• Wednesday, February 21, 2018

    Sepenggal Cerita tentang Anak Berkebutuhan Khusus

    sepenggal cerita tentang anak berkebutuhan khusus

    Waktu kecil, saya memang bercita-cita untuk menjadi seorang guru. Tetapi, saya tidak pernah terpikirkan sekalipun untuk menjadi seorang guru anak berkebutuhan khusus. Perjalananlah yang membawa saya berada di posisi ini dan itu sangat saya syukuri

    Baca juga: Anak Berkebutuhan Khusus

    Sebagai seseorang yang memang berlatar belakang Pendidikan Luar Biasa. Membuat saya memiliki banyak penggalan cerita tentang anak berkebutuhan khusus. Dari semua anak berkebutuhan, ada seorang anak yang paling berat saya tangani. Sebut saja namanya Dimas.

    Dimas adalah seorang anak berkebutuhan khusus dengan jenis autis dan termasuk klasifikasi berat. Saat itu, Dimas belum bisa berkontak mata dengan siapapun, bahkan dia belum mampu mengeluarkan emosinya. Dia datar seperti robot dan tampak tak menggunakan emosi dalam kehidupan sehari-harinya. Selain itu Dimas belum mampu berbicara, jangankan untuk berbicara, Dimas belum mampu mengeluarkan kata sekalipun

    Terbayang betapa beratnya kondisinya. Walau begitu, Dimas seorang anak berkebutuhan khusus yang berparas tampan bahkan tampan sekali, dia mewarisi kerupawanan ibunya. Setiap orang yang mengagumi ketampanan Dimas sekilas, pasti tidak menyangka bahwa Dimas seorang anak berkebutuhan khusus dengan kondisi berat. Banyak orang yang menyayangkan itu. Tetapi, tidak bagi saya. Karena bagi saya

    "Tak ada ciptaannya yang sia-sia begitu juga dengan anak berkebutuhan khusus. Karena saya percaya bahwa tak ada produkNya yang tercipta gagal untuk kita"

    Baca juga: Tak Ada CiptaanNya Yang Sia-Sia, Begitu Juga Dengan Anak Berkebutuhan Khusus

    Dimas pun rajin mengikuti terapi dan berkonsultasi dengan dokter ahlinya. Ibunya begitu baik dan kooperatif dengan saya. Setiap apa yang dipelajari di tempat terapi, selalu dibagikan dengan saya. Agar saya memiliki program yang sama untuk membantu proses terapinya. Karena memang begitu seharusnya, ada kerjasama dari tim ahli baik dari tempat terapinya, di sekolah dan juga di rumah. Agar kami sama-sama bisa membantu mengoptimalkan kemampuan anak berkebutuhan khusus

    Saat itu, pertama kali saya bertemu dan mendampingi Dimas adalah ketika Dimas berusia 3 tahun. Kondisinya yang seperti itu, membuat saya punya PR besar untuk membantu Dimas. Saya ingat sekali setiap bertemu Dimas di pagi hari dan berinteraksinya dengannya. Saya suka memegang kedua pelipisnya dan mengarahkan wajah saya dan sejajar dengan wajahnya sambil berkata padanya "Lihat". Agar mata kami saling melihat. Begitulah cara saya untuk berinteraksi dengan Dimas dan salah satu cara saya untuk menstimulus kontak matanya.

    Baca juga: 5 Cara Melatih Kontak Mata Anak Autis

    aspek sosial  anak autis

    Selain itu, setiap temannya yang datang, saya suka meminta mereka untuk menyapa dan menyentuh Dimas. Selain untuk melatih kontak mata, saya ingin Dimas pelan-pelan bisa merasakan kehadiran orang lain di sekitarnya. Begitu seterusnya.

    Sedangkan untuk menstimulus emosinya. Saya menggunakan banyak cara dari gambar orang yang sedang emosi (marah, senang, sedih, dan takut), saya yang suka beracting emosi di depan Dimas, sampai menggunakan cermin besar yang dihadapkan ke Dimas.

    Baca juga: Empat Tips Cara Mengendalikan Emosi Anak

    Sedangkan untuk menstimulus kemampuan bicaranya. Saya suka memegang pelipisnya, dan memberikan instruksi atau kata yang pendek pada dimas. Misalnya ketika Dimas menginginkan bola. Saya langsung bilang "Bola" pada Dimas dengan memegang pelipis matanya dengan kedua tangan saya.

    Baca juga: 10 Cara Menstimulus Anak Terlambat Bicara

    Baca juga: Pijat Wajah Untuk Anak Terlambat Bicara

    Di atas hanya sedikit cara saya dalam menstimulus Dimas. Banyak cara yang saya lakukan untuk Dimas dan itu perlu kekonsistenan serta rasa sabar tanpa harus menutut pada anak. Karena yang paling penting tidak selalu tentang  hasil. Tetapi,

    "Bagaimana kita bisa membersamai anak dalam proses belajarnya dan membuat anak menyukai belajarnya"

    Waktu silih berganti dan berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah 3 tahun saya mendampingi Dimas. Hingga suatu hari, saya dibuat terharu oleh Dimas, ketika Dimas mau menatap mata saya beberapa detik. Dan saya pun langsung memeluk Dimas. Saya begitu bahagia. Bukan hanya itu, perlahan-lahan Dimas pun mulai menyadari kehadiran teman-temannya. Jika temannya menyentuhnya, dimas sudah bisa  langsung berbalik memandang temannya dan tersenyum bahkan dimas pernah berlari hanya untuk memeluk temannya dari belakang

    emosi, autis

    Dimas bahkan sudah bisa mengeluarkan ekspresi sedih ketika ditinggal ibunya pulang dari setelah mengantarnya ke sekolah. Dimas pun bahkan pernah marah dan tantrum lalu menggigit bahu saya sampai biru. Tetapi, saya bahagia melihatnya sudah bisa mengeluarkan emosinya. Dimas kini bukan lagi, Dimas yang seperti robot yang dulu saya kenal

    Dan dengan kesekian kalinya pula saya begitu terharu, ketika ia pertama kali mengeluarkan kata pertamanya untuk saya "Bobo" sambil menyuruh saya tidur ketika bermain dengannya. Tak terasa ada gumpalan air mata menggenangi mata saya, yang berusaha saya tahan dan tersenyum sambil memeluknya. Semakin lama, Dimas semakin bisa duduk tenang di kursinya yang biasanya ketika belajar, Dimas suka kabur keluar kelas dan semakin lama Dimas semakin banyak mengerti kata dan instruksi. Saya takjub dan saya percaya

    "Proses tidak akan pernah membohongi sebuah hasil"

    Sederhana bukan, itu hanya kemajuan kecil untuk anak pada umumnya. Tetapi, tidak bagi kami para pendidik dan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus. Itu sungguh kemajuan yang berarti bagi kami.


    Saking berartinya membuat kami begitu mudah menangis dan semakin sederhananya standar kebahagian kami. Saya menangis dan saya benar-benar menangis hanya untuk sesuatu yang sederhana seperti itu. Saya belajar banyak hal dari setiap anak berkebutuhan khusus yang saya pegang. Saya benar-benar belajar kebahagian yang teramat sederhana dari mereka.

    Sedangkan kita yang memiliki anak terlahir umum masih suka membanding-bandingkan anak kita dengan anak orang lain. Masih suka melabeli anak kita dengan kata-kata negatif "Masa ini saja nggak bisa sih" atau kamu "nakal" dll. Atau menuntut anak dengan berlebihan "Nilai kamu harus bagus" tetapi lupa mengajarkannya berusaha. Bahkan kita tidak tahu, jangankan untuk sebuah nilai, untuk beberapa anak berkebutuhan khuhus bisa memegang pensil dengan benar saja. Itu sesuatu yang teramat disyukuri.

    Kita suka mengeluh anak saya yang bawel dan suka minta ini itu. Tetapi, kita tidak tahu untuk sebagian anak berkebutuhan khusus, jangan kan untuk bawel mereka bisa mengeluarkan beberapa patah kata saja. Itu sesuatu yang amat luar biasa bagi kami

    Lalu mengapa kita tidak belajar dari kondisi anak berkebutuhan. Hanya karena anak kita terlahir tanpa kekurangan apa pun di mata kita membuat kita lupa mensyukuri banyak hal

    "Kita begitu fokus dengan kekurangan anak kita, sehingga melupakan banyak kelebihannya"

    Kita lupa belajar dari banyak hal dan dari kondisi yang ada di sekitar kita. Dan teruntukmu wahai Ibu dengan anak berkebutuhan khusus.

    Apa Engkau percaya bahwa tak ada produkNya yang gagal? Apa Engkau percaya bahwa semua ciptaannya itu sempurna? Jadi, janganlah Engkau berlarut-larut dalam kesedihan untuk seorang anak yang sedikit berbeda di mata manusia tetapi sesungguhnya dia sempurna di mataNya. Fokuslah pada kelebihannnya, bukan kekurangannya. Ketika Engkau bisa melihatnya dengan segala kelebihannya, Engkau akan melihat betapa istimewa dan polosnya dirinya. Dia sungguh suci tak ternoda

    Janganlah bersedih. Anakmu adalah anugerah karena ia begitu istimewa. Percayalah padaNya...percayalah padaNya....dan Percayakanlah semua padaNya. Karena Engkau tidaklah sendiri








    39 comments:

    1. Betul sekali, Mbak, fokus pada kelebihannya. Makasih banyak ya, Mbak, ini postingan yang sangat bermanfaat.

      ReplyDelete
    2. Masya Allah mbak yeni, terharu sekali. Sesenggukan ini bacanyaa

      ReplyDelete
      Replies
      1. Saya aja yang nulisnya smpe nangis Mba Ajeng 😭

        Delete
    3. saya pernah nonton aca kick Andi mbak, yang di undang "mantan" autis, karena saat itu setelah dewasa dia sembuh.

      Sewaktu kecil orangtuanya sudah paham dengan beliau, makanya langsung sigap ditangani oleh ahlinya, akhirnya bisa seperti orang normal pada umumnya,

      semoga saja Dimas begitu ya mbak, kini sudah menunjukkan kemanjuan yang baik

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sbenernya autis itu ABK permanen. Jadi sekali pun dia bisa normal, ga akan benar2 sama seperti anak normal lainnya. Pasti msh akan ada yg membuatnya sedikit berbeda.

        Delete
    4. Dimas beruntung sekali bertemu Mbak Yeni sebagai gurunya. saya tidak bisa membayangkan jika guru Dimas tidak mampu memahaminya dengan begitu mendalam. Luar biasa, Mbak. Dan infonya sangat bermanfaat, kebetulan teman anak saya ada diduga memiliki kecenderungana utis, sayangnya minim stimulasi. Semoga penjelasan mbak Yeni bisa membantu.

      ReplyDelete
      Replies
      1. Allhamdulillah bun. Karena mendidik itu harus dengan hati ya πŸ˜‰

        Delete
    5. aku kogh jadi berkaca-kaca ya baca tulisan ini. Hiks. Salut luar biasa padamu bunda Yeni, telah mengabdikan diri menjadi guru anak-anak istimewa. Dan jalan Allah yang Maha Baik telah mempertemukan Dimas denganmu, Bunda Yeni. Semoga bunda Yeni, orangtua dan para guru anak istimewa dimanapun selalu diberi stok SABAR yang banyak sama Allah. Agar bisa terus mendampingi anak-anak istimewa ciptaan Allah.

      ReplyDelete
    6. Baca ini jadi banyak2 bersyukur.
      Kadang kita yang punya anak Alhamdulillah sehat, tapi aktif.
      Langsung ngeluuhh dan merasa capek banget

      ReplyDelete
      Replies
      1. Bener bun. Harus bkin kita harus banyak2 merenung ya

        Delete
    7. Salut untuk para orang tua yang dianugerahi anak yang begitu istimewa. Juga pada kesabaran para pendidik yang membersamai anak ABK ini.

      Semoga semua dimudahkan dan diberi kekuatan..dan saya setuju dengan Bunda, tak ada produk-Nya yang gagal..:)

      ReplyDelete
    8. Mba Yen, aku jadi inget waktu masih mahasiswa magang di TK dimana salah satu muridnya adalah ABK dengan kondisi Autis sama seperti Dimas. Tugasku emang hanya observasi tapi aku sungguh kasih jempol buat guru-gurunya sama seperti mb Yeni bagaimana memberikan treatment agar si anak bisa peka. Dan yang paling bikin saya haru adalah saat menggambar percaya atau tidak gambarnya seperti gambar orang yg sdh dewasa bagussssss banget.

      semoga banyak orang yang aware dan berempati dengan keadaan anak2 abk spt Dimas y mba

      ReplyDelete
    9. Semangat terus bun. Org2 berkebutuhan khusus tidak membutuhkan rasa iba dr org2 di sekitarnya. Yg mereka butuhkan adalah sebuah kesempatan dan kepercayaan bhw mrk juga bisa utk melakukan hal yg org normal lakukan.

      ReplyDelete
    10. Bisa dibayangkan Bunda Yeni yang sangat sabaaar ☺ Terima kasih sudah berbagi semangat dan kepedulian πŸ’•

      ReplyDelete
      Replies
      1. Sama2 bunda. Terima kasih juga ya 😘

        Delete
    11. Bagai ditampar muka saya setelah membaca artikel ini, terima kasih bunda sudah mengingatkan saya untuk terus bersabar, ikhlas, dan lihat kelebihannya. Jazakillah khoiron katsiran 😒😊

      ReplyDelete
    12. Ternyata kita harus fokus melihat kelebihannya, bagi saya gak pernah kepikiran sampai kesana ya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Melihat kelebihan anak membuat kita akan selalu bersyukur dengan memiliki anak dan stimulus kekurangannya dg cara menyenangkan

        Delete
    13. Saya dulu juga pernah bekerja di tempat theraphy anak berkebutuhan khusus, melihat mereka saya patut bersyukur dengan kehidupan saya yg sekarang

      ReplyDelete
    14. Setelah baca ini, saya semakin sadar kalau setiap anak adalah spesial, punya kelebihan masing-masing. :)
      Semoga kelak saya bisa jadi orang tua yang baik bagi anak-anak saya. :')

      ReplyDelete
    15. Jadi ingat waktu masih ngajar full time di course, saya dikasih tukar kelas yg salah 1 muridnya itu anak autis. Sehari saya ngajar, langsung saya bilang sama SPV, mohon jangan saya yg pegang kelas itu. Ini karena saya belum punya ilmunya untuk mengajar anak autis. Makanya luar biasa untuk pak dan bu guru yg mengajar anak2 istimewa ini. Masya Allah juga stok sabarnya.

      ReplyDelete
    16. Penuh tantangan banget ya Bund mendidik anak berkebutuhan khusus. Perlu kerja dan kesabaran ekstra untuk mendampingi mereka. Tulisan ini benar-benar membukakan wawasan baru bagi saya mengenai ABK. Makasih Bund.

      ReplyDelete
    17. Masya allah bun, nangis saya baca tulisan bunda....bagus bangeeeet..

      Salam buat Dimas dan bundanya...semangaaaat

      ReplyDelete
    18. perlu kesabaran dan K bisa punay prestasi krn dia mendaptkan banyak dukungan dari orang sekitarnya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya benar bun. Prestasi yang ga bisa disamakan dengan sudut pandang kebanyakan org ya ☺️

        Delete
    19. Terharuu mba. Aku jg pny anak berkebutuhan khusus tp bkn autis, anakku memiliki gamgguan pendengaran. Jd aku bs merasakan bagaimana perasaan haru mba thd dimas.. Terinakasih tulisannya yg sangat menggungah sekali ya..

      ReplyDelete
    20. Semoga berkah dengan profesi mba, butuh kesabaran dan ketelanenan luar biasa dalam membimbing anak-anak spesial

      ReplyDelete
    21. Bacanya terharu mbk. Tulisan ini mengajarkan banyak hal. Trimakasih udh sharing mbk. Semoga Dimas dan mbak selalu sehat yaa. Trimakasih juga sudah mengingatkan agar tdk membanding2kan. Salam, muthihauradotcom

      ReplyDelete

    Terima kasih sudah berkunjung ke Blog saya. Semoga bisa memberi manfaat. Mohon untuk tidak meninggalkan Link Hidup, ya πŸ˜ƒ

    COPYRIGHT © 2018 PARENTING BUNDA ERYSHA | THEME BY RUMAH ES