopee

          Nah, allhamdulillahnya spreinya bisa terpakai lama lho Aya Bunda. Jadi, walau anak sudah berhasil toilet training spreinya tetap bisa dipakai asalkan kita memang membeli bahan spreinya yang memang nyaman ya. Tapi sprei ini nggak wajib ya Ayah Bunda. Jika memang kita ingin hemat, kita bisa pakai perlak saja.

    Jangan sampai karena alasan ini membuat kita kurang bersemangat mengajarkan toilet training pada anak 😘


    Cara Mengajarkan Toilet Training pada Anak


    Sekarang kita masuk pada pembahasan inti ya Ayah Bunda. Bagaimana sih cara kita mengajarkan toilet training ini pada anak?

    1. Ajak anak bicara
    "De, besok kalau Ade pipis dan pup di kamar mandi, yuk!"
    Bisa juga dikenalkan dengan cerita lewat buku

    2. Langsung lepas diapers
          Kalau aku langsung lepas diapers seharian ama Erysha kecuali malam ya. Jadi, aku ngajarinnya lepas diapers siang dulu. Pelan-pelan. Soalnya aku belum sanggup kalau langsung lepas diapers siang dan malam sekaligus *aku sadar diri belum sanggup khawatir ga waras, emak kan butuh bahagia 😂 alah ngeles

          Langsung lepas diapers dan hanya menggunakan celana biasa itu lebih cepat mengajarkan toilet trainingnya pada anak. Karena kita lebih mudah mengenalkan pada anak, kalau celananya basah dan ada air yang keluar dari celananya itu namanya "pipis". Anak itu memang akan lebih cepat menangkapnya kalau memang dia melihat dan merasakan langsung. Maklum perkembangan otak anak usia dini belum bisa kita ajarkan sesuatu yang sifatnya abstrak

    4. Namai kegiatan "Pipis / Pup " pada anak
    Misalnya ketika anak pipis dan anak melihat langsung dia pipis. Kita bantu anak menamainya "wah Dede pipis ya" begitu juga kalau dia pup. Menamai ini agar anak tahu "oh itu namanya pipis/pup". Karena kan selama ini anak pakai diapers ya, jadi dia belum tahu langsung itu pipis atau pup seperti apa

    5. Amati frekuensi BAK/BAB anak
          Setiap anak kan mempunyai frekuensi BAK yg berbeda-beda. Apakah itu dia BAK setiap sejam atau 2 jam sekali atau berapa jam. Ketika kita sudah hapal dengan frekuensi ini, jadi membuat kita lebih mudah memprediksi waktu-waktu anak berkeinginan BAK dan amati ekspresi anak ketika mau BAB agar kita bisa lekas-lekas membawa anak k kamar mandi

          Awal-awalnya kita yang tatur anak ke kamar mandi untuk mengenalkan anak kalau BAK/BAB itu ke kamar mandi. Setelah anak tahu bahwa BAK/BAB ke kamar mandir, biarkan anak yang meminta atau bilang sendiri jika ingin ke kamar mandi. Agar anak paham bahwa BAB /BAK itu adalah kebutuhannya bukan kebutuhan kita

    6. Sering lakukan sounding pada anak
          Sering sounding pada anak kalau mau BAK/BAB ke kamar mandi. Misalnya sounding sebelum tidur malam, setelah bangun tidur dan siang hari diajak ngobrol


    sering lakukan sounding pada anak ketika fase toilet trainingnya
    Pixabay


    7. Konsisten dan Telaten
          Lakukan dengan konsisten dan telaten. Jika tidak konsisten nanti kita akan ngajarin anak ngulang lagi dari awal. Jadi, daripada kita lelah sendiri nantinya ngulang-ngulang lagi, jadi sebaiknya proses toilet training ini dilakukan dengan konsisten

    8. Berikan apresiasi pada anak
          Jangan lupa berikan apresiasi atas usaha anak seperti memberikan anak pujian "wah Bunda seneng ikh ngeliat Dede pipisnya ke kamar mandi"

    Berikan anak pelukan, tos dan lain-lain yang membuat anakpun senang atas usahannya

    9. Doa
          Jangan lupa berdoa semoga Allah memudahkan kita dalam mengajarkan anak dan diberikan kesabaran dalam membersamai anak kita karena mendidik itu butuh Dia.

    Jika anak telah berhasil siang tidak menggunakan diapers lagi, untuk selanjutnya kita bisa melatih anak lepas diapers pada malam harinya.

          Nah, kalau lepas diapers pada malam hari aku sengaja nggak banyakin minum ke Erysha kalau menjelang maghrib agar frekuensi BAKnya sedikit, terus sebelum tidur anak diajak ke kamar mandi dulu untuk pipis dan nanti tengah malam ajak lagi anak ke kamar mandi. Allhamdulillah dengan kesabaran, kekonsistenan, dan doa berhasil deh.

          Waktu itu diusia Erysha 1 tahun 9 bulan Erysha sudah bisa tanpa diapers pada siang hari. Rasanya itu senengggg banget dan haru. Proses dia belajar sampai berhasil nggak pakai diapers siang hari itu selama sebulanlah ya. Sebentar kok.

    Hanya saja setiap anak kan beda-beda ya Ayah Bunda, jadi jangan bandingkan anak kita dengan anak yang lain. Yang penting anak bisa belajar toilet trainingnya dengan happy dan kita pun happy mengajarkannya juga. Oh ya jika Ayah Bunda nanti sudah selesai dengan fase toilet training anaknya dan akan menyapih anak, bisa juga mampir ke sini ya "hal apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum menyapih anak" atau "cara menyapih anak dengan Al-Quran" Selamat mencoba ya Ayah Bunda. Semoga bermanfaat 😘



    10 comments:

    1. terimakasih sharingnya.
      anak ku juga lagi toilet training dan malam masih pake diapers, aku belum sanggup kalau mesti bangunin anaknya tengah malem suruh pipis, hihi

      ReplyDelete
      Replies
      1. Hahaha memang butuh sikon dan mental yang kuat ya bun 😂

        Delete
    2. Pengalamannya persis banget sama aku.

      Kalau boleh nambahin, jangan ada ekspekstasi.

      Jadi dulu aku pikir toilet training maksimal 1 bulan lah. Eeeh ternyata lewat sebulan masih suka ngompol padahal udah lepas diapers tiap hari.

      Sempet kesel sih. Tp ketika ada yang nyaranin untuk zero expectation, aku lebih selow.

      Ternyata anakku butuh 1 tahun untuk lulus (mulai usia 2, Lulus usia 3). Untung udah dibawa Happy :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bun ga boleh punya ekspektasi tinggi. Soalnya capek hati ya 😂

        Delete
    3. alhamdulillah ponakanku terhitungnya cepet. dituntun ke kamar mandi bisa pipis. awalnya mungkin susah tapi ibunya harus semangat dan kerja extra.

      ReplyDelete
    4. Wah kebetulan anakku usia 16 bulzn mau toilet training nih, mom. Udah dikenalin suruh pipis di kamar mandi. Beberapa kali berhasil, tapi seringnya engga :D Tapi aku pake clodi dan belum lepas clodi, belom berani berceceran. Kalau masih pake clodi tapi belajar toilet training bisa efektif ngga ya?

      ReplyDelete
      Replies
      1. Kurang efektif bun kalau msh pakai Clody. Krn anak nggak melihat dan merasakan langsung pipisnya. Klo dia pakai celana n pipis di celana. Anak jd belajar apa itu pipis dan dia jdi belajar lama2 kelamaan "oh ternyata pipis dicelana itu ga nyaman ya karena bkin celana aku bsah". Tapi kalau bunda pengen TT tp anaknya msh pk clody bisa aja berhasil. Hanya saja konsekuensinya jd lbh lama proses TTnya.

        Delete
    5. Ponakan aku yang cowok kalo pup suka mojok di belakang pintu padahal uda sering di sounding sama Mamanya. Lucuk jadinya.. tapi emang harus telaten ya Mba edukasi buat anak sejak dini perihal seperti ini.

      ReplyDelete
    6. Nah ini yang sering jadi PR buat ortu ya mba, ngajarin anak utk pipis dan pup. Banyak yang nggak telaten dan akhirnya milih cara praktis make diapers. Anakku yang pertama dulu pake diapers sampe usia 2,5 tahun. Setelah itu lepas. Sementara adeknya lepas diapers usia hampir 4 tahun. Tapi sebenernya setelah usia 1 tahun itu mereka pake diapers cuma kalo bobo malem sama pergi jauh aja sih. Selebihnya ya pake celana biasa.

      Trus aku juga mulai ngajarin mereka untuk bilang pup atau pipis sejak usia 1,5 tahunan. Terutama kalo pas siang jadi mayan bisa hemat cucian kotor hehe. Makasih sharingnya ya mba.

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya 😃 dan komentar Ayah Bunda bisa muncul setelah lewat persetujuan saya dan saya mohon maaaf sekali, jika ada komen tak sempat terbalas oleh saya karena keterbatasan saya. Maaf. Terima kasih 🙏

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES